TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 025


__ADS_3

TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]


025 - BERSIKAP ANEH SAAT JATUH CINTA


Saat pagi menyapa, tiga pengawal pemberian Djahan masih saja berdiri membelakanginya.


Udelia memperhatikan sekitar. Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang hilang.


Saat dia keluar, para pengawal turut keluar.


Di ruang makan, pria yang semalam mampir di mimpinya, sudah duduk dengan nyaman dan bersiap memakan hidangan.


"Rupanya Tuan Mahapatih kita tidak punya kesibukan berarti," sindir Udelia dengan sengit.


Ayah Udelia mendelik tajam. Tidak menyangka putrinya yang pemalu dapat berkata setajam itu.


"Lihat, ayah. Putri ayah sangat pandai merangkai kata. Di sana dia diajarkan dengan guru yang sangat pandai."


Perkataan Djahan entah kenapa membuat Udelia merasa Djahan sangat narsis.


Apa di sana Djahan yaang mengajari dirinya?


"Ternyata benar seorang putri akan tumbuh. Tidak selamanya menjadi putri kecil ayahnya. Nanti akan menjadi istri yang membanggakan."


"Putri ayah memang membanggakan."


Udelia tidak merasa perkataan itu salah. Semua di hadapan Djahan seolah berubah. Dia tidak malu dan tidak takut.


Sikapnya yang pemalu berubah menjadi berani mengeluarkan seluruh pendapat dan isi kepalanya.


Tidak jaim seperti dia bertindak di hadapan teman- teman prianya.


Kebaikan- kebaikan Djahan pun diterimanya dengan tangan terbuka.


Tidak seperti dirinya yang selalu merasa tidak enak hati.


"Sudah, ayah. Nanti kepalaku membesar. Ayo dihabiskan, Tuan Penumpang."


"Udel jangan kasar!" tegur ayah Udelia.


"Lihat, ibu. Ayah bahkan sudah dikuasainya. Aku benar kan? Tuan Djahan menumpang makan di tempat kita. Kadang dia numpang di motorku. Jadi benar kan dia Tuan Penumpang?"


Watika enggan membalas perseteruan suami dan anaknya. Perempuan paruh baya itu hanya mengulas senyumnya.


Lamont dan John hanya memperhatikan dari belakang.


Para pemuda yang mengandalkan logika, serta jauh dari kehidupan ghaib dan mistis, tentu saja tidak serta merta percaya dengan cerita tamu istimewa mereka.


Meski begitu mereka tidak bisa membatasi interaksi keluarganya dengan pria itu.


Selama semuanya baik- baik saja.


Bencana yang terus menimpa kakaknya, mereka anggap sebagai angin lalu dan sebuah kebetulan.


Mana bisa manusia menarik bencana.


Semua itu karena kekusaan yang Adiluhung di atas langit.


"Kami berangkat," pamit Lamont pada keluarganya.


Dia dan sang kakak laki- laki berangkat bersama.


Mereka sudah mengambil waktu cuti yang banyak, ketika Udelia kali pertama datang dalam keadaan tidak sadarkan diri bersama sepupu mereka.


Tidak bisa mereka tinggalkan lagi dunia pendidikan. Ada ilmu dan gelar yang harus dicapai.


Kelulusan mereka tidak boleh melesat.


Mereka tidak boleh kalah oleh kakak mereka, yang mampu menyelesaikan S2 hanya dalam waktu satu tahun tiga bulan.


"Nyonya, kami sudah menyiapkan air hangat," ujar Rina.


Orang tua Udelia saling memandang. Putri mereka diperlakukan seperti seorang tuan putri.

__ADS_1


Adakah lagi keraguan dalam diri mereka?


Pemuda yang memandangi putrinya dengan penuh cinta. Memiliki segala hal yang dipertimbangkan untuk menjadi menantu yang teladan.


Wajahnya. Sifatnya. Sikapnya. Perangainya. Latar belakangnya. Kedudukannya. Bahkan harta dan kekuasaannya


Siapa yang akan menolak pemuda sepertinya?


Selagi Djahan dirawat, orang tua Udelia tidak berdiam diri. Mereka mencari tahu ke bale' penyembahan.


Semua orang penting mengatakan hal yang sama, dengan perkataan pemuda yang sedang mengincar putrinya.


Jika para pembesarnya sudah berkata demikian, bagaimana bisa mereka meragu bila Mahapatih Yang Legendaris telah terlahir kembali?


"Ayo, Tuan Penumpang! Aku akan telat jika tak bersegera."


"Kamu mundurlah. Aku yang akan memboncengmu."


"Hah? Kamu bisa naik motor?"


"Kamu meragukanku?"


Djahan bersedekap. Makin direndahkan sang kekasih, makin dia tertantang untuk menunjukkan bakatnya.


Udelia sangat ragu. Selama sepekan, Djahan terbaring di ranjang tanpa melakukan hal berarti. Selain menggodanya.


Lalu bagaimana bisa dia tidak ragu?


"Saya jaminkan leher saya bila tidak becus berkendara."


"Ngeri banget."


"Saya sungguh- sungguh, Duhai Pemilik Hati Ini."


"Baiklah. Baiklah."


Udelia menyerahkan kunci pada Djahan.


Udelia bertaruh dengan dirinya sendiri, akankah dia selamat bersama pria itu.


"Tidak usah pertaruhkan lehermu, Tuan Penumpang. Kita akan kehilangan bersama bila benar- benar tidak mampu mengendarai kuda besi ini."


"Tenang, Sayang."


Keringat dingin muncul di kening Udelia, ketika pria yang duduk di depannya, berkeringat banyak, di kepala dan lehernya.


Apa pria itu mendadak ragu? Ataukah sakitnya kambuh?


Tubuhnya yang terbalut kaos polos, telah basah oleh keringat.


"Hei, kamu baik- baik saja?"


"Tidak apa. Aku baik."


"Tapi tubuhmu berkeringat!"


"Aku tidak sakit, Udel sayang!"


"Lalu kena.. uemp!"


Udelia memundurkan tubuhnya. Dia terlalu takut untuk berangkat dengan pria itu.


Tangannya melingkar kuat di tubuh Djahan. Menempelkan tubuhny a dan tubuh pria itu tanpa ada jarak membentang.


"Kamu lemah sekali, Tuan."


"Aku selalu lemah di hadapanmu, Nona."


"Jangan melebihi batas! Aku tidak suka!"


Udelia memperingati pria itu jauh- jauh hari. Tidak mau kenangan buruk di kantornya kembali terulang.


"Maaf.." sesal Djahan.

__ADS_1


Dia sendiri tahu prinsip Udelia. Istrinya lupa dan tidak mungkin mau disentuh olehnya, yang merupakan orang asing.


Djahan malah mengambil kesempatan.


Menuntaskan hasratnya dengan egois.


Djahan akan mengutuk dirinya sendiri bila Udelia tidak memaafkan hari itu.


Untungnya sakitnya mampu meruntuhkan hati keras sang istri.


Sehingga sekarang mereka menjadi dekat.


"Salahku juga."


Djahan tidak mau lama- lama membahas itu. Sepeda motor milik Udelia mulai berjalan.


Keluar dari desa, segalanya masih aman.


Udelia mulai melupakan hal yang mereka bahas.


Di depannya terdapat jalan besar.


Akankah pria kuno itu mampu melewati kendaraan- kendaraan besar di jalanan?


Udelia merapatkan kembali tempat duduknya. Jantungnya cenat- cenut memperhatikan sekitar.


Djahan mengulas senyum ketika merasakan tangan istrinya kembali melingkar.


Walau ada yang cenat- cenut di bawah sana, Djahan berusaha memusatkan perhatiannya ke jalanan.


Dia bisa mati bersama istrinya, jika sekali saja oleng karena hal lain.


Hati Udelia yang cenat- cenut berubah lega, saat motornya telah terparkir sempurna di garasi kantor.


Bagian tubuh Djahan yang cenat -cenut berubah lega, saat raga Udelia telah menjauh.


"Kamu mau tunggu di dalam atau gimana?" tanya Udelia.


Djahan yang sedang menenangkan adik kecilnya kaget dengan pertanyaan mendadak Udelia. Apalagi perempuan yang masih berstatus sebagai istrinya itu, mendadak mendekat.


Membawa aroma yang memabukkan.


Beruntung Djahan membawa bekal yang tergantung di motor. Menutupi bagian dirinya dengan rantang itu.


Tidak mau membuat Udelia kembali tidak nyaman.


Apalagi menganggap dirinya seorang yang mesum.


Udelia menaikkan sudut alisnya. Gaya Djahan yang memegang rantang di depan perut, terlalu feminim di matanya.


Wanita itu bingung dengan yang sedang dilakukan Djahan.


Apa pria itu kembali mencoba mencuri perhatiannya?


"Terima kasih sudah membawa rantangku."


Udelia menjulurkan tangannya. Djahan langsung menepis tangan Udelia sebelum mencapai rantang yang dipegangnya.


"Ti- tidak. Tidak usah kamu bawa. Nanti kita makan bersama. Ibu membuat dua porsi untuk kita."


"Baik.." tutur Udelia sedikit bingung.


Tingkah aneh Djahan dan tingkah kasar Djahan. Keduanya membuat bingung.


Apakah Mahapatih Yang Legendaris bersikap aneh saat jatuh cinta?


Pertanyaan itu terngiang di dalam benaknya.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]

__ADS_1


__ADS_2