![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Saya akan pulang."
Pria berambut hitam panjang dengan kuncir setengah atas—Rawindra Sanjaya yang biasa dipanggil Indra, berpamitan pada rekan-rekannya yang baru datang.
Para pria bawahan Indra—yang selalu dianggap Indra sebagai rekan itu, serempak mengganggukkan kepala dan menjawabnya dengan sopan.
"Selamat beristirahat, tuan."
"Selamat pagi–" Seorang pria berambut ikal yang terlambat datang, berseru dengan riang. Rekan yang datang bersamanya, memukul keras kepalanya.
Pimpinan mereka tampak lelah, setelah begadang semalam suntuk tanpa istirahat.
Jika diingatkan sekarang masih pagi, pimpinan mereka mungkin membatalkan rencana istirahatnya dan memaksakan diri untuk memantau keamanan istana.
Kegigihan pemimpin mereka bisa membawa sakit, bila terus dibiarkan.
"Selamat beristirahat, tuan." Ralat pria berambut ikal itu. Dia menunduk pada Indra yang lewat di depannya.
"Beliau biasanya istirahat sebentar doang terus lanjut kerja. Hari ini akan pergi ke mana?" Pria berambut ikal masih penasaran dengan pemimpin mereka, yang gerak-geriknya tak biasa.
Indra melangkah pergi meninggalkan keraton. Beberapa orang menyapanya, tak didengarnya sebab pikirannya terpusat pada hal lain.
Gerakan Candra sangat mencurigakan bagi Indra.
Indra dan Candra selalu bersama-sama selama berada di medan perang, dalam rangka mempersatukan seluruh kepulauan.
Mereka juga selalu bersama-sama selama berada di istana, tempat mereka melembur.
Hampir semua kegiatan Candra dalam sepuluh tahun belakangan, Indra hafal di luar kepala.
Dia tahu waktu senggang selalu digunakan Candra bersama ibunya.
Tapi semenjak tiga bulan yang lalu, Candra tidak lagi melembur dan menginap di istana.
Kemudian tiba-tiba saja Candra mengundurkan diri.
Indra tidak percaya Candra memiliki seorang kekasih yang disembunyikan. Pria itu sudah disibukkan berbagai tugas dan berbakti pada orang tuanya.
"Pernikahannya terlalu janggal. Apalagi wajahnya ditutupi. Keluarga yang besar dan lengkap, tidak mungkin menutupi identitas pengantin wanita sampai seperti itu. Rakyat biasa? Itu lebih tidak mungkin, Candra tidak pernah memandang mereka."
Indra memikirkan berbagai kemungkinan.
Jika saja Candra tidak mendapatkan restu dari orang tuanya, itu sangat memungkinkan untuk menutupi wajah mempelai wanita, agar tidak diganggu keluarganya.
Pada kenyataannya, keluarga Candra semuanya hadir dan tidak terlihat membenci mempelai wanita.
Indra percaya Candra. Namun dia harus tetap mewaspadai semua orang, yang sangat mungkin untuk berkhianat.
Candra memegang bagian keamanan, selama bertahun-tahun lamanya. Akan sangat gawat bila mereka terlambat mengetahui rencana jahat Candra. Jika benar-ebnar ada.
Indra meloncat dari pohon ke pohon, supaya tidak terdeteksi keberadaannya. Tanpa sengaja dia menatap kakinya. Jiwanya teriris mengingat kelakuannya di dalam penjara.
"Kamu sudah melakukan dosa besar!" Indra menatap marah kakinya.
Andai saja dia dapat memutar waktu, dia tidak akan menendang wanita yang sudah ditunggunya.
Semua sudah berlalu. Dia berharap ada hukuman yang mampu menghapus dosa besarnya.
__ADS_1
Indra menghentikan langkahnya. Dia mengintai di atas pohon beringin.
Kediaman besar Ekadanta terlihat tidak ada yang mencurigakan. Semuanya tampak normal.
Beberapa saat kemudian, dia merasa terganggu mendengar isak tangis dari bawah pohon. Dia mendelik kesal pada sesosok perempuan, yang punggungnya naik turun.
"Anda akan sakit jika terkena angin," tegur Indra, berharap tangis itu selesai.
"Sakit pun tidak akan ada yang peduli."
Udelie melihat sekeliling. Tidak ada orang di sekitar sana. Udelia tidak memedulikannya, dia kembali menyembunyikan wajahnya di atas lutut dan lanjut terisak.
Indra memutar bola matanya jengah. Dia berpindah ke pohon lain yang lebih rendah, lalu turun ke hadapan Udelia.
"Ini makanlah. Obat sedih, juga rindu."
Indra menatap intens Udelia. Dia mengambil asal buah mangga yang kuning di pohon. Dia tidak peduli apakah wanita yang menangis itu, menyukai mangga atau tidak.
Ternyata perempuan yang menangis ini adalah pecinta mangga.
Perempuan yang sangat tergila-gila pada mangga.
Perempuan yang mengikrarkan janji pernikahan, sebelum dia berangkat ke medan perang, sebelum ikatan suci terjalin di antara perempuan ini dan gurunya.
Indra memberikan mangga pada Udelia. Udelia menerimanya lalu menghantamnya ke tanah beberapa kali.
Lalu dia memutar-mutarkannya dengan kedua telapak tangan, membersihkan ujungnya, dan menggigitnya.
"Anda mau?" tanya Udelia menawarkan mangga yang sudah disedotnya.
"Ti-tidak."
Dia tidak mau melakukan hal di luar batas sebelum menikah.
"Anda sangat percaya diri," kata Indra.
Udelia tersenyum kecil. Peraturan bangsawan sangat ketat. Perilakunya pasti dianggap tidak normal.
Pria ini pasti sedang mencemooh kelakuannya.
"Tidak ada keuntungan pada diri saya, buat apa khawatir?" kelakar Udelia menatap pria bertopeng di depannya.
Dia miskin, dia jelek, dia bahkan sudah tidak memiliki kesucian, siapa yang mau mengambil keuntungan darinya?
Udelia menatap netra Indra yang berwarna cokelat terang. Pria itu terus menatapnya tanpa berkedip.
Udelia mengalihkan pandangannya. Suasana hening sangat canggung untuknya. Apalagi bersama pria asing yang belum pernah dilihatnya.
Pria di hadapannya sangat tampan, wajahnya tegas, aura perlindungan menguar kuat, membuat orang yang berada di sekitarnya selalu merasa aman.
Mata Udelia bergerak ke kanan dan kiri dengan tak nyaman, mencari objek lain yang dapat mengalihkan fokusnya.
Namun mata cokelat bening itu terus merenggut perhatiannya. Kembali mata hitam legam Udelia menatap dalam-dalam mata cokelat milik Indra.
"Anda memiliki mata yang bagus," puji Udelia berusaha mencairkan suasana.
"Kelak kamu akan menyadari ada yang sangat mencintaimu atau belajarlah mencintai seseorang."
__ADS_1
"Cinta ya? Anda sudah memilikinya?"
"Sudah." Indra menjawab sambil menatap langit yang luas, memutus kontak mata di antara mereka.
Kalau terus tenggelam dalam mata indah itu, mungkin Indra akan merengkuhnya dan tidak melepaskannya.
"Tapi sekarang rasanya sangat asing," tambah Indra menghantarkan getaran rumit dalam relung hati Udelia.
Udelia melepaskan pandangannya dari wajah Indra. Sempat muncul sebuah pemikiran cacat melihat mata yang terkulai sedih.
Mata itu nampak mendamba kasih dari orang yang dicintainya.
Udelia ingin menjadi pemberi kasih itu.
Udelia menyentak dirinya dengan pukulan di punggung tangan.
Otaknya mungkin rusak, karena banyak kejadian buruk yang tidak mampu dia hindari.
Udelia melirik Indra. Pria itu masih setia menatap langit. Mungkin sedang berdo'a khusyuk.
"Kalau begitu, jika dia berubah Anda tidak lagi mencintainya?"
Indra masih terdiam menikmati hembusan angin yang menerpa tubuhnya.
Indra menjatuhkan dirinya, berbaring di atas rumput hijau. Indra menghalangi sinar mentari yang menusuk matanya, dengan lengannya.
Terlintas dalam benak Udelia sebuah gambaran, dengan postur dan suasana yang mirip. Dia memegang kepalanya yang berdenyut-denyut.
Udelia menggigit bibirnya, menahan sakit yang semakin mendera.
Mencoba bertahan atas rasa sakit yang menjadi, perempuan itu berharap semakin banyak yang dapat diingatnya.
"Dia tak lagi di dunia ini. Awalnya saya tidak mengerti, kemudian ucapannya mengingatkan saya bahwa dia dari dunia yang jauh," ujar Indra.
Penjelasan Indra membentuk sebuah gambaran samar dalam benak Udelia.
Gambaran itu seperti bangunan yang belum pernah dilihatnya.
Udelia terjatuh di samping Indra. Kepalanya terasa akan copot.
Kemudian sakit itu secara bertahap berkurang. Telapak tangan besar menjauh seiiring kelopak matanya mulai terbuka.
Hangatnya tangan itu memberi sensasi yang akrab. Udelia memandang pria yang duduk di sampingnya.
"Anda tahu cara pergi ke dunia itu?"
"Saya sudah lama menemuinya jika tahu caranya."
Telinga Indra menangkap suara kereta kuda yang berhenti di depan gapura.
Dengan enggan dia bangkit meninggalkan Udelia.
"Saya pergi."
"Siapa namamu?"
"Lebih baik Anda tidak tahu."
__ADS_1
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]