TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
CARI TAHU DALAM LUBUK HATIMU 1


__ADS_3

Candra membuka matanya. Udelia tidak ada di atas ranjang. Dia dekati ranjang memastikan Raka masih terlelap, lalu melangkahkan kaki keluar dari kamar mencari-cari keberadaan istrinya.


"Istriku..? Kakak?" panggil Candra menengok ke kanan dan ke kiri. Sedikit waswas takut sang istri kembali ke dunianya.


"Oh kamu sudah bangun? Makanlah sarapan di sana," ucap sesosok wanita yang sedang berjongkok di depan sumur.


Candra mengerutkan keningnya."Siapa kamu?"


Wanita itu meletakkan pakaian yang sudah dicuci bersih di cepon. Kemudian dia bangkit dan berkacak pinggang di depan Candra.


"Eh? siapa kamu??" Wanita itu tampak terkejut.


"Pergilah dari sini jika ingin selamat," ancam Candra.


"Aku yang harusnya berkata seperti itu. Eh–"


Kaki wanita itu tersangkut di rumput dan terhuyung ke depan. Refleks Candra menangkapnya, sebab tidak dapat menghindar.


"Adinda! Kamu di sini juga?" teriak Ekata mengagetkan Candra dan si wanita.


Hampir saja Candra melepaskan wanita itu, namun lebih cepat gerakan si wanita yang mukanya semerah bara api.


"Emm. Terima kasih..."


Suara lantang dan garang si wanita, mendadak melembut dan mendayu-dayu. Candra kelabakan karena kakaknya yang sangat lurus melihat dia sedang memegang wanita.


Pasti kakaknya akan ceramah panjang lebar.


"Oh. Aku mengganggu." Ekata tersenyum simpul.


Candra menjauhkan tubuhnya. Dia menatap kakak sulungnya yang paling sulit ditemui oleh semjua orang. Lebih sulit daripada berjumpa Maharaja Bhumi Maja.


"Ada apa kakanda kemari?" tanya Candra seraya melepas selendang di tubuhnya. Dia melempar selendang itu ke atas tanah.


"Aku bertemu nona. Di mana Yang Mulia?"


Pertanyaan Ekata menyentak Candra. Dia gelagapan mengintai sekitar.


"Yang Mulia? Yang Mulia ada di sini?" cecar Candra.


"Bukankah itu pasti? Nona ada di sini bersama putra mereka." Ekata berkata dengan yakin.


Candra menghela napas lega sekaligus mendengus. Ekata sang kakak masih saja menyangkut pautkan istrinya pada Maharaja, padahal raga istrinya bukan raga Maharani.


"Kakanda, Udelia itu istriku, bukan istri beliau."


"Ya? Bagaimana mungkin? Putra itu milik Yang Mulia," sanggah Ekata.


Ekata menelisik mata adiknya. Dia mengatupkan mulutnya saat sampai pada satu asumsi.


"Kamu menggunakan sihir," tuduh Ekata.


Raut wajah Candra kaku. Kakaknya sangat cerdas. Dia memejamkan mata menenangkan dirinya.

__ADS_1


Ingatannya melayang pada kejadian bertahun-tahun lalu..


Saat Udelia selamat dari kematian, perempuan itu memandang bingung. Otak cerdas Candra langsung tertuju pada satu kesimpulan. Udelia lupa ingatan.


Kakeknya pun membenarkan pemikirannya.


"Ya. Wanitamu lupa ingatan."


"A-apa karena siksaan, mbah?" Candra takut sekali siksaannya berdampak sedemikian mengerikan pada kakak tersayangnya.


"Kamu ini penerus Ekadanta, masa tidak tahu?" omel Boco.


Candra yang gusar dengan keadaan Udelia lupa ingatan pun diam mendengarkan omelan Boco. Otaknya sama sekali tidak dapat memikirkan alasan Udelia lupa ingatan.


"Dia lupa ingatan karena ada orang memanggilnya, memaksanya berteleportasi. Mirip seperti dukun yang hendak memanggil jin. Orang ini gagal memanggil wanitamu. Terjadi kecacatan pada rapalannya. Dan ingatan wanitamu rusak."


"Mbah bisa menyembuhkannya?"


"Kalo tentang tak kasat mata begini, mbah yakin."


Benar saja. Ingatan Udelia perlahan hadir, namun terkesan lambat. Karena wanita itu tidak bisa diam, sibuk membantu pekerjaan rumah dan memasak. Bolak-balik menyiapkan keperluan Candra dan kakeknya tanpa disuruh.


Akibatnya energi dalam tubuhnya terbagi-bagi antara kesembuhan pikirannya dan kesembuhan luka pada tubuhnya.


Malam hari adalah sesi minum teh sambil bercerita. Kakeknya sering pergi untuk mencari tumbuhan malam.


Candra leluasa bercerita tanpa takut ketahuan bohongnya, kalau Udelia bukanlah wanitanya, apalagi kekasihnya.


"Cand, kenapa aku terus terngiang-ngiang sama yang namanya Djahan? Kenapa aku merasa harus menemukan Djahan? Apa kamu kenal Djahan? Di mana rumah tinggal Djahan? Ada hubungan apa aku dengan Djahan? Mengapa aku ingin sekali bertemu Djahan?"


"Kak, mau tahu tentang Djahan?"


"Ya!" jawab cepat Udeia.


Candra tersenyum kecut.


"Kemarilah."


Tanpa ragu Udelia mendekat pada Candra.


Melalui ujung matanya, Candra melihat senyum semringah Udelia. Dia tidak suka senyuman yang bukan untuknya.


Alih-alih membangkitkan ingatan Udelia, Candra menempatkan ingatan itu pada satu titik di dalam otak Udelia.


Dia mengulur waktu kesembuhan Udelia. Dia tidak mau Udelia kembali pergi. Dia tidak bisa membayangkan hari-harinya tanpa Udelia.


"Dia akan pergi," lirih Candra. Mencari pembenaran.


"Nona akan benar-benar pergi jika tahu kenyataannya."


Ekata menghela napas panjang. Sudah menjadikan adik seperguruannya sebagai istri, Candra justru memeluk gadis lain.


"Pergilah. Nona sangat kaku dalam aturan."

__ADS_1


Candra memijat keningnya. Matanya menjurus melihat kain yang tergeletak di tanah. Kain yang telah menyentuh wanita lain.


Kakaknya datang bersama istrinya. Tidak mungkin istrinya tidak melihat yang telah terjadi.


Candra berdiri ragu di depan pintu kamar. Telinganya yang tajam mendengar rintihan tertahan dan gemetar. Candra mengepalkan tangan. Dia mengumpulkan keberanian untuk membuka pintu.


Dosanya pada sang istri, amat banyak. Kesalahan kecil seperti tadi, sudah membuatnya merasa telah melakukan dosa besar dan tak termaafkan.


"Istriku, jangan duduk di lantai," kritik Candra ketika mendapati istrinya dalam posisi tidak pantas.


Udelia duduk di tanah, menopang kepalanya di sisi kasur, sambil mengusap rambut Raka yang tak banyak.


"Kalau ingin mengambil selir katakanlah. Jangan bermain dengan hina di belakang," gumam Udelia.


"Kamu yang sudah bermain dengan Yang Mulia dan tak ada hati meninggalkan Rama yang tak bersalah. Kini menuduhku?"


Ego dalam dirinya terusik. Candra yang memang sudah merasa memiliki banyak dosa, terusik hatinya. Kata-katanya keluar tanpa disaring terlebih dahulu.


Udelia tersenyum miris. Suaminya yang lembut berubah menjadi kasar. Tak lain dan tak bukan hanya karena wanita lain.


"Nda napa nangis?"


Rama yang berada di pelukan Udelia mengusap air mata di wajah ibundanya. Candra terlonjak kaget melihat keberadaan putranya.


Kakeknya benar. Tidak mungkin istrinya setega itu.


"Tidak apa, sayang." Udelia tersenyum lembut.


Candra mengusap wajahnya. Dia berjongkok mensejajarkan dirinya dengan sang istri. Dia mengulurkan tangan.


Udelia terpejam. Kepalanya melengos, menghindari uluran tangan Candra. Keringat jagung muncul di keningnya, saat tangan besar Candra menempel di wajahnya.


Candra menangkup wajah Udelia. Mengarahkan kepala itu agar menatapnya.


"Maafkan aku."


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


TERIMA KASIH SUDAH SETIA MEMBACA HINGGA BAB INI


F B : leelunaaalfa4 (lee lunaa alfa4) || I G : alsetripfa4


... Untuk season 1 ada di profil author.


TIKZ [Berpindah ke Zaman Keemasan]


... Untuk season 2 sampai pada = MEREKA BERTARUNG DENGAN HEBAT


TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]

__ADS_1


... Akan dilanjut menjadi season 3 pada season 2 kali ini


TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]


__ADS_2