TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 026


__ADS_3

TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]


026 - KAMI MANDIRI


"Ti- tidak. Tidak usah kamu bawa. Nanti kita makan bersama. Ibu membuat dua porsi untuk kita."


"Baik.." tutur Udelia sedikit bingung.


Tingkah aneh Djahan dan tingkah kasar Djahan. Keduanya membuat bingung.


Apakah Mahapatih Yang Legendaris bersikap aneh saat jatuh cinta?


Pertanyaan itu terngiang di dalam benaknya.


"Rina, Wina, Tina, sebaiknya kalian menjaga tuan kalian. Aku tidaklah usah diikuti. Risih dan malu juga."


"Tapi, nyonya..."


Bantahan Tina tertahan kala Udelia mengangkat tangannya.


Djahan sendiri hanya diam. Dia masih berusaha mengendalikan cacing besar alaska dalam dirinya.


Bermotor, bukan pilihan baik untuk kesehatan mentalnya.


Kecuali yang dibonceng mau menjinakkan yang bangun di sana.


"Kalau kalian memanggilku nyonya, harusnya kalian mendengarkan. Di dalam kantor tidak akan ada bahaya untukku. Kalian temani tuan kalian!"


Ketiga pengawal dadakan Udelia serempak memandangi tuan mereka.


Djahan mengangguk singkat.


Ketiga perempuan itu akhirnya turut mengangguk.


Udelia memasuki gedung kantornya seorang diri.


"Hei, Lia. Coba kamu kemari dulu!"


Seorang staf gedung dengan seragam biru yang mencolok mengundang Udelia, yang sedang sibuk dengan perangkat di tangannya.


Tempat kerja Udelia belum mulai lagi bekerja. Semua berkas masih perlu diperiksa.


Udelia mendekati staf gedung. Diikutinya pria berseragam itu. Rupanya menuju ruang CCTV.


Rekan si staf langsung berdiri saat mendapati temannya telah datang.


Staf yang membawa Udelia mengambil alih duduk rekannya, lantas menyodorkan sebuah tampilan CCTV.


"Ini rekanmu?"


Udelia mulai mengerti maksud staf mengundang dirinya, ketika netranya menangkap sosok yang dikenalnya di dalam kamera pengawas.


Berdiri bagai patung.


Tidak ada pergerakan sama sekali.


Posisinya masih sama sejak kali terakhir dia tinggalkan, sebelum akhirnya dia masuk ke dalam gedung perkantoran.


"Iya, teman saya, pak."


"Oh begitu. Kenapa dia diam saja di depan? Mencurigakan. Tolong tegur ya."


"Diam saja? Dia berpose kek gitu sejak tadi pak?"


"Ya. Diam memegang rantang. Dari sejak datang bersamamu. Aku takut .. tahu kan."


Staf gedung merapatkan kedua tangannya lalu merentangkannya secara bersamaan dalam tempo yang cepat.


Udelia paham makna gerakan si staf.


Posisi Djahan pun kurang mengenakan. Membawa rantang dan terus menatap tajam gedung kantor Udelia.


Seperti hendak meneror tiap orang di dalamnya.


"Emang dia agak berbeda dari kita, pak. Mohon maaf mengganggu bapak sekalian."


"Bawa ke dalam saja. Kasian liat dia terus berdiri. Saya yang liat sambil duduk aja, rasanya capek."


"Em. Iya, pak."


"Ya sudah. Maaf ya ganggu kamu kerja."

__ADS_1


"Belum kok pak. Masih beres- beres."


Udelia lantas pamit meninggalkan ruang CCTV.


Dia tidak langsung kembali ke ruang kantornya. Terpaksa Udelia membawa Djahan masuk ke dalam kantor.


Walau kenangan manis nan pahit itu terus terbayang- bayang.


"Djahan! Kamu kenapa terus berdiri? Kubilang kan istirahat di kafe atau kantin. Banyak loh itu!"


Udelia menunjuk para pedagang kaki lima maupun kafe- kafe semi permanen yang berderet di depan gedung perkantoran.


"Aku menunggu kamu. Takut kamu mencariku," kata Djahan dengan polos.


"Kalau mau mencari. Kamu kan bisa pakai ponsel."


"Beda."


"Beda?"


"Ya. Cuma bisa denger suara. Tidak bisa liat orangnya. Satu jam kita berpisah, rasanya seperti setahun."


"Lalu kenapa kamu tidak masuk ke kantorku, Bambang!?"


"Aku takut mengganggumu. Tunggu! Siapa Bambang!?"


Udelia memutar bola matanya kala Djahan menatapnya dengan menyelidik.


Di balik pohon, Tina, Rina, dan Wina terkekeh geli mendengar percakapan terakhir.


Perang dunia pasti akan dimulai.


Nyonya yang sangat disayangi tuan mereka, membawa nama pria lain.


Sedangkan bersama kedua adik kandung saja, tuan mereka selalu cemburu terhadap nyonya mereka.


Djahan memegang erat tangan Udelia. Binar matanya memancarkan aura yang sangat serius.


"Siapa Bambang, sayang!?"


"Kamu."


"Hah? Aku Djahan bukan Bambang."


Udelia menggerakkan tangannya, hingga bagian jempolnya mengarah ke atas.


Satu kali hentakan, tangannya langsung terbebas dari cengkeraman Djahan.


Dia melenggang pergi, diikuti si penguntit yang tidak lelah, masih menuntut penjelasan tentang siapa itu Bambang.


"Katakan, Udel! Siapa Bambang!"


"Tuan Djahan yang terhormat. Kamu punya banyak bawahan setia. Tanyakan mereka siapa itu Bambang."


"Mereka kenal Bambang?"


"Sangat."


Tanpa menunggu, Djahan menelepon bawahannya.


Maksud Bambang yang diucapkan kekasih hatinya.


Yang jadi pertanyaan dalam benaknya, kenapa mereka mengenal Bambang? Padahal Udelia dan para bawahannya tak pernah terlibat percakapan.


Kecuali trio harimau, tiga prajurit wanita pilihannya untuk sang istri.


"Jadi, Bambang itu panggilan ketika mengumpat?"


"Benar, Tuan."


Djahan yang telah mendapat jawaban, bersegera menarik tangan Udelia.


Rupanya wanita itu sangat berani.


Mengumpatnya di depan wajahnya.


Udelia kaget dengan perlakuan Djahan yang tiba- tiba.


Dia tak sempat mengelak kala Djahan mengungkungnya.


Mata mereka saling terkunci.

__ADS_1


Sorot mata Djahan mengundang banyak rasa.


Cinta? Ya. Udelia merasakannya.


Djahan memandangnya dengan penuh cinta.


Rindu pun nampak jelas dalam netra sekelam malam itu.


Apa mereka sudah sedemikian lama berpisah?


"Kamu sangat berani mengumpatku."


Udelia merasa aneh. Bisikan di telinganya tidak terdengar kemarahan.


Djahan tidak marah padanya.


Yang terdengar justru suara getar saat menyampaikan keluhannya.


Mata Djahan berkaca- kaca.


Udelia-nya telah me-umpat-i-nya.


Rasa bahagianya mencuat keluar.


Sudah lama dia tidak mendengar mulut manis itu mengumpatinya.


Sepuluh tahun lebih..


Udelia menahan napasnya ketika Djahan mendekat. Hidung mereka sampai saling menempel.


Udelia bahkan dapat melihat tekstur kulit Djahan yang sangat mulus.


Perhatian Udelia terganggu dengan kemulusan wajah Djahan.


Kulitnya yang mulus, bibirnya yang merah. Udelia akan bertanya berkali- kali.


Benarkah pria itu dari zaman kuno?


Kulitnya terlalu bagus!


Apalagi untuk pria kasar yang senang berperang seperti seorang Mahapatih!


"Kamu perawatan di mana? Kulitmu seperti seorang wanita!"


Oh. Djahan senang dengan umpatan kedua ini.


Seperti dahulu, wanita itu selalu saja mengomentari dia yang katanya mirip wanita.


Karena rambutnya yang panjang dan mulus.


"Rambutku masih panjang loh."


Tanpa diperintah, pria itu membuka topi yang dikenakannya.


Seperti iklan shampo, rambutnya menyebar tanpa gangguan.


Udelia dapat mencium aroma bunga kenanga.


"Benar- benar seperti wanita," komentar Udelia.


"Ya. Ya. Ya. Udelia, aku seperti wanita. Kamu ingat? Kamu berkata rambutku terlalu halus untuk seorang pria kasar yang suka berperang."


Djahan bersemangat mengomentari dirinya sendiri.


Keduanya lupa. Sedang berada di mana mereka.


Banyak mata menelisik mereka. Mata ponsel pun ikut merekam.


Tindakan tak senonoh di depan publik bukanlah hal yang patut.


"EHEM!!"


Dehaman kencang menyentak jantung Udelia. Sementara Djahan masih saja memandangi wajah kekasihnya dari dekat. Tidak melepaskan pandangannya barang satu detik pun.


"Lia, apa kamu butuh kamar hotel? Ini di jalan!"


"Terima kasih. Kami akan memesannya sendiri. Kami mandiri."


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉

__ADS_1


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]


__ADS_2