TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 038


__ADS_3

038 - MEMBUATNYA MEMBENGKAK


Walau terkesan buru- buru, pagelaran pernikahan Udelia dan Djahan berlangsung dengan khidmat.


Hayan hanya dapat duduk di kursi tamu.


Candra memandangi dari alamnya.


Mereka ingin memberontak, tapi wajah cerah Udelia tidak mampu menegakan hati mereka.


Terpaksa membiarkan semua ini terjadi.


"Terima kasih, sayang. Kamu mau menerimaku lebih dari yang lain."


Hati Udelia menghangat sekaligus mencelos.


Walau tak ingat, tapi membayangkan dia mendua dengan yang lain. Rasanya dia ingin merutuki dirinya di masa itu.


Mengutuk dengan keras segala bentuk poliandri dan poligami.


Dia tidak akan melakukan hal itu! Semoga.


Dari rekan- rekan Udelia, semuanya bahagia, kecuali Doni yang berwajah sendu.


Matanya bahkan memerah.


"Pantas tidak mau kupinang. Kamu sudah punya calon ternyata," lirih Doni.


Bagaimana bisa dia move on dari wanita di atas singgasana?


Kebaya hitam yang mulai jarang dikenakan para pengantin, yang katanya tabu karena makna warna hitam, terlihat elegan pada gadis itu.


Berwajah mungil, dengan bibir yang seksi, jangan lupakan mata sayunya yang memikat, pun hidung kecilnya yang menggemaskan.


Semakin dipandang, semakin ingin melekat.


Riasan tebal tidak terlihat kuno pada wajahnya.


Lidah ular pada alis, menambah kesan wibawa si gadis.


Wajah Udelia cerah kala menyalami tamu- tamunya.


Dia sesekali menatap Djahan dan sang suami tersenyum dengan lembut.


Walau harus menahan sakit yang sesekali muncul, Djahan tetap berdiri tegak di sisinya.


Udelia tidak melihat garis wajah yang sering menekuk kesakitan.


Dia terlampau fokus pada rupa tampan suaminya.


Rahang tegas yang sesekali mendarat pada kepalanya, setelah mendaratkan kecupan singkat di puncak kepalanya. Ingin sekali Udelia pegang dan lahap.


Begitu rupawan.


Curahan do'a atas dua insan itu lebih banyak dari mereka yang mengutuk mereka.


Do'a si cantik di pojok aula, tidak akan mampu mengalahkan langitan harap kebaikan atas dua insan di atas pelaminan.


Gebyah, si gadis yang diharapkan oleh tetua- tetuanya menjadi pencampur suku- suku mereka yang mulai terpecah, mencakar tembok pilar hingga terdengar decit kuku panjangnya.


"Mahapatih, kenapa Anda begitu tega!? Ayahku sudah menggelontorkan dana begitu besar untuk penyembuhan sakitmu itu, kenapa kamu tinggalkan aku?!"


Desisan gadis itu terdengar oleh sekitar.


Mereka mundur dalam diam. Takut si gila menyerang mereka.


Pernikahan ini tidak hanya dihadiri kalangan keluarga.


Orang- orang yang berada di tangan Djahan, turut serta mengundang banyak tamu tidak dikenal.


Mungkin, para jelata atau anak muda pada umumnya, tidak akan mengerti dengan kisah historis yang mulai terlupa.


Banyak dari mereka mengernyit heran.

__ADS_1


Kenapa di sisi pintu masuk, berderet dinding menuliskan kisah yang tidak ada hubungannya dengan pernikahan.


Harusnya mereka menuliskan kisah Rama dan Sinta.


Bukannya tentang perjuangan seseorang dalam menyelamatkan dan membesarkan kerajaannya.


Orang tua Udelia terus menghapus bulir keringat yang keluar di wajah mereka.


Berhadapan di depan orang- orang penting sangatlah membuat gugup.


"Te- terima kasih sudah datang, Pak Gubernur," sambut ayah Udelia yang langsung dibalas dengan pelukan hangat.


Berjumpa saja belum pernah, ini sudah mendapat pelukan hangat.


Sungguh mendebarkan!


Udelia terkekeh geli. Dia tidak malu dengan tindakan ayahnya.


Ayahnya selalu antusias bertemu orang- orang besar.


Ini saja termasuk luar biasa, tidak berbicara panjang lebar tentang hal- hal yang sebenarnya tak penting.


Udelia dan Djahan baru dapat turun dari singgasana setelah langit mulai menghitam.


"Tunggu, Lia! Ayo kita berfoto dulu," ajak teman sekantor Udelia.


"Emm.."


Udelia menatap suaminya. Djahan mengangguk. Dengan enggan dia melepaskan pegangan tangannya pada sang istri.


Berusaha tidak mengekang burung indah dalam sangkar emas.


Walau demi apa pun, Djahan ingin melihat dan dilihat Udelia seorang diri.


Seonggok hati yang cemas itu berjalan masuk ke dalam kamar pengantin.


Membiarkan daranya tidak lara oleh kekangannya.


"Semoga pernikahanmu dipenuhi cinta," ucap Doni mencoba melepas segala rasa di dada.


Hati Doni gamang. Akankah dia dapat melupakan wanita yang sedang bercokol dalam hatinya?


"Semangat ya buat malam ini!" goda teman wanita Udelia.


"Ga sekarang dong. Capek abis resepsi tuh," sahut yang lain.


Wajah Udelia memerah. Dia tidak sepolos itu untuk memahami apa yang mereka bicarakan.


Bahkan dia pernah melakukannya!


Kantuk yang Udelia kira akan menerpanya, sebagaimana kata orang akan berletih usai resepsi. Dia malah sangat segar.


Malu- malu Udelia memasuki kamar yang ditempati Djahan, setelah tadi dia tertinggal karena teman- temannya mengajak foto.


Djahan sudah tidak mengenakan atasannya, walau jarik panjang menjuntainya masih terpasang.


Segala aksen emas pada tubuhnya, tidak berkurang.


Dia hanya tidak dapat menggunakan pakaian atas. Gatal rasanya.


"Mas.."


Udelia melirik gelas dengan sisa cairan merah di dalamnya.


Minuman yang sama dengan yang dia minum sebelum dan sesudah dirias.


Minuman penambah stamina.


Darah ular dan berbagai rempah.


Patung indah yang bersila di atas ranjang, mulai membuka matanya dengan gerak perlahan.


Terlampau lama hingga Udelia sudah menyergapnya.

__ADS_1


Menjatuhkan raga itu ke atas ranjang.


Dia ingin melaksanakan yang sedari tadi ingin dia lakukan.


Menggigit rahang Djahan dengan gemas!


Djahan memekik tanpa suara. Perilaku Udelia membangunkan dirinya yang lain. Si kecil.


Mata mereka bertemu. Bibir mereka hampir berjumpa, kala teriakan lantang yang familiar, terdengar dari pintu masuk.


"KYAAA YA AMPUN, NAK! SABAR!!" Ibu Udelia memekik kencang.


Menjadi raja dan ratu sudah selesai, tapi acara belum usai!


Masih ada sederet upacara yang harus dilakukan!


Udelia duduk dengan kaku di ujung ranjang.


Malu karena pasti dirinya terlihat agresif, dari posisinya yang berada di atas Djahan dan sedang menjamah pria itu.


Sementara Djahan biasa saja. Tidak ada yang perlu dia lakukan ketika ditemukan sedang bermesraan dengan sang istri.


Kecuali bila istrinya sedang tidak mengenakan apa pun.


Djahan akan mengamuk.


Upacara lanjutan dimulai dalam kamar itu.


Udelia harus menyuapkan makanan ke mulut Djahan.


Sangat sederhana.


Sayangnya konsep yang diminta pihak Djahan haruslah tradisional.


Udelia menyuapi Djahan dengan tangannya. Pria itu tak melepaskan diri menggoda sang istri dengan menjilati jari jemarinya.


Udelia menahan napas.


Djahan sungguh tak kenal tempat!


Ada banyak wanita di kamar mereka!


Meski wanita, Udelia malu untuk menunjukkan kemesraan.


Kemesraan hanya untuk pribadi!


Jadi orang tidak akan membuat cela dengan mengomentari kurang ini dan itu.


"Sekarang, letakkan mulut kalian di ujung- ujung pisang ini dan habiskan sampai berjumpa satu sama lain. Jangan sampai jatuh."


Udelia melotot pada pemandu acara.


Bagaimana bisa hal mesum begitu dikatakan upacara!?


Djahan telah memulai, Udelia tidak dapat membantah.


Mili demi mili Djahan menghabiskan bagiannya dengan lahap. Sedang Udelia merasa malu- malu. Dia amat sedikit menghabiskan bagiannya.


"Sekarang bersihkan pisang di bibir pasangan kalian!"


Udelia hanya bisa pasrah ketika Djahan lurus- lurus saja menuruti suara yang menggema di ruang ramai, namun sepi ini.


"Pisang adalah simbol harapan dan damba martabat manusia sebagai raja yang mahambeg adil paramarta berbudi bawa leksana. Itulah martabat manusia yang berwatak adil, berbudi luhur dan setia pada janji."


Mereka semua terlampau fokus dengan ucapan sang dalang. Melupakan wayang yang sudah melewati batas arahan sang dalang.


Djahan melahap bibir Udelia dengan ganasnya.


Membuatnya membengkak.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉

__ADS_1


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]


__ADS_2