![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Baginda pergi ke wanita itu?"
"Benar, nyonya selir."
"Ayo kita kunjungi."
Cempaka, wanita yang memakai kemben berwarna merah dengan kain jarik motif kamboja yang menutup bagian bawah tubuhnya dan berbagai perhiasan berupa cincin, gelang, kilatbahu, kalung, karah, dan mahkota kecil di kepala, menaiki tandu.
Dalam perjalanan, dia melihat Hayan sedang mengelap tangan seorang anak.
Senyum tuannya terlihat sangat lebar. Tatapan pria itu sangat hangat.
Sangat sangat hangat.
"Siapa dia?"
"Hamba akan mencari tahu."
"Tidak perlu. Aku saja."
"Hati-hati, Nyonya."
Dayang membantu Cempaka untuk berdiri.
Perempuan perempuan perawan itu memperlakukan Cempaka bak kaca yang akan pecah, bila sedikit saja diperlakukan dengan keras.
Di Keraton, para dayang dan pelayan termasuk prajurit dan ksatria, m sebagian besarnya adalah para perawan dan perjaka yang masih suci.
Sengaja demikian, agar orang orang tingkat tinggi tidak semena mena minta dilayani, dengan pelayanan khusus.
Hanya mereka yang memiliki kinerja bagus, yang diperbolehkan tetap bekerja di Keraton, meski sudah menikah.
Bahkan beberapa keluarga diperbolehkan tinggal seperti salah satu anggota keluarga Mihir, orang tua Samha, yang bekerja sebagai bagian pengurus rumah tangga Keraton.
Dan sekarang, wanita itu menjadi noda di pakaian Hayan. Keluarga Mihir dan Sapta Prabu, para tetua dari tujuh keluarga besar, bersekongkol untuk menempatkan wanita lain di sisi Maharaja ketika Maharani sudah tidak segemilang dahulu.
Hayan terus mengelak atas permintaan mereka yang terang terangan dan atas siasat yang menjebaknya dengan Samha.
Naasnya, Sang Ibunda, Gitarja Wijaya, ikut bersekutu dan menjebak putranya. Hayan terpaksa menikahi wanita yang katanya sudah dinodainya.
Sampai sekarang, entah benar dia menodai wanita itu atau semuanya hanyalah karangan belaka.
Dua dayang menghimpit Cempaka. Memapahnya bak orang kesakitan. Seutas senyum terus bertengger di bibir Cempaka. Perempuan itu memberi penghormatan ketika sudah sampai di sisi Hayan.
"Adinda memberi salam kepada baginda. Semoga kejayaan dan keagungan selalu dalam diri baginda."
Hayan yang hendak berjalan, terhenti dan menatap Cempaka yang sedikit menekuk lututnya, memberi salam kepadanya.
"Tidak perlu sungkan."
"Maafkan kelancangan adinda menemui baginda tanpa pemberitahuan."
Cempaka memasang wajah yang sendu. Rintik air turun dari matanya.
Semalam adalah jadwal mereka menghabiskan malam yang panas setelah penantian panjang selama satu bulan lamanya.
Hayan sejarang itu untuk menyentuh wanita wanita di sisinya.
"Salahku sudah berjanji tapi tak datang."
Hayan menghapus bulir air di wajah Cempaka. Mereka akan menghabiskan malam berdua, tapi Hayan tak kunjung datang hingga malam kembali datang.
"Ambillah kebaya dan perhiasan yang kau mau di gudang," ucap Hayan memberikan kompensasi untuk selir tercintanya.
"Terima kasih, Baginda."
__ADS_1
"Nda!"
Rama menepuk pipi Hayan. Dia tidak suka 'ayahanda'nya memperhatikan orang asing. Dia juga sudah tak sabar untuk kembali menemui ibundanya tersayang.
Cempaka melotot melihat pria kecil yang tidak memiliki tata krama.
Sungguh berani anak itu memukul wajah orang yang agung.
Cempaka saja sebagai selir kesayangan, harus berhati hati bila berhadapan dengan Sang Baginda.
"Baginda, anak ini adalah..?"
"Kembalilah."
"Anu.. baginda."
Suara Cempaka terdengar ragu, dia memberanikan diri untuk mendongak dan melihat punggung Hayan yang tidak kunjung menggubrisnya. Hayan terus berjalan menjauhi dirinya.
"Baginda, sebenarnya adinda hamil!"
Senyum merekah di wajah Cempaka, sementara Hayan terpaku di tempatnya.
Seharusnya dia senang selir tercintanya mengandung benihnya.
Tapi, rasa apa ini?
Hayan memegang jantungnya yang berdebar, namun tak ada euforia bahagia.
***
"Nyonya, saya bawakan obat. Oh masih tidak sadarkan diri. Maka saya yang akan meminumkannya."
Seorang pelayan bermolog sembari meletakkan nampan di atas meja.
Dia mengambil gulungan kain yang terselip di kembennya, lantas menabur benda berwarna putih itu ke dalam mangkuk obat yang berisi teh tawar.
Pelayan itu menyeringai keji. Jakunnya naik turun menatap wajah perempuan yang memancarkan cahaya lembut. Lalu dia melakukan hal gila, memasukkan obat ke dalam mulutnya sendiri.
Pelan tapi pasti, hidungnya telah bertemu dengan hidung si wanita berwajah lembut dengan cahaya yang bersinar dan terdapat aroma manis kayu menguar dari tubuhnya.
Pria dewasa itu tergila gila dengan penampilan wanita yang mesti dieksekusinya.
Dia berniat mencicipinya sendikit.
"Banyak pun tak apa. Hahaha." Pelayan itu tertawa dalam hati.
"Apa yang kau lakukan?!"
Nung muncul di belakang si pelayan dia menarik tengkuk si pelayan yang berusaha mendekatkan bibirnya ke bibir Udelia
Bisa hilang nyawanya bila Maharaja mengetahui hal demikian.
Duo menutup wajah pelayan itu hingga obat dalam mulutnya tertelan.
"Hok.. hok.. hok."
"Siapa yang mengirimmu?" tanya Nung usai mengikat tangan pelayan itu dengan kuat kuat.
Duo mengelap tangannya yang basah. Dia menatap Nung yang juga sudah peka dengan cairan di tangannya.
"Racun," ucap Duo merasa tangannya panas dan kebas.
Nung yang sudah menyadari semenjak air muka Duo berubah langsung saja mengambil tindakan.
Dia membuka pintu dengan kasar hingga terdengar suara berdebam.
__ADS_1
"Pengawal! Panggil tuan Ra Konco!" teriak Nung menggelegar.
Ksatria wanita yang sering kali menyamar menjadi seorang dayang lemah itu mengagetkan para pengawal, yang biasanya diam seperti patung.
***
"Ada apa?" tanya Hayan pada pengawal yang berlari bersama Ra Konco.
"Nung memanggil hamba, Yang Mulia," jawab Ra Konco.
"Baginda, tuan Ra Konco dapat memeriksa adinda untuk memastikan," ucap Cempaka di belakang Hayan.
"Nung? Apa terjadi sesuatu pada Udelia?" tanya Hayan mengabaikan sang selir tersayang yang sedang berusaha menggapai tangannya. Tanpa sadar Hayan meletakkan tangannya yang bebas ke tubuh Rama agar pria kecil itu tidak terjatuh.
"Adinda baru memeriksakan diri pada tabib luar."
Cempaka masih berusaha mengutarakan yang telah terjadi beberapa hari yang lalu. Dia menunduk memilin perhiasan yang melingkar di perutnya.
Malu karena orang orang telah melihat dirinya diabaikan sang Maharaja yang selalu menyebutnya kesayangan.
"Hamba belum tahu, Yang Mulia." Ra Konco menjawab dengan sopan.
"Baiklah. Cepat. Jangan menunda waktu."
"Baik, Yang Mulia." Bergegas Ra Konco berlari pergi bersama pengawal yang memandu jalan.
Hayan melirik keberadaan salah satu wanita yang telah menjadi selirnya selama dua tahun belakangan.
Wajah cantik Cempaka tertekuk masam. Air matanya kembali jatuh. Baru kali ini dia tidak didengarkan pendapatnya.
Sedetik kemudian dia terbelalak merasakan kecupan di ubun-ubunnya.
"Beristirahatlah, sayangku. Ra Konco akan datang ke kedatonmu."
Hayan berlalu begitu selesai menenangkan selirnya.
Tidak ingin satu detik pun tersia sia kan oleh rengekan tidak berguna.
Cempaka memegang pipinya yang mengembang dan bersemu. Wajahnya memerah mendengar panggilan Hayan sangat intim padanya.
"Apa kalian dengar? Baginda memanggil sayangku. Hehe."
Para dayang dan pelayan yang bekerja pada Cempaka ikut tersenyum mendengar majikannya semakin intim dengan Maharaja.
***
"Tidak ada masalah, Yang Mulia. Racun belum sempat masuk ke tubuh mm.. Yang Mulia Maharani," terang Ra Konco usai memeriksa keadaan Udelia dengan keahliannya yang sangat mumpuni.
"Nung."
Mata Hayan fokus menatap Udelia yang terbaring di ranjang. Namun telinganya bersiap mendengar penjelasan bawahannya.
Nung yang sudah siap melaporkan, bergegas mendekat dan bersimpuh di sisi Maharaja.
"Pelayan ini mendekatkan wajahnya, hendak meminumkan racun langsung dari mulutnya. Mohon maaf Yang Mulia, dalangnya belum diketahui."
"Pelayan Kedaton Baro-baro."
Hayan menarik lidah pelayan lalu memutusnya tanpa basa basi.
Wajahnya menatap bengis si pelayan yang sedang mengerang kesakitan.
"Katakan siapa pesuruhmu atau keluarga besarmu akan mati!"
••••••••••••••••••
__ADS_1
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]