![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
046 - DIA AKAN MENGALAH DULU
"Anda di sini, Mahapatih?" tanya Hayan kembali pada mode hormatnya.
Pada Mahapatih yang juga merupakan guru ibundanya.
Pertengkaran sebelumnya menyadarkan dia akan satu hal; Udelia jatuh sakit setelah berhubungan dengannya.
Bukan karena kelicikan Sang Mahapatih yang enggan berbagi istri.
Hanya saja Udelia memang keletihan.
Teringat akan masa lalu bahwa Udelia keguguran karena keletihan akibat panjangnya prosesi pernikahan mereka.
Bahkan tanpa berhubungan, bisa saja Udelia kembali keguguran bila tidak cepat ditangani.
Untungnya kali ini Hayan sudah peka akan sakit Udelia yang sering ditahan wanita itu.
"Saya menemani istri, apa itu salah?" ucap Djahan.
Hayan terdiam. Melirik istrinya yang rebah di atas brankar.
Takut terbangun dan tiada mau lagi bersama dengannya.
Karena cinta sejatinya telah hadir di sini.
Ia paham. Amat paham. Meski Udelia ditetapkan memiliki banyak pasangan.
Tetap hanya satu orang yang dicintai wanita itu.
Selayaknya ia. Memiliki banyak selir. Tetap Maharani yang dia cinta dan pikirkan.
Menghabiskan malam- malam bersama dengan selir, namun membayangkan Maharani yang ada di bawahnya.
"Apalagi istri saya... sedang mengandung calon bu. ah ha. ti ka. mi." Djahan menekan harapan yang pernah dimusnahkan Hayan.
Walau tak sengaja, tetap saja pria itu adalah dalang mangkatnya calon bayi yang belum sempat dia ketahui.
Andai dia tahu saat istrinya sedang hamil dipersunting Maharaja, dia tidak akan memedulikan kestabilan negara yang dipinta istrinya.
Udelia mengerjap pelan. Matanya amat berat. Hanya bayangan samar yang membias di mata.
Tangannya mengudara.
Djahan langsung meraih tangan itu.
Hayan mundur sedikit.
Dia terbebani dengan nyawa yang disebutkan madunya.
Hayan sangat mencintai anak- anaknya.
Dia amat paham dengan kasih ayah pada keturunannya.
Kalah hatinya jika berhadapan dengan manusia berjuluk anak.
Apalagi anak itu masih tak berdaya di dalam kandungan.
Meski setelah menikah, Udelia kembali bersama Djahan.
Setidaknya Hayan sudah terikat dengan wanita pujaannya.
Tanggung jawab dan hak yang akan memaksa mereka untuk berjumpa.
"Ha.. yan..."
Hayan dan Djahan sama tercekat.
Mereka tak pernah terbayang bila Udelia akan menyebutkan nama Hayan di sela kesadarannya.
Djahan tak sadar meremas keras jemari Udelia.
"Aw. Sshhhh.."
Djahan melepas pelan tangan Udelia.
Dia berlalu pergi.
Memanggil dokter dan meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
Belum sepekan mereka berpisah, Udelia sudah memanggil nama pria lain dalam tidurnya.
Hatinya kemelut. Logikanya mendadak dangkal.
"Hayan... Djahan mana?" tanya Udelia begitu sadarnya.
Dokter telah memeriksa menyeluruh dan menyatakan perkembangan Udelia yang signifikan.
Hayan mendadak lesu. Ternyata Udelia memanggilnya demi mencari suami pertamanya.
Akal liciknya mengemukakan pendapat.
Hayan tersenyum kecil. "Bukankah Djahan ada di rumahnya?"
"Dia tidak menjengukku? Bukankah dia punya kuasa untuk mengetahui keberadaanku? Kenapa tidak datang?" Udelia sedih.
Ternyata Djahan sudah tidak peduli padanya.
Udelia sadar kalau dirinya amat salah.
"Mungkin dia masih marah. Mungkin banyak pekerjaan," ucap Hayan menambah keyakinan di hati Udelia.
Hayan menyembunyikan kenyataan Djahan pernah datang ke rumah sakit ini untuk Udelia. Dua kali banyaknya.
Hayan tidak akan memaksa Udelia untuk pergi bersamanya.
Dia akan membuat Udelia pergi bersamanya.
Hayan menatap lembut Udelia.
Hidupnya berporos pada wanita ini.
Sungguh. Kehilangan harta, tahta, dan kehormatan, sangat sebanding.
Awalnya mungkin susah.
Tapi saat bersama dengan wanita ini, Hayan merasa semua itu sepadan.
Setelah dokter menyatakan Udelia telah pulih, Hayan membawa Udelia ke kediamannya.
Udelia menatap takjub rumah minimalis yang nyaman itu.
Hanya saja Udelia sangat takjub. Sebab terakhir berjumpa Hayan, sebelum menikah dengan Djahan, pria itu masihlah seorang pengangguran.
Udelia tidak akan bertanya dari mana seluruh harta Hayan.
Pria itu sebelumnya adalah raja, bidang apa yang sulit untuknya?
Teknologi, mungkin tinggal menunggu waktu.
Sejenak Udelia melupakan Djahan.
Perlakuan manis Hayan mampu menghipnotisnya.
Rupanya begini yang buat seluruh keluarganya berubah haluan berpihak pada Hayan.
Pria itu tak malu menggunakan celemek.
Memasak apa yang dia bisa.
Sialnya seluruh masakan itu lebih lezat dari cita rasa yang diciptakan Udelia.
Hayan membuat semua itu dengan cinta.
Dia terus belajar cara menyenangkan istri.
Rupanya, di internet banyak beredar tentang tugas suami.
Yang mana bukan hanya bekerja, namun juga memasak untuk istrinya.
Diam -diam dia mengikuti les, agar cita rasa masakannya pas di lidah.
Bagaimanapun, ada banyak bumbu yang berbeda.
Seperti benda bernama tomat, sangat kecut di lidah Hayan. Namun ternyata berguna pada masakan sup ringan.
Pesona Hayan masih sama kuatnya.
Sang guru di akademik memasak sampai jatuh hati padanya.
__ADS_1
Wanita dengan rok di atas lutut, duduk manis di atas sofa.
Hayan terlampau fokus memetik buah di belakang.
Tidak mengindahkan suara bel berbunyi.
Udelia yang sedang lemas akhirnya membuka pintu.
Jantungnya berdetak cepat kala menyuruh wanita cantik itu untuk duduk.
Ada yang terbakar di dalam dada.
Udelia mencoba untuk terus rasional.
Bisa saja wanita ini adalah bos dari pekerjaan Hayan.
Ah. Udelia jadi teringat tugasnya yang masih terbengkalai.
"Mbak, tolong teh dengan gula ringan, ya. Setahu saya, Pak Kara tidak suka gula yang kuat. Saya juga sama," ucap wanita yang mengenalkan diri bernama Dita, dengan sedikit memerintah
"Ya ampun, sayang. Kenapa bangun? Bukankah sudah kubilang pencet saja bel di ranjangmu?"
Hayan sangat khawatir dengan keadaan Udelia.
Dokter sudah menyuruh wanita itu untuk jangan beranjak kecuali untuk ke toilet!
Hayan kemudian menyadari ada orang lain di ruang tamu, sesudah dia memaksa lembut Udelia untuk kembali berbaring di kamar.
"Siapa kamu?"
"Pak Kara ini banyak becanda, ya. Saya Dita. Bapak lupa?"
Dita merasa tak enak karena sudah menyuruh wanita, yang dia anggap sebagai saudara pria pujaannya.
Hayan sebenarnya tak pernah lupa tentang siapa pun mereka yang ditemuinya.
Hayan hanya merasa malas.
Dia lebih memilih memikirkan Udelia daripada memikirkan mereka.
"Cepat katakan apa maumu."
Ini adalah hal yang membuat Hayan sedikit berat denga status barunya, sebagai warga biasa.
Dia harus terbiasa berinteraksi.
Menjadi kalangan bawah berarti tidak bisa menundukkan orang lain.
Hayan bisa saja kembali berkuasa.
Dia hanya takut melanggar sumpahnya.
Dia selalu meminta dalam tapaannya, bahwa dia akan menukar seluruh kekuasaannya dengan kebersamaan dengan wanita yang selalu hadir dalam hati dan pikirannya.
Jika di sini dia memilih kekuasaan, bisa jadi Udelia terlepas dari genggamannya.
Dan hidupnya kembali hampa.
"Emmm.. saya mau mengabarkan jika kelas masak akan diubah besok pada pukul enam sore."
Dita bukannya tersinggung dengan nada dingin dan ketus Hayan.
Dia merasa makin penasaran dengan pria tampan itu.
Menghadapi pria dingin harus penuh perhatian.
Dia akan mengalah dulu.
Apalagi adik pria itu sedang sakit.
Tak elok bila dia merecoki hari santai pria itu.
Hayan mengangguk singkat.
Dita pun beranjak pergi.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]