TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
053


__ADS_3

"Darah," gumam Hayan dalam hati.


Dia mengusap tangan bocah kecil itu dan menggenggam tangan kecil yang tak sampai selebar telapak tangannya, lalu mereka memasuki kamar yang ditunjuk tunjuk Rama.


Hayan terbeliak mendapati pemandangan yang sungguh di luar nalar pikirannya.


Sama sekali tidak dapat dia bayangkan, istana yang dia pikir aman untuk Udelianya tercinta, kini perempuan itu tak sadarkan diri dengan bersimbah darah.


Dilepaskannya tangan mungil yang ia genggam melihat Udelia tak sadarkan diri dengan darah di wajahnya.


"Hiks.. nda..." Rama berlari, dia memeluk Udelia yang masih terduduk sambil menggendong Raka.


Pelan-pelan Hayan melepaskan Raka dari tangan Udelia, wanita itu terbangun dan menghalangi orang yang ingin mengambil anaknya.


Muncul rona merah di pipi putih berwajah pucat itu, menandakan amarah yang meletup letup. Mata sayunya memandang gelisah. Takut bayi kesayangannya hilang diambil orang.


"Tenanglah. Aku akan membawa bayimu ke kasur," bisik Hayan menenangkan Udelia.


Suara lembut Hayan membuat hati Udelia menghangat. Mata lemah itu menatap Hayan dan membentuk segaris senyuman.


"Candra..?" gumam Udelia.


Hayan membawa perlahan Raka ke ranjang lalu dia menggendong Udelia tanpa kesusahan dengan gaya pengantin.


Pria dengan makuta menghias kepalanya itu menggendong kembali Raka yang masih menangis. Dia tidak mau Udelia terganggu tidurnya.


Ayunan tangannya begitu mahir. Tak segan tangannya mengusap air mata yang meluncur keluar di wajah polos itu.


Perlahan tangisan Raka berhenti. Kerutan di dahi Udelia pun menghilang. Wanita itu terlelap dengan damai.


"Yang Mulia, hamba Ra Konco menghadap, bersiap menerima perintah." Ra Konco bersimpuh setelah dipanggil Huna sang tangan kanan Maharaja.


"Periksalah Maharaniku."


"Baik, Yang Mulia."


Ra Konco tidak banyak tanya dan tidak terlalu kaget dengan penilaian tuannya. Berbeda dengan Huna yang sedikit gamang ketika tuannya menyebutkan sebuah gelar tertinggi untuk wanita yang terbaring di ranjang.


Seorang wanita yang tidak jelas asal usulnya. Huna pun baru tahu ketika rumor tentang wanita baru Maharaja menyerebak di keraton.


Pekerjaannya untuk menghentikan rong rongan keluarga besar Bhumi Maja semakin bertambah.


Asal usul yang tidak jelas membuat tujuh keluarga besar merasa terhina.


"Semua akan baik-baik saja." Hayan mengusap kepala Rama yang masih menangis sembari memegang erat tangan Udelia.


Takut ibundanya pergi dan tak kembali. Darah yang keluar dari kepala ibundanya, sangat menakutkan.


"Ayahanda!" Rama memeluk kaki Hayan. Ada desir yang aneh kala tangan besar itu mengusap kepalanya.


Tangan ayahandanya hangat. Rama yakin pria ini adalah ayahandanya juga!


Rama merasa terlindungi hanya dengan berdiri di dekatnya.


"Duo!"


"Hamba siap menerima perintah." Duo bersimpuh di belakang Hayan.


"Bawa orang-orang tidak berguna ini dan penggal kepala mereka!"


Rama mengerjapkan matanya, tak mendengar suara Hayan. Mulut pria itu komat kamit, tapi tidak ada suara yang keluar.

__ADS_1


Sengaja Hayan memasang batas pelindung, agar anak kecil itu dan bayi dalam gendongannya itu tidak mendengar perbincangan yang mengerikan—kendatipun mungkin mereka belum memahami.


"Ayahanda?" panggil Rama bertanya, sebab sedari tadi dia dicuekin seorang diri.


"Tidak apa." Hayan mengusap kepala Rama. Rama memejamkan matanya merasakan sensani nyaman dari tangan pria besar yang gagah.


Kemudian mereka diam, memperhatikan Udelia yang sedang diperban kepalanya.


"Yang Mulia, sudah selesai diobati. Benturannya sangat parah, namun pengobatan rutin selama lima belas hari dapat menyembuhkannya," jelas Ra Konco. Bila itu bukan tabib terbaik, sudah lah pasti kepala Udelia akan menjadi cacat.


"Siapkan obat terbaik."


"Baik, Yang Mulia."


"Dio! Nung!"


"Kami menghadap Yang Mulia Maharaja,"


"Jagalah maharani,"


Dio dan Nung saling memandang kebingungan. Sama seperti Huna yang tidak percaya gelar itu disematkan pada wanita lain. Harusnya Maharani hanya ada satu orang. Berbeda dengan ratu, yang kemungkinan akan ada Ratu Kulon dan Ratu Wetan, bila seorang Maharaja dapat ditekan keluarga besar.


Sayangnya Hayan bukan tipe Maharaja yang seperti itu.


"Baik, Yang Mulia," jawab mereka.


Kedua manusia beda kelamin itu diam memperhatikan Hayan yang mengecup luka Udelia lalu menaruh Raka di samping si wanita yang terbaring lemas.


"Rama, ingin pergi?" tanya Hayan.


Rama menatap Hayan lalu menatap Udelia. "Ibunda.."


"Ibundamu akan dijaga mereka berdua," tutur Hayan.


"Makan ya..?" ajak Hayan mengingat dia datang untuk mengajak keduanya makan bersama.


Sebenarnya tempat Udelia, Hayan letakkan di rumah belakang yang memiliki ruangan lebih luas daripada rumah kecil di depannya pada halaman yang sama.


Rama diletakkan di rumah kecil, karena Hayan menilai rumah seluas lima belas dpa sama sekali tidak muat ditempati dua manusia. Rumah seluas tujuh dpa di halaman yang sama, Hayan merasa cukup untuk Rama tinggal, sementara bangunan lain yang pantas untuk anak dan ibu itu sedang direnovasi luasnya.


Saat datang menuju rumah yang didiami Udelia, Rama mencegatnya dan baru Hayan tahu ada salah satu selirnya yang telah berperilaku lancang.


Jika saja dia tidak lambat dalam berhias, dia pasti menangkap basah selir kurang ajar itu!


Rama menggeleng. "Ibunda belum."


Jika Rama dekat dengan Candra, maka dengan Udelia lebih dekat lagi.


Di awal awal Rama sudah mulai meminta makan, bayi menggemaskan itu tidak mau makan jika tidak melihat ibunya makan.


Ketika Udelia kesulitan makan karena kehamilan Raka, susah payah Rama diberi pengertian untuk makan terlebih dahulu.


Bersama neneknya saja, Rama baru luluh saat Udelia melahirkan.


"Nanti ibunda makan."


Rama menatap pria besar di depannya, lantas mengangguk menyetujui untuk pergi bersama pria dewasa itu.


"Hup." Hayan menggendong Rama.


Rama menampakkan deret giginya yang mulai tumbuh. Dia senang digendong pria ini.

__ADS_1


"Dari kemarin belum makan. Kalo sakit, ibunda sedih."


Rama mengangguk dengan semangat. Dia tidak mau melihat ibundanya sedih.


Mata kecil itu berbinar, makanan di meja sangat menggoda. Liurnya bahkan hampir menetes bila tak sigap diseka Hayan.


Rama menyantap dengan lahap hidangan di meja, Hayan tersenyum dibuatnya.


Di belakang mereka, bersekat tembok kayu yang kokoh, Samha bersimpuh dengan gemetar.


Dia tidak menyangka akan secepat ini ketahuan.


Dia tidak menyangka akan dihukum hanya karena memperingati selir baru.


Sebelumnya, dia sudah biasa memberi peringatan pada selir baru.


Sama sekali tidak terjadi apa pun padanya. Bahkan peringatan tidak ada.


Sespesial itu selir baru kali ini?


Samha dan beberapa makhluk di sekitar sana berpikir demikian.


"Nyonya Selir Samha Mihir, Anda telah melakukan penyerangan terhadap wanita Yang Mulia, dengan amat kejam. Berlututlah hingga tiga hari tiga malam, setelahnya Anda akan pindah ke Anjungan Dhedhet." Huna membaca titah yang diturunkan Hayan


***


"Dia dikirim ke Anjungan Dhedhet?"


Sepasang mata berbulu mata lentik terpejam, sedang menikmati rileksasi dari para dayang, kemudian datang berita yang sangat mengagetkan dan mengejutkan.


Selir yang sering main tangan dengan selir baru, akhirnya ditangkap.


Selama ini kasus itu dibiarkan terbengkalai.


Padahal memar dan lebam, sangat kontras dengan warna kulit para selir yang telah dirawat sedemikian rupa.


Seolah semua orang menutup mata.


Kini, tiba tiba saja wanita itu dihukum?


Aneh.


Semua yang tahu merasa berita penangkapan Samha adalah suatu keanehan dan suatu hal yang mengejutkan.


"Benar, Yang Mulia," jawab dayang yang sedang memijatnya.


"Aku tak habis pikir, bagaimana Sapta Prabu mengirim orang yang tidak memiliki otak?"


Sebuah ejekan dan seringai muncul pada bibir tebal nan menggoda. Anak buahnya ikut tersenyum mengejek.


"Selir Samha semakin menjadi karena Selir Cempaka tidak berani melaporkan dan Selir Cendera yang mencoba bersuara, tidak digubris setiap permintaannya bertemu."


Dayang dayang di sana sudah menjadi kesayangan tuan mereka. Bergosip bersama tuan mereka, tidak akan ada hukumannya. Mereka begitu semangat menjatuhkan wanita wanita lain yang mencoba bersaing dengan tuan mereka.


"Cempaka ... bagaimana wanita itu setelah kedatangan selir baru?"


"Masih berada di keraton Capuri, Yang Mulia."


"Hmmm. Menarik."


••••••••••••••••••

__ADS_1


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


__ADS_2