![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
048 - TANPA PERLU DIA TUNJUKKAN
"Menikah dengannya dan kamu lupakan aku, istriku?"
Udelia meremas ujung celemek yang dikenakannya.
Tiga bulan sudah dia bersama Hayan, usai menyelesaikan upacara pernikahan mereka.
Sering terbesit dalam benaknya untuk mengunjungi Djahan, sang suami pertama.
Namun Udelia terlalu takut untuk menghadap Djahan.
Selama ini pria itu tidak ada wujudnya, tahu- tahu sepagi ini sudah ada di rumah tinggal Hayan.
Kedua pengantin baru itu tidak perlu bertanya dari mana Djahan tahu tempat tinggal mereka.
Hayan tidak mau menambah runyam hubungan keduanya.
Dia melanjutkan masak ero tis mereka yang tertunda oleh kehadiran Djahan.
Walau jengkel, Hayan masih ingat dengan janjinya sendiri yang akan berlapang dada tentang Djahan dan Udelia.
Rintik hujan hampir turun membasahi wajah Djahan.
Sekuat tenaga dia tahan agar tidak serupa bocah yang cengeng.
Sungguh dia letih dengan pertarungan ini.
Hanya ingin damai bersama pujaan hatinya.
Hidupnya di masa lampau sudah amat berat.
Dia ingin pada kehidupan kali ini banyak bersantai bersama istrinya..
juga buah hatinya.
"Aku tidak akan memberikan alasan, Djahan. Kamu mau melakukan apa, aku menerimanya.."
Udelia pasrah. Dia sadar dia bukan wanita yang baik.
Dia sudah menikah lagi tanpa persetujuan suaminya.
"Sangat kejam," balas Djahan.
Bagaimana bisa sang istri menyiratkan kata untuk melepasnya?
"Aku malu, Djahan..." lirih Udelia.
"Kenapa? Kalian sah menjadi suami istri. Aku hanya tidak ingin kamu lupa bahwa kamu punya suami lain," balas Djahan.
Mata Udelia berair.
Tidak menyangka suami pertamanya dapat menerima semua dengan lapang dada.
Dia berhambur. Memeluk raga yang lama dia rindukan.
Djahan amat sakit saat Udelia tidak menegaskan hubungan dengan dia seorang.
Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa pun.
Hanya bisa pasrah menerima keadaan.
Tiga bulan ini bukannya dia hanya berdiam diri.
Segala cara dia coba untuk melepaskan istrinya dengan suami barunya.
Lalu dia tahu, semua sudah digariskan oleh penghuni langit.
"Bagaimana kabar si utun?" tanya Djahan mencoba mengalihkan pikiran.
Tidak mau sang istri menjadi banyak pikiran dan menyebabkan terganggunya pertumbuhan bayi dalam kandungnya.
Udelia mengulas senyum. Merasa bahagia.
Suami pertamanya benar- benar mau menerima hubungan dia dan suami barunya.
"Bayi ini baik. Ayahnya menjaga dengan baik," jawab Udelia mengusap perutnya yang mulai tampak.
Djahan seketika berhenti.
Dia tahu yang dibicarakan sang istri bukan dia, ayah sesungguhnya.
Djahan menatap tajam sosok di dapur yang tidak bersekat.
Rupanya Hayan juga sedang menatapnya.
Mereka beradu tatapan dengan tajam.
__ADS_1
Udelia tidak memperhatikan. Dia amat fokus dengan bayi dalam perutnya.
Terasa hangat kala tangan besar Djahan bertengger di atasnya.
Djahan menarik napas. Menetralkan amarah.
Sebentar saja.
Beberapa bulan saja. Dia akan bertahan untuk membiarkan pria lain menjadi ayah bayinya.
Djahan tidak mau Udelia kepikiran.
Dia tidak memedulikan pria yang tersenyum mengejek di sana!
Salahnya juga tidak memberi tahu Udelia lebih awal.
Malah memilih menuntaskan dendam, yang tak kesampaian.
"Apa boleh aku menerima kebahagiaan ini?" pinta Djahan.
Bagai orang lain.
"Emm... apa kamu tidak marah?" tanya Udelia hati- hati.
"Bagaimana aku bisa marah saat bayi itu adalah milikmu?" ucap Djahan penuh retorika.
Mata Udelia makin memanas.
"Segala milikmu, aku selalu menerimanya. Bayimu, bayiku," sambung Djahan melambungkan haru Udelia.
Perempuan itu menangkup wajahnya.
Menangis sesegukan. Lagi.
Ah. Bagaimana bisa dia bisa berlaku kejam pada suaminya ini?
Laki- laki yang baik..
"Djahan, aku tak pantas untukmu..."
"Ssst. Tak ada yang boleh menilai pantas atau tidak, bahkan bila itu dirimu sendiri. Hanya aku. Dan aku akan selamanya bersamamu," ucap Djahan.
Hayan mengepalkan tangannya.
Pria ini ...!
Pantas saja Udelia tak bisa melupakannya walau sudah lama tak berjumpa.
Hayan juga telah menunjukkan kejadian lalu saat anak buah Djahan berusaha menculiknya.
Mereka menembak ke arah Hayan, seolah hendak membunuhnya.
Udelia bukannya benci pada pria itu, malah menyalahkan diri sendiri.
Dan meminta maaf atas perlakuan suaminya.
"Kamu mencintai dia sedalam itu?" gumam Hayan.
Matanya melirik pada cai ran kental di bawah kakinya.
Udelia sangat terbuka padanya, boleh kan dia juga berharap cinta Udelia padanya sedalam cinta Udelia pada suami pertamanya?
"Mari makan. Semua sudah siap," ucap Hayan menahan gesekan di antara giginya.
Jika itu hanya untuk Udelia, dia tak mengapa.
Tapi kenapa dia harus menghidangkan masakan untuk Djahan pula!?
Di masa yang jauh, Djahan itu Mahapatih, sedang dia adalah Maharaja!
Bagaimana bisa Sang Tuan melayani Pelayannya!?
Hayan meremukkan spatula yang digenggamnya.
Melemparnya asal.
Spatula yang terpecah itu terbayang melayang masuk ke tempat sampah.
Udelia memainkan sendoknya gelisah.
Malu berhadapan dengan dua suaminya.
Dia juga bukannya tidak menganggap serius aduan Hayan.
Sekarang dia merasa takut keduanya akan saling pukul dan membuat keributan.
Pikiran berat membuat perutnya sedikit kram.
__ADS_1
Mencoba santai dengan menyuapkan sesendok sup pada mulutnya.
Sendok itu jatuh seketika.
Sakit di perutnya makin menjadi.
"Agh.." ringis Udelia.
"Sayang...!" seru Djahan dan Hayan bersamaan.
Keduanya yang memang makan berseberangan, langsung sigap menahan dua sisi Udelia.
Djahan mengeluarkan ponselnya.
Meminta dokter merangkap dukun untuk datang ke kediaman madunya.
Sedang Hayan langsung mengecek kondisi Udelia dengan memeriksa nadinya.
Ilmu tabib bukan keahliannya, tapi Hayan juga belajar cara penanganan pertama.
Tanpa mendengar protes Djahan, Hayan menggendong Udelia dan membawanya pada kamar mereka.
Djahan berlari mengejar.
Langkahnya terhenti kala pintu terbuka.
Di dalam kamar baju Udelia dan Hayan berserakan.
Pagi tadi keduanya melalui pergulatan panas.
Kalau saja Udelia tak mengeluh lapar, mungkin mereka akan bermalas- malasan di dalam kamar.
Hayan sigap membuatkan makanan.
Udelia juga tak mau tinggal diam. Dia membuat minuman dan camilan ringan.
Ketika Udelia menggulung rambutnya, Hayan tak kuat menahan diri.
Mengecilkan api dan melahap istrinya yang seksi.
Rumah berantakan, Hayan belum sempat merapikan.
Keuntungan baginya, Sang Rival memergoki tanpa perlu dia tunjukkan.
"Jadi, Anda masih bertebal muka, Mahapatih?" cetus Hayan.
Djahan mengepalkan tangannya.
Putra muridnya ini ... terlalu licik!
"Tidakkah lihat Udelia sangat bahagia denganku?" imbuh Hayan sengaja memanasi.
Dia ingin pria ini menyerah.
Dia ingin Udelia untuknya seorang!
Djahan pergi tanpa kata ketika melihat posisi bawahannya sudah sampai pada komplek rumah Hayan.
Membuka lebar pintu rumah.
Lantas menarik tubuh dokter sebelum motornya berhenti.
Jantung dokter itu hampir saja terhenti kala dia terseret ke bawah.
Djahan tidak selemah itu.
Tangannya sigap menahan dokter sebelum lutut dokter mencium tanah.
Tergesa langkahnya menuju kamar Hayan.
Kamar itu telah bersih dari aroma khas dan baju- baju yang berserakan.
"Tidak ada bahaya. Hanya saja harap perhatikan tingkat stres Nyonya. Ibu hamil harus terbebas dari beban pikiran."
Inilah yang membuat Djahan meragu untuk mendekat. Juga meragu untuk membuka kedok Hayan.
Bahwa janin di dalam kandungan Udelia adalah miliknya.
Bukan milik Hayan.
Djahan tidak mau Udelia kepikiran.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]
__ADS_1