TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
014


__ADS_3

AUTHOR NGADAIN GA KECIL-KECILAN NIH


CEK FB : leelunaaalfa4 [ lee | lunaa | alfa4 ]


•••


Maya menatap kota yang tak asing baginya. Batu bata merah darah menjadi bahan utama bangunan-bangunan di sana, kota paling ramai dan paling sibuk di antara kota-kota besar di kepulauan ini.


Kota ini sama sekali tidak ada perubahan dengan yang ada di dalam ingatan Maya setelah tiga bulan meninggalkannya.


Di dalam bangunan ramai orang keluar masuk dan di setiap sudut jalan padat orang beraktivitas.


"Trowu," gumam Maya berdiri di bukit buatan ayahandanya.


Dari bukit buatan bernama Idak, seluruh penjuru ibu kota Bhumi Maja dapat dilihat dengan mata telanjang.


Ini adalah tempat pengintaian yang bagus sekaligus berbahaya karena banyak jebakan yang dipasang.


Tapi tentu ini bukan hal yang besar bagi murid Petapa Agung yang juga Maharani terdahulu.


Titik-titik jebakan sangat tepat ditebak Udelia.


Maya, Udelia, dan rombongan telah melakukan perjalanan panjang selama satu bulan penuh.


Mereka hanya menggunakan kaki dan perahu untuk sampai ke tempat yang jauh ini.


Kantung mata Maya membesar sebab tidak ingin kehilangan momen walau sekejap mata dengan ibunya.


Maya melirik ibunya yang berusaha keras menutupi lelah di wajahnya namun bibir pucat di wajah itu sering kali menguap dan tidak dapat membohongi Maya bahwa Udelia juga sangat lelah.


"Kami akan berangkat. Berhati-hatilah," ucap Lowo meloncat keluar dari bukit jebakan itu.


Rombongan Kelimutu akan menunggu di bukit Napa sesuai rencana.


Udelia dan Maya melanjutkan perjalanan dan berbaur bersama kesibukan di pusat Bhumi Maja.


Udelia dan Maya berbelanja beberapa barang dengan riang. Mereka menghabiskan seluruh uang yang ada di tangan.


Maya sedikit tidak mengerti tapi dia tahu ibunya ini sangat luar biasa dalam memilih barang.


"Barang-barang sebagus ini hanya didapat dengan beberapa perak!" takjub Maya. Biasanya sekantong emas tidak cukup untuk membuat satu jariknya.


Udelia mengambil smartphone yang telah dicas powerbank. Ibu jarinya menekan tombol power dan ponsel yang dibiarkan mati itu menyala dengan normal.


Udelia menggulir layarnya lalu memilih ikon lensa berwarna abu-abu. Kemudian layarnya dipenuhi sebuah aplikasi penangkap gambar, kamera.


"Putriku, lihat kemari!" Udelia menarik lembut Maya dan mengarahkan kamera depan menangkap gambar mereka berdua.


Dua orang yang tidak bisa berpose itu, ekspresinya sama-sama kaku.


Udelia tidak memedulikan ekspresi mereka, dia sudah sangat senang melihat ratusan gambar mereka berdua dengan berbagai latar belakang.


"Ibunda, itu apa? Sebelumnya tidak pernah ananda lihat ibunda mengeluarkannya," tanya Maya penasaran.

__ADS_1


Sejak tadi Maya sangat penasaran namun ibunya terus membawanya ke setiap sudut ibu kota dan mengajaknya untuk memelototi benda kotak tipis itu jadi Maya belum sempat bertanya.


Dan sebenarnya yang penasaran pada benda itu bukan hanya Maya.


Sedari tadi banyak pasang mata memperhatikan mereka berdua yang tampak mencurigakan karena terus berpindah-pindah posisi tanpa ada kegiatan yang mereka lakukan kecuali mengarahkan benda kecil ke depan wajah keduanya.


"Namanya ponsel pintar, bisa digunakan untuk mengirim pesan dalam satu detik dan dapat melukis dalam waktu singkat. Ibunda baru keluarkan karena akan menjadi tidak berguna bila dipakai terus menerus.."


"Ibunda ingin menjadikannya kenangan," ucap Maya sedih. "Ibunda benar-benar akan pergi?" Wajah Maya sangat mengharapkan jawaban tidak meluncur keluar dari mulut ibunya.


Ibunya malah tersenyum teduh. Sebuah senyuman yang berusaha menenangkan hati Maya.


Yang artinya tebakan Maya adalah benar.


"Nanti ibunda akan kembali.."


Maya dan Udelia terbelalak. Mereka yang sedang serius diinterupsi seorang pencuri kecil.


Tangan pencuri yang lihai itu membawa ponsel Udelia. Pencuri itu sangat cerdik dengan memasuki kerumunan menyamarkan dirinya.


Maya menatap khawatir ibunya yang berdiam diri di tempatnya. Pakaian mereka berbelit-belit dan sulit untuk dibawa lari.


Bahkan seorang ksatria perempuan harus merobek pakaian seperti ini terlebih dahulu untuk menunjukkan bakat mereka.


Pakaian ini tidak mungkin dirusak karena ini adalah batik pertama yang mereka buat bersama.


"Benda yang pintar itu dibawa orang bodoh!" Maya menggertakkan giginya. Dia berbalik bermaksud menyuruh seorang pengawal yang sedang lalu lalang.


Mulut orang-orang menganga melihat seorang wanita cantik yang berpakaian lengkap seperti sedang berpesta, terbang di atas mereka.


Udelia mendarat dan tangannya terjulur menangkap tengkuk si pencuri.


"Berani sekali kau mengambil barangku!" geram Udelia bak sebuah bisikan setan yang mengerikan.


"A-ampun ksatria.." Pencuri kecil itu langsung tak sadarkan diri.


Udelia melempar pencuri itu ke pengawal yang telat datang.


"IBUNDA KEREN SEKALI!!!" teriak Maya.


Udelia memperhatikan pakaiannya dan pakaian Maya. Dia sudah biasa memakai pakaian ini jadi tidak terasa bahwa dia sedang memakai pakaian pesta yang rumit.


Perempuan dari dimensi lain itu tersenyum lebar. Udelia menarik pelan tangan putrinya untuk pergi ke pinggir sungai yang sepi.


Maya mengikuti ibunya tanpa membantah ataupun bertanya.


Udelia menggelung rambut Maya dan menjadikannya konde. Dia menjentikkan jari lalu muncul Utih yang berwajah masam.


"Kau ini-"


"Lihatlah, putriku. Kita akan melengkapi pakaian ini."


"Ibunda!?" Maya berteriak kaget melihat makuta Maharani sedang digigit Utih.

__ADS_1


Bagaimanapun itu harta berharga negerinya.


"Kalau itu kebesaran. Putriku yang cantik pakai ini saja." Udelia menjulurkan tangannya pada Utih. Utih pun melemparkan kantong jerami dan menghilang dari sana.


Di dalam kantong terdapat lima cunduk menthul. Maya sedikit bingung melihatnya.


"Ini cunduk menthul, bu?"


"Iya, sayang. Yang bertaburkan mutiara hitam ini dari ayahandamu, Maharaja Bhumi Maja.." Udelia memakaikan cunduk methul bertaburkan mutiara hitam itu ke konde Maya.


"Yang kehijauan ini dari ayahmu, Mahapatih Bhumi Maja."


"Yang berwarna emas polos tanpa ada warna lain ini dari seorang penyihir yang kuat."


"Yang berwarna merah ini dari Rakryan Tumenggung."


"Sedang yang berwarna putih ini dari Petapa Agung."


Udelia tersenyum senang melihat lima cunduk menthul telah terpasang dengan rapih di rambut Maya. "Putriku cantik sekali!" pujinya.


Maya melebarkan matanya merasakan banyak kekuatan masuk ke dalam tubuhnya.


Udelia tersenyum melihat Maya mampu menyerap kekuatan pelindug yang diberikan kelima orang itu melalui cunduk menthul.


Sekarang hati Udelia tenang sebab putrinya sudah dijaga mereka yang mampu.


"Ayo foto lagi, sayang!" ajak Udelia yang telah memakai makutanya.


Kali ini mereka berkeliling di tempat-tempat sepi untuk mengambil gambar sebanyak-banyaknya.


Setelah itu mereka makan di kedai Hasta, kedai paling terkenal seantero Bhumi Maja. Maya melambatkan makannya agar mereka masih memiliki waktu.


Namun makanan di piring tetap akan habis. Maya mencuci tangan dengan enggan.


"Sebelum mengirim pesan pada ayahandamu, bagaimana kalau bertemu ayahmu dulu?"


Udelia masih teringat akan janji dirinya dan suami yang dia cintai. Bila datang ke dunia ini, Udelia akan bertemu pertama kali dengan dia.


Maya menaikkan alisnya. Yang pertama kali dicari ibundanya adalah orang nomor dua, bukan orang nomor satu.


Maya sedikit tidak menyangka karena biasanya orang akan lebih memilih untuk bertemu Maharaja terlebih dahulu baru memberi salam pada Mahapatih.


"Ibunda tidak rindu ayahanda?" tanya Maya polos.


"Tidak perlu memikirkan orang yang tidak memikirkan kita." Udelia menelusupkan kedua tangannya di ketiak Maya lalu menggendong Maya naik ke kereta kuda.


Maya merasa malu sekaligus senang. Dia sudah dewasa dan sudah seharusnya dapat menaiki kereta kuda dengan kakinya snediri. Namun dia juga senang karena dia dimanjakan ibunya.


"Ke kediaman Mada!"


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]

__ADS_1


__ADS_2