![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]
002 - MATANYA MENGATAKAN SEJUTA KALIMAT
Udelia mengangkat tangan setinggi yang dia bisa.
Perempuan itu sedang berada di tengah kerumunan. Memperhatikan pemandu yang sedang menjelaskan tiap benda bersejarah yang ditunjukkannya.
Udelia sebagai anggota tim perancangan di perusahaannya, sedang mencari referensi yang sesuai, agar dapat membuat sebuah aplikasi semirip mungkin dengan cerita yang sebenarnya.
"Iya, dik?" sahut pemandu.
"Kudengar visualisasi Mahapatih Mada dilukis di sini. Apa boleh melihatnya?" tanya Udelia dengan binar mata penuh harap.
Sudah lama Udelia ingin melihat rupa Sang Mahapatih yang legendaris.
Lukisan yang dikatakan mirip sembilan puluh persen dengan relik paling rahasia milik negara, hanya boleh dilihat oleh orang- orang yang terpilih.
Dalam kunjungan khusus ini, Udelia berharap akan mendapatkan izin khusus untuk melihat lukisan mahapatih yang legendaris.
"Adik kurang beruntung. Dalam sepekan ini ada pertemuan."
Kerut di mata pemandu nampak jelas saat dia tersenyum. Wanita paruh baya itu turut menyayangkan tamu khususnya tidak dapat melihat lukisan legendaris.
Udelia sering datang ke tempat- tempat bersejarah, sang pemandu sangat menghafal wajah Udelia.
Sudah jelas dia akan memberikan izin pada Udelia, jika tidak ada kesibukan di ruangan yang sangat rahasia itu.
"Oh seperti itu.."
Udelia pasrah dengan keberuntungan yang tidak berpihak padanya. Dia tidak bisa memaksakan kehendak.
"Tapi nanti adik bisa melihatnya di sana ketika pertemuan sudah selesai.." ucap pemandu memberikan angin segar pada tamu yang sudah mencuri perhatiannya.
Udelia menatap sekilas pendopo besar yang ramai. Menyayangkan waktu kedatangannya kurang tepat untuk melihat hal bersejarah.
Perempuan dengan jarik merah dan atasan hitam polos itu melangkahkan kakinya mengikuti pemandu dan rombongan, menjauhi pendopo yang dipenuhi orang- orang penting.
"Ehh?!!!" seru Udelia terkejut.
Tangannya tiba- tiba ditarik oleh sebuah lengan besar nan berotot.
Tangan besar itu menariknya dengan lembut, namun tergesa- gesa.
Langkah Udelia menjadi terseok- seok. Dia harus berlari- lari kecil untuk menyamai langkah lebar dan besar si pelaku.
Udelia memandangi tangannya yang sedang ditarik-tarik. Tangan besar yang melingkar di tangannya, terasa familiar untuknya.
Pemilik tangan itu adalah seorang pria yang mengenakan pakaian selayaknya pakaian orang zaman dahulu.
Mengenakan jarik untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, sementara bagian atas tubuhnya tidak tertutup kain, melainkan terpasang berbagai jenis perhiasan yang indah.
Seorang pria bertelanjang dada berkeliaran tanpa rasa malu, membuat wajah rekan -rekan Udelia terlukis semburat kemerahan.
Mereka jarang melihat orang mengenakan kostum sampai sedemikian miripnya.
Biasanya orang yang memakai kostum, akan menambahkan manset yang warnanya mirip dengan warna kulitnya.
Sampai benar- benar bertelanjang dada, apa pria itu ingin menunjukkan proporsi tubuhnya yang luar biasa sempurna?
Lekuk tubuh itu bagai cetakan. Ototnya terlihat menonjol di sisi- sisi yang tidak berlebihan. Perutnya berbentuk kotak- kotak.
Para perempuan menahan liur di ruang mulut mereka, agar tidak menetes dengan memalukan.
Tubuh itu terlalu indah.
Udelia tersenyum kaku. Dia tidak biasa menjadi pusat perhatian.
Tangan mungilnya yang terbebas merogoh kantong, mengambil benda pipih dan menyerahkannya pada seseorang yang berlari mendekat.
"Sena, ambilkan gambarku," kata Udelia pada sepupunya yang berlarian dengan khawatir.
Udelia juga pasti khawatir, bila melihat saudaranya ditarik- tarik oleh orang yang tidak dikenal.
Udelia melepas pelan tangannya dari pegangan si pria, yang mengenakan baju kebesaran Kerajaan Maja.
Pria itu terlihat enggan dengan yang dilakukan Udelia.
Fusena memandang datar dengan pupil membesar pada pria berpakaian kuno, yang lengkap perhiasannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
__ADS_1
Fusena diam tak bergerak, namun matanya mengatakan sejuta kalimat.
Sebagian orang merinding karena tatapan mata Fusena yang menghunus.
Akan tetapi, pria asing itu balas menatap Fusena.
Aduan mata keduanya tak terelakkan.
Mungkin mereka akan benar- benar beradu, bila suara Udelia tidak mengalihkan perhatian mereka.
"Fusena?" panggil Udelia karena Fusena tidak menjawab permintaannya.
Tak biasanya sepupunya bersikap abai terhadap dirinya. Selalu saja sang sepupu memenuhi permintaannya, tanpa bertanya alasannya.
Kali ini, pria itu justru diam tidak memperhatikannya, matanya terus mengawasi si pria dengan pakaian kuno.
Apa Fusena akan menghajar pria asing itu karena telah bertindak kurang ajar?
Udelia berharap sepupunya tidak membuat masalah.
Mereka sedang berada di tempat bersejarah yang harus dijaga kesakralannya.
Fusena tersenyum lembut pada Udelia. Dia meraih ponsel yang dijulurkan Udelia.
"Baik, mbak. Siap- siap. Aku hitung mundur."
Fusena mengambil ponsel Udelia dan mengaktifkan kamera. Sementara Udelia mendekati si pria berkostum pakaian kuno dan berdiri tegak di sampingnya, dengan tetap menjaga jarak.
Pria itu memandangi Udelia tanpa berkedip. Fokusnya tidak mengarah pada kamera. Dia terus memandangi wajah Udelia.
Membuat wanita itu, sedikit risih.
Fusena tersenyum miring ketika ponsel Udelia telah miring posisinya dan siap untuk mengambil gambar.
Pria kuno, selamanya hanya akan menjadi pria kuno.
"Tiga... Dua... Satu..."
Fusena menjepret Udelia yang tersenyum menghadap kamera, dengan pria di sampingnya yang terus menolehkan wajah ke arah Udelia.
"Terima kasih. Cosplaynya sangat bagus!"
"Aku juga mau foto dong.." ucap gadis di dekat si pria berkostum.
"(Tuan Mada. Silakan perjamuan akan dimulai.)"
"Ooh jadi mas cosplay Mahapatih nih?"
Walau gadis itu tidak mengerti bahasa Jawa yang halus, dia mengerti jika Mada adalah sebuah nama, marga dari Mahapatih yang legendaris.
"Siapa namanya?"
"Djaja bukan si?"
"Kau tak belajar sejarah ya?"
Dengan cekatan Fusena membawa Udelia pergi menjauh dari kerumunan para gadis, yang saling berebut untuk berfoto bersama seorang pemuda yang tampan dan gagah.
Dia menjauhkan Udelia dari pria yang terus menatap mereka.
"Mbakyu kalau ada yang berbuat begitu langsung tampar saja," nasihat Fusena.
"Inginnya begitu, tapi wajahnya kasihan. Kaya sedih gitu," jelas Udelia kenapa dia tidak menampar pria yang kurang ajar padanya.
Lagipula, mereka di tempat umum, mungkin saja pria itu hanya ingin mencari nafkah dengan modal foto bersama.
Memberikan selembar kertas berwarna merah, bukankah sudah lebih dari cukup?
Pria itu pasti merasa sedikit lega, kan?
"EHM. Para turis dimohon berkumpul di titik ini, kita akan lanjut berkeliling!"
Pemandu menatap tajam satu persatu gadis yang berisik, hanya karena ingin berfoto bersama pria tampan.
Tidak tahu, ada di mana kah rasa malu mereka semua?
Berteriak dan berebut, hanya untuk selembar foto dengan pria asing yang tak mereka kenal.
"Ingat ucapan saya? Akan ada per.te.mu.an di sini, mohon jangan mengganggu," tegas pemandu menekankan kata pertemuan, agar para tamunya ingat dan mengerti.
__ADS_1
Para gadis tersenyum dengan wajah yang kikuk. Mereka berangsur- angsur menjauhi si pria berkostum dan melanjutkan perjalanan untuk berkeliling di tempat yang belum mereka jejaki.
"(Tuan Djahan Mada, silakan. Semua sudah siap.)"
Djahan, si pria tampan ber'kostum', menyapukan matanya ke seluruh tempat. Mencari- cari wanita yang dikejarnya.
Wanita itu begitu cepat menghilang, sementara pertemuan besar yang dia adakan, sudah akan dimulai.
Dia, Djahan Mada, Mahapatih Bhumi Maja, yang entah bagaimana muncul di dunia wanita incarannya.
Dunia yang amat berbeda dengan tempatnya besar dan berkuasa.
Mengadakan pertemuan untuk membangkitkan kuasanya, agar dapat memberikan tempat yang nyaman bagi wanitanya, seperti saat mereka berjumpa di dunianya, dunia yang jauh.
"(Cari wanita tadi.)"
"(Baik, Tuan.)"
Udelia memakai helm dengan jengkel. Fusena bukan hanya menariknya dari kerumunan. Sepupunya menariknya hingga ke tempat parkir.
Menyuruhnya pulang, seperti seorang ibu yang galak. Tidak memberikan kesempatan Udelia kembali pada rombongan turis untuk menjejaki tempat- tempat bersejarah, sesuai brosur yang dibelinya.
"Kalau sibuk kan aku bisa pergi sendiri?!" omel Udelia.
"Nona, mohon tunggu sebentar!!" teriak pemandu kelompok Udelia.
"Mbakyu, ayo!" Fusena tak sabar untuk membawa Udelia pergi dari tempat itu.
"Sebentar!" sentak Udelia.
Perkataannya menahan gerakan Fusena yang hendak memutar kunci motor.
Pemandu yang memanggil Udelia adalah orang yang profesional dalam pekerjaannya, begitu banyak tempat bersejarah dipandunya dan dia dapat menjelaskan semua tempat dengan mendetail.
Udelia mana bisa kehilangan kesempatan untuk berhubungan baik dengan orang seperti itu!
"Ya? Ada apa, bu?" tanya Udelia sembari tersenyum.
"Kami ingin memberikan waktu ekslusif melihat lukisan hari ini kepada nona. Kami sangat senang dengan antusias nona."
"Sayang sekali saya ada urusan, bu. Mohon maaf.."
Udelia menangkup kedua tangannya dan sedikit membungkukan badannya. Ingin dia pergi melihat lukisan itu, tapi tatapan sepupunya sangat mematikan.
Fusena menutup kedai kopinya di akhir pekan yang ramai, hanya untuk memastikan keamanan Udelia dalam berkunjung ke tempat bersejarah yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya.
Bagaimana bisa Udelia membiarkan sepupu menggemaskannya pulang seorang diri?
Udelia tidak tega.
"Mohon jangan panggil nona ... itu agak tinggi sekali," kata Udelia melanjutkan.
"Ka- kalau begitu bisa tinggalkan nomor nona?" pinta pemandu.
Udelia merobek kertas di papan dada yang dibawanya, dia menuliskan barisan nomor di atasnya.
"Silakan," ucap Udelia sembari memberikan secarik kertas yang berisikan nomor ponselnya.
"Terima kasih nona." Pemandu itu menerima dengan mata yang berkaca- kaca.
"Mbakyu, ayo!" Fusena makin meninggikan suaranya.
Fusena geram. Ingin membawa Udelia menjauh dari tempat itu. Motor sudah dia nyalakan. Dia menepuk jok penumpang dengan sangat keras.
"Sampai jumpa, bu!" pamit Udelia seraya menaiki motor, agar sepupunya tak semakin marah.
Mungkin saja sepupunya memiliki kesibukan yang mendadak.
Udelia akan mencoba mengerti, walau sedikit jengkel karena tidak dapat mengikuti acara hingga akhir.
"Hati-hati di jalan.." tutur pemandu.
"Mari.." Udelia tersenyum kecil.
"Iya, mari.." balas pemandu, ikut tersenyum kecil.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]