TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 018


__ADS_3

TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]


018 -  MANIK MATA MAKHLUK BESAR ITU TERUS MENATAP PADANYA


Fusena terkekeh geli atas tuduhan yang dilontarkan Djahan.


Dia tidak sehina itu, meski dia ingin mendapatkan kehangatan dari Udelia.


Sudah cukup kesalahannya di masa lampau.


Mengabaikan Djahan yang masih menatap curiga, Fusena memasuki kamarnya. Tidur dengan lelap.


Semalaman tangannya tidak dibasuh.


Ketika Fusena masih lelap dalam tidurnya, Djahan pagi- pagi buta mencari muka di depan Udelia.


Dia merengek kesakitan dan kepanasan.


Udelia yang sudah terbiasa dengan rengekan para pesakitan, bangun dari tidur lelapnya.


Dia memeriksa tubuh Djahan yang memang panas oleh demam.


Udelia bangun, membasuh wajahnya, mempersiapkan kompres dingin, dan membiarkan Djahan berbaring di ranjangnya.


Awalnya Djahan hanya memejamkan mata, tanpa dia sadari sejuknya kompres yang dibuat Udelia membuatnya jatuh terlelap.


Udelia mengerjap. Memandangi Djahan yang tidur dengan polosnya.


Setelah dia melepas rasa risih pada Djahan, yang dia lihat dari pria itu hanya tingkah- tingkah lucu yang menginginkan sebuah perhatian.


Pria itu dingin dan kasar pada wanita lain, tapi begitu kekanakan di dekatnya.


Udelia tersenyum geli. Dia menepuk- nepuk rambut Djahan selayaknya seorang anak yang membutuhkan kasih sayang.


Karena tidak lagi bisa tidur, Udelia mempersiapkan camilan untuk semuanya. Sarapan sudah dipersiapkan oleh pemilik villa.


Dia hanya tinggal menelepon dan memilih lauk pauk kesukaan penghuni rumah.


Suara decit pintu terbuka mengalihkan perhatian Udelia. Tampak Kharisma sudah siap dengan pakaiannya.


Udelia menoleh dengan raut bertanya.


"Mau liat buaya raksasa," jelas Kharisma menunjukkan tubuhnya yang telah terbalut rapi oleh pakaian.


"Pagi- pagi?"


"Kata pawangnya biasa muncul jam segini. Daripada siangan nanti rame."


"Baru ada badai loh kemarin."


"Perkiraan cuaca hari ini cerah kok!!"


"Ya udah tunggu aku ikut! Ini kamu bungkusin buat dibawa ke sana. Aku siap- siap dulu," titah Udelia menunjuk sekumpulan camilan yang sudah dibuatnya.


Kharisma mengangguk patuh. Dia membungkuskan camilan untuk pawang buaya dan camilan untuk mereka berdua.


Saat dirinya telah siap, Udelia pun telah siap.


Mereka meninggalkan villa dengan hidangan yang telah tersedia.


"Di sini, mas!" seru Kharisma melambaikan tangan pada pawang buaya yang sudah menunggu.

__ADS_1


Udelia berjalan mengekori mereka. Ada rasa penasaran yang besar pada sosok buaya itu.


Apakah bayangan yang muncul itu hanyalah mimpi atau justru kisah nyata?


Jika benar nyata, maka bukan bualan belaka cerita tentang buaya yang mencari kembarannya.


Karena buaya itu dapat berubah menjadi manusia.


Meski bertahun -tahun sekolah dan bekerja mengandalkan logika semata, Udelia mempercayai adanya hal- hal ghaib.


Termasuk buaya yang dapat berubah menjadi manusia.


Udelia mematung di tempatnya. Entah apakah terlalu besar kepala, Udelia yakin buaya itu terus memandangi dirinya.


"Sini, Lia! Jangan bengong ntar kesambet. Masih pagi ini!"


Kharisma menarik tangan Udelia. Menyuruhnya berjongkok di depan si Raksa, panggilan buaya raksasa di Pantai Barat.


Gemas Kharisma mengusap- ngusap kepalanya. Berselfie ria sekalian mengajak Lia.


Udelia tersenyum canggung. Manik mata makhluk besar itu terus menatap padanya.


Apa dia akan di'mangsa'?


Karena paksaan Kharisma, akhirnya Udelia mengusap kepala buaya.


Aneh. Dia tidak merasakan kulit kasar tapi sebuah kumpulan benda yang terasa lembut seperti rambut.


Udelia menoleh pada Kharisma dan bertutur, "Ini kepalanya lembut sekali."


"Iya lembut."


Jadi, semuanya hanya sekadar khayalan.


"Lembut seperti jeli. Haha. Becandaanmu kurang bagus Lia. Masa ada kulit buaya lembut, kecuali sudah disamak."


Udelia tidak lagi bertanya. Dia terus memperhatikan dan merasai kepala buaya, yang terus terasa seperti rambut manusia.


Hari itu tidak lagi dia mimpikan adegan panas bersama si buaya jadi- jadian.


Djahan yang masih lemah akhirnya ditemani Udelia untuk pulang.


Liburan sepekan terpangkas habis menjadi dua hari saja.


Wara yang paling semangat untuk membawa pulang Djahan yang masih demam.


"Kamu urus Nak Djahan saja, sayang. Nanti barangmu dibawakan Jo. Kasihan dia tidak ada yang merawat."


Udelia ingin sekali membantah ayahnya.


Tidak ada yang merawat apanya!?


Udelia bahkan melihat sendiri deretan pasukan berjas hitam yang siap siaga memantau kondisi Djahan.


Udelia menahannya. Dia masih memiliki rasa segan dan tidak mau ayahnya menjadi malu karena bantahannya. Terlalu banyak manusia di sekitar.


Akhirnya Udelia menginap di rumah sakit. Mengurus Djahan yang lemah.


Walau tidak mengajaknya, Udelia turut bertanggung jawab karena Djahan sakit dalam masa liburan bersama keluarganya.


"Udel, aku mau bubur di pinggir gor, bisa?"

__ADS_1


"Em. Aku belikan."


"Tidak. Suruh saja orang di luar. Kamu pasti sudah capek seharian ini menemaniku dari tempat wisata sampai ke sini."


Udelia tidak membantah. Dia keluar dari ruang rawat Djahan dan mencari orang di luar.


Tidak dia dapati para penjaga yang biasanya berdiri tanpa gangguan. Yang ada hanyalah Fusena.


Udelia meringis. "Sena, bisa minta tolong?" ucapnya.


"Ya, mbak. Katakan saja."


"Tolong belikan bubur di pinggir gor. Dua ya?"


"Baik, mbak."


Fusena dengan enteng kembali turun menuju lantai dasar. Padahal dia baru saja menjejakkan kaki ke lantai tujuh di rumah sakit besar kota, tempat Djahan dirawat.


Djahan mengulum senyum. Tidak akan dia biarkan Fusena mendekati Udelia.


Sudah waktunya Djahan menjadi egois.


Di sini tidak ada suami kedua dan suami ketiga Udelia, Fusena hanyalah seorang sepupu.


Djahan akan memiliki Udelia.


"Udel, apa kamu tidak memiliki perasaan akrab saat bersama denganku?" buka Djahan.


"Perasaan akrab ya? Ada dikit. Tapi sikap nyebelin kamu buatku jadi ragu. Memangnya kita sedekat itu?"


"Kalo kubilang kita suami istri. Apa kamu percaya?"


"Ngaco. Aku masih ting ting. Belum pernah terjamah ya. Gini- gini, meski aku masuk ke teknik dan banyak kenalan pria, aku adalah penganut adat keTimuran. Tidak akan mau dijamah sebelum menikah."


Udelia terdiam. Dia menyadari ada yang salah dalam kalimatnya.


Dia duduk bersandar dengan lesu.


"Sampai kamu mengacaukan segala prinsipku. Kenapa kamu serampangan memasukkan burungmu ke sarang yang tak dikenal!?!"


"Karena kenal sarangnya maka burungku mendarat. Mana mau dia mendarat ke sarang yang tak dikenal. Kita selalu menghabiskan malam yang panas loh, saat pernikahan kita."


"Tapi aku tak ingat."


"Kalau begitu apa kamu mau belajar mengingatku lagi? Besar kemungkinannya kamu tidak akan lagi ingat. Dunia kita sangat jauh."


"Ya. Sangat jauh. Kamu dari keluarga konglomerat. Aku hanyalah keluarga petani kecil."


"Ssst. Bukan begitu."


Djahan membenarkan posisi duduknya. Dia paling tidak suka membicarakan latar keluarga, di mana manusia tidak dapat memilih di keluarga mana dia dilahirkan.


Baginya, cukup Udelia. Masalah keluarganya, Djahan akan menerima selama mereka tidak membuat kegaduhan dan mengacaukan hari- harinya bersama Udelia.


"Maksudku dunia kita sangat jauh. Karena aku ada sejak ratusan tahun lalu. Aku Djahan Mada, Mahapatih Bhumi Maja. Mahapatih yang kamu pelajari di bangku sekolahmu dan di dunia kerjamu."


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]

__ADS_1


__ADS_2