TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
TANDU YANG TELAH LAMA DIABAIKANNYA 1


__ADS_3

"Mahapatih, Anda tidak pernah sekali pun telat," tegur Hayan.


Sejurus kemudian dia menutup mulutnya melihat penampakkan tubuh Djahan.


"Guru, Anda habis digigit tawon?" tanya Indra polos.


Sekujur tubuh Djahan dipenuhi bulatan berwarna merah. Pakaian perang lebih pendek dari pakaian sehari-hari. Mereka yang ada di sana bahkan bisa melihat bercak merah di paha Djahan.


Djahan tidak sempat menghilangkan bekas seluruhnya. Udelia menggempurnya sampai pagi. Dia sampai kewalahan untuk menghadapi keinginan istrinya.


Tidur hanya sekejap mata. Beruntung dia sudah terbiasa untuk tidak tidur di medan perang. Dia tidur pun hanya untuk menghindari permintaan selanjutnya sang istri. Bisa-bisa dia benar-benar tidak berangkat perang.


"Psst. Tuan Sanjaya sangat polos," bisik seorang prajurit.


"Itu karena beliau masih perjaka sampai sekarang," balas prajurit lain.


Tidak terlalu mengherankan seorang jenderal seorang diri tanpa pasangan, karena Rakryan Tumenggung mereka telah menempati posisi itu sedari baru lulus akademik.


Hidupnya hanya seputar perang, perang, dan perang. Menjadi yatim piatu pun membuat hidup pribadinya tidak terlalu terurus.


Terlebih dengan keluarga besar sempat tercetus konflik yang besar, karena sang paman menempati posisi kepala keluarga Sanjaya dengan gaya kepemimpinan yang semena-mena.


"Saya sudah memeriksa, semuanya telah siap. Jika Maharaja mengizinkan, kami akan berangkat sekarang," tutur Djahan tak memedulikan mata-mata yang memandanginya. Toh pasukan lawas tahu dia sudah menikah.


"Pergilah dan tumpas para pemberontak!" titah Hayan.


"Kami siap menumpas pemberontak!" jawab Djahan.


"Hidup Yang Mulia Maharaja! Hidup Yang Mulia Maharaja! Hidup Mahapatih!" teriak rombongan sembari meninggalkan halaman keraton.


"Potong barisan itu!" titah Udelia dari dalam kereta.


"Tidak bisa, nyonya. Kita akan langsung dibunuh jika menghentikan rombongan ksatria."


Udelia mengertakkan giginya. Tahu sang kusir begitu lembek, dia akan membawa sendiri kereta kuda dari kediaman Mada.


"Cepat kejar sampai depan!" titah Udelia.


Dia salah langkah. Dia kira dapat menahan Djahan dengan membuatnya letih di atas rajang. Pria itu selalu memeluknya sampai siang tiap kali mereka menyelesaikan ritual menghangatkan tubuh.


Rupanya menumpas pemberontakan di Tlogo Rejo lebih penting daripada memeluk dirinya! Djahan sampai melakukan tidur ayam untuk mengelabuinya!


"Anu.. ada Yang Mulia Maharaja di depan, nyonya," cicit kusir.


Udelia melongok dengan kesal. "Hayan jangan menghalangi!" teriaknya pada Hayan yang menghalangi dengan kuda putih besar.


"Maharaniku baru sembuh, tidak akan kubiarkan pergi."


"Maharani, Maharani, ndasmu. Minggir atau aku tidak mau melihatmu lagi!"

__ADS_1


"Aku bisa memerintahkan mata Maharani untuk melototiku terus tanpa berkedip setiap saat."


"Uh!!!!"


Dengan jengkel Udelia turun dari kereta. Ada keluarga kusir yang akan diancam Hayan bila dia memaksa naik kereta kuda. Hayan juga turun dari kudanya mendekati Udelia.


"Baiklah. Aku akan memanggil Utih."


"Jangan konyol, Maharani belum pulih total, apalagi habis bergulat begitu panjang," sindir Hayan dengan nada ketus.


Berhari-hari dia memantau kegiatan Djahan dan Udelia, saat kecolongan satu hari untuk mempersiapkan pasukan penumpas pemberontakan. Tahu-tahu Djahan dan Udelia sudah menyatukan diri.


Hayan merasa marah. Udelia adalah Maharaninya.


"Ka-kamu..." Udelia bersemu merah, malu-malu.


Hayan tersenyum kecut. Di tubuh Udelia juga nampak bercak-bercak merah. Segarang apa keduanya melakukan penyatuan sampai seluruh tubuh memerah?


Semakin dipikirkan, semakin hatinya panas.


"Biarkan aku lewat!" Udelia masih tak mau kalah.


"Ayo istirahat. Nanti bisa mengirim pesan."


Hayan mengulurkan tangannya. Membujuk Udelia untuk kembali. Dia tidak mau Udelia menghabiskan waktu lebih lama bersama Djahan. Sudah waktunya Udelia kembali ke posisinya.


"Kasihan Raka terus bepergian dan terpisah dari ibunya." Lagi, Hayan membujuk Udelia dengan membawa putra kecil yang masih lemah untuk bepergian jauh.


"Aku harap mereka tidak terlalu dalam."


Udelia menempelkan tangannya sebentar, agar Hayan tidak terlalu malu. Namun dia langsung menariknya, agar Hayan tidak menggenggamnya.


"Aku naik kereta," kata Udelia berlalu masuk ke dalam kereta, meninggalkan Hayan yang geleng-geleng melihat Udelia.


Melenggang tanpa dosa setelah memberikan kesempatan semu.


"Mohon maaf Selir Cempaka, Yang Mulia Maharani tidak menerima tamu," ucap seorang dayang yang berpakaian indah. Dia merupakan dayang yang ada di sisi Maharani.


Dayang dan pelayan di sisi Maharaja juga Maharani adalah dayang dan pelayan dengan posisi tertinggi. Kesetiaan dan kemampuan mereka telah diuji.


"Padahal Yang Mulia akan diganti!" sentak Cempaka dengan gusar.


Dia yang hendak mengajak sang baginda jalan-jalan setelah dipusingkan dengan pemberontakan Tlogo Rejo, justru melihat hal yang amat buruk. Telinganya pun mendengar panggilan panggilan yang menyayat hati.


Dia yang mengandung anak dari Maharaja, tapi justru wanita lain yang mendapatkan panggilan sayang. Wanita yang membawa anak liar ke keraton hanya untuk mencari perhatian Maharaja.


"Jangan lancang!" bentak Bejo, pengasuh Maharani, yang berdiri di tangga gapura.


"Siapa kamu mendahului Yang Mulia Maharaja? Dan.. dari mana berita ini dimulai? Kamu memakai mata-mata? Itu sangat terlarang." Bejo menyipitkan matanya.

__ADS_1


"Tidak perlu tahu dari mana. Intinya kalau tidak cepat, bisa-bisa Yang Mulia terusir. Saya sangat menyayangi Yang Mulia," tutur Cempaka dengan percaya diri.


Posisi Maharani tidak mungkin tergantikan, kecuali Maharaja menjadi gila dan mengangkat Maharani lainnya. Dia akan mendekati Maharani yang sesungguhnya.


"Ha!" Bejo hendak mengeluarkan sumpah serapahnya sebelum seorang dayang datang menghentikannya.


"Nyonya Ibu, Yang Mulia menyuruh selir cempaka masuk," bisik dayang.


Wajah sangar Bejo berubah lunak. Dia mengendurkan otot-otot di wajahnya sebelum menatap Cempaka.


"Selir Cempaka, silakan masuk." Bejo tersenyum formal.


Kemudian mereka berjalan beriringan menuju tempat Maharani menunggu.


"Bicaralah dan bersikaplah yang seharusnya," tekan Bejo agar mulut Cempaka tidak semena-mena.


"Jadi, ada yang akan menggantikanku?" buka Maharani secara langsung.


"Iya.., Yang Mulia," Cempaka memainkan jarinya gugup. Berhadapan dengan Maharani membuatnya gugup.


"Siapa? Sri Sudewi?"


"Bukan, Yang Mulia. Kalau beliau tidak akan banyak yang protes ..." ucap Cempaka polos.


"Lancang!" sentak Bejo.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


TERIMA KASIH SUDAH SETIA MEMBACA HINGGA BAB INI


SEHAT SELALU SEMUANYA


F B : leelunaaalfa4 (lee lunaa alfa4) || I G : alsetripfa4


... Untuk season 1 ada di profil author.


Judul: TIKZ [Berpindah ke Zaman Keemasan]


... Untuk season 2 sampai pada bab delapan puluh empat atau judulnya = MEREKA BERTARUNG DENGAN HEBAT


Judul: TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]


... Akan dilanjut menjadi season 3 pada season 2 kali ini


Judul: TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]

__ADS_1


Mohon maaf bila ada kesalahan. Terima kasih sangat untuk kalian yang masih setia sampai di sini. Author cinta kalian. Lope lope terbang.


__ADS_2