![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Aku tau kamu sangat menyukai bagian itu, tapi apa kamu tidak memikirkan bagian anakmu?" sindir Udelia.
Candra gelagapan melihat Maharani masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi. Ada banyak pengawal mengejarnya.
Sedangkan dia sedang melahap sumber lain makanan yang baru bisa dimakan Raka.
Jika tidak mengingat huru hara yang akan timbul karena hilangnya Maharani, mungkin keris miliknya sudah tertancap di dada itu.
"Mohon maaf, tuan. Kami tidak dapat menahannya," sesal pengawal di balik tubuh Idaline.
Candra tidak tahu apakah para pengawal melihat raga Triya. Tubuh Maharani menghalangi jalan.
"Yang Mulia Maharani ... kami memberi salam kepada Yang Mulia Maharani."
Candra berdiri menutupi Triya yang sedang memperbaiki pakaiannya.
Udelia hanya menatap sinis suami mudanya. Bilang tak cinta pada istri muda, tapi melahap gunung kembarnya dengan penuh gairah. Di siang bolong saat semua orang bekerja.
Hingga tiga bulan berlalu masih saja belum melepaskan Triya.
Ada sudut hatinya merasa sakit. Entah sakit karena Candra berkhianat atau hanya karena tidak suka miliknya dipegang-pegang orang lain.
"Kalian pergilah," titah Candra.
"Ba-baik, tuan."
"Kamu bersenang-senang di sini padahal istrimu terbaring tak berdaya," cibir Udelia.
"Apa maksud Anda?" bingung Candra.
"Bukannya dia sudah sah menjadi istri Yang Mulia?" tambah Candra.
Yang Candra tahu begitu. Sudah diberitakan ke seluruh penjuru negeri, terlantik wanita baru di sisi Maharaja. Bukan Maharani, bukan pula Ratu, apalagi Selir yang tidak dinikahi.
Wanita itu adalah Permaisuri. Istri ketiga Maharaja yang salah di mata hukum, selain Maharani dan Ratu.
Mendengar berita itu, Candra tak lagi memiliki kuasa. Dia sadar sudah melakukan banyak salah.
Namun dia tidak mengenali istrinya. Istrinya dapat memaafkan segala salahnya, selain pengkhianatan yang menyayat hati.
Udelia berniat menguburkan semua rasa sakit tentang siksaan dan trauma yang pernah ditimbulkan Candra.
Sayangnya semua itu hancur hanya karena Candra menyelamatkan wanita lain dari suaminya.
Sementara tanpa sadar, Candra mennyakiti istrinya demi wanita lain.
Ingin mendapatkan air susu ibu yang murni, tidaklah perlu sampai menikahi wanita lain. Seperti Maharaja yang mendapatkan ibu susu terbaik untuk Maya tanpa perlu menikahinya.
Meski sama-sama memiliki wanita lain di belakang Udelia, ada banyak alasan yang masuk akal pada kasus Hayan.
"Haaa. sampai beritanya pun tak tau!?"
__ADS_1
Udelia mengernyitkan alisnya. Untuk apa pula dia mengabarkan keadaan Udelia pada Candra?
Pria itu saja tidak peduli. Meski benar istrinya dipinang oleh pria lain, seharusnya Candra berusaha. Bukannya memadu kasih dengan wanita lain.
Atau mungkin wanita itu telah amil dan Candra tidak mau jauh-jauh dari istrinya?
Udelia mencoba tidak peduli.
"Aku datang untuk membawa Raka," cetus Udelia mengabarkan tujuan kedatangannya.
"Kami tidak mendapat perintah seperti itu. Dan ayah dari bayi lebih berhak," timpal Triya muncul dari balik punggung Candra.
Candra tertegun mendengar permintaan Maharani. Istrinya, kakak angkat yang menyayanginya, sudah kembali.
"Silakan bawa Raka," putus Candra.
"Suamiku??"
Triya menatap lesu suaminya. Keberadaannya di rumah itu adalah sebagai ibu susu. Jika Raka dibawa ke tempat lain lalu menetap di sana, dia akan didesak pergi.
Rama adalah Putra Maharaja. Bukan tak mungkin Raka turut diadopsi oleh Maharaja untuk diurus langsung oleh ibu kandungnya, sebagai teman Rama agar tidak merasa sendirian.
Rama sangat menyayangi Raka. Dan Maharaja sudah lama menunggu anak laki-laki. Maharaja akan mengabulka semua keinginan anaknya.
"Ucapan Yang Mulia Maharani adalah ucapan Yang Mulia Maharaja," ucap Candra.
Udelia mendekap Raka dengan erat dan menciumnya dalam-dalam. Bayinya semakin tumbuh besar.
"Kak?" panggil Candra.
"Harusnya kakak tidak bersedih."
Candra mengepalkan tangannya. Luka di mata Udelia sangat kentara. Perempuan itu bersedih hati melihatnya bersama dengan perempuan lain.
"Kakak kan juga melakukannya dengan Mahapatih. Kenapa kakak bersedih?"
Candra sangat geram saat berkunjung untuk menemui Raka di keraton. Semua orang membicarakan tentang keperkasaan Mahapatih, tentang sekujur tubuh Mahapatih yang memerah.
Tak sedikit dayang-dayang membayangkan gairah Mahapatih di atas ranjang. Tak sedikit pula para pengawal yang membicarakan dan takjub dengan lawan main Mahapatih.
Mahapatih adalah orang yang setia. Tidak mungkin bermain dengan wanita lain.
Lawan main Mahapatih jelas orangnya, istrinya.
"Harusnya kamu perjelas status kita, agar aku tidak lagi harus merasakan kepemilikan!" sentak Udelia meninggalkan Candra di halaman rumah.
Udelia membawa Raka ke kereta dan memakaikan kain berlapis pada tubuh kecil itu. Dia mengulas senyum melihat Raka tertawa senang padanya.
"Suamiku, apa maksudnya itu?" tanya Triya. Dia berdiri berjarak dari suaminya dan tamu agung yang tak diundang, ikut mengantar tamu agung mereka untuk pulang.
"Lebih baik tutup telingamu."
__ADS_1
Candra menaiki kudanya, memacu kuda menyusul Udelia.
"Mohon maaf, tuan. Tidak ada yang boleh masuk ke keraton hari ini."
"Katakan aku ingin berjumpa Maharani."
"Tidak ada tamu dan tidak ada kunjungan, tuan."
"Sampaikan dahulu!" berang Candra.
Dia lagi dan lagi berdosa pada istrinya. Bukannya mencari tahu kebenaran, justru menghabiskan waktu bersama Triya.
Keberadaan jiwa istrinya dalam raga Maharani, sedikit banyak memberikan gambaran bagi Candra.
Pernikahan ketiga Maharaja bisa saja hanya kabar burung.
"Kepala keluarga, mohon patuhi perintah Yang Mulia," lontar Bayu. Dia berdiri di sebelah Candra bersama Ekata dan Kuriang.
"Adinda, kakanda akan selesaikan. Pulanglah dan selesaikan dahulu bagianmu," tutur Ekata.
Mereka bertiga dipersilakan masuk, sementara Candra berbalik arah. Dia mempercayai kakaknya, Ekata EKadanta.
"Kakak seperguruan!" sambut Udelia yang baru sampai di halaman utama keraton.
"Anda benar-benar kembali." Ekata tersenyum.
"Iya."
"Saya akan memegang bayi Anda," tawar Bayu supaya kakak beradik seperguruan dapat melepas rindu mereka.
"Tidak."
Ekata dan Udelia berbincang-bincang ringan. Fusena yang menghilang belum juga ditemukan sedari dahulu saat membuat jiwa Udelia berpindah dari raga Idaline ke raga Udelia.
"Kalau begitu kami permisi untuk menghadap Yang Mulia," pamit Bayu.
"Kuriang tetaplah di sini," perintah Ekata pada muridnya.
"Baik, guru."
"Layani Sri Kuriang dengan baik," titah Udelia pada dayang dan pelayan.
"Baik, Yang Mulia."
o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
TERIMA KASIH SUDAH SETIA MEMBACA HINGGA BAB INI. SEHAT SELALU SEMUANYA.
__ADS_1
F B : leelunaaalfa4 (lee lunaa alfa4) || I G : alsetripfa4
o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o