![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
040 - SENDIKO DAWUH
"Jangan berkata yang aneh- aneh. Aku tidak akan menduakanmu."
Itu janji Udelia tiga bulan yang lalu. Sekarang ia hanya bisa menelan seluruh janji manisnya.
Udelia menatap nanar pasir di pantai.
Pagi hari ini dia mengadakan pertemuan dengan mantan bosnya. Merembukkan proyek yang belum kelar ditangani Udelia.
Djahan yang asalnya melarang pun, membiarkan dia bekerja karena Udelia menyinggung tentang tanggung jawabnya yang belum usai.
Bertemu di pinggir laut, wilayah kantor baru.
Mendiskusikan banyak hal yang ternyata memang sisanya hanya dia yang bisa.
Udelia biasa melakukan pemeriksaan berulang untuk mendapat hasil yang memuaskan. Yang mana dia dapat mengubah koding tanpa merusak atas dan bawahnya.
"Saya akan bayar penuh gaji kamu selama tiga bulan untuk pemeriksaan ini."
Udelia berbinar. Kendati pun telah mendapat banyak uang dari suaminya, ada rasa berbeda ketika memiliki uang dari hasil keringat sendiri.
Pada saat makan siang, matahari mendadak padam. Sekitar menjadi gelap gulita.
Udelia merasakannya. Kehadiran sosok yang mendekatinya.
Dia mencoba berlari.
Sayangnya tubuhnya tidak mau berkompromi.
Dia ditangkap segerombolan orang dengan pakaian kuno.
Membawanya masuk ke dalam air.
Udelia terus menahan napas. Dia hampir mati kehabisan udara.
Pintu kamarnya serupa dengan pintu raksasa, terbuka lebar menampakkan sosok yang mengaku sebagai suaminya yang lain.
Pria itu mengusap lembut pipi menggelembung Udelia.
"Bernapaslah!" seru sang pria yang sampai sekarang Udelia tidak tahu siapa namanya.
Patuh Udelia bernapas. Lalu pria itu pergi tanpa melakukan apa pun.
Tak berselang lama, gerombolan wanita yang punya sirip di lengan mereka, berjejer masuk mengitarinya.
"Hei!! Apa yang kalian lakukan!!!"
Udelia tidak dapat melawan ketika mereka mene lanjang inya.
Mendandani dia seperti seorang ratu.
Maha busana yang mirip dengan miliknya di pesta pernikahan.
Mulut Udelia tidak mampu bersuara, ketika dia melangkah pergi dari dalam kamar.
Naik ke atas altar yang telah dihias sedemikian rupa menjadi sebuah pelaminan.
Di sekelilingnya terdapat makhluk serupa manusia dengan tambahan anggota tubuh pada tubuh- tubuh mereka.
Mereka adalah manusia setengah ikan dan biota laut lainnya.
Menyaksikan pernikahan dia dengan si buaya raksasa.
Waktu terasa berlalu cepat, Udelia merasa hari sudah malam dan dia duduk di kamar yang kental nuansa kunonya.
Pria itu mendekat dengan segudang misterinya.
Didampingi banyak sosok yang terasa kuatnya.
"Kalian keluarlah!"
__ADS_1
Suara berat nan seksi terdengar oleh rungu Udelia.
Udelia menatapnya setelah seharian hanya dapat menatap lurus ke depan.
Wajah yang amat rupawan.
Udelia sampai menahan napas ketika pria itu mendekatkan wajahnya dan menempelkan hidung mereka.
"Tidak perlu marah begitu. Aku tidak akan memaksamu, istriku. Lalu kita harus memberikan salam pada suami pertamamu dahulu."
Wajah merah Udelia, Candra artikan sebagai bentuk kemarahan oleh karena dia telah memaksakan pernikahan.
Candra bahkan menjaga jarak dalam duduknya.
Dia tidak mau gegabah lagi.
Sudah sejauh ini dia meyakinkan bawahan- bawahan barunya.
Beralasan hanya dengan aura Udelia, dia dapat bertahan hidup.
Jika tidak, dia akan dipaksa menikahi anak tetua siluman ular di pantai selatan.
Tak ada waktu meminta restu.
Udelia tersentak.
Bagaimana bisa seharian ini dia tidak memikirkan suaminya?
Candra amat panik. Setelah sihirnya hilang, Udelia masih saja tidak bersuara padanya.
Dia melihat kemarahan yang besar pada diri Udelia.
Tanpa menghabiskan malam pengantin mereka, Candra mengirim Udelia kembali ke pantai.
Memberikan waktu pada wanitanya untuk menerima pernikahan mereka.
Rombongan rekan kerja Udelia mengerubungi wanita itu kala mereka berhasil menemukan rekan mereka yang hilang.
Bisa dia bayangkan kehancuran di depan mata, andai suami pekerjanya tahu istrinya hilang di bibir pantai.
Maka dari itu, sengaja dia menyuruh karyawan- karyawannya untuk menyisir seluruh pantai.
Dengan lancangnya pun dia mengirim pesan pada Tuan Besar, yang mulai terkenal selama setahun belakangan.
Yang kemunculannya mampu menggemparkan seluruh lapisan masyarakat.
Perilaku bos Udelia seolah memuluskan langkah Candra.
Dia tiada mendapat gangguan.
"Dokter, bagaimana keadaan Nona Lia?" tanya bos pada dokter yang dipanggilnya.
"Tidak ada masalah. Hanya keletihan," jawab sang dokter melirik tubuh yang rileks dalam tidurnya.
Dokter itu berlalu setelah memberikan vitamin dan keterangan kesehatan milik pasiennya.
Bos Udelia mulai dilanda kecemasan. Pada pesan yang dikirimnya tercetus balasan izin melembur hanya sampai dengan jam delapan malam.
Tujuh menit lagi waktu yang ditentukan datang. Sedang sang empunya sedang tertidur.
Bos meninggalkan Udelia di ruang kesehatan. Dia hanya berharap Tuan Besar tidak bertanya- tanya dan membawa kehancuran pada usahanya.
Seperti dugaannya, Tuan Besar datang dengan hebohnya. Membawa banyak pengawal dan pelayan.
Wajahnya mengerut tak senang, kala dia menghalangi jalan Sang Tuan.
"Maaf, Tuan Besar. Nona Lia sedang tertidur. Kami baru saja selesai makan- makan."
Pria yang diajaknya bicara tidak menyahuti ucapannya.
Berlalu begitu cepat menuju ruang kesehatan.
__ADS_1
Djahan menyuruh pelayannya yang ahli dalam bidang medis untuk memeriksa.
"Nyonya hanya ketiduran, Tuan."
Djahan mengangguk singkat. Menyuruh dia keluar dari ruangan.
Menggenggam jemari istrinya. Entah mengapa ada rasa gelisah di dalam relung hatinya.
Apa ada yang terjadi pada Udelia?
Namun bawahannya berkata Udelia baik- baik saja.
Di tempat lain, Hayan menghapus peluhnya.
Rumah mertuanya, tepatnya orang tua Udelia, baru saja selesai direnovasi.
Hayan bantu merapikan semua perabot, hanya dalam waktu empat jam.
"Apa kamu bisa mengajariku, Yayan?"
Lamont berbinar takjub. Dia sekarang sangat percaya dengan seluruh cerita di luar nalar yang menimpa kakaknya.
"Bicara yang sopan, Lamon!" tegas ibunya sambil berbisik.
Walau tanpa mahkota, pria muda di depannya adalah reinkarnasi raja besar di masa lampau!
"Hehe. Maaf, Bu. Sudah kebiasaan," balas Lamont berbisik pada Sang Bunda yang menarik dirinya untuk mendekat.
"Hapus kebiasaanmu. Seorang raja punya kebanggaan yang besar. Mereka akan tersinggung bila kita tidak menghormati."
Lamont mengangguk singkat. Sang ibu lantas melepaskannya.
Hayan mendengarnya. Seharusnya dia tersinggung seperti ucapan ibu Udelia, tapi dia tidak merasa demikian pada keluarga istrinya.
"Santai saja, Bu. Kamu, Lamont. Bisa memanggilku kakak ipar."
Lamont mengerjap mendengar perkataan Hayan. Walau sudah percaya, tapi untuk bersanding dengan kakaknya, Hayan terlampau muda.
Lamont tidak mau kakaknya dicap demikian. Lebih- lebih kakaknya sudah menikah!
"Kalau ibu dan juga ayah memberikan restu, aku ingin menikahi Udelia."
"Tapi Udelia sudah punya suami, Nak," cetus ibu Udelia cepat. Dia tidak mau memberikan harapan.
"Tidak ada larangan bagi seseorang memiliki lebih dari satu pasangan. Termasuk seorang istri yang punya banyak suami."
Hayan akan mencoba mengalah. Demi kekasihnya yang cinta pada keluarga. Dia tidak akan membawa Udelia pergi menjauh.
Ada banyak hal sudah dipikirkannya, bila dia turut membawa keluarga Udelia pergi menjauh dari tempat ini.
Itu adalah hal yang tidak memungkinkan.
Sekolah, pekerjaan, dan hal- hal semisalnya adalah kebiasaan normal yang dilakukan keluarga ini.
Jika dia memaksa keluarga istrinya untuk pergi menyendiri di hutan yang tak berpenghuni, entah berapa lama akan bertahan.
Dia tidak mau mereka hidup berada di bawah tekanannya.
Karena tidak ada jawaban, Hayan berniat masuk ke kamarnya yang berada di pojok lantai atas.
Sebelum itu, dia melirik pada Lamont yang terdiam tanpa kata usai dia menyampaikan keinginan tertahannya untuk menikahi kakak pria muda itu.
"Kalau mau belajar sihir dan tapaan, mulai dulu dengan puasa mutih. Selanjutnya datanglah ke kamarku."
Dalam waktu ini, keluarga Udelia dapat melihat kewibawaan Hayan.
Mereka terpana. Tidak dapat membantah ucapannya dan hanya dapat tertunduk, sendiko dawuh.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]