![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Anda harus beristirahat! Udel akan sedih kalau melihat Anda sakit!" pesan Siji sebelum menyisir tempat yang lebih jauh.
Djahan tersenyum simpul. Ia memperhatikan tiap kelompok yang mengendap-endap. Semua orang melakukan pekerjaan dengan baik.
Djahan pun berjalan ke tenda. Disambut oleh kelompok prajurit yang selalu siap siaga. Hanya sebagian orang yang terjun langsung ke medan perang.
Karena para pemberontak membuat siasat licik yang akan membuat mereka kesusahan bila membawa banyak orang.
Mereka perlu menganalisis dengan baik dan benar, barulah dapat menyerang tiap titik kumpul musuh. Para pemberontak bersembunyi dengan baik. Saat ketahuan, licin seperti ular.
Mereka bisa memotong ular itu. Namun sayangnya si ular sedang berada di kandang, sulit menjangkau tubuh si ular.
Berbagai tugas menguras otak mereka jalani. Ksatria Maja yang terlatih tidak hanya mampu mengayunkan keris, namun juga mampu memutar otak untuk menemukan dalang pemberontakan.
Mereka bekerja keras, tanpa sadar orang-orang yang mereka incar telah berada di tempat yang sangat jauh.
"Papat, kembalilah. Katakan pada nyonya dua hari lagi aku akan pulang."
"Baik, Tuan."
Djahan mengambil gulungan kertas di pakaiannya, menghirup aromanya dalam-dalam. Membayangkan si pemilik aroma ada di sisinya.
Malam manis itu ingin sekali dia ulang. Dia senang ketika Udelia mendominasi. Dia merasa dirinya juga diinginkan oleh wanita yang dicintainya.
Djahan tak sabar mengulang masa yang manis yang mungkin saja akan menghadirkan anak-anak lucu yang menggemaskan.
"Aku akan pulang. Tunggulah, sayang."
Indra tidak bisa menyembunyikan ekspresi sedihnya, ketika menyerahkan laporan hilangnya Djahan pada Hayan.
Dia mendengar gumaman Djahan dari balik tenda. Dia merasa bersalah karena telah menyumpahi gurunya untuk berpisah dengan Udelia. Dia ingin bersama dengan Udelia.
Ternyata amat menyakitkan saat orangnya tiada di sisinya. Dia ingin gurunya kembali datang.
"Kamu yakin laporan ini?" Hayan tidak percaya. Alasan apa yang membuat Djahan menghilang.
Ditangkap musuh, tak mungkin. Pergi jauh, tak mungkin. Ada Udelia yang menunggu kepulangannya.
"Sebagian masih mencari Mahapatih. Laporan yang bisa kami berikan sekarang adalah bahwa Mahapatih hilang ketika kami menyergap markas musuh. Papat yang terakhir bersamanya, bersaksi Mahapatih berada di luar tenda. Tidak ada jejak pertarungan," jelas Indra.
"Kalian carilah Mahapatih sampai dapat informasi ... meski sedikit. Perhatikan hal-hal kecil."
Hayan menarik napas. Hilangnya Djahan akan membuat geger seluruh daerah. Dia berharap ada titik terang tentang keberadaan Djahan.
__ADS_1
"Pergi. Tidak perlu memikirkan tugas lain."
"Baik, Yang Mulia."
Sepeninggal Indra, Hayan termenung di kursinya. Ada rasa sedih menyergapnya mendengar Mahapatih menghilang tanpa jejak.
"Kupikir akan senang jika Anda menghilang. Tapi rasanya ke depan akan berbeda. Akankah ada Mahapatih sekompeten Anda? Dan ... aku harus berkata apa pada Udelia. Dia pasti sangat bersedih."
.
.
"Sudah tiga bulan berlalu dan kita tidak mendapat informasi apa-apa. Kita murid yang tidak berguna!!!" sentak Loro.
Segala usaha dilakukan Siji, Loro, Telu, Papat, dan semua orang di Kediaman Mada.
Seluruh kemampuan mereka keluarkan, untuk mencari tuan mereka.
Pencari informasi, pengendali kekuasaan, para penyihir dan petapa. Mereka melakukan yang mereka bisa.
Segala kemungkinan mereka coba. Bahkan hal konyol menggali tanah di sekitar Sekar Langit.
Gelas dan piring di meja menarik perhatian Loro. Saat guru menghilang, mereka masih bisa makan dengan lahap.
Loro merasa menjadi manusia yang tak tahu diri.
"Kita makan lahap karena sebulan di hutan, tak menemukan makanan apa pun selain rumput liar," timpal Papat.
Mereka berempat menyusuri hutan lebat di daerah Tlogo Rejo tanpa ingat waktu. Satu bulan di dalam hutan dan hanya bertahan dengan rumput liar, sebab memburu ikan saja sudah tak ada waktu.
Segala waktu mereka tersita untuk memeriksa tiap jengkal tanah hutan. Berharap ada petunjuk yang mengarah pada guru mereka.
Seekor dara mendarat di tengah meja mereka. Mencuri perhatian mereka yang sedang berdebat.
Telu membuka ikatan di kaki burung dan mengambil surat yang dikirimkan.
Mereka saling memandang sebelum membuka surat itu. Siapa tahu surat itu adalah jebakan yang akan membuat mereka mati berdiri.
Telu membuka pesan dan membacanya. Sementara tiga orang lainnya bersiap siaga siapa tahu benar jebakan.
Djahan telah berada di tempat yang indah. Tiada dapat menghalangi ketetapan Yang Kuasa. Relakan dan biarkan dia meniti jalan dengan tenang, tanpa ada tangisan menyayat dan ratapan yang mengganggu.
"Tuan telah mati? Sungguh konyol!" sentak Telu setelah membacanya.
__ADS_1
Menyadari adalah benar kertas di tangan Telu ialah surat. Siji, Loro, dan Papat saling berebut untuk membacanya.
"Ini tulisan tangan Udelia," celetuk Siji. Dia tidak melupakan gaya tulisan Udelia yang berantakan. Baik latin maupun aksara jawa.
Sulit sekali meniru tulisan Udelia, karena benar-benar rusak. Sekali lihat Siji dapat mengenalinya.
"Udelia? Nyonya?" tanya Telu.
"Iya, Nyonya Maharani," potong Papat sebelum Siji dan Loro menjawabnya.
Siji dan Loro saling melempar pandangan. Keduanya meyakini Udelia hendak kembali bersama guru mereka. Tidak ada lagi yang dapat menekan Udelia, Widya tinggal jauh dan tak tersentuh keraton.
Widya tidak pernah ingin tahu lagi yang terjadi di keraton. Hanya untuk menjenguk Maya, Widya pergi ke ibu kota, tepatnya ke keraton Bhumi Maja.
Keberadaan Widya tidak mungkin menekan Udelia. Pun Maya yang memiliki kekuatan besar. Mengambil Rama? Terlalu keji jika Maharaja menggunakan Rama sebagai umpan membuat Udelia jadi Maharani.
Papat menatap balik orang-orang yang menatapnya. Dia adalah orang paling tahu dengan yang terjadi di ibu kota. Selalu memantau Kediaman Mada agar aman sentosa.
"Nyonya tidak di rumah. Beliau berada di keraton. Dan tersiar kabar Maharani baru akan dilantik. Seorang wanita baru," jelas Papat dengan mendesis.
Ucapan Papat jika benar, maka Maharaja sudah gila. Melantik Maharani baru saat Maharani masih hidup. Bahkan Maharani yang telah wafat, seharusnya tak boleh terganti.
Kecuali ada yang mempengaruhi Maharaja.
Loro menggeleng. Tak membenarkan pemikiran tentang Udelia membujuk Maharaja agar kembali menjadi Maharani.
"Tidak mungkin Udel seperti itu. Dia sangat mencintai tuan," ujar Loro dengan tegas.
"Tapi Nyonya memiliki bayi Ekadanta juga bayi Yang Mulia," sindir Papat.
"Papat, kami tau kamu sangat menyayangi guru, namun jangan menutup mata. Nyonya sudah mengalami banyak hal," tegur Telu.
Papat membuang muka. Benar. Bukanlah kesalahan nyonya mereka memiliki bayi dari pria lain. Papat tahu, tapi dia tidak mau mengakui.
"Siji dan Loro, meski kalian ada hubungan kerabat, beliau sudah menjadi nyonya kita, perhatikan sikap padanya."
Telu meletakkan uang tagihan ke atas meja. Mereka meninggalkan meja hidangan.
"Kita minta penjelasan pada nyonya," ucap Telu tidak mau dibantah.
Sayangnya, mereka tidak akan pernah mendapat penjelasan.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
__ADS_1
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]