TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 041


__ADS_3

041 - LONTAR SABDA WAHYU


"Jadi Udelia, Nak Hayan ini ingin melamarmu. Apa kamu mau menerimanya?"


Udelia melotot mendengar perkataan ibunya. Tepat berkata di depan dia dan suaminya.


Bagaimana bisa begitu?


Berbulan- bulan lalu, dia bahkan melihat sendiri betapa berbinarnya mata ayah dan ibunya kala menatap Djahan.


Kenapa sekarang kedua orang tuanya berpaling pada anak muda ini??


"Kamu apa kan kedua orang tuaku?" cecar Udelia.


Teringat hari pernikahannya di bawah air, Udelia yakin tubuhnya sudah dikendalikan.


Apakah demikian dengan orang tuanya?


"Ssst, Nak. Jangan ngawur. Ibu dan bapak tidak ada masalah apa- apa," ucap Ibu Udelia dengan ringan.


Wanita itu menatap suaminya yang hanya terdiam.


Hah. Pada akhirnya harus dia yang mengatakan.


"Seperti yang sudah kalian kisahkan, Udelia menikahi Nak Djahan dan Nak Hayan. Tidak adil bukan bila hanya menikahi salah satunya? Ibu dan ayah akan memberikan restu dan jalan. Tidak akan membiarkan ketidakadilan di depan mata."


Djahan mengepalkan tangannya.


Dia sangat emosi mendengar penuturan itu.


Saking marahnya dan tidak dapat dikeluarkan, Djahan menitikan air mata.


Udelia tersentak melihat suaminya menangis.


"Sayang..." panggil Udelia.


Djahan mengusap kasar wajahnya.


"Aku permisi dulu. Silakan bahas masalah ini di antara kalian. Aku menerima keputusanmu, Udel."


Setelah berkata demikian, Djahan pergi dari tempat duduknya.


Dia sekarang hanya orang pesakitan. Tidak bisa terlalu lama pergi dari tempat tinggalnya.


Melawan pengguna kekuatan ghaib adalah sebuah kekonyolan.


Hayan mendengus sebal. Bagaimana bisa Djahan memainkan perasaan istri mereka?


Udelia pasti tidak nyaman melihat ketidak berdayaan Djahan.


"Maharaniku, kamu adalah ibu bagi negara. Berjanji di hadapan tonggak suci jikalau kamu akan bersamaku selamanya. Sampai ratusan kali reinkarnasi terjadi, kamu tidak akan lupa."


Udelia tertegun. Kakinya jadi tertahan karena ucapan Hayan.


Janji adalah hal tabu untuk diingkari.


Manik matanya menatap Hayan, berharap ucapan Hayan hanya bualan belaka.


"Nak, kami tidak pernah mengajari kamu untuk ingkar janji. Apalagi pada khalayak ramai," tutur ayah Udelia.


"Pria menikahi banyak wanita saja tidak masuk dalam akalku, Yah. Apalagi wanita menikahi banyak pria? Tolong kalian berpikir jernih! Kukira panutua kita pun tidak akan satu suara dengan kalian!"


Hayan tersenyum kecil. "Baik. Bagaimana kalau kita pergi ke rumah pembesar?"


"Nah. Benar tuh," cetus ibu Udelia.


"Itu yang paling adil, Nak," tutur ayah Udelia.


Karena terus didesak kedua orang tuanya, Udelia mengangguk menyetujui.


Pria yang mengintip di ujung tembok mengepalkan tangannya kesal.

__ADS_1


Dahulu pernikahannya bersama Udelia, kandas dalam waktu sepekan karena siasat licik Maharaja.


Akankah hubungan mereka kali ini kandas dalam waktu sebulan?


"Sayang, jangan marah. Ini sudah zaman modern. Wahyu tidak akan turun pada zaman ini," ucap Udelia.


Dia dan suaminya sedang bersantai di dalam kamar, setelah semalaman keluarganya datang terus menyudutkan Udelia untuk menikah lagi.


Dengan tak tahu malu, mereka bahkan hendak menginap untuk berangkat esok hari ke atas gunung.


Mencari wahyu.


"Kalau kalian tidak pulang, tidak usah sekalian pergi ke gunung," ancam Udelia saat itu.


Dia hanya tidak mau suaminya semakin kesal dengan keluarganya.


Jika selama ini suaminya selalu menjaga dia, maka giliran dia yang akan menenangkan emosi suaminya dari kekonyolan keluarganya.


Dia yakin, tidak akan ada berita nyeleneh seperti itu.


"Aku hanya takut kita berpisah lagi.." cetus Djahan.


"Apa saat itu kita terpaksa berpisah?" gumam Udelia. Mencoba menerawang ke masa lampau.


Tidak ada ingatan yang dia dapatkan.


"Kita tetap bersama."


Walau tidak satu rumah, Djahan tetap membersamai Udelia di sela kesibukannya sebagai seorang Maharani.


"Kalau begitu yakinlah."


Djahan tidak mempertanyakan isi hati Udelia.


Dia ada di posisi pertama.


Tapi bukan satu- satunya.


Udelia sendiri menjadi takut pada Djahan.


Dia seperti tidak bisa membaca isi hatinya, seperti di hari kemarin dia tahu tentang inginnya Djahan.


Pergi menepi ke Sekar Langit.


Sayangnya hari ini, rencana mereka harus tertunda.


Keinginan orang tua Udelia tidak dapat dibantah.


Udelia yang ingin abai, Djahan justru tidak mau menolak.


"Kita akan berangkat. Sesuai ingin ayah dan ibu," cetus Djahan kala Udelia meminta mereka mengendap- endap pergi ke Sekar Langit sebelum matahari keluar.


"Ayo, Sayang!" seru Djahan mengagetkan Udelia yang sedang gamang, antara datang dan tidak.


Bahkan kata sayang yang terucap dari bibir Djahan, terasa sangat dingin dalam rungu Udelia.


"Rasanya tak perlu. Hanya buang- buang waktu."


Udelia berkata dengan getir.


Takut benar- benar ada wahyu yang turun.


Meski dia menampik, nyatanya ada hal- hal di luar nalar yang baru dia lihat sepanjang dua puluh lima tahun hidupnya.


Kalaupun bukan dari langit, pria kuno dapat menggunakan sihir.


Zaman ini, siapa yang bisa membedakan antara wahyu asli dan wahyu palsu?


"Tenang saja. Kita bawa Candra Ekadanta."


Sesosok pria bertelan jang dada muncul di daun pintu.

__ADS_1


Pria itu...


jelmaan buaya.


Djahan menatap datar.


Sengaja dia janjikan hal kosong pada Ekadanta itu.


Teringat semalam, kala dia terus menatap Udelia yang sudah bergelung di dalam selimut.


Dia juga menyetujui usulan Udelia untuk pergi ke Sekar Langit.


Namun, nanti tipu daya apalagi yang akan dilakukan Sang Maharaja, ketika satu siasatnya tidak terlaksana.


"Saya bisa mendeteksi kecurangan Maharaja jika Anda biarkan Udelia menikah dengan saya."


Djahan menatap datar Candra yang begitu ringannya menawarkan masalah dengan masalah lainnya.


"Saya janji tidak akan memaksa Udelia. Jika pun Udelia mau, saya tidak akan setiap saat merecoki kalian."


Djahan mengerti. Sekarang tempat tinggal utama Candra Ekadanta adalah perairan.


Dia hanya perlu membangun rumah yang menjauh dari sumber air.


Tidak seperti istananya sekarang yang dikelilingi sungai dan curug.


Udelia yang suka perairan, membuat Djahan membangun istana di sini.


Dan tadi apa katanya? Tidak akan memaksa Udelia?


Djahan yakin Udelia tidak akan memilih pria yang tidak dicintainya.


Jika pada Hayan, Djahan merasa gamang karena Udelia bertahan dengan pria itu dalam sadarnya.


Berbeda dengan Candra. Udelia bertahan dengannya, hanya karena pengaruh sihir.


"Baik. Kurestui kalian hanya jika Udelia tidak menolakmu!"


Djahan percaya, Udelia tidak akan jatuh pada pesona sang buaya.


Maka jadilah Djahan membawa Penyihir Agung itu pada pertemuan di puncak gunung.


Wajah Hayan mendadak pias.


Dia kalah strategi.


Seharusnya dia tarik pria itu ke sisinya.


"Atas permintaan Bapak Wara. Kami sekalian telah meminta petunjuk pada- Nya. Semalam saya sudah menyerahkan sebaris lontar pada kotak bergembok ini."


Seorang pria besar berpakaian serba putih menunjukkan kotak dengan ukiran rumit di tangannya.


Di dalamnya terdapat lontar sabda wahyu.


Lontar yang akan menunjukkan datangnya wahyu dari Yang Kuasa.


Wajah teduh pria itu membiarkan satu persatu orang melihat kotak di tangannya.


Lantas mengembalikannya pada sebuah meja datar di depannya.


"Dari pihak Bapak Wara dan pihak lain, sudah mendatangkan satu orang kepercayaan. Maka sudah mengerti kalau tidak ada sabotase pada isian kotak ini?"


"Mengerti," jawab serempak semua orang.


"Baik. Saya buka.."


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]

__ADS_1


__ADS_2