![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
Udelia kembali menggendong Raka. Bocah itu sangat anteng. Berbeda dengan sang kakak yang langsung menangis bila disentuh orang asing.
Udelia menimang-nimang Raka sambil mencicipi hidangan di meja. Selalu saja makanan keraton membuat lidahnya puas.
"Tumben diem?" lontar Udelia. Hayan hanya diam memperhatikannya. Tidak seperti biasanya yang terus saja bercerita.
"Aku bingung. Apa pantas bertanya?" kata Hayan dengan wajah bingung yang amat mirip dengan Rama. Bedanya hanya besar tubuh mereka.
"Tidak ada yang harus dibingungkan."
"Jadi, setelah rumah Ekadanta, sekarang Maharaniku tinggal di rumah Mada?"
Udelia menatap manik mata Hayan. Pria itu masih saja cemburu padahal sudah punya banyak wanita.
"Begitulah," jawab Udelia mengendikan bahunya. Tidak ada tujuan untuknya. Keraton bukan tempat yang menyenangkan. Rumah Ekadanta sudah tidak mungkin dia datangi.
"Aku bukan Maharani," korreksi Udelia.
"Ingin jadi Maharani lagi?" tawar Hayan ringan. Seolah bisa mengubah aturan jika Maharani hanya ada satu.
"Keraton yang kosong terasa dingin dan keraton yang penuh terasa sesak. Aku tidak cocok. Padahal sudah kamu tahu, sebelum memaksaku."
"Lalu kamu akan menikah lagi dengan Mahapatih?"
"Tidak. Aku akan kembali."
Hayan tertegun. Maharaninya pulang adalah sebuah kenestapaan. Tidak ingin Maharaninya kembali pergi, tapi tidak mungkin juga Maharaninya mau bersamanya.
Haruskah dia menjadi seperti Djahan? Berlapang dada melihat Udelia bersama pria lain untuk kebahagiaan wanita yang dicintainya.
Jika Hayan meminta Udelia untuk tetap tinggal, wanita itu pasti akan tetap memilih bersama dengan Djahan.
Udelia beranjak duduk di sebelah Hayan, memandangi wajah Hayan yang semakin matang. Tatapan penuh makna. Berharap inginnya dikabulkan.
"Maharaja, bisakah aku memiliki ini?" pinta Udelia memegang gantungan di ujung keris Hayan.
Hayan mengikuti arah pandang Udelia. Teringat pada malam penyiksaan sang penyelamat putrinya, Udelia terus mencoba menggapainya. Dia dan yang lain mengira wanita itu hendak menyerang. Namun ternyata tujuannya adalah benar gantungan di keris Hayan.
Hayan dan yang lain sengaja menjatuhkan gantungan yang mirip. Mereka penasaran dengan alasan si tahanan meraih gantungan kerisnya. Dan rasa penasarn itu membuat mereka menyesal. Menyeret mereka dalam lubang penyesalan.
Terbesit ide menyenangkan dalam benak Hayan. Dia menatap lekat Udelia sebelum menjawab permintaan wanita itu.
"Kalau kamu mau menghabiskan malam denganku," bisik Hayan.
"Aku serendah itu?" Udelia menatap Hayan tak percaya. Dia disamakan dengan wanita penghibur.
"Jangan berucap seperti kita tidak pernah melakukannya." Hayan tersenyum miring.
Udelia harus pulang. Ada ayah dan ibu serta adik-adik yang menunggu kepulangannya. Sepuluh tahun sama seperti tiga bulan. Tiga tahun mungkin saja seperti satu bulan di dunia modern.
Pulang ke dunia modern sambil membawa pecahan kotak yang dibutuhkan Boyo, akan membuatnya mudah untuk pulang pergi antar dua dimensi. Udelia yakin itu.
"Baiklah." Udelia mencoba berpikiran positif. Malam dan pagi sering ia habiskan bersama Hayan saat mereka masih bocah. Mengajari anak itu juga mendengarkan ceritanya sepanjang hari.
__ADS_1
Hayan mengepalkan tangan di belakang punggungnya. Rupanya sang wanita benar-benar ingin pergi dari dunianya. Segala hal dilakukan untuk dapat pulang. Bahkan bermalam bersamanya.
Hayan tidak mengerti yang melatarbelakangi keinginan Udelia untuk pergi.
Wanita itu sudah memiliki tiga orang anak!
Tapi, Hayan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Bermaksud menggoda, dia justru jatuh dalam godaan Udelia.
Hayan akan merealisasikan bayangan Udelia.
"Siapkan kamar untuk nyonya!"
***
Udelia membungkus rambutnya yang basah dengan sebuah handuk kecil. Wajahnya berseri-seri. Tubuhnya segar setelah berpekan-pekan tidak menyentuh air.
Dari Wanua Mejeng Djahan langsung membawanya pulang. Udelia pun enggan berlama-lama. Dia masih sakit hati. Bagaimanapun porsi hatinya untuk Candra. Dia tetap suaminya yang paling lama tinggal bersamanya. Ada banyak kenangan.
Udelia mengukir senyum melihat bayi kecilnya tertidur pulas dan anaknya yang lain makan dengan lahap.
"Aku tau ibunda pintar memasak ikan. Tapi ternyata bisa memasak masakan lainnya bahkan menu-menu baru," puji Maya.
"Waktu itu kan di perantauan, jadi tak lengkap. Di keraton semua rempah ada, mudah membuat yang kita mau. Yah kecuali yang belum ada di zaman ini. Ibunda tidak mau menyalahi zaman."
Maya mangut-mangut mendengarnya. Hatinya semakin bertambah iri dengan sang adik, Rama. Pria kecil itu pasti selalu memakan hidangan ibunda mereka.
"Nyonya, pangeran sudah selesai," ucap seorang dayang membawa Rama yang sudah bersih dan harum.
Dayang tidak menjawab. Diberikan perintah oleh Maharaja untuk memanggil Rama pangeran, tidak mungkin dia salahi.
Udelia mengambil bedak di atas meja. Membedaki wajah Rama supaya tampak jelas telah selesai mandi dan harum.
"Sayang mau main sama ayahanda?" tanya Udelia menggendong Rama meninggalkan Raka yang pulas dan Maya yang sibuk menghabiskan banyak masakan Udelia.
"Ayahanda?" Rama bingung. Di benaknya ada dua ayahanda.
"Iya."
Udelia melangkah keluar menuju ruang tamu. Tampak Candra duduk dengan gugup. Matanya menatap pintu sambil memainkan jari-jemarinya.
Candra langsung berdiri begitu tahu wanita yangmasih berstatus istrinya telah datang. Dia mendekati istri dan putra sulungnya.
"Raka mana?" Candra celingukan. Siapa tahu istrinya membawa para dayang yang menggendong Raka.
"Raka sedang tidur. Aku akan menginap. Bawa saja Rama ke hadapan ibu dan ayah, mereka pasti rindu," jelas Udelia.
Udelia mengangsurkan Rama pada Candra. Bocah itu tersenyum senang kembali melihat ayahandanya.
"Sebelum tak lagi bisa," imbuh Udelia dengan tegas.
"Istriku, maukah kembali? Kulakukan apa pun yang kamu inginkan," pinta Candra.
"Kamu masih belum memikirkan dengan matang."
__ADS_1
"Aku tidak menemukan hal lain kecuali ingin bersama denganmu, kak."
"Candra, gelas yang pecah tidak bisa sama lagi!"
Udelia sudah berniat memberi Candra sisa hidupnya, pria itu justru tak tahan dengan godaan wanita lain.
Semua itu hanya tinggal angan.
Udelia menyibak rambut di keningnya, kemudian mengetukkan jari pada jidanya yang lebar.
"Tanda pernikahan kita sudah hilang ketika ingatanku kau rusak. Pergilah urus dokumen perceraian. Kita sudah tidak ada lagi kesempatan untuk bersama! Tadinya kukira kita bisa mengurus Rama dan Rama bersama."
Candra menundukkan kepalanya menatap Rama. Perkataan Udelia berarti ingin melanjutkan hubungan pernikahannya bersama dengan Candra. Namun Candra menghancurkan harapan itu. Dia sudah menyakiti hati istrinya.
"Aku minta maaf," lirih Candra.
"Jika bekas paku ini dapat hilang."
Udelia menunjuk punggung tangannya dengan sarkastik. Dengan segala kekuatan sihir yang dicoba Candra, bekas luka akibat paku buatan Candra tak kunjung hilang.
"... akan kucari."
Candra berkata dengan ragu. Dia memaku tahanan yang diinterogasinya dengan paku khusus, memberikan tanda 'spesial' pada orang-orang yang telah dilucuti salahnya olehnya.
"Kak, selamat malam," pamit Candra. Dia tidak mau memaksakan kehendak.
Udelia menarik napas panjang. Kata-katanya mungkin keterlaluan. Namun dia tidak mau memberikan harapan pada Candra. Bekas luka paku di tangannya akan abadi. Udelia sendiri tak tahu bagaimana menghilangkan bekasnya.
Udelia melangkah masuk ke ruangan. Piring-piring telah kosong dan Maya terkantuk-kantuk di atas meja. Bocah itu setia menunggu Udelia.
"Tidurlah sayang," kata Udelia sembari mengusap kepala Maya.
"Kalau ibunda menemani," rengek Maya memeluk ibundanya.
Di luaran mungkin dia menjadi Tuan Putri terhormat yang disegani dan berwibawa, namun di hadapan ibundanya dia ingin terus memeluk sang ibunda.
Udelia mengangguk, dia melepas handuk yang bertengger di kepala dan menggantungnya di tembok.
"Sini sayang.." tutur Udelia agar Maya menghadapnya.
Udelia meraih tubuh Maya yang condong padanya. Dia menggendong Maya ke atas kasur lalu tiduran di sebelahnya.
Tangan kiri Udelia mengusap lengan Maya dan tangan kanannya mengipas-ngipasi Maya persis yang biasa dia lakukan pada Rama.
"Sayangku, siapa pria kecil tadi?"
"Calon suami ananda."
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
__ADS_1