![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Mohon maaf Selir Cempaka, Yang Mulia Maharani tidak menerima tamu," ucap seorang dayang yang berpakaian indah. Dia merupakan dayang yang ada di sisi Maharani.
Dayang dan pelayan di sisi Maharaja juga Maharani adalah dayang dan pelayan dengan posisi tertinggi. Kesetiaan dan kemampuan mereka telah diuji.
"Padahal Yang Mulia akan diganti!" sentak Cempaka dengan gusar.
Dia yang hendak mengajak sang baginda jalan-jalan setelah dipusingkan dengan pemberontakan Tlogo Rejo, justru melihat hal yang amat buruk. Telinganya pun mendengar panggilan panggilan yang menyayat hati.
Dia yang mengandung anak dari Maharaja, tapi justru wanita lain yang mendapatkan panggilan sayang. Wanita yang membawa anak liar ke keraton hanya untuk mencari perhatian Maharaja.
"Jangan lancang!" bentak Bejo, pengasuh Maharani, yang berdiri di tangga gapura.
"Siapa kamu mendahului Yang Mulia Maharaja? Dan.. dari mana berita ini dimulai? Kamu memakai mata-mata? Itu sangat terlarang." Bejo menyipitkan matanya.
"Tidak perlu tahu dari mana. Intinya kalau tidak cepat, bisa-bisa Yang Mulia terusir. Saya sangat menyayangi Yang Mulia," tutur Cempaka dengan percaya diri.
Posisi Maharani tidak mungkin tergantikan, kecuali Maharaja menjadi gila dan mengangkat Maharani lainnya. Dia akan mendekati Maharani yang sesungguhnya.
"Ha!" Bejo hendak mengeluarkan sumpah serapahnya sebelum seorang dayang datang menghentikannya.
"Nyonya Ibu, Yang Mulia menyuruh selir cempaka masuk," bisik dayang.
Wajah sangar Bejo berubah lunak. Dia mengendurkan otot-otot di wajahnya sebelum menatap Cempaka.
"Selir Cempaka, silakan masuk." Bejo tersenyum formal.
Kemudian mereka berjalan beriringan menuju tempat Maharani menunggu.
"Bicaralah dan bersikaplah yang seharusnya," tekan Bejo agar mulut Cempaka tidak semena-mena.
"Jadi, ada yang akan menggantikanku?" buka Maharani secara langsung.
"Iya.., Yang Mulia," Cempaka memainkan jarinya gugup. Berhadapan dengan Maharani membuatnya gugup.
"Siapa? Sri Sudewi?"
"Bukan, Yang Mulia. Kalau beliau tidak akan banyak yang protes ..." ucap Cempaka polos.
"Lancang!" sentak Bejo.
"Jadi, kamu berkata aku pantas diganti?"
"Iya. Anda tidak pernah melakukan apa pun." Cempaka semakin berani. Dia berpikir, tak ada kontribusi dari Maharani, berbeda dengan dirinya yang akan melahirkan keturunan Bhumi Maja.
__ADS_1
"Benar-benar! Dayang! Hukum selir rendahan ini!"
"Nyonya Ibu, Nyonya Selir sedang hamil anak Yang Mulia Maharaja," bisik kepala dayang serba salah. Dia juga geram dengan kecongakan Cempaka.
"Pantas saja berani sekali!" Bejo mengepalkan tangannya. "Tapi tetap saja harus dihukum karena telah lancang pada Yang Mulia Maharani!"
Idaline, Maharaja Bhumi Maja, mengangkat tangannya. Menghentikan perdebatan yang ada.
"Jadi, siapa penggantiku?" tanya Idaline ringan.
"Orang desa rendahan."
"Wah sangat tidak mengaca," komentar Bejo.
"Dia dibawa entah dari mana, asal usulnya tidak jelas, bahkan tidak bisa dibandingkan dengan bangsawan kelas rendah. Para pejabat marah besar dan merasa direndahkan. Jika terus berlangsung, mereka akan mengambil langkah. Apalagi jika mendengar berita terbaru ini."
Cempaka sebagai selir kesayangan setelah dinyatakan hamil tak hanya duduk menunggu kedatangan Hayan. Dia membangun kekuatan agar anaknya kelak akan lahir.
Segala upaya dia lakukan agar anaknya terlahir sebagai seorang pangeran. Dia memakan dan meminum segala rempah yang dapat membentuk kelamin bayi laki-laki.
Lalu dia mencari para pendukung agar anaknya dapat menaiki tahta. Dia akan membuat peraturan baru jikalau anak selir dapat duduk di atas kursi tahta Maharaja.
"Maksudmu para pejabat berani?" Bejo menyelidik. Penasaran dengan para pejabat yang mulai membelot. Tidak mematuhi perintah Maharaja sama saja dengan membelot.
Cempaka hanya mengulas senyum. Dia mengendikkan bahunya membuat Bejo semakin berang.
Dia khawatir anak asuhnya keluar dari tempat tinggal dan mendapat perilaku tidak selayaknya dari orang lain.
Dunia sudah banyak berubah. Para pelayan dan dayang pun silih berganti datang dan pergi. Sebagian mengenali Maharani, sebagian lagi tidak.
"Yang Mulia, Anda ingin kemana?"
"Menurut bibi?" Idaline balik bertanya dengan seringai yang menyeramkan.
Bejo sampai bergidik. Dia lupa Maharani adalah orang yang kuat. Dia yang lemah tidak semestinya mengkhawatirkan anak asuh yang kuat.
"Aku akan melakukan hal yang seharusnya," desis Idaline tanpa menghilangkan seringai di wajah. Dia menginjak lengan dan bahu pengawal untuk menaiki tandu yang selalu siap sedia.
Tandu yang telah lama diabaikannya.
"Yang Mulia, mohon jangan gegabah!" pinta Bejo. Dia tidak bisa pergi karena harus membereskan Cempaka. Wanita itu, Maharani sudah pergi, tapi masih saja betah di kediaman Maharani.
"Sepertinya ada yang menyuruh Selir Cempaka," gumam Bejo. Sangat mungkin ada orang penasaran atau bahkan merencanakan hal keji di kediaman Maharani.
__ADS_1
Kejam sekali meninggalkanku terbangun sendirian. Berani melangkah lebih jauh, aku akan marah besar.
Udelia menggulung kertas yang telah ditulis dua kalimat peringatan dan menyegelnya sebagai keamanan supaya tidak dibaca orang lain. Udelia mengikat surat itu ke kaki dara sungut.
Dara sungut ialah burung dara paling cepat dan tepat untuk menyampaikan pesan tanpa perlu tempat perantara. Dengan membaui aroma target, dara sungut dapat memberikan surat langsung pada orangnya.
Langit yang cerah menyilaukan mata Udelia yang sedang mengintai kepergian burung. Burung itu terbang secepat angin.
"Harusnya tepat waktu," gumam Udelia menyuci tangannya yang baru burung. Kemudian menaiki tandu kembali ke kamar.
"Selamat datang, Yang Mulia."
"Maharaja mana?"
"Yang Mulia Maharaja sedang menerima tamu. Yang Mulia Pangeran masih terlelap."
"Terima kasih, Ra Eli."
Udelia mengulas senyum pada kakak iparnya, yang juga menjadi dayang kepercayaan yang ditunjuk oleh Hayan untuknya. Padahal tugas Ra Eli yang sesungguhnya ialah seorang dukun beranak.
"Sudah menjadi tugas hamba."
"Pergi sampaikan pada Maharaja aku ingin pamit pulang."
"Baik, Yang Mulia. Semoga selamat sampai tujuan."
"Aamiin. Anda juga ... kak.. jangan lupa pulang. Kasihan mas Loro sendirian." Udelia terkekeh ketika membahas Loro. Dia membayangkan Loro sedang merangkai puisi karena ditinggal tugas sendirian.
"Dia tidak sendirian. Dia bersama Rinah," sanggah Ra Eli.
Udelia menyengir. Lalu mereka berpisah untuk pergi ke tempat tujuan masing-masing.
Ra Eli merasa begitu bodoh. Cemburu pada orang yang benar-benar tidak akan pernah digapai suaminya. Terlepas dari status mereka yang merupakan kakak beradik.
Di dalam kamar, Udelia berkacak pinggang. Tak kunjung dapat menemukan kain gendong Raka. Ia letakkan jarinya di dagu berpikir dengan keras.
Sepertinya bocah nakal itu hendak membuat Udelia berlama-lama di keraton. Udelia tidak mau berlama-lama. Jika bisa, dia bahkan akan menyusul Djahan.
Ada firasat buruk muncul dalam hatinya. Udelia harus bergegas pergi.
"Hayan, di mana kain gendongku?" tanya Udelia sambil menggerakkan kakinya memutar kaala mendengar suara pintu terbuka tanpa permisi.
o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o
__ADS_1
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]