![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Nda napa nangis?"
Rama yang berada di pelukan Udelia mengusap air mata di wajah ibundanya. Candra terlonjak kaget melihat keberadaan putranya.
Kakeknya benar. Tidak mungkin istrinya setega itu.
"Tidak apa, sayang." Udelia tersenyum lembut.
Candra mengusap wajahnya. Dia berjongkok mensejajarkan dirinya dengan sang istri. Dia mengulurkan tangan.
Udelia terpejam. Kepalanya melengos, menghindari uluran tangan Candra. Keringat jagung muncul di keningnya, saat tangan besar Candra menempel di wajahnya.
Candra menangkup wajah Udelia. Mengarahkan kepala itu agar menatapnya.
"Maafkan aku."
Candra menempelkan keningnya ke kening Udelia. Memaksa sang istri untuk menatapnya. Lantas dia memeluk erat Udelia.
"Maaf. Maaf. Maaf. Maafkan aku, istriku."
Udelia mengurai pelukan Candra. Candra tertegun.
"Rama terjepit," jelas Udelia agar sang suami tidak marah dan tidak kembali menamparnya.
Udelia menatap Candra yang menangkup wajahnya lagi.
"Maaf," ulang Candra.
Udelia kembali mengalihkan pandangannya. Melihat wajah Candra membuatnya membayangkan pukulan Candra yang menyakitkan.
"Aku yang minta maaf sudah tidur bersama orang lain," lirih Udelia.
"Kemarikan Rama," kata Candra mengalihkan pembicaraan mereka.
Dia sadar betapa keras kepala mereka berdua. Tidak akan ada ujungnya bila tidak mengakhiri pembicaraan.
Candra mengambil Rama dari pelukan Udelia. Udelia tidak bisa memaksa. Hanya berharap suaminya tidak kasar pada anaknya.
"Rama mandi dulu ya."
Udelia menghapus air mata yang terus luruh. Bayang-bayang tamparan Candra menjadi momok menakutkan baginya.
"Raka sayang sudah bangun hm?" tutur Udelia, lantas mencuci tangan di baskom air di atas meja, sebelum memegang putra tercintanya.
"Laper yaa?" Udelia memberikan hak makanan pada bayi kecilnya.
"Nona Udelia," panggil Ekata dari luar jendela.
"Jika Anda tahu keberadaan Petapa Agung, saya akan menunggu di teras ketiga," sambung Ekata ketika Udelia tidak menjawab panggilannya.
"Aku tidak ingat."
"Beraninya! Padahal guruku sudah mengobatimu."
Udelia menajamkan telinganya. Kembali muncul suara asing dalam benaknya.
"Kuriang keluarlah!" titah Ekata pada Kuriang, muridnya.
__ADS_1
Seosok pria remaja beranjak dewasa, turun dari atap.
"Guru, siapa sebenarnya wanita itu?" tanya Kuriang pada Ekata.
"Suatu saat nanti kamu akan tau ... Sebelum itu.."
Ekata mengeluarkan tongkat di tangannya. Kuriang menelan salivanya dengan kesusahan.
"Kamu sudah melihat hal yang tidak seharusnya kamu lihat!"
Ekata memukul bagian belakang kepala Kuriang hingga terpental menjauhi rumah yang ditempati keluarga adiknya.
"Saya minta maaf pada nona. Sekarang Anda bisa beristirahat tanpa rasa khawatir."
Setelah itu hening. Udelia bergidik. Jadi semalam ada sosok pria yang bermalam di atas kamarnya dan mengintipnya!
"Bagaimana aku tidak khawatir kalau ada yang bisa menyusup begitu?!! Bahkan berbicara di dalam kepalaku," marah Udelia dalam hati. Tapi tak urung dia tampakkan.
"Ya. Terima kasih," ucap Udelia.
Ekata mengulas senyum dan pergi dari rumah sederhana itu.
"Maaf Anda siapa ya? Kenapa Anda ada di rumah saya? Di kamar saya pula," berondong seorang wanita memasuki kamar tanpa permisi, mengagetkan Udelia yang sedang menatap kepergian Ekata.
"Kami menyewa rumah ini dari pemuda yang bernama Udin."
"Anak itu...! Saya Udis kakak Udin. Kalau Anda butuh sesuatu silakan katakan saja."
"Kebetulan sekali. Kami ingin mencari penginapan di wanua seberang."
"Baik, nyonya. Saya akan segera kembali."
Candra membopong Rama yang telah rapi dan bersih. Tetesan air dari rambut Rama menambah kesan segar si bocah tampan.
Udelia takjub dengan tindak tanduk Candra yang tidak canggung berada di rumah tinggal kecil lagi sempit.
Rumah tinggal para pelayan Ekadanta, lebih besar daripada rumah yang sedang mereka tempati.
"Rama mau bobo dulu? Sore kita jalan-jalan," bujuk Candra setelah mengeringkan rambut Rama.
"Yeaayy. Jalan-jalan!"
Candra menaikkan Rama ke atas ranjang. Candra mengelus kepala Rama hingga tertidur. Dia amat senang putranya tidak berubah.
Usai memastikan dua buntutnya tidur terlelap. Candra membimbing Udelia untuk duduk di kursi. Candra bersimpuh, mengecupi punggung tangan Udelia.
"Maafkan aku."
Udelia menatap lekat Candra. Udelia bercerita tentang yang terjadi malam itu agar suaminya tidak lagi menyalahkan dirinya.
Udelia sudah cukup tersiksa atas dirinya sendiri yang sering mengingat dan memimpikan kejadian malam itu.
Udelia harus waras dalam mengurus dua bocah yang usianya berdekatan. Dia mungkin tidak akan mempertahankan kewarasan bila suaminya sendiri menghardiknya dan mengerasinya.
"Malam itu aku dibantu Ijen berganti pakaian. Tiba-tiba lilin mati dan aku dihantam ke tembok, kemudian dia memberiku obat."
Udelia menarik napas.
__ADS_1
"Setelahnya aku merasa sangat panas dan tidak dapat mengendalikan diri. Kulihat ada theklek, maka aku meminta tolong. Lalu tidak kuingat bagaimana selanjutnya. Yang kuingat dimulai saat kepalamu bersandar di perutku."
Udelia memperhatikan Candra yang serius mendengarnya. Pria itu sedang mencerna kejadian bertahun-tahun lalu. Candra sudah mendengarnya dari para pelayan.
Candra merutuki kebodohannya yang tidak mampu menahan diri. Istrinya teringat lagi masa kelam itu.
"Suamiku, cinta tumbuh karena terbiasa. Dahulu sesering apa pun kita berjumpa. Waktu yang kamu dan Ijen habiskan pasti lebih banyak."
Udelia tersenyum getir. Membayangkan betapa sering Candra dan Ijen berinteraksi. Mungkin puluhan kali lipat lebih banyak dibanding dia bersama dengan Candra.
"Cobalah cari tahu dalam lubuk hatimu, siapa yang benar-benar ingin kamu miliki. Jangan hanya karena kompetisi, kamu korbankan diri."
Udelia berdiri mengambil kain sumpalan. Dia terus berjalan membelakangi Candra. Tidak ingin melihat respon Candra.
Udelia melamun, memandangi air di gentong. Hati yang dipenuhi berbagai jenis emosi membuat otaknya hampa dan kosong.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
TERIMA KASIH SUDAH SETIA MEMBACA HINGGA BAB INI
SEHAT SELALU SEMUANYA
KETJUP HANGAT DARI WANITA PEMILIK BANYAK PRIA
UNTUK INFORMASI DAN LAINNYA HUBUNGI AUTHOR DI ...
F B : leelunaaalfa4 (lee lunaa alfa4)
I G : alsetripfa4
NOTES :
... Untuk season 1 ada di profil author.
Judul: TIKZ [Berpindah ke Zaman Keemasan]
Author: Al-Fa4
Sudah END.
... Untuk season 2 sampai pada bab delapan puluh empat atau judulnya = MEREKA BERTARUNG DENGAN HEBAT
Judul: TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]
Author: Al-Fa4
... Akan dilanjut menjadi season 3 pada season 2 kali ini
Judul: TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]
Author: Al-Fa4
Untuk informasi selanjutnya dapat melihat pada akun- akun media sosial author. Mohon maaf bila ada kesalahan. Terima kasih sangat untuk kalian yang masih setia sampai di sini. Author cinta kalian. Lope lope terbang.
__ADS_1
Kalau ada yang bingung feel free untuk tanya ya.Insya Allah nanti dijawab. Memang begini tulisan author, Masih banyak belajar. Mohon dimaklumi ya. Silakan beri kritik saran dengan bahasa yang baik.