![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]
005 - WANITA ITU ADALAH MILIKNYA
"Silakan nikmati hidangannya," ucap Wara sembari tersenyum kecil, menunjuk dengan jari jempol pada hidangan berwarna cokelat yang sedang ditata Fusena.
Para tamunya memandang nasi dan mie yang bercampur jadi satu, dengan pandangan yang sulit diartikan.
Makanan di hadapan mereka, sangat jauh berbeda dari yang biasa mereka makan. Ragu menerpa mereka. Mereka tahu, makanan itu bukan makanan yang menyehatkan.
Mereka seketika mengambil piring dan menyendok makanan ke dalam mulut, kala melihat Djahan mengangkat sendoknya dan mulai makan makanan yang dihidangkan.
Sebagian mereka susah payah menelannya. Mereka berusaha menghabiskannya, seperti Djahan menghabiskan makanannya.
"Di mana Udelia?" bisik Wara pada Fusena dan Lamont, adik Udelia.
"Ada di belakang, Yah," jawab Lamont. Dia membawa teko air.
"Panggil mbakmu," titah Wara.
Lamont bersegera melakukan titah ayahnya. Dia berjalan ke dapur. Memanggil kakaknya.
Udelia berdiri, memainkan jarinya, menggulung ujung kemejanya. Wajahnya menunduk. Sementara matanya terus berkedip malu, ketika sadar sedang diteliti setiap tamu yang memandangnya.
"Kekasihmu datang melamar kenapa tidak mengatakan dahulu?" tanya Wara pada putrinya yang jadi pusat perhatian.
"Udel tidak punya kekasih, Yah," lirih Udelia
Dia menegakkan kepalanya. Memperhatikan satu persatu tamu yang mendatangi rumahnya, dengan niatan melamarnya.
"Siapa mereka?" Udelia bertanya balik pada ayahnya.
"Nona, lupa dengan saya? Saya Lili," ucap seorang wanita paruh baya yang diingat Udelia sebagai pemandu terkenal.
"Oh ibu pemandu," gumam Udelia tersenyum kaku.
"Ini tuan saya, namanya Djahan Mada ... beliau ingin melamar Anda, nona."
"Kamu tidak mengenal mereka?!" sela Wara seraya bangkit dari duduknya.
Takut- takut Udelia mengangguk. Dia tidak mengenal dekat orang- orang itu. Ibu pemandu pun sebatas orang asing yang memandu dan menjelaskan artefak-artefak kuno di museum sejarah.
"Keluar kalian!!" marah Wara menunjuk pintu rumahnya.
Wajahnya memerah. Pantas saja ucapan si pemuda berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada.
Pria itu tidak mengenal baik putrinya!
Apa mereka segerombolan penipu yang mengharap mahar, seperti yang sedang marak diperbincangan orang-orang satu kota!?
"Sayang, tenanglah." Watika memegang tangan kiri Wara yang bebas. Menuntunnya untuk duduk, agar tidak tersulut marah.
"Jaga perilakumu!"
Lili turut bangkit dari duduknya. Tak terima ada orang berbicara lantang di depan tuan besarnya.
"Kamu tahu siapa beliau?!"
Tatapan Lili membara.
"Aku tak peduli. Kalian hanya penipu!" sentak balik Wara.
Udelia menyodorkan tisu pada Djahan yang terus menatapnya, tak mengindahkan keributan yang terjadi di depan mata.
Mata Djahan dipenuhi oleh Udelia seorang.
Sambil menyodorkan tisu, Udelia menunjuk hidungnya sendiri. Bingung harus berkata apa.
"Tuan, hidung Anda!" panik Lili.
Lili mengambil tisu dari tangan Udelia lalu memberikannya pada Djahan yang terdiam. Pria itu seolah tidak pada kesadarannya.
Terus menatap Udelia tanpa berkedip.
"Sandiwara apalagi yang ingin kalian mainkan?!" hardik Wara.
__ADS_1
"Ayah, tenanglah. Mungkin mereka hanya salah mengenali orang."
Udelia tersenyum pada ayahnya. Berusaha menenangkannya.
Wara tidak kuasa menahan senyum teduh putrinya. Wara mengendurkan otot-otot di wajahnya.
Mata Udelia yang terus berkedip mengerling ke arah Djahan. Pria menempelkan tisu ke hidung, namun posisinya sangat berbahaya.
Sambil menyeka darah, Djahan mendongakkan kepalanya agar darah yang keluar berhenti.
"Eh! Jangan mendongak!"
Udelia refleks menekan kepala Djahan hingga menunduk. Posisi mendongak saat sedang mimisan adalah hal yang berbahaya.
Orang-orang yang mendampingi Djahan membeku melihat keberanian Udelia.
Wanita itu menekan kepala seseorang yang besar.
Dalam kitab kuno dikatakan Djahan Mada tak suka ada wanita yang memegang tubuhnya dan kepala adalah aset yang berharga.
Setelah ini, apakah cinta Sang Mahapatih terhadap wanita incarannya, akan menguap begitu saja?
Ketidaksopanan adalah hal yang ganjil dalam kehidupan mereka.
Ketidaksopanan termasuk kejahatan yang besar.
"Teruslah begitu, akan kuambil kompres untukmu!"
"Anakku, jangan ikuti sandiwara mereka," kata Wara, masih tidak mau mempercayai kondisi tamu tak diundangnya.
"Tidak, ayah. Dia benar-benar mimisan. Dan mungkin saja, dia sakit sampai salah mengenali orang."
Udelia sangat sibuk sendiri untuk menolong orang yang kesakitan di depannya. Jiwa relawannya selalu tergerak tiap kali ada manusia yang terluka.
Wara memejamkan mata sejenak, menghilangkan amarah di hati. Lantas dia mengambil ponselnya.
Putrinya tak salah, mimisan bisa jadi pertanda tubuh sedang terkena penyakit berbahaya.
Dan seperti kata putrinya, mungkin saja pria itu terlalu sakit sampai salah mengenali orang.
"Halo, nak. Kemarilah. Ada pasien di rumah paman."
Saat menuju dapur, Udelia berpapasan dengan Fusena yang membawa baskom.
Udelia tersenyum lebar.
Selalu. Fusena satu langkah di depannya.
"Fusenaku memang cerdas!"
Udelia mengambil baskom, meninggalkan sepupunya yang mematung di tempat.
"Saya saja."
Lili meraih baskom dari tangan Udelia, memeras kain di dalamnya, dan menyodorkannya pada sang tuan.
"Tempelkan ke pangkal hidung!" titah Udelia menunjukkan jari ke antara matanya.
"Sini, nak!" panggil Watika sembari menepuk sofa di sebelahnya, pada Udelia yang hanya diam menonton pertolongan pertama yang dilakukan para tamunya.
"Putriku tidak kenal pemuda ini?" tanya Watika mengusap rambut panjang Udelia.
"Udel ... tidak tahu. Mungkin pemuda ini salah mengenali?" jawab Udelia berbisik. Takut menyinggung tamu-tamunya.
Mereka terlihat dari kalangan berada. Udelia tidak mau jalan hidupnya menjadi konyol hanya karena menyinggung perasaan mereka.
"(Tuan Mada, berhentilah mengganggu Udelia...)" lirih Fusena sengit.
Suaranya menekan di dalam udara.
Terdengar jelas di telinga Djahan, tanpa terdengar oleh orang lain.
"Jangan repot-repot!" seru Udelia.
Dia memegang tangan Fusena yang hendak membereskan piring-piring kotor.
__ADS_1
Fusena juga tamu mereka, tak seharusnya membantu merapikan rumah.
Tangannya meraup piring-piring kotor di atas meja, mengumpulkan semuanya menjadi satu tumpukan.
Fusena tidak memusatkan perhatiannya pada Udelia. Sosok yang duduk di seberang Wara, mencuri perhatiannya.
Semenjak kemunculan pria itu, segala sesuatu yang telah direncanakan olehnya, hancur berantakan.
Fusena tak bisa terus membiarkan Djahan mendekati Udelia.
Wanita itu adalah miliknya.
"(Kalian tidak memiliki hubungan apa pun di sini. Berhentilah sebelum Udelia membenci Anda, dia tak suka diganggu!)"
Fusena mengambil tumpukan piring di tangan Udelia. Membawanya pergi ke dapur. Dia masih menekan suara, tertuju pada tamu yang membawa mimpi buruk baginya.
Memberi pria itu peringatan.
"(Anda dan Udel, sangat jauh berbeda. Dunia kalian berbeda. Sama sekali tidak ada kecocokan di antara kalian!)"
Fusena melirik dari ekor matanya.
"(Silakan kembali ke tempat asal Anda!)" ucap Fusena sebelum meninggalkan ruang tamu.
"Fusena, tunggu!"
Udelia mengejar Fusena, meninggalkan api nan membara di belakangnya.
Hati Djahan bergelora. Ucapan Fusena sungguh merendahkannya.
Pria itu mengatai dirinya terlalu kuno untuk Udelia yang modern.
Ingin membalasnya, sayang dia tidak memiliki kemampuan.
Ingin meluapkan amarahnya, ada muka yang harus dijaga. Dia tidak boleh mendapatkan kartu merah dari calon mertuanya.
Amarah Djahan menggumpal di hati. Gelombang darah keluar dari mulutnya.
Djahan menatap tajam Lili, ketika wanita paruh baya itu hendak mengekspresikan rasa khawatirnya.
"Silakan camilan penutup!" Lamont membawa agar-agar buatan sang kakak.
Dengan sapu tangan di mulut, Djahan mengangguk singkat.
"Silakan dinikmati!" Watika tersenyum pada para tamu. Apa pun alasan mereka datang ke rumahnya, mereka adalah tamu yang harus dia hormati.
"Ma.. ka. si," ucap Djahan terbata-bata.
Suara mobil terdengar memasuki halaman rumah di tengah kecanggungan dan keheningan dalam ruang tamu rumah orang tua Udelia.
Langkah kaki besar dan tergesa, terdengar mendekat.
Seorang pria tampan tersenyum pada orang-orang yang duduk di teras dan pada setiap orang yang dijumpainya.
Djahan mengernyit tak suka. Fusena sudah cukup menjadi seorang pria yang berada di sisi pujaan hatinya.
Sekarang, muncul lagi pria tampan lainnya!?
Apa Udelia juga melakukan poliandri di dunianya?
"Lik, di mana pasiennya?"
"Nama, pemuda ini mimisan dan muntah darah. Sepertinya gawat kondisinya," jelas Wara menunjuk Djahan yang terdiam seribu bahasa.
Masih terkejut dengan banyaknya pria tampan di sisi Udelia.
"Apa bisa jalan? Perlu tandu?" tanya Nama pada Djahan.
"Kami akan memapah beliau," kata Lili mewakili.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]
__ADS_1