TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 033


__ADS_3

TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]


033 - MENAIKINYA


"Sayangku, apa yang terjadi?"


"Hanya orang melamun. Mas harusnya istirahat saja," tutur Udelia lembut.


Djahan saat melakukan fitting baju, wajahnya muram dan pucat pasi.


Udelia takut pria itu kenapa- kenapa. Berencana membeli air kelapa di pinggir jalan, malah berjumpa orang yang hendak bunuh diri.


Tak habis pikir baginya, kenapa pemuda sesehat itu hendak bunuh diri.


Sedangkan calon suaminya yang berjuang melawan sakit, malah hidup dengan penuh semangat.


Djahan melirik sepintas. Tidak lagi dia temukan dua orang yang tadi sempat berbincang dengan calon istrinya.


Terdengar bunyi klakson dari truk yang melintas. Udelia melambaikan tangan padanya.


"Ayo, mas. Kita sekalian saja minum air kelapa di sana. Kamu ga apa kan jajan di warung pinggir jalan?"


"Apa sih yang tidak buatmu, sayang?"


"Jangan gombal terus. Ga cocok buatmu, Mahapatih."


Djahan malah terkekeh dengan omelan Udelia.


Mereka minum air kelapa sebelum beranjak pulang.


Sesekali wajah Djahan berubah serius, memikirkan siapa yang baru saja ditolong istri yang juga calon istrinya.


Sosok itu membawa rasa familiar dalam hati Djahan.


Sayangnya dia hanya mampu menerka- nerka. Tak lagi mampu menyebar kekuatannya untuk mendulang informasi dari sekitar.


"Maaf sayang tidak bisa mampir," sesal Djahan. Dia harus melakukan pemeriksaan menyeluruh sekali lagi.


Tidak ingin nantinya dia tidak tampil maksimal.


"Ga apa. Kamu hati- hati di jalan .... sayang."


Udelia memalingkan wajahnya yang memerah. Dia harus terbiasa melakukan hal romantis bersama calon suaminya.


Djahan tidak terlalu menanggapi. Dia terus memikirkan sosok yang tadi bersama Udelia.


Udelia tersenyum miris. Ternyata Djahan tidak seantusias itu. Dia kira orang yang sering berlaku konyol itu akan melemparkan candaan dan menggodanya.


Djahan hanya bergeming dan hilang dari halaman rumah Udelia beserta mobil yang membawanya.


"Kenapa?" gumam Udelia lirih.


Ketika masuk ke dalam rumah. Kepala yang banyak menerka itu, seketika kosong. Tergantikan oleh rasa heran karena pintu rumahnya tidak terkunci.


Apa dia tidak menguncinya?


Tapi ada penghuni rumah lain yang tinggal ketika dia pergi.


Atau adik bungsunya lagi- lagi lupa mengunci pintu?


Pelan kakinya melangkah. Mencium aroma harum dari dapur.


Ibunya?


Adik- adiknya tidak akan seharum ini, walau mereka juga bisa memasak.

__ADS_1


Merasa aman dengan situasi yang ada, Udelia pergi menuju kamar. Mengambil baju ganti untuk mandi.


Semenjak sering muncul Djahan di rumahnya, berbulan- bulan ini Udelia sudah terbiasa berganti baju di kamar mandi.


Keluar dengan tubuh yang segar, aroma menggoda semakin mencuat di hidungnya.


Udelia terhenti kala sebuah tubuh polos dengan kain jarik yang khas dan perhiasan emas, berdiri membelakanginya.


Hati Djahan sungguh terasa tak tenang. Ada sekelumit rasa khawatir yang tak dapat dijelaskan.


"Tuan, tenangkan diri Anda. Sebentar lagi Anda akan melakukan pemeriksaan menyeluruh. Saya tahu tadi Nyonya cantik sekali, tapi tak usah tegang begitu. Anda harus menyelesaikan pemeriksaan ini."


Djahan melirik sekilas Lili, anak buahnya yang paling pertama menyodorkan kekuasaan berupa harta dan kenalan di kalangan bangsawan perempuan.


Butik terkenalnya dapat menyebar rumor dengan cepat dan dipercaya.


Lalu, mudah bagi Djahan untuk menggaet bukan hanya orang- orang yang fanatik padanya.


Tapi juga mereka yang mengagumi ala kadarnya.


Setelah menunjukkan bukti- bukti dirinya melalui pemikiran panjang dan kemampuannya dalam menangani berbagai masalah, mereka meletakkan kepercayaan di bawah kakinya.


Menyerahkan segala kepemilikan mereka.


"Sudah pastikan semua upacara pernikahan siap sedia?"


"Iya, Tuan. Satu bulan bukan waktu yang cepat. Kami akan menyelesaikan semuanya, kurang dari dua pekan dan menyempurnakannya dua pekan tersisa."


Djahan harusnya merasa tenang. Dia hanya perlu mempersiapkan dirinya untuk tetap sehat.


Akan tetapi, terus saja hatinya terganjal.


Ada apa gerangan?


Memasuki ruangan yang serba dingin, Djahan tidak merasakannya.


Dia berbaring, lantas para dokter khusus yang didatangkan dari seluruh penjuru negeri.


Yang mulutnya dapat ditutup.


Mereka memeriksa Djahan dengan teliti.


Mengambil sample darah. Memeriksa segala kondisi tubuhnya.


Sesekali wajah dokter mengernyit. Banyak ambigu dalam darahnya.


Kandungan di dalam darah, sangat berbeda dengan kandungan darah orang modern.


Apa karena tata kehidupannya?


Atau karena masih banyak kekuatan sakral yang digunakan pada masa itu?


Akankah orang modern dapat menggunakannya?


Para dokter yang didominasi kaum muda itu semakin tertarik dengan darah mahapatih yang mereka teliti.


"Kalau kita minum darah Tuan, apa kita akan menjadi kuat?" canda salah satu dokter yang paling muda.


"Ngaco kamu."


"Haha."


Mereka kembali fokus bekerja kala Lili melotot pada mereka.


Walau hanya tukang jahit, entah kenapa aura senior wanita mereka itu lebih mengerikan dari musuh- musuh yang mereka hadapi.

__ADS_1


Selain menjadi dokter, mereka juga mengambil informasi dari pasien- pasien mereka.


Mencari tahu gerakan musuh yang percaya dengan keberadaan Mahapatih, tapi enggan mengakui.


Katanya, tidak mau negeri ini kembali terbelakang.


Sementara itu di lain sisi, di lantai bawah, ruang UGD. Terbaring lemah seorang pria yang diikat pada ujung- ujung ranjang.


Pak Madri, supir truk yang terpaksa digantikan temannya, memandang sedih pemuda yang hilang akal di depannya.


Tidak bisa berbicara dengan benar dan terus memberontak.


Dokter mendiagnosa pemuda itu sedang terkena depresi.


Mengikatnya agar tidak membuat keributan.


Takut berlari dan menabrakkan diri lagi.


"Pak Madri, saya sarankan keponakannya taruh saja di rumah sakit jiwa. Tidak ada luka pada tubuhnya. Biarkan depresinya disembuhkan oleh bidang terkait."


"Terima kasih, Pak Dokter. Tolong urus surat perpindahannya. Saya mau ambil ATM yang tertinggal. Ini KTP saya."


"Sebenarnya saya sudah percaya dengan bapak. Tapi saya ambil ya pak. Hati- hati di jalan."


Pak Madri sengaja mengatakan pemuda yang dibawanya itu keponakannya, agar tidak ribet dalam menjadi walinya di rumah sakit.


Karena sang pemuda enggan berbicara dan terus berceloteh kalimat- kalimat yang tidak dia mengerti.


Hayan menggeram kesal. Dia diperlakukan seenaknya oleh orang- orang rendahan!


Tubuhnya yang berharga dipaksa untuk diikat pada tiang- tiang ranjang.


Dia menutup mata. Menetralkan amarah yang hanya akan membawa petaka.


Mencoba mencicipi kekuatan di dunia yang baru.


Dunia istrinya.


Kala berusaha pindah dengan apik ke dunia ini, segala kekuatannya habis.


Tidak bisa mendera orang- orang kurang ajar yang mengganti paksa pakaian di tubuhnya.


Perhiasannya bahkan entah hilang ke mana.


Mereka memakaikan atasan yang membuatnya gatal dan ruam di sekujur tubuh bagian atasnya.


Berkeringat dengan deras.


Cuaca di sana sangat panas.


Dalam suasana yang hanya terdengar denting jarum jam, Hayan dapat mengumpulkan energinya dengan cepat.


Seperti dugaannya.


Bahkan dia dapat memanggil Berani, kuda semberani hewan panggilannya.


Menaikinya.


Menghancurkan jendela rumah sakit yang besar.


Membuat sosok yang dirawat bersamanya, lupa pada sakit di dadanya. Memperhatikan keanehan yang berlangsung di kamarnya, dengan raut wajah yang normal.


Tiada rasa sakit.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••

__ADS_1


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]


__ADS_2