![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Kamu menitipkan Rama ke Cempaka juga!?" cecar Udelia saat dia tidak menemukan Rama di Kedaton Sedap Malam. Dadanya kembang kempis memikirkan putranya ada di tangan selir suami keduanya.
"Tenanglah Maharaniku, dia sangat keibuan. Anak kami sudah hilang, Raka dan Rama bisa menghiburnya."
Hayan menenangkan Udelia sekaligus memuji Cempaka, menambah besar nyala api di hati Udelia.
"Jangan berkata omong kosong Hayan!!"
Meski Udelia merasa bersalah pada seseorang, Udelia tidak mau putranya diurus mereka. Bahkan dia dapat mencium aroma busuk dari gelagat Cempaka.
Cempaka adalah aktris yang lihai. Hayan jatuh padanya karena berperilaku lembut, seolah tak ada cela pada diri Cempaka. Padahal Cempaka hanyalah orang yang pandai berakting.
Udelia tidak dapat melihat ketulusan di mata Cempaka.
Udelia melangkah lebar-lebar memasuki Kedaton Ambar. Dua pipinya tergores tombak prajurit yang menghalangi jalannya.
Di belakang Udelia, muncul genangan darah dari dua sumber yang beriringan.
Udelia menggertakkan giginya, saat tangannya menggapai Rama. Sudah dapat dia pastikan akan seperti apa kondisi Rama, saat berada di tangan wanita seperti Cempaka.
"Tubuh Rama demam. Kamu masih berkata dia becus sebagai ibu!?!" pekik Udelia pada Hayan yang baru sampai.
"Cukup Idaline!" bentak Hayan.
"Aku Udelia bukan Idaline!" Udelia balik membentak Hayan, lantas pergi meninggalkan Hayan dan Cempaka.
Langkah Udelia terburu-buru menuju kereta kuda. Kereta kuda berjalan dengan normal, namun dalam keadaan genting terasa sangat lambat. Berkali-kali Udelia meminta dipercepat. Sang kusir berada dalam kebimbangan.
Tidak boleh berkendara secara ugal-ugalan di dalam keraton. Sedikit saja menaikkan kecepatan, kusir akan kena tegur.
"Nda?" cicit Rama. Kelopak matanya bergerak, berusaha membuka matanya yang amat berat.
Jika saja Rama dapat mengenali Hayan dengan benar. Bukan hal aneh Rama dapat mengenali Udelia. Sang Ibunda selalu takjub dengan keajaiban si kecil.
Idaline dan Udelia bagai langit dan bumi, tetapi Rama dapat mengenalinya.
"Ya sayang. Ibunda di sini. Tidurlah dengan nyaman." Udelia memeluk Rama, memberikan rasa aman padanya. Pikiran buruk berkeliaran dalam benak Udelia.
Entah pahit atau asin pengalaman yang didapatkan Rama di rumah selir ayah kandungnya.
"Hehe Nda di cini ..."
Udelia mengulas senyum. Membiarkan tangan kecil Rama menggapai wajahnya.
Tak lama kemudian mereka telah sampai ke Kedaton Sedap Malam. Udelia turun sambil menggendong Rama. Tidak mau sedetik pun terpisah dari putranya.
"Nung!" panggil Udelia.
__ADS_1
Nung yang sedang merapikan buku, bergegas muncul di hadapan nyonyanya. Panggilan nyonya lebih berarti daripada segalanya.
"Bawa Raka kemari dan siapkan gerobak besar!"
Dengan berat hati Udelia meletakkan Rama ke kereta dan menyelimuti tubuh putranya hingga ke leher.
Udelia harus menggotong raganya ke atas gerobak berdua bersama Nung, supaya tidak melibatkan banyak orang.
Semakin banyak orang akan semakin bocor berita pelariannya.
"Kamu mau ke mana?"
Udelia tersentak kaget. Hayan berdiri di belakangnya. Dia kira setelah membentak dirinya di depan umum, Hayan tak lagi peduli padany dan lebih memilih menenangkan Cempaka yang menangis tersedu-sedu karena dirinya.
Pemikirannya salah. Hayan mengejarnya sampai ke Kedaton Sedap Malam, masuk ke dalam kamar dan menginterogasinya.
"Kita sudah tidak memiliki urusan dan sudah kukatakan Rama akan kuberikan ketika berusia lima tahun," ucap Udelia kembali menguasai diri.
Dia abaikan Hayan. Tangannya sibuk memasukkan pakaian pemberian Candra.
"Aku tidak akan melepaskanmu!" Hayan menarik Udelia hingga terjerembab ke pelukannya.
Hayan merasa marah pada dirinya yang telah kelepasan membentak Udelia di depan khalayak.
Niat mendatangi Udelia untuk meminta maaf, menguap sudah. Udelia mencoba kabur darinya ketika tidak dia perhatikan.
Hayan tidak akan membiarkan usaha Udelia terwujud.
"Bawa Pangeran ke Ra Konco!" titah Hayan pada Nung.
Nung langsung melesat pergi membawa Rama ke tabib terbaik di keraton.
"Turunkan aku!" Udelia memberontak di pelukan Hayan. Dia pukul-pukul tubuh Hayan serta menggigitnya agar melepas pelukannya.
Hayan justru tertawa geli. Dia terus membimbing Udelia, masuk ke salah satu ruangan yang terhubung dengan raga Udelia yang tergolek lemah.
"Jangan gila Hayan!" sentak Udelia ketika dibanting ke atas kasur. Dia mulai sadar arah tujuan Hayan membawanya ke sudut ruang yang lain.
Hayan tersenyum miring. Baguslah Maharaninya memahami maksud perbuatan Hayan. Hayan tidak perlu repot-repot menjelaskan keinginannya yang telah lama terpendam.
"Aku sudah menahan diri sejak Maharani kembali."
"Hentikan Hayan!!" teriak Udelia tak terima. Udelia tak suka pemaksaan.
Udelia membuat perisai di sekitarnya. Menahan tubuh Hayan yang hendak mendekat padanya.
"Jangan memaksakan diri!" bentak Hayan.
__ADS_1
Itu adalah bentakan kedua sepanjang waktu mereka saling mengenal. Udelia menggigit bibirnya karena hatinya terasa sakit.
Hayan menembus perisai dengan mudah. Kekuatan Udelia belum lama pulih dan tidak bisa dibandingkan dengan kekuatannya.
Hayan mencengkeram pergelangan tangan Udelia. Memaksa Udelia membatalkan kekuatannya.
Udelia tak habis pikir. Dia menggunakan barang-barang sekitar. Melemparnya ke tubuh Hayan.
"Apa tidak masalah kita biarkan saja?" bisik seorang pengawal rumah utama Kedaton Sedap Malam.
Dari dalam rumah terdengar suara lemparan perabot yang menimbulkan kebisingan.
"Kamu mau ikut pertempuran seperti itu?" balas pengawal lain dengan sinis. Mereka bernapas di dekat Maharaja saja susah, bagaimana mungkin berani melerai Maharaja dan Maharani yang sedang bergulat?
"Jangan ikut campur. Ini pertengkaran suami istri. Yang penting tidak ada korban di luar sini," lempar pengawal lain yang ada di dekat mereka berdua.
"Hayan, kamu akan menyesal," lontar Udelia dari bibirnya yang berdarah. Suaranya hampir tak terdengar. Terlukis jejak tangan di lehernya.
Mereka bertarung dengan hebat.
Kaki dan tangan Udelia terikat kuat. Hayan menyegel simpulan tangan Udelia di kaki ranjang.
"Jangan beri tatapan menggoda begitu. Tidak ada lelaki yang bisa menahannya," seloroh Hayan lalu menjauhkan diri daripada dia benar-benar tergoda.
"Benar sekali, Idaline sangat menggoda, tak seperti Udelia. Kemarilah Hayan ambil tubuh ini dan aku kembali!" berang Udelia tak terima dengan posisi hina.
Terbaring di atas ranjang dengan tangan dan kaki terikat di empat sisi ranjang.
"Guru sudah kembali, jika bisa," ejek Hayan sembari mengikat lengannya yang patah oleh ulah Udelia.
Udelia dan Hayan sama mengenaskannya. Mereka saling serang dan saling balas. Hayan menurunkan kekuatannya sepadan dengan Udelia.
"Dan bagaimana kalau kukatakan, aku selalu menggunakan tubuh guru setiap malamnya?" bisik Hayan ketika mengoleskan salep ke pipi Udelia.
"Dasar gila!"
"Aku hanya menghangatkan tubuh yang dingin itu. Ingin melihatnya?"
Hayan mengusap jari-jemari Udelia yang mengelupas. Pertarungan mereka begitu dahsyat.
"(Sinting!)"
"Terima kasih."
o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]