TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
MEMATUHI PERKATAAN SUAMINYA 1


__ADS_3

"Istriku. Ayo kembali. Darahmu keluar dengan deras," ucap pelan Candra.


Tidak ada lagi nada sindiran dan nada ketus meluncur keluar dari mulutnya. Candra tak tahan melihat darah keluar dari tubuh istrinya.


Dia khawatir.


"Raka ... ingin makan?" tutur Udelia mengusap kepala Raka. Bocah itu bangun dan terus menatapnya.


"Jangan mengalihkan pembicaraan!" kata Candra menangkup wajah Udelia. Mengelap darah di wajah Udelia.


"Panca!" Candra memanggil hewan kontraknya. Niatnya pulag sudah tak berbendung. Candra ingin mengobati luka istrinya.


Panca muncul dengan raga manusia. Dia tidak pernah menunjukkan raga aslinya selain pada majikannya dan orang-orang sial yang datang ke sarangnya.


Kendatipun dijadikan ikon Tanjung Nagara sebagai hewan yang memiliki banyak makna, lembuswana tidak lantas merasa tersanjung atau mau berdekatan dengan manusia.


Lembuswana adalah hewan mitos paling anti dengan manusia. Dewasa, anak-anak, atau sekalipun bayi merah yang tidak memiliki kekuatan dan akalnya belum sempurna, semua masuk ke dalam perutnya.


Saat berhadapan dengan Candra, lembuswana telah melahap manusia itu tanpa mengunyahnya. Namun anehnya si manusia tidak tercerna di dalam perutnya.


Candra merobek bagian perut lembuswana dan melenggang keluar tanpa mengambil keuntungan dari makhluk mitos yang sedang terkapar lemah.


Lembuswana sendiri yang mendatangi Candra memilih penyihir Bhumi Maja sebagai majikannya.


Belasan tahun pria itu tidak menggunakan kekuatannya, akhirnya sampai pada titik sang majikan membutuhkan kekuatannya.


"Aku mau di sini." Udelia menempelkan wajahnya ke perut datar Candra. Menghirup aroma suaminya yang sangat dia rindukan. Sudah lama tidak memeluk tubuh suaminya.


"Sakitmu akan tambah parah."


"Aku hanya belum menguasai kekuatan."


Candra mengusap kening Udelia. Memeriksa jalur energi miliknya di dalam tilak Udelia saat menyerahkannya di upacara pernikahan.


Letupan energi terasa kuat di tubuh Udelia.


Candra mendesah. Tabib Ra Konco adalah tabib terbaik. Begitu mudahnya menghilangkan segala halangan di tubuh Udelia.


Candra tidak akan menghalangi kekuatan di raga Udelia. Karena pasti istri tercintanya itu membutuhkan kekuatan untuk melawan musuhnya.


Udelia telah dikenal sebagai calon selir baru Maharaja. Pasti banyak yang mengincarnya. Tidak selamanya Candra bisa di sisi Udelia. Seperti yang terjadi kemarin.


Candra terlalu terlena dengan tiga tahun kebersamaan yang jarang memisahkan mereka, kecuali hanya setengah atau satu hari karena acara adat yang berbeda tempat.


"Kami akan menyewa rumahmu. Apa bisa tinggalkan kami?"


Candra hendak membantu Udelia kembali mengendalikan kekuatannya. Dia tidak mau ada orang tahu jika mereka berdua adalah orang yang kuat.

__ADS_1


Mereka akan mudah dideteksi oleh kalangan atas jika jadi terkenal.


"Mohon maaf, tuan. Rumah ini–"


"Ambillah. Tinggalkan kami berdua di sini." Candra melempar kantung dari cincinnya.


Udin menunduk, mengambil kantung yang terjatuh ke tanah, matanya melotot melihat sekantung penuh emas.


Binar gembira selalu menyerbu seseorang yang mendapatkan emas. Udin mengangguk patuh.


"Baiklah, tuan. Silakan tempati rumah dengan nyaman."


Candra membawa Udelia ke dalam kamar yang telah disiapkan. Bersih, meski sangat kecil untuk Candra. Ukurannya hanya seluas kamar mandinya.


Ketika Candra keluar, Udelia memegang dadanya, kembali memuntahkan darah.


Saat masih di gubuk Boco, di dalam ruang perawatan, Udelia mencoba mengatur energinya agar dapat membuat Utih muncul dan membantunya mendapatkan  Rama kembali.


Sulit. Mengumpulkan energi untuk mengeluarkan hewan kontrak. Pantaslah hewan kontrak menjadi tingkatan tertinggi yang menunjukkan pecapaian besar suatu kekuatan, baik kanuragan maupun sihir.


"Teori di buku sangat mudah. Kenapa sakit sekali?" keluh Udelia.


Udelia hendak menanyai Utih, sudah sampai mana dan bagaimana keadaan Rama, anak laki-laki itu sulit berinteraksi dengan orang asing. Udelia takut putranya menangis sepanjang jalan.


"Karena begitu mengumpulkan, langsung digunakan dan ketika kekuatan habis, terus memaksa. Tubuh yang sudah lama tidak digunakan itu berkarat dan harus diperbaiki dulu."


Candra menyalakan api. Dia mulai memanaskan air sambil menimang-nimang Raka. Bayi itu sangat anteng. Bahkan terbang di atas awan pun tidak menangis.


Candra tersenyum mendapati Raka terus memperhatikannya. Sepertinya bayi cerdas itu sedang menerka apa yang sedang dilakukan ayahandanya.


"Putra ayahanda memang tampan, cerdas, tak terkalah kan. Lucu banget sayangku." Candra menciumi Raka dengan gemas.


"Ini ayahanda mau buat obat untuk ibunda," jelas Candra seolah Raka mengerti yang dibicarakannya.


Candra memasukkan tumbuh-tumbuhan dari cincinnya. Dia mengaduknya sampai warna pekat saling bersatu.


Tawa khas bayi terdengar di dapur itu. Raka menjulurkan tangan mungilnya mencoba menggapai asap obat yang keluar.


"Tuan, babi." Panca dengan raga manusia masuk ke dalam dapur dengan seekor hewan mati di bahunya. Dia meletakkan hewan itu ke lantai dapur yang hanya berupa tanah rata.


"Istriku tidak menyukainya, buanglah babi itu. Bersihkan lantainya."


Candra memberi perintah tanpa menoleh. Tangannya sibuk mematikan perapian dan menuangkannya ke dalam mangkuk agar cepat hangat dan mudah dibawa.


Panca menggendong keluar babi itu dengan wajah keheranan.


"Tapi tuan selalu menyukai babi hutan," gumam Panca.

__ADS_1


Dahulu, sebelum menikah, hampir setiap pekan dia membawakan babi untuk dimakan sang tuan. Setelah menikah, Panca dilarang muncul oleh Candra.


Tuannya terlalu bucin. Tidak ingin diusik.


Candra membawa obat pada Udelia yang terlelap sambil memunggungi pintu. Pria bermata bulat itu duduk di sisi istrinya.


"Istriku, bangunlah," ucap Candra menepuk pelan lengan Udelia.


Ketika Udelia berbalik, Candra tertegun. Candra melihat bercak darah di pakaian Udelia.


Candra menenggak obat dalam mangkuk. Dia mengarahkan bibirnya pada bibir Udelia. Memberikan obat langsung dari mulut ke mulut.


Udelia terlalu lemah untuk sekadar bangun. Dia menerima semua perlakuan Candra. Rasa pahit hanya terasa sekejap. Selanjutnya rasa manis terasa di mulut Udelia.


Mata sepasang suami istri itu saling memandang. Ciuman manis dan tatapan teduh Candra mengobati luka hatinya. Tidak ada lagi tatapan mata keras dan tajam pada mata cokelat Candra.


Suara tangis mendadak terdengar. Candra gelagapan dan langsung memeriksa Raka yang terhimpit oleh dia dan istrinya.


Bayi itu tidak terluka dan tidak pula terhimpit. Udelia mengulas senyum. Bayinya hanya cemburu.


Dia mengelus rambut tipis Raka dan menciumi pipinya. Bayi kecil itu seketika terhenti.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


TERIMA KASIH SUDAH SETIA MEMBACA HINGGA BAB INI


... Untuk season 1 ada di profil author.


Judul: TIKZ [Berpindah ke Zaman Keemasan]


Author: Al-Fa4


... Untuk season 2 sampai pada bab delapan puluh empat atau judulnya = MEREKA BERTARUNG DENGAN HEBAT


Judul: TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]


Author: Al-Fa4


... Akan dilanjut menjadi season 3 pada season 2 kali ini


Judul: TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]


Author: Al-Fa4

__ADS_1


__ADS_2