![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Ayahanda..!"
Candra tersenyum pada anak mungil yang berlari ke arahnya. Dia berjongkok merentangkan tangannya. Anak kecil itu pun menyambut ayahnya, ikut merentangkan kedua tangannya.
"Rama tidur nyenyak?" tanya Candra seraya menegakkan tubuhnya menggendong Rama.
Semalaman putranya ia serahkan pada para wanita, sementara Candra fokus mengurusi istri dan anaknya.
Rama mengangguk penuh semangat. Dia adalah anak yang cerdas. Tak pernah merengek bila kedua orang tuanya sibuk. Lain halnya bila keduanya senggang, selalu saja anak itu minta diperhatikan.
Adalah suatu keajaiban bila Candra dapat bemesraan dengan sang istri.
"Ibunda ..?" tanya Rama menengok-nengok mencari keberadaan ibunya.
Biasanya sang bunda yang perutnya besar karena mengandung adik sekaligus teman untuk Rama, selalu berada di sisi sang ayahanda.
Bila ada ayahanda, selalu ada ibunda. Rama menatap bingung karena aneh dengan keadaan ini.
Ayahandanya tidak bersama ibundanya!
"Rama tidak mau cium nenenda dulu?" Tuti menyodorkan dan menepuk pipinya dengan telunjuk.
Berat hatinya meninggalkan putranya yang sedang menyambut anggota keluarga baru. Namun mau dikata apa, suaminya sangat sibuk di keraton. Rama, sang cucu pertama, tidak mau diajaknya pergi.
Candra pun tidak mengatakan keberatannya. Alhasil, Tuti dan yang lain akan pergi mengikuti kepulangan suami mereka.
Rama menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Candra. Dia sudah kenyang bersama sang nenek. Dia mau bersama dengan ibundanya!
Tak biasanya ibundanya itu tidak bersama ayahandanya. Juga tak biasanya ibundanya itu tidak muncul di hadapannya. Meskipun sibuk, ibundanya selalu menyempatkan diri untuk menidurkannya.
Jika bukan karena ingin cepat bertemu ibundanya, semalaman mungkin Rama tidak akan bisa tidur tanpa kehadiran sang bunda!
"Nda.. Nda.." rengek Rama yang sudah tak terbendung rasa rindu pada sosok ibunda.
Sejak kemarin pagi, ibundanya sudah berada di kamar mempersiapkan persalinan. Sehari semalam tanpa sang ibunda membuat Rama merasa tak nyaman dan juga sedih.
"Rama kok gitu sih." Tuti memajukan mulutnya merajuk pada sang cucu, yang sulit sekali dekat dengan orang lain.
Terkadang cucunya itu tidak mau lepas dari ibunya. Tuti awalnya khawatir sang cucu tidak akan bisa mandiri. Namun setelah tahu menantunya hamil lagi, Tuti sadar jikalau itu dilakukan Rama hanya karena insting takut kehilangan ibunya dengan hadirnya bayi lain.
"Ayahanda. Bunda.." Rama masih merengek pada ayahandanya.
Dia sudah tidak sabar menemui sang ibunda!
"Istriku," panggil Aji dari atas kuda di dekat kereta kencana. Istrinya itu memang senang sekali menggoda cucu mereka.
"Nenenda pulang dulu ya." Tuti mencubit pipi Rama, wajah pria mungil itu makin terbenam pada tubuh Candra. Tuti melambai-lambai dari dalam kereta.
"Nda.." ucap Rama dengan bersungut-sungut. Ayahandanya masih saja berdiam diri mengawasi kereta nenek dan kakeknya.
Rama kan sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ibunya.
"Ayo sayang kita ke ibunda."
Rama mencebik mendengar sang ayahanda akhirnya fokus padanya.
Candra dan Rama di gendongannya berjalan menuju Udelia.
Dengan kalimat tidak jelas, Rama mengomeli Candra yang tidak bergegas.
Candra mencubit pipi tembam putranya. Sifat putranya itu sangat mirip dengan sang istri.
Selalu tidak sabaran.
__ADS_1
"Ibunda!" Rama memberontak di tubuh Candra, minta diturunkan ketika baru saja sampai di kamar utama.
Candra menurunkan putranya ke atas ranjang.
Tangan yang biasanya berlumuran darah dan dapat membuat makhluk hidup berubah menjadi pasir, di hadapan istri dan anaknya, tangan itu berubah hangat dan lembut.
Hampir tiga tahun mereka bersama, ketika dilanda kemarahan, Candra selalu menenangkan diri dengan memeluk erat Udelia.
Tidak pernah tangannya berlaku kasar.
"Sayangku." Udelia memeluk putra pertamanya. Hanya semalaman tak bertemu, membuatnya sangat amat rindu.
Di pagi hari kala dia merasakan kontraksi, dukun beranak dan para wanita melarangnya untuk beranjak dari kasur.
Udelia tak mau. Entah kenapa dia tidak mau hanya berdiam diri ketika mendekati waktu kelahirannya.
Candra yang selalu mengabulkan keinginannya pun membiarkan Udelia berkeliling di sekitar kamar utama.
Ketika itu Udelia melihat Rama bersama mertua mertuanya. Udelia tidak mengganggu mereka sebab Rama sedang sibuk berceloteh, menceritakan hal-hal yang tidak saling berkaitan.
"Rama sudah sarapan?" Udelia bertanya meskipun tahu tidak akan ada yang berani membiarkan tuan mereka kelaparan tanpa makanan.
Tapi pertanyaan itu bukanlah suatu ketidaktahuan, namun suatu perhatian agar orang terkasih merasa diperhatikan dan disayang dengan pertanyaan- pertanyaan remeh yang sekilas tidak perlu, namun pada kenyataannya sangat perlu diingatkan.
Tidak sarapan akan membuat lambung seseorang menjadi lemah.
"Dah. Adinda mana?" tanya Rama saat netranya tidak melihat perut bulat Udelia.
Rama tak sabar bertemu sang adik yang juga akan menjadi temannya.
Hati kecilnya sangat ingin berteman dengan anak sepantaran.
Apalah daya. Sepupu-sepupunya sudah besar dan dewasa.
Sesekali dia menemukan raut ketidaksukaan dan ketakutan dalam mata mereka.
"Adinda sedang tidur." Udelia menunjuk ranjang bayi di dekatnya.
Sontak Rama mengikuti arah telunjuk sang ibunda dan bergegas mendekati adiknya.
Candra membantu Rama yang berusaha turun, dia menuntun Rama ke arah ranjang yang berusaha digapainya.
Bentuk ranjang bayi untuk Raka adalah sebuah boks bayi berbentuk kotak panjang dengan bentuk pagar yang renggang, membuat siapa pun dapat melihat kegiatan Raka dari samping boks itu.
"Adinda.." panggil Rama di sela-sela lubang ranjang.
"Adik Rama namanya Raka." Candra berjongkok di sebelah Rama. Menemani putranya untuk kali pertama berjumpa sang adik.
"Laka," ulang Rama.
Raka membuka matanya menatap Rama lalu tersenyum. "He. .he." Bayi mungil itu mengeluarkan suara tawanya.
Rama ikut tersenyum dibuatnya.
"Raka sudah bangun? Jemur sama ayah dulu yuk?"
"Suamiku.." panggil Udelia khawatir.
"Aku akan menjemurnya di depan supaya sayangku bisa melihat." Candra tersenyum menenangkan
Udelia terdiam sebentar sebelum mengangguk, menyetujui usulan sang suami.
"Rama sini saja," pinta Udelia pada sang putra.
__ADS_1
"Lama mau liat Laka," tolak Rama seraya mengekori Candra.
Udelia tersenyum melihat Rama ikut berjemur di bawah matahari pagi.
Senyumnya pudar, merasai kekosongan dalam satu titik di hati dan pikirannya.
"Nyonya," panggil Jo melihat Udelia meringkuk sambil sesekali segukan.
"Tidak apa-apa," jawab Udelia mengatur napasnya.
••••••••••••••••••••
"Sayang, kamu baru beristirahat sepuluh hari. Tidak perlu buru-buru."
"Di dalam kamar malah sumpek. Aku terus memikirkan hal aneh." Udelia membalik Raka yang tertawa.
"Anak ibu senang ya." Udelia menciumi Raka yang sedang berjemur dengannya.
Sengaja dia keluar dari waktu biasanya para ibu diperbolehkan bergerak setelah melahirkan, karena pikirannya terus saja menampakkan ingatan yang saling berebut.
Entah bagaimana menyusun ingatannya, sedangkan ingatan itu hanyalah bayangan sekilas yang memburam.
"Ayahanda! Napa ikan ni ta sama?" tanya Rama menunjuk ikan di kolam.
Candra menghampiri Rama lalu menjelaskan warna ikan arwana yang berbeda di dalam kolam. "Yang banyak itu warnanya merah, ayahanda bawa sendiri dari tanjungnagara. Kalau yang cuma satu warnanya emas, hadiah dari paman Bayu."
"Tuan ..."
"Rama ikut ayah yuk baca buku?"
"A.yu!"
"Sayang, aku ada beberapa hal yang harus diurus," izin Candra sambil menggendong Rama.
"Lakukan saja. Aku sebentar lagi selesai."
"Jaga nyonya," perintah Candra pada pelayan wanita yang berdiri di pelataran, Jo.
"Baik, tuan."
"Rama ingin mendengar cerita apa?" tanya Candra.
"Pe lang."
"Pelangi? Kenapa?"
"Selu."
"Penjaga para bidadari saja ya, Tujuh bidadara, kakak para bidadari pelangi."
"Ka ka?"
"Iya. Kaya Rama, kakaknya Raka. Tujuh pangeran bidadara, kakaknya tujuh bidadari."
"Bidadala," ulang Rama bergumam membayangkan bidadara yang sekuat bidadari.
"Ayo kita masuk sayang," ucap Udelia melihat jam pasir di sebelahnya sudah habis turun ke bawah.
Udelia terkejut sambil memeluk erat Raka, ketika tubuhnya tiba-tiba diputar oleh sosok besar di belakang tubuhnya yang kini berada tepat berdiri di depannya.
"Udelia?!"
••• BERSAMBUNG •••
__ADS_1
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]