![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
Udelia membuka matanya, mendengar seluruh langkah kaki—orang yang membawanya, telah menjauh. Ditatapnya kakinya yang terbelenggu, tidak dapat bergerak sedikit pun.
Tangan Udelia yang terikat di belakang tubuh, terbebas dalam waktu sekejap. Kemudian dia membuka ikatan di kakinya dengan cekatan.
Setelah itu, dia mengambil jepit rambut biting, yang tersembunyi dalam rambut hitam legamnya. Pelan-pelan dan tanpa suara, dia membuka gembok sel yang mengurungnya.
Dia berjalan mengendap-endap ke lorong, meninggalkan puluhan sel yang berjejer rapi. Tahanan lain baru saja terlelap, setelah menyantap makanan berat.
Jadi, tidak akan ada keributan yang muncul akibat rasa iri, karena dirinya berhasil keluar dari penjara, yang dikatakan tidak akan pernah tertembus oleh kekuatan, kanuragan, dan sihir.
Udelia bersandar ke tembok—berusaha menyembunyikan dirinya, ketika mendengar langkah kaki mendekat.
Ketika tidak lagi ada suara langkah kaki, dia meneruskan pelariannya melewati ruang wlaka yaitu ruang siksaan, lalu menuju jalan buntu.
Dia menginjak pelan tanah di depannya dengan beberapa ritme. Lantas lantai yang diinjaknya bergerak ke atas, membuka jalan menuju ke lorong yang panjang.
Udelia meloncat ke dalam lorong yang gelap itu, kemudian tanahnya kembali turun—menutup sempurna.
"Bagaimana bisa tahanan kabur?!" berang Candra—salah satu paman kesayangan Maya.
Putri tercinta dari orang yang dia perhatikan, sudah sedemikian lama ditahan. Sangat tidak mungkin, sekali pun tidak pernah disiksa. Walau Maya sendiri yang berkata demikian.
Kini, sang penculik yang sudah menjadi tahanannya, kabur dalam waktu yang singkat.
Nampaknya, negeri yang besar ini, sudah lama tidak berbenah sehingga penculik dari daerah yang kecil, dapat kabur dengan cepat.
"Mohon maaf, tuan. Kami baru saja pergantian dan tidak terlihat ada tanda orang yang tinggal di sel ini ataupun tahanan menyelinap keluar dari sel ini. Gembok di pintu sel sama sekali tidak rusak," jawab pengawal bersimpuh di belakang Candra, yang sedang memeriksa sel.
Candra memperhatikan seluruh tembok dan besi sel. Memang tidak terlihat tanda kerusakan ataupun jejak kekuatan, namun tidak ada yang patut dimaklumi atas sebuah keteledoran.
"Pergi! Tangkap dia atau kalian tidak akan selamat!" titah Candra pada para penjaga sel.
"Baik, tuan."
Sementara di tempat lain, Udelia menutup matanya yang tertusuk sinar matahari. Lorong gelap yang panjang dan sempit, berakhir di pinggir sungai Cironabaya.
Udelia duduk terengah-engah dan berkali-kali terbatuk, akibat udara yang terasa dingin di kulitnya.
"Seharusnya kamu tidak perlu memaksakan diri dengan menyembuhkannya. Kekuatan dari naga sudah cukup jadi pertolongan pertama." Utih berkata dalam kepala Udelia.
Dia sangat kesal, sebab majikannya yang sudah sekarat, masih saja memberikan kekuatan pada orang lain.
Udelia menyembuhkan Maya dengan sisa-sisa terakhir kekuatannya.
Udelia tersenyum mendengar omelan Utih. "Padahal Utih memiliki anak," balasnya.
__ADS_1
"Aku juga menganggapmu penting. Lihatlah. Sekarang bisa saja tiba-tiba kamu pingsan dan tidak ada yang menolong. Maka kamu akan mati."
Udelia meringis mendengarnya. Hewan peliharaannya ini, mengutuknya dengan terang-terangan.
Kakinya terus berjalan, meski terluka akibat berjalan tanpa alas. Tiba-tiba dia tersenyum senang, ketika indra penglihatannya menangkap sesosok orang yang dikenalnya.
"Kebetulan, ada seseorang yang kukenal," kata Udelia menatap orang yang paling menonjol di antara sekelompok prajurit, yang sedang menempelkan sebuah pengumuman baru.
"Beri tahukan jika ada yang melihat," kata orang itu, meninggalkan warga yang sudah penasaran dengan sayembara emas, yang sangat menggiurkan.
Melewati kerumunan orang yang sedang melihat cungkup, papan pemberitahuan yang dinaungi atap, Udelia mengikuti rombongan prajurit yang pergi menjauh.
Tertatih-tatih Udelia mengejar rombongan itu. Lalu dia berteriak menggunakan kata paling rahasia, yang hanya diketahui Udelia dan orang yang dikenalnya.
"Gotho! Lingerienya sudah dibuat berapa banyak?"
Gotho yang mendengar namanya dipanggil, berhenti dan berbalik. Dia mencari-cari orang yang memanggil namanya, namun kemudian dia terbeliak. "Kamu!" serunya melihat lukisan di tangannya. "Tangkap dia!"
Bahu dan kepala Udelia ditekan tiga orang prajurit, hingga dia bersimpuh di tanah. Udelia merasakan tulang lututnya patah akibat hantaman yang keras.
"Jangan menyalahkanku, kamu bisa lolos dari istana sangat luar biasa. Tidak pernah ada. Sekalipun ketua sihir hitam."
Udelia menjatuhkan tubuhnya kemudian menyelinap dari bagian bawah tubuh prajurit. Dia memusatkan sisa-sisa kekuatannya pada kedua kakinya, lantas bergegas lari dari genggaman ketiganya.
Udelia menyilangkan kedua tangannya di wajah, dia menerobos para prajurit lain yang menodongkan tombak mereka ke arahnya.
Gotho menghentikan langkahnya, saat kehilangan jejak Udelia di hutan bagian terdalam. Dia mengangkat tangannya menyuruh para prajurit untuk berpencar, agar pencarian lebih cepat diselesaikan.
"Udelia, tenanglah." Sosok itu—Balaputra. Dia melepaskan tangannya yang membekap mulut Udelia. "Anda terluka," ucapnya memandang darah di sekujur tubuh Udelia.
"Terima kasih. Lebih baik jangan terlibat."
"Terus menggunakan kekuatan untuk kesadaran dan topangan tubuh, akan membuat fatal. Mari obati luka Anda."
"Anda akan terkena masalah." Udelia memang tidak memiliki tujuan, karena tubuhnya sudah tidak memungkinkan untuk pergi jauh. Namun dia tidak mau melibatkan orang baik ini.
"Saya tidak bisa melihat Anda terluka." Mata Balaputra memancarkan kekhawatiran yang tulus.
Udelia sedikit tertegun melihatnya. "Padahal Anda tidak mengenal saya," ujarnya tak mengerti pemikiran pria kekar di hadapannya.
"Maaf." Balaputra menyampirkan selendangnya ke punggung Udelia. Dia menuntun pelan Udelia, tidak memedulikan peringatan gadis itu.
"Kami membuat kemah tak jauh dari sini ..." Balaputra bersuara dengan lembut.
Udelia yang merasa tak kuat, hanya bisa mengikuti Balaputra. Dia diberi pakaian, tenda, dan obat, lalu ditinggalkan sendiri.
__ADS_1
"Tuan, Anda membeli pakaian itu dengan yakin." Pelayan pribadi Balaputra keheranan. Tuannya sudah membeli pakaian berwarna merah muda itu, sejak dua pekan yang lalu.
"Tentu saja. Jodoh pasti bertemu." Balaputra tersenyum lembut.
Senyum yang belum pernah ditunjukkannya, selain senyuman formal.
"Maafkan kelancangan saya, tapi bagaimana Anda bisa menyukainya? Anda baru berjumpa sekali."
"Benar, bagaimana aku menyukainya? Apa karena matanya yang indah? Karena keberaniannya? Karena kebaikan hatinya? Yang jelas, mendengar tangisannya sangat menyayat hati, pun tak tahan melihat lukanya. Padahal sudah ratusan perempuan kueksekusi, rasanya biasa saja."
"Kalau begitu, Anda harus mengatakannya sebelum beliau hilang lagi," saran pelayan.
"Tidak. Hatinya terlalu lembut, nanti akan kepikiran." Mata Balaputra memandang langit. Pikirannya menembus alam yang luas, mengingat segala yang telah dilewatinya.
"Anda seperti tahu saja~"
Balaputra memperhatikan waktu yang telah pas, lantas pergi menuju tenda Udelia. "Udelia, sudah selesai?"
"Sudah. Silakan masuk," jawab Udelia dari atas tempat tidur.
"Rasanya kurang nyaman ..." Balaputra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tidak mungkin dia masuk ke tenda seorang gadis.
"Sebentar!" Udelia membuka pintu tenda, tampak keringat di tubuhnya bereaksi terhadap salep.
"Ah, maaf tidak memikirkan kondisi Anda."
"Tidak masalah. Saya sudah merepotkan Anda."
"Tidak sama sekali. Ini makanan, silakan dimakan." Balaputra menyerahkan nampan yang berisi makanan, yang semula diperuntukkan untuknya.
Udelia menerima tanpa basa-basi. "Anda sangat baik sampai saya bingung membalasnya."
"Anggap saja balasan sudah menyelamatkan saya," kata Balaputra. "Silakan."
Udelia memasuki tenda saat Balaputra telah pergi menjauh.
Balaputra berhenti, dia mengamati Udelia dari pintu tenda yang terbuka, akibat terkena angin.
Langit sore berganti malam, suara hewan bersahutan terdengar jelas. Balaputra memperhatikan Udelia yang tertidur nyenyak di bawah sinar rembulan.
Wajahnya sangat damai. Seolah dia merupakan makhluk paling bahagia, meski memiliki luka yang besar.
"Anda sangat mempercayai orang lain," gumam Balaputra menyentuh pipi Udelia dengan ujung jarinya.
Dia berjongkok di sisi ranjang, membawa pisau dan kain.
__ADS_1
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]