TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 012


__ADS_3

TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]


012 - DARI HATINYA YANG PALING DALAM


Ditatapnya Petapa Agung yang tersenyum dengan mengejek.


Pria itu pasti besar kepala. Dibela oleh istrinya. Wanita yang mereka cintai.


Terus terngiang segala yang terjadi belakangan.


Tentang gempa mendadak, pengakuan Petapa Agung, serta yang terjadi di ruang rawat istrinya.


Mau tak mau harus dia akui, langkah Petapa Agung jauh di depan.


Segala ancamannya sangat mungkin terjadi.


Mengirimnya pergi atau selemah- lemahnya menjauhkan dirinya dari Udelia.


Dia pun memikirkan tawaran yang diucapkan sang Petapa Agung.


Tawaran yang luar biasa, di luar kebiasaan orang kebanyakan.


Tidak terlarang, bagi mereka, tapi tetap saja mengganggu harga diri dan wibawa mereka.


Akankah Udelia menerima masukan tak masuk akal itu?


"Baik. Hati- hati ya. Cepat sembuh."


Udelia tidak menjawab. Dia hanya mengulas senyum.


Djahan dengan enggan melenggang pergi dari dalam kamar.


Udelia melepas senyumnya. Dia memandang benci pintu tertutup yang baru terdengar suara kunciannya.


"Benci banget sama orang itu," gumam Udelia.


Fusena menoleh ke arah Udelia. Merasa telinganya salah mendengar.


Tubuh wania itu mengingat cintanya, bagaimana bisa hatinya membenci orang yang dia cintai?


"Kenapa mbak?" tanya Fusena memancing.


"Kamu inget kan dia bilang ga bisa bahasa Indonesia? Baru berapa hari, udah lancar begitu. Pembohong! Apalagi kejadian tadi pagi. Bisa- bisanya dia memanfaatkan kesempatan! Berperilaku sembarangan!!!"


Udelia paling pantang dibohongi. Dia tidak suka saat pria yang katanya tidak dapat berbahasa nasional, kemudian secara tiba- tiba lancar berbicara dengannya.


Lalu dilanjut adegan tidak menyenangkan. Terngiang- ngiang selalu bayangan tidak senonoh yang terjadi di antara mereka.


Udelia bahkan berpikir, "Mungkinkah aku diguna- guna!?"


Sungguh, yang balas mencium dan menerima segala perlakuan berlebih dari pria asing yang baru ditemuinya beberapa hari lalu, pasti bukan dirinya.


Udelia bertekad, setelah pulang ke rumah, dia akan pergi ke paranormal dan menghilangkan jerat pria itu.


"Maksudnya, mbak?" Lagi, Fusena memberikan pancingan.


Kendatipun dia juga jengkel dengan kejadian siang hari, Fusena akan membuat Udelia terus ingat.


Udelia bukan wanita gampangan. Tidak akan terima diperlakukan demikian.


Udelia tidak ingat bila dia telah menikah. Jadi, bagaimana mungkin Djahan bisa ceroboh membiarkan mereka bersatu di dalam hubungan yang tidak jelas?


Fusena sedikit merasa lega. Kesalahan Djahan sangat fatal.


"Ya itu! Dia mendekatiku dan memaksa—"


Udelia menarik napas. Tak seharusnya dia menceritakan hal yang memalukan itu.


Ceritanya terjeda. Dia tidak lagi berniat melanjutkan ceritanya.


"Aku mengantuk. Kalo mau keluar, keluar aja!"

__ADS_1


Udelia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.


Malu jika teringat kenangan yang terjadi pada siang hari di gedung kantor tempatnya bekerja.


Dia nampak seperti wanita murahan.


Menerima dengan leluasa dan dengan tangan terbuka.


Membuka diri untuk pria asing yang tak punya tempat di hati, serta hidupnya.


Padahal dia ingin memberikan yang pertama untuk suaminya.


Menjadi intim dengan suaminya, bukan intim dengan pria asing.


"Mbak, supaya tidak diganggu oleh pria lain, kenapa mbak tidak menikah denganku saja? Aku berjanji akan menjaga mbak."


Fusena berkata dengan sungguh- sungguh. Dari hatinya yang paling dalam.


Sepi.


Udelia berpura- pura tidur. Fusena mengulas senyum.


Fusena duduk di atas sofa. Memperhatikan gerak tubuh Udelia yang terlihat tidak nyaman.


"Lucu," batin Fusena.


Mbakyu nya itu pasti berpikir sudah sempurna berpura- pura tidur di hadapannya.


Padahal terlihat jelas jika wanita itu bergerak tidak nyaman.


Udelia memikirkan Fusena ada benarnya. Umurnya sudah matang untuk menikah dan dia akan mendapat pelindung.


Lalu, tidak akan ada pria yang mengganggunya.


Jika itu Fusena, keluarganya tidak perlu dipertanyakan.


Pernikahan dengan sepupu bukan hal yang tabu.


Andaikan Fusena melamarnya, keluarganya tidak akan menolak.


Udelia tidak mau lagi dekat dengan pria itu. Tubuhnya seolah tidak menjadi miliknya jika berada dekat dengan si pria asing.


Bagaimana bisa dia tidak dapat mengendalikan tubuhnya hingga melakukan dua kali sanggama!?


Udelia jatuh tertidur di dalam selimut.


Fusena yang menyadari Udelia ketiduran, mendekati ranjang dan membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh Udelia.


Raga Udelia banjir oleh keringat. Tangannya telaten mengurusi Udelia.


Mengusap keringatnya. Membasuh handuknya. Membenahi pakaiannya tanpa berbuat lebih.


Fusena menenggak air dengan kasar.


Siapa yang berkata dia tidak bereaksi pada Udelia? Dia hanya tidak tertarik pada Idaline.


Idaline bukanlah Udelia.


Jadi, dari mana ini dimulai?


Fusena menggeleng. Tak mau lagi ingat kisah ratusan tahun silam.


Matanya memandang langit.


Tangannya terselip pada dua saku di kanan dan kiri celananya.


Fusena berdiri di depan jendela kamar Udelia yang sangat besar.


Memperhatikan ramainya kota.


"Aku tahu hati mbak luas. Tapi, aku tidak ingin mbak mengingatnya. Mbak terlalu berharga untuk dihancurkan serpihan ingatan," gumam Fusena.

__ADS_1


Perut Udelia naik turun. Nyaman dengan mimpi indahnya.


Dia melihat tiga ikan mas yang lucu dan menggemaskan.


Berenang cepat di dalam air dan dapat berjalan di atas tanah dengan ekornya.


Udelia merasa sangat bahagia.


Sudah lama dia tidak mimpi indah. Sehari- hari hanya mendapat mimpi buruk tentang seseorang yang mengutuk.


Senyum terlukis di bibir merah mudanya. Tampak enggan untuk terbangun.


Namun sinar matahari mengganggu. Memaksa netranya untuk terbuka.


Udelia bangun dengan enggan. Dia masih ingin bermain dengan ikan -ikan itu.


"Makan, mbak," ucap Fusena.


"Ayah, bunda, sama dua bocah itu di mana?"


"Sedang makan di bawah. Mereka semalaman menjaga mbak."


Udelia menaikkan alisnya.


"Bukannya hanya boleh satu pengunjung?" batin Udelia bertanya- tanya.


"Dokter sudah memperbolehkan setelah melakukan observasi. Lagian, mbak tidur nyenyak banget. Kasian mereka kalau tidur di luar. Kamar di sini kan semuanya penuh."


"Terima kasih, Sena."


"Em. Kayak sama siapa saja."


Udelia memperhatikan Fusena dengan saksama.


Pria itu sangat telaten mengurusnya, peduli pada keluarganya, baik dan dapat menahan diri saat marahnya.


Apa yang kurang?


Hanya karena prinsip tidak ingin menikahi sepupu, yang terasa seperti saudara kandung, dia tidak mau menikahi Fusena.


Haruskah dia patahkan prinsipnya itu dan menerima Fusena sebagai suami?


Menikah dengannya, tak perlu repot- repot saling mengenal diri masing- masing dan keluarga masing- masing.


Hanya perlu sedikit adaptasi, bila mereka benar- benar menikah.


Pikiran Udelia terhenti kala keluarganya masuk bersama orang yang paling ingin dihindarinya.


Djahan datang dengan wajah berseri- seri. Dia membawakan seluruh masakan kesukaan istrinya.


Berharap asupan yang dibawanya dapat menambah energi dan semangat Udelia. Lantas Udelia cepat pulih dan mereka bisa melangsungkan pernikahan di duni modern.


Bersama keluarga Udelia sebagai saksi pernikahan mereka. Yang mana di dunianya, pernikahan dia dan Udelia hanya dihadiri orang luar yang tak berhubungan darah.


Djahan sudah membayangkannya. Dia bahkan sudah mulai mempersiapkannya.


"Dimakan, Udel.."


"Terima kasih. Saya sudah makan disuapin Sena."


Lamont, adik Udelia, menaikkan alisnya. Mulutnya mengulum senyum atas pernyataan kakaknya.


Tidak habis pikir dengan kakaknya yang menceritakan sesuatu di luar topik,


"Tidak apa. Saya taruh di meja. Nanti dapat dipanaskan. Hanya tinggal mencoloknya."


Udelia semakin jengkel dengan pria asing itu. Dia tidak suka dengan perhatian darinya!


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉

__ADS_1


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]


__ADS_2