TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
033


__ADS_3

Udelia tidak memedulikan pertanyaan Candra dan lebih memilih memakan hidangan yang disiapkan para pelayan.


Tangan para pelayan itu gemetar ketakutan, kala menghidangkan makanan di meja.


Meskipun mereka menjadi patuh karena rasa takut, Udelia tidak peduli.


Yang harus dia pastikan hanyalah kelancaran semua kegiatan di rumah besar Ekadanta.


Tugas seorang istri adalah memastikan rumah baik-baik saja.


Rumah tidak akan baik jika para pelayan merendahkannya dan tidak menghormatinya sebagai majikan.


Rasa takut juga hal bagus. Udelia tidak perlu bersusah-susah mendidik para pelayan yang sebelumnya tak patuh.


"Kakak! Bagaimana kakak bisa begitu kejam?"


Candra kembali datang setelah gagal menemui Ijen di penjara.


Setiap tahanan yang ditangkap langsung atas titah Maharaja, menteri kehakiman tidak memperbolehkan mereka untuk menerima tamu.


Candra masih tidak percaya, dengan penjelasan menteri kehakiman dan yang seluruh tuduhan yang mengarah pada bawahannya.


Dia mendesak Udelia untuk mengaku. Sebelum sore datang dan menteri kehakiman akan menyerahkan laporan hariannya, pada Mahapatih.


Udelia memang hilang ingatan, namun Candra yakin kebesaran dalam diri Udelia, masih sama besarnya.


Orang besar tidak suka melihat miliknya didekati orang lain.


Mereka akan menggunakan segala cara, agar miliknya secara utuh menjadi miliknya, agar miliknya tidak disentuh orang lain.


Sangat mungkin bagi Udelia untuk bekerja sama dengan kakaknya, yang tidak suka Candra terlalu dekat dengan putri pengasuh.


Dia tidak percaya Ijen berani menjebak Maharaja.


Nyali Ijen tidak sebesar itu.


"Kamu sedang melakukan dosa besar, Candra."


Candra ternanap merasakan aura intimidasi dari istrinya.


Napasnya bak diikat dengan tali kasat, menjadikan jantungnya kekurangan udara dan memaksa untuk memompa darah dengan tersendat-sendat.


"Pertama meragukan istrimu, kedua meragukan kinerja kakakmu, dan ketiga meragukan keputusan Maharaja," tutur Udelia setelah mendengar cerita Jo.


Jo menceritakan tujuan sebenarnya kedatangan Bayu ke rumah Ekdanta.


Dia tidak habis pikir. Ijen sudah membuat masalah besar, yang mungkin akan menyeret seluruh nyawa di kediaman ini. Tapi suaminya masih saja membela perempuan itu.


Candra mengusap wajahnya. Rentetan dosa besar yang diucapkan Udelia, menyadarkannya. Dia sudah menuduh tanpa bukti.


Candra menghempaskan tubuhnya. Di hadapannya, sang istri makan dengan lahap. Seolah tidak memiliki masalah.


Candra menyentak napas kuat-kuat. Sama sekali tidak memiliki petunjuk.


Apa ini ulah istrinya? Atau benar seperti kejadian yang sesungguhnya, kalau penangkapan Ijen adalah titah asli dari Maharaja?


"Apa Yang Mulia ingin menekanku?"


Hanya itu yang dapat Candra simpulkan. Kesimpulan itu sangat logis.


Dia sudah lama berkecimpung dalam kepemerintahan. Usianya belum senja dan dia sudah undur diri.


Semakin banyak rahasia yang diketahui seseorang, semakin rumit hidup ke depan yang akan dijalani.


Bilalah benar demikian, Candra tidak kuasa melawan Maharaja.


"Aku ingat kejadian semalam."

__ADS_1


Candra menarik napas dalam-dalam. Dia menatap tajam sang istri, yang justru membahas malam pertama mereka.


"Kak, ini bukan waktunya membahas hal pribadi."


"Semalam wanita itu memberiku obat, badanku jadi aneh, dan ada lelaki yang datang memakai hiasan di telinga dan kepalanya."


Candra membeku dalam pikiran yang kalut.


Para bangsawan hanya memakai cincin, gelang, kilatbahu, kalung, dan anting.


Perhiasan telinga atau sumping, tidak dikenakan para bangsawan.


Sumping hanya dikenakan keluarga kerajaan.


"Di batang daun telinganya, Candra. Bukan anting," tegas Udelia.


***


"Tidak ada wanita lain?" tanya Hayan tidak percaya dengan pendengarannya.


Walau wajahnya tidak jelas, dia yakin lekuk tubuh wanita itu pantas dijadikan simpanan.


Tangannya terlalu lembut, untuk seorang bangsawan putri Jawa yang memiliki banyak tugas dan keahlian.


Putri dan Putra bangsawan Maja, khususnya putra putri asli Kerajaan Maja, semuanya mempelajari banyak keahlian yang setara.


Sekurang-kurangnya putri bangsawan mempunyai keahlian, mereka pasti bisa memasak atau mengangkat senjata.


Semua sudah dipelajari sesuai bakat mereka dari lahir.


"Benar, Yang Mulia. Kami juga terkejut dengan pernikahan Candra. Dia menyembunyikan kekasihnya dengan sangat baik. Jadi hamba bisa menjamin, tidak ada wanita lain."


Hayan memindai Bayu yang tampak tegas. Tidak ada kebohongan dari matanya.


"Interogasi pelayan itu."


"Baik, Yang Mulia."


Tahi lalat itu sangat melekat diingatannya sebab mirip biji srikaya kesukaan Maharaninya.


Semua yang ada dalam diri perempuan itu, Hayan sangat menyukainya.


Semua yang berhubungan dengan Maharaninya, Hayan tidak mampu menolaknya.


Hayan berniat memutuskan suatu yang besar. Namun dia dibungkam oleh Mahapatih, Djahan Mada.


"Maharaja, hal ini baru kita yang tahu. Menurut saya tidak perlu memasukkannya ke dalam istana. Nanti keluarga para bangsawan tinggi ribut, ingin memasukkan putri-putri mereka," usul Djahan.


"Anda baru memasukkan dua wanita dalam tahun ini," imbuh Djahan mencoba meyakinkan Maharaja, yang terlihat jelas akan membuat keputusan lain.


"Lopi tidak akan senang memiliki banyak ibu." Lagi, Djahan meyakinkan Hayan dengan menyeret putri kesayangan mereka.


Terlintas dalam benak Hayan ucapan Maya Lopika Wijaya, tentang pendapat antara dirinya dan Djahan dalam kesetiaan.


Djahan sangat setia. Berbeda dengan dirinya, yang kini telah memiliki empat pasangan.


Hayan merenggut kesal. Hilang sudah keinginannya meminang perempuan yang sudah dinodainya.


Dia kalah dengan serangan Djahan.


"Berikan rumah layak huni di desa tempat tinggalnya. Perhatikan dia terutama dalam beberapa bulan ini."


"Baik, Yang Mulia."


"Kamu boleh pergi."


***

__ADS_1


"Ijen menjebakmu? Itu sangat tidak mungkin."


Candra tidak percaya dengan penjelasan Udelia.


Ijen bukanlah orang bodoh, yang tidak bisa membedakan para bangsawan dari pakaian mereka.


Ijen hafal dengan semua tingkatan kasta. Ijen tidak akan berani mengganggu orang yang berada di atasnya.


Udelia menautkan alisnya. Dia tertawa hambar mendengar pembelaan Candra yang membabi buta.


Bila sudah sejauh ini. Udelia mempertanyakan lagi semua ucapan manis suaminya.


Suaminya berkata seolah dia tidak ada duanya.


Tapi begitu dihadapkan antara dirinya dan teman lamanya, Candra tidak mempercayainya.


"Kalau tidak ada hal lain, aku akan istirahat. Punggungku sangat sakit setelah dihantam ke tembok."


Hati Candra melengos. Tersirat rasa sakit yang dalam pada mata Udelia.


Seperti kata Udelia, dia sudah melakukan dosa besar.


"Maaf, kak."


Candra menahan tangan Udelia yang hendak berdiri.


Dia merasa gusar. Ijen sudah menemaninya sejak kecil. Ada rasa tak nyaman melihatnya dalam bahaya.


Candra berharap dapat mendengar seluruh cerita, sehingga bisa mencari jalan keluar yang tidak merugikan semua orang.


"Bisakah kakak ceritakan dengan detail?"


"Tanyakan saja pada orang lain. Aku berucap pun kamu tidak akan percaya!"


Udelia menyentak tangan Candra hingga terlepas. Lalu beranjak pergi dari ruangan yang terasa sesak dan sumpek.


Dia menyembunyikan matanya yang terasa panas.


Baru sehari mereka menikah, suaminya sudah menunjukkan tabiat aslinya.


Candra tidak berniat mengejar Udelia. Dia membiarkan istrinya untuk menenangkan diri.


Dia hanya akan terus berucap kasar dan menyudutkan, bila berada di dekat Udelia.


"Kalian yang melayani nyonya, katakanlah sebenarnya. Jika masih menyayangi nyawa kalian."


Candra menatap datar satu persatu perempuan yang menunduk dalam.


Raga dan suara mereka bergetar. Candra yakin, mereka mengetahui yang terjadi semalam.


"Ba ... baik tuan."


Udelia berlari tanpa arah, menyembunyikan air matanya yang tak terbendung.


Dia menghentikan langkahnya dan bersandar di pohon yang besar.


Pohon yang menyembunyikan tubuhnya dengan baik.


Udelia berjongkok. Punggungnya bergetar hebat.


Kebun belakang itu menjadi saksi tumpahnya air mata kekecewaan yang pertama.


Lama dia terisak, matanya memerah sebab air mata dan kantuk yang menyerang.


Hembusan angin membuatnya enggan beranjak.


"Anda akan sakit jika terkena angin."

__ADS_1


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


__ADS_2