TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 009


__ADS_3

TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]


009 - DIA AKAN MENCOBA BERLAPANG DADA


Suara decapan dua bibir bertemu, terdengar menggema di sebuah ruang pribadi.


Dua anak manusia itu saling menautkan benda lembut nan kenyal di mulut mereka.


Udelia kehilangan akalnya.


Seharusnya dia dorong pria mesum yang membelit tubuhnya, dengan pelukan erat. Tangan besar pria itu mengusap punggungnya dan menarik rambutnya dengan remasan kecil.


Dia malah menyeimbangi ciuman si mesum dan balas menarik kerah bajunya. Merekatkan bibir mereka dan memperdalam ciuman mereka.


Ada getar aneh dalam hatinya. Seolah dia haus akan rasa ini.


Dia seperti...


merindukan kehangatan ini.


Djahan menarik diri dari Udelia kala wanita itu mulai kehabisan napasnya.


Matanya sayu. Dia mendekat. Menempelkan hidungnya ke hidung wanita yang masih sibuk meraup udara.


Melihat tiada respon penolakan, dia semakin berani.


Tangannya mengusap paha wanita itu. Menelusup masuk. Mengusap- ngusap paha mulus Udelia yang tak terbalut rok —yang sudah disingkapnya.


"Euuumhhh.."


Satu ******* lolos dari bibir Udelia. Wanita itu menikmati yang dilakukan Djahan.


Tangannya hendak menahan, tapi kakinya justru memberikan kesempatan pada si pria.


Terbuka dengan sangat lebar.


"Aku akan melayani kamu dengan baik, ratu hatiku.." bisik Djahan. Sangat senang dengan suara merdu yang dilepaskan Udelia.


Udelia belum memberikan respon. Tiba- tiba dia sudah diangkat naik ke langit.


Mencapai rasa puas yang tinggi.


Peluh keduanya membasahi tubuh polos mereka. Aroma pandan yang khas menempel pada sofa yang mereka tempati.


Jadi, siapa sebenarnya yang memulai? Yang patut disalahkan atas kotornya sofa yang baru dibeli tiga hari lalu?


Djahan terlelap di pangkuan Udelia. Tangan wanita itu terjulur padanya. Mengusap- usap rambutnya.


Dapat dia rasakan bibir wanita itu menyentuh seluruh tubuhnya.


Tatapan mata Udelia, sangat mirip dengan tatapan tajam penuh gairah di malam itu.


Malam sebelum dia berangkat ke air terjun Sekar Langit dan menghilang. Lalu muncul di dunia yang berbanding terbalik dengan dunianya.


Djahan tentu tak mau kehilangan kesempatan ini. Dia menerima semua pelecehan yang dilakukan wanita itu.


Ketika bangun, Udelia merasakan tubuhnya sangat remuk. Di hadapannya langsung tersuguh dada bidang dan sebuah lengan kekar melingkari tubuh polosnya.


Tangan yang beberapa hari lalu menariknya di museum budaya.


Kepalanya pening saat tiba- tiba teringat hal nista yang dia lakukan. Saat itu, rasanya dia tidak dapat menahan gerak tubuhnya sendiri.

__ADS_1


Tubuhnya sangat mendamba.


Udelia melepaskan pelukan Djahan. Gerakan yang kecil itu rupanya tidak dapat menahan tubuh Djahan di atas sempitnya sofa.


Raga besar Djahan jatuh berdebam ke atas lantai.


Engsel pintu yang bergerak membuatnya panik. Dia dan pria yang menjadi korbannya, sama sekali tidak mengenakan pakaian.


Tanpa pikir panjang dia terjang tubuh itu. Menutupi tubuh polos mereka berdua dengan selimut tebal.


Lili mengerjapkan matanya. Tanpa banyak mencari tahu, dia mundur teratur dan kembali mengunci pintu dari luar. Hanya dapat berharap tidak ada yang sakit karena keduanya tidur- tiduran di lantai.


Djahan membuka matanya. Dia terkekeh dalam hati melihat Udelia menyembunyikan wajahnya di ceruk lehernya.


"Jadi nona mau main lagi di lantai yang dingin ini?"


"Janganhh hhh.. emm."


"Tapi kamu sudah sangat basah, nona," bisik Djahan. Jari jemari tangannya sudah bertengger pada liang yang disukainya.


Hangat dan basah.


Tangan Udelia menekan lurus dada bidang Djahan. Menyesap masuk jari panjang pria itu.


Lalu tangan Djahan basah oleh cairan nirwana.


Udelia enggan melanjutkan. Cukup satu kali dia dibodohi diri sendiri dan pria asing dari pedalaman.


Sayang lantainya tempat kakinya berpijak, sangat licin. Dia jatuh terduduk dengan sebuah benda yang menusuk dalam.


Udelia berusaha bangkit. Tapi benda itu tak mau terlepas.


Djahan memegangi pinggul Udelia. Tak dapat lagi menahan kuasa akan moleknya tubuh polos Udelia.


Keduanya memekik bersama saat mencapai rasa puas bersama.


Udelia tidak dapat menahan tangisnya. Dia menangis di atas dada bidang Djahan.


Prinsip hidupnya seperti norma ketimuran, tidak menyatukan diri sebelum menikah.


Sekarang, dengan pria asing dia bermain gila.


Entah bagaimana nasib suaminya? Akankah menerima dirinya yang tak lagi sempurna? Atau dia habiskan waktu dengan pria yang telah digodanya? Menerima lamaran Djahan..


Djahan memeluk Udelia. Walau hubungan ini tak berdosa untuk mereka, sebagaimana aslinya mereka adalah pasangan suami istri. Djahan memahami prinsip istrinya.


Mungkin istrinya tidak ingat. Tapi tubuh istrinya sangat hafal dengan siapa dia berbagi kehangatan di tiap malamnya.


"Aku akan bertanggung jawab," bisik Djahan.


Udelia menggeleng. Dia menghapus air mata. Wajahnya yang sendu berubah tegar. Dia mengukir senyum.


"Kita dua orang dewasa yang sama- sama sadar dalam melakukannya. Kamu tidak perlu terbebani. Aku ... hanya terlalu tergoda dengan tubuh indahmu. Terbayang- bayang setelah kali pertama melihat. Apalagi tangan besarmu yang menyeretku. Benar- benar menghangatkan!"


Sengaja Udelia membuat narasi yang sangat menjijikan. Dia tidak mau pria itu merasa bersalah. Dia berharap pria itu jijik padanya dan menjauhinya.


Naas, pria itu malah bersemu merah. Merasa senang Udelia memikirkannya begitu dalam.


Tak segan pria itu menarik tubuh Udelia dan menciumi wajahnya.


"Terima kasih selalu memikirkanku!"

__ADS_1


Orang aneh. Begitu pikir Udelia.


Pria normal akan merasa jijik dengan wanita yang agresif dan tidak tahu malu.


Pria ini ... justru merasa senang?


Udelia mempertanyakan kenormalannya!


Fusena tidak dapat menahan kemarahannya. Melihat dengan mata kepala sendiri, wanita pengisi hatinya bermain gila dengan pria lain.


Aura di tubuhnya memancar keluar. Meruntuhkan bangunan di sekitarnya.


Beruntung, dia masih tidak kehilangan akalnya untuk memberikan perlindungan bagi para manusia awam yang berada di sekitarnya.


Pria itu duduk dengan tenang di tengah reruntuhan bangunan.


Tim penyelamat yang datang, sibuk membawa korban dari dalam reruntuhan. Tidak ada yang melihat keberadaan dirinya.


"Mba, haruskah aku melakukan hal itu lagi? Saat kita sama- sama merasakan madu manis satu sama lain. Aku sudah terlalu sabar menunggu ratusan tahun belakangan! Dulu Hayan dan sekarang Djahan?!" desis Fusena.


Alarm gempa kembali terdengar. Lautan manusia bergegas lari menjauh.


Termasuk para karyawan di gedung Udelia.


Kali ini getarannya sebesar itu.


Gempa besar yang terasa akan melahap segala bangunan di atasnya.


Udelia mengeratkan pegangannya pada Djahan. Dia yang ingin menjauh dari pria itu, malah berlindung di lengannya.


Bagaimanapun, mati muda adalah hal yang tidak dia inginkan.


Ada orang tua dan adik yang harus dia bahagiakan.


Pun dia sudah merasa lama tidak berjumpa mereka. Ingin menghabiskan waktu lebih banyak lagi.


"Hati- hati, sayang!"


Djahan menariik Udelia dalam pelukannya sebelum sebuah runtuhan platform mengenai kepala wanita itu.


Udelia memeluk Djahan dengan sangat erat. Nyawanya hampir saja melayang.


Tanpa menunggu persetujuan, Djahan menggendong Udelia dengan gaya pengantin. Membawanya pergi dari dalam bangunan.


"Jangan memberontak. Tubuhmu pasti sangat lemas," bisik Djahan sebelum Udelia melayangkan protes.


Fusena menarik napasnya. Menyandarkan tubuhnya pada kursi yang tidak terpengaruh oleh gempa.


Dia mengusap kasar wajahnya.


Amarahnya menjadi bumerang. Udelia dan Djahan terlihat lebih dekat dibanding sebelumnya.


"Jangan kembali mengulang kesalahanmu, Sena!" sugesti Fusena pada dirinya sendiri.


Dia tidak mau mengambil jalan pemaksaan.


Jika mendapatkannya berarti harus berbagi, dia akan mencoba berlapang dada.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉

__ADS_1


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]


Ada yang bisa tebak maksud Fusena?


__ADS_2