TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
DARA SUNGUT 2


__ADS_3

"Di mana Mahapatih?" tanya Udelia mengingat wajah dayang yang disuruhnya, justru sedang menyodorkan baskom padanya.


Tidak mungkin secepat itu bolak balik antara keraton dan kediaman Mada.


"Begitu bangun menanyakan orang lain?" sela Hayan melipir masuk di antara kumpulan para dayang.


"Hayan!" teriak Udelia sambil menutupi raganya. Pria itu sangat mesum! Masuk ke kamar wanita saat wanita sedang bersiap.


"Lanjutkan saja. Hanya ada aku," ucap enteng Hayan memberikan titah dengan menatap satu persatu dayang-dayang di kamar Udelia, tempat raga Udelia berada.


"Kamu keluarlah. Aku malu melakukannya." Udelia tidak mungkin berganti baju di depan Hayan.


"Tapi tidak malu membicarakan Mahapatih saat melakukannya?" Hayan menuangkan botol ke mulut tubuh Udelia.


"Itu kan cuma tanya," kilah Udelia. Dia mengalihkan pandangannya saat Hayan memberikan pengobatan pada tubuhnya, tubuh Udelia.


Hayan mengendik. Tentu saja memalukan membicarakan seorang pria saat wanita sedang berganti pakaian. Jika yang dipikirkan tiba-tiba muncul, apa Udelia tidak akan malu?


Hayan menatap bilik kayu tempat raga Idaline sedang berganti pakaian. Wanita itu benar-benar malu di hadapannya. Tapi membiarkan Mahapatih menjejaki seluruh tubuhnya.


Mata Hayan bergerak menatap raga Udelia. Masih terbayang bercak-bercak merah dari Mahapatih di tubuh itu.


"Jadi?" seru Udelia dari balik bilik. Dia penasaran kenapa Djahan tak langsung menemuinya begitu sadar. Ada jeda waktu untuknya berobat pada Ekata. Djahan tak mungkin tidak tahu tentang kesadarannya.


"Mahapatih hilang," ujar Hayan dengan nada lemah.


"Apa?!!"


"Petapa Agung Ekata sudah mencari jejak Mahapatih selama tiga bulan ini dan tidak ada hasil. Tidak ada jejak lintas pulau. Mahapatih seperti hilang ditelan bumi ... Waktu itu terjadi guruh besar."


"Oh..."


Udelia tidak percaya dengan pendengarannya. Jadi, prasasti itu tetap saja terjadi. Padahal dia sudah mengirim dara sungut terbaik agar Djahan dapat cepat membaca pesannya dan kembali pulang.


Rupanya Djahan tetap menumpas pemberontak. Lalu hilang tanpa jejak.


Tangan gemetarnya menjatuhkan baskom di tangannya, Udelia bergegas membersihkan pecahan keramik dan asi yang tumpah.


"Kamu bisa terluka..." ucap Hayan. Dia bergegas datang ke bilik saat mendengar suara pecahan.


Hayan menarik tangan Udelia, membersihkan tangan mulus itu dari tanah yang kotor. Hayan tertegun melihat air mata berderai jatuh ke tanah.


"Tidak bisakah kamu pengertian sedikit saja!?"


Udelia enggan menampakkan tangisnya di hadapan orang lain. Udelia ingin menangis kencang.

__ADS_1


Hayan menggendong Udelia, lalu mendudukkannya di pojok ruangan. Ia usap mata Udelia, tidak lagi berkata-kata.


Udelia memeluk Hayan. Tangisnya terdengar menyayat hati. Ada raungan tiap kali merasa tak berguna akibat gagal menahan Djahan.


Udelia mengusap wajahnya di pakaian Hayan. Punggungnya yang gemetar menjadi rileks ketika Hayan mengusapnya dan membisikkan kata-kata yang penuh dengan semangat lagi menenangkan.


"Tenanglah, sayang. Mahapatih bukan orang lemah. Dia hanya hendak menyelesaikan masalahnya. Dia pasti kembali. Dia pasti ... me. nemui mu.."


Hayan memejamkan mata. Sungguh sakit menenangkan kekasih hati yang sedang bersedih karena ditinggal cintanya. Tapi tak mungkin juga Hayan melarangnya menangis. Udelia akan menjauhinya.


Udelia menegakkan tubuhnya, menghapus sisa-sisa air mata.


Hayan menahan tangan Udelia. Menggantikan tangan Udelia mengusap air mata yang terus keluar. Hayan mengeringkan wajah Udelia dengan kain bersih dari cincinnya.


Segala peluh di wajah Udelia, dia hilangkan. Tak ingin Udelia merasa risih dengan lengketnya wajah.


"Aku pergi," pamit Hayan. Dia sadar, Udelia butuh waktu sendiri.


Udelia berjalan kosong ke arah meja yang tersiram cahaya matahari. Ia duduk menghadap kertas kosong yang terbuka di meja. Jari-jarinya merangkai kata, menumpahkan sesak di hati.


Aku datang ke tempatmu, kenapa kamu pergi?


Kertas demi kertas banjir dengan air mata pengharapan. Berharap kejadian buruk dalam benaknya, tak terjadi.


Udelia berjalan dengan tergesa. Wajah sembabnya mengundang tanya bagi setiap yang melihat.


Maharani yang tak pernah berinteraksi dengan orang luar, mendadak memunculkan diri dengan kondisi mengenaskan.


Sebagiannya merasa sedih melihat wajah sendu Udelia. Sebagiannya lagi mencibir, bagaimana bisa Ibu Bhumi Maja begitu lemah oleh air mata dan tidak malu menunjukkan air mata ke depan publik?


Mereka memperhatikan Udelia hingga tubuh Udelia hilang di balik persimpangan. Tiada yang tahu ke mana tujuannya.


Udelia membuka sebuah pintu batu. Kala pintu terbuka, yang pertama kali terjadi ialah udara sejuk menerpa tubuhnya.


Di dalam ruangan itu terdapat banyak dara sungut yang tak terhitung jumlahnya. Udelia mengangkat tangannya. Memberikan perintah pada burung terbaik untuk hinggap di lengannya.


Seekor dara berwarna merah terang, paling terang di antara kawanannya, bertengger di lengan Udelia.


Udelia mengikatkan kertas yang berisi tumpahan perasaannya ke kaki dara sungut terbaik.


Dara sungut yang tidak akan tersesat. Dara sungut yang tidak akan berhenti mengepakkan sayap hingga pesan di kakinya sampai pada tangan orang yang dituju.


Udelia keluar dengan hati sedikit tenang. Dara sungut terbaik tidak dipakai. Lega hatinya karena suratnya pasti akan sampai.


Dan lega hatinya mengetahui kenyataan Bhumi Maja tidak pernah berada di titik terendah yang kemudian terdesak dan menggunakan burung dara sungut terbaik.

__ADS_1


Justru dia yang menggunakan dara sungut itu untuk keperluan pribadinya.


Entah bagaimana ekspresi para petinggi Bhumi Maja jika mendapati kenyataan burung dara sungut terbaik telah dia gunakan secara pribadi.


Langkah kaki Udelia terhenti di depan sebuah bangunan yang dipenuhi berbagai bunga. Suara-suara perempuan saling bersahutan. Di antara suara-suara itu ada suara bayi. Suara bayi yang sangat dia kenali.


Udelia bergegas membuka pintu ruangan yang amat mewah itu. Takut ada seseorang yang berani menjebak bayi kecilnya.


Wajah Udelia merah padam kala bayinya menangis keras di gendongan seorang perempuan.


Tidak adakah yang tahu bayi-bayinya tidak suka didekati orang asing!?


Udelia merasa marah!!


Dia mengangkat tangannya. Menampar orang yang berani menggendong bayinya. Seluruh orang di ruangan itu terperangah.


Udelia mengabaikan mereka. Fokusnya hanya pada perempuan yang telah lancang menggendong bayinya. Udelia merebut bayi yang terus menangis.


"Kenapa kamu mencuri bayiku?"


Nada datar Udelia terdengar sangat dingin.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


TERIMA KASIH SUDAH SETIA MEMBACA HINGGA BAB INI


SEHAT SELALU SEMUANYA


CIUM JAUH DARI WANITA PEMILIK HATI YANG BIMBANG


UNTUK INFORMASI DAN LAINNYA HUBUNGI AUTHOR DI ...


F B : leelunaaalfa4 (lee lunaa alfa4)


I G : alsetripfa4

__ADS_1


__ADS_2