![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Ada apa, Mahapatih?" tanya Hayan dengan datar. Ada rasa kesal karena waktu kebersamaannya dengan pujaan hati terganggu.
Namun tentu dia tidak terlalu menampakkan, agar Sang Mahapatih tidak curiga padanya.
"Laporan Tanjungnagara, Paduka. Orang-orang dari tengah pulau menculik keluarga para pejabat. Penyihir dan petapa yang ada sulit menjangkau suku-suku itu. Kita harus mengirim darah murni Ekadanta," jelas Djahan.
Hayan memerintahkan DJahan untuk keluar dari rumah tahanan. Mereka belum lagi membahas aduan Ekadanta, karena pekerjaan yang menumpuk.
Karena Djahan sempat berada di penjara dan karena Hayan sibuk dengan selir barunya. Djahan berdecak kesal. Hanya demi wanita yang tidak jelas asal usulnya, Maharaja sampai meninggalkan sebagian tugasnya.
Djahan memperhatikan Hayan yang berjalan ke mejanya. Mungkin jika dia tidak datang ke Bale' Ndamel, ruang kerja Maharaja, mungkin saja Maharaja akan terus ndusel di pelukan selir baru.
Djahan tidak menyangka. Selir dari Watek Ende, demikian besar pengaruhnya. Dia pikir, Hayan hanya terpengaruh dengan istrinya. Ternyata pria itu memang belang dari sananya.
"Situasinya bagaimana?"
"Awalnya tidak menyakiti warga setempat, hanya fokus menculik para bangsawan. Namun akhir-akhir ini mereka menakuti warga, hingga tidak ada aktivitas pada malam hari. Orang-orang dari negeri yang jauh, berangsur-angsur pulang. Mereka takut diculik. Dan ada pula santet-santet yang dikirim secara acak," Djahan memberikan lembaran-lembaran laporan pada Hayan.
"Kita sudah membiarkan mereka, yang ingin hidup damai tanpa pendatang. Mereka malah mengganggu warga kita," kesal Hayan membaca data-data orang hilang.
"Apa perlu mengirim dukun?"
"Anda pergilah memimpin penyihir yang ada. Selanjutnya kita berkirim surat," Hayan meletakkan kertas di meja.
Seketika raut wajahnya mengernyit. Kala Modo, komodo, dan Payang, penyu payang, hewan-hewan kontrak Hayan megirimkan sinyal bahaya.
"Modo dan Payang, apa yang terjadi?"
"Ada peyusup," jawab Payang.
Tanpa basa-basi, Hayan memanggil Berani lalu terbang ke langit, rupanya hilang di balik pepohonan. Dia tidak memedulikan Djahan yang memanggil-manggil namanya
"Huna, ke mana Maharaja?" tanya Djahan yang ditinggalkan begitu saja. Masalah mereka sedang rumit, Maharaja tidak pernah meninggalkan diskusi mereka di tengah jalan. Semua masalah harus cepat diselesaikan.
"Hamba tidak paham."
Sementara itu Hayan telah sampai di penjara paling rahasia. Dia tidak melewati Kedaton Sedap Malam. Dia melewati pintu utama yang ada di dekat kumpulan penjara.
Dari pintu masuk utama, banyak penjaga dan pengawal yang menjaga tempat itu. Mereka adalah orang-orang khusus.
"Kami memberi salam kepada Yang Mulia Maharaja."
"Buka," perintah Hayan pada penjaga gua di penjara terdalam.
Ia menerima obor lalu berjalan sendirian, melewati ksatria-ksatria yang berbaris rapi di mulut gua. Matanya menatap waspada, kakinya melangkah tanpa suara. Dia turun sedikit ke bawah dan ia dapati gerbang sel telah terbuka.
"Udelia!" pekik Hayan, jauh di hadapannya Udelia bersimbah darah tak sadarkan diri di pelukan Candra.
"Rama, naik." Candra memberikan titah dengan tegas.
Suara dingin Candra membuat Rama merinding, cepat-cepat ia menaiki Lembuswana, monster yang paling mengerikan di matanya.
__ADS_1
Candra menggendong Udelia di sisi kirinya, ia duduk di belakang Rama dan memeluk anaknya dengan erat, supaya tidak terjatuh.
"Panca, terbang secepat mungkin. Semua penghalang aku yang urus."
"Auum."
Hayan menutup matanya yang terkena debu beterbangan. Ia naiki Berani terbang, menyusul Candra. "Ekadanta, kembali!!" teriak Hayan menggema.
Candra terus terbang hingga mendarat di bukit Jana. Sesekali Panca menendang awan, membuat jarak pandang Berani terhalangi.
"Hewan apa ini?" Boco terkejut kala Lembuswana mendarat di depan gubuknya. Dia bersiap-siap siaga dengan kedatangan musuh, namun yang turun ternyata cucunya.
"Cucuku bagaimana bisa begini?" Boco melempar hewan buruan lalu membantu Candra. Tampak luka-luka di tubuh cucu menantunya sangat mengerikan. Wajahnya pun sepucat mayat.
Panca melesat masuk, membantu Candra membuatkan tempat tidur untuk Raka, lantas meletakkan box bayi itu di sisi ranjang yang ditempatiUdelia.
"Tuan, sudah sesuai di rumahmu."
"Ya. Kerja bagus." Candra mengangguk, Panca menundukkan badannya kemudian menghilang.
"Cu, lebih baik undang ibu susu." Boco memandang sedih Raka di gendongan Candra. Bayi itu menangis kencang.
"Tidak perlu," balas Candra sembari menenangkan Raka. "Cup.. cup.. sayang ayah .. tahan yaa."
"Dia—" Boco melempar asal kain yang berisi darah cucu menantunya ke tempat sampah. Jantungnya hampir copot melihat mata Udelia terbuka.
Kondisi Udelia terbilang sangat gawat. Tidak akan mungkin dapat secepat itu sadar. Sadar pun, akan merasakan kondisi yang amat menyakitkan.
"Kek, Rama.. Raka.?" gumam Udelia.
"Raka belum makan," tolak Udelia. Susah payah dia berusaha duduk.
"Candra kemarilah! Istrimu sudah sadar." Boco keluar membawa baskom yang airnya berwarna merah.
"Sayang, kembalilah tidur."
Udelia menggeleng. "Raka,"
Candra tidak dapat menolak tatapan memohon Udelia, pelan-pelan ia berikan Raka.
"Raka laper sekali?" Udelia menyentuh pipi bayinya.
"Rama, maafkan ayahanda," Candra bersimpuh di depan Rama yang mengintip di sela-sela pintu.
"Huaaa Lama atuuttt. Huaa ndaaa hiks uaaa," Rama memeluk erat Candra.
"Cup..cup.. maaf..maaf,"
"Nda?" tanya Rama takut-takut setelah tangisnya reda.
Candra mengusap wajah Rama lalu menggendongnya.
__ADS_1
"Rama, putra ibu," Udelia menyibak rambut di dahi Rama yang duduk di sebelah kirinya lalu ia cium dalam-dalam.
"Ibunda beldalah," ucap Rama memegang dahi ibunya.
Udelia tersenyum. "Sudah sembuh,"
"Nda belum makan," komentar Rama memegang perut Udelia yang bergetar. Suaranya terdengar saat aroma daging menyusup di sela-sela lubang kayu.
"Rama, jaga ibunda dan adinda. Ayahanda akan membantu Uyut,"
"Siap, nda,"
Udelia mengusap ingus yang keluar di hidung Rama.
"Ini bawalah. Mbah akan buatkan obat,"
"Terima kasih mbah,"
Boco menjitak kepala Candra. "Jangan seperti orang lain saja," ia berlalu keluar pindah ke gubuk yang lain menyiapkan obat.
"Candra maaf aku merepotkan terus,"
"Hust. Istriku tidak merepotkan," Candra mengelus rambut Udelia.
"Aku tidak berguna. Selama ini tidak pernah membantumu, tidak melakukan pekerjaan apa pun malah meminta ini dan itu sampai kamu menyerahkan pekerjaan pada orang lain,"
Candra memeluk Udelia. "Sayangku," ucapnya mengusap punggung Udelia.
"Kini aku tidak bisa berjalan," Udelia menatap kakinya. "Aku benar-benar hanya sebuah beban,"
"Hust. Tidak ada. Tidak ada. Istriku bukan beban, istriku dengan berani menyelamatkan aku,"
"Candra, Rama adalah anaknya kan?" tanya Udelia.
Candra terdiam memejamkan matanya.
"Karena itu kan kamu diculik? Aku benar-benar membawa masalah. Andai urut jadi dilakukan waktu itu,"
"Udelia!" Candra mencengkeram lengan Udelia.
"Uh," rintih Udelia.
Mata Candra berkilat tak menghiraukan rintihan Udelia, ia tatap kedua bola mata istrinya. "Tidak ada yang salah dengan kelahirannya. Rama tetaplah Rama. Dia adalah putra kita. Dia adalah Rama Ekadanta dan selamanya begitu," ucap Candra. "Dan istriku bukanlah beban. Udelia cukup berada di sisiku dan tidak meninggalkanku, sudah tidak ada yang aku perlukan,"
Candra melepaskan tangannya. Dengan cepat Udelia menutup kulitnya yang kemerahan.
"Istriku pasti lapar hingga berbicara melantur."
Diambilnya piring di meja, Candra menyuapi Udelia dengan telaten.
••••••••••••••••••
__ADS_1
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]