![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
049 - SAMPAI KAPAN KALIAN TERUS BERPERANG?
"Sayang, mohon jangan banyak pikiran. Aku sudah legowo menerima isian Lontar Sabda Wahyu yang turun di kuil langit. Tidak usah memikirkanku. Juga dia. Kami akan akur menjadi suamimu. Bukan begitu, Maharaja?" ucap Djahan. Mengulas senyum.
Meski ujung bibirnya berdenyut nyeri, karena dia paksakan untuk tersenyum lebar.
Senyum terpaksa.
Untungnya dia sudah profesional.
Terlihat dalam mata Udelia, sang suami pertama tersenyum dengan tulus.
"Ya. Sayang, aku dan Mahapatih tidak akan ribut lagi. Pikirkan saja bayi ki.ta. Dia butuh ibu yang tenang hatinya," balas Hayan.
Dia masih saja mengakui bayi itu.
Udelia menatap keduanya bergantian.
Lantas mengangguk patuh.
Dia tidak akan memikirkan pertarungan mereka.
Keduanya terlihat tulus di mata Udelia.
"Kemarikan tangan kalian," pinta Udelia.
Djahan dan Hayan langsung meraih tangan Udelia yang menengadah.
Udelia menyatukan dua tangan suaminya.
Melihat mereka yang terus tersenyum padanya.
"Baik. Kalian jangan bertengkar, ya? Janji?" Udelia mengeratkan kedua tangan pria beda usia itu.
Keduanya mengangguk patuh.
"Kami tidak akan bertengkar," tutur keduanya.
Sekilas mereka masih saja memandang penuh dendam.
Djahan mungkin akan memikirkan perdamaian andaikan Hayan tidak mengaku- ngaku perihal anaknya.
Meski kelak Hayan akan terbukti tidak memiliki hak atas anak itu, Djahan ingin mendapatkan kesempatan untuk menjadi calon ayah yang siaga.
Dan semua itu dicuri Hayan!!!
"Karena sudah tiga bulan kalian bersama. Apa boleh aku meminta waktu untuk bersamamu, sayang?"
Lihatlah! Karena ulah Hayan yang mengaku- ngaku memiliki hak atas anak itu, Udelia sampai harus meminta izin pasa Hayan.
Udelia menatap Hayan minta persetujuan.
Bagaimanapun dia sedang mengandung benih pria itu.
Takut terjadi masalah bila bercampur dengan orang lain.
Karena kehamilan yang dia bawa, tidak bisa diperiksa oleh orang biasa.
Yang Udelia tahu, orang zaman dahulu memiliki ilmu tak kasat mata yang kuat.
Dia takut bayi dalam kandungannya tidak kuat menerima aura dari aura milik orang lain.
"Aku akan merasa bersalah bila merebutmu dari suamimu," cetus Hayan bijak.
"Apa emmm... bayinya tak masalah?" tanya Udelia hati- hati.
Yang bersamanya adalah pria yang dia cintai, bagaimana bisa dia tidak khawatir untuk menghabiskan malam?
Kali ini Hayan yang merasa kesal.
Udelia bertanya bukan hanya tentang kondisi bayi dalam rahimnya.
__ADS_1
Pertanyaan yang sesungguhnya ialah, apa boleh dia menampung benih orang lain sedangkan dia sedang hamil benihnya?
Hayan ingin sekali menolak.
Tapi jiwanya mengatakan dia seharusnya tidak boleh serakah.
Udelia tidak suka orang serakah.
"Tidak masalah, sayang. Asalkan kamu jaga kondisi tubuhmu. Tiga bulan lagi... aku jemput kamu," kata Hayan mencoba legowo.
Lagipula dia harus mengerjakan penelitian salah satu prasasti di sebuah gunung, yang baru Hayan sadari hadir dengan sendirinya.
Mungkin orang- orang itu benar. Bahwa gunung yang dimaksud bukanlah gunung, melainkan peninggalan zaman dahulu.
Yang membuat rumit dirinya adalah bila peninggalan itu adalah peninggalan generasi setelahnya.
Hayan tidak tahu tentang yang terjadi saat dia tinggalkan semua, demi bersama pujaan hatinya.
Di sebuah lapang luas, dua pasang pasukan saling berhadapan.
Di depan keduanya nampak sosok yang mirip wajahnya, meski berbeda jenis kelamin
Seorang wanita dengan makuta megah di kepalanya.
Dan seorang pria dengan ikat kepala emas melingkar di kepalanya.
Mereka berhadapan dengan tegas, meski wanita dengan deretan emas di tubuhnya, sesekali menghela napas dan terlihat ragu.
"Jenderal Nala, haruskah aku serang adikku itu? Apakah nanti Maharani akan bangun dan membenciku? Dia hanya ... adik kecilku."
Sang wanita meminta pendapat jenderal besar di sampingnya.
Pria itu. Meski berwajah datar, jangan tanyakan isi di hatinya.
Dia ingin sekali pergi dan moksa sekalian.
Berada di antara keributan dua keturunan penguasa bukanlah hal baik.
Tapi identitasnya sebagai seorang jenderal, tidak bisa menahan diri untuk memaafkan musuh yang telah mengacungkan senjata pada tuannya.
"Lakukan, Yang Mulia. Dia sudab berani mengacungkan kerisnya. Kalau saja dia memiliki kekuatan sihir, dia akan menembus melalui kerisnya. Dia sudah sepantasnya dihukum."
Jenderal Nala menggigit bibirnya kala mengatakan kalimat terakhir.
Darah dalam tubuhnya menggelak tak tentu arah.
Matah terhadap kalimat yang dia ucapkan melalui mulutnya.
Jiwanya tak terima bila dia berat bersama salah satu anak keturunan langsung dari Maharaja Bhumi Maja yang paling besar.
Rasanya dia seperti melihat kejatuhan negeri yang besar ini.
Amat sedikit kerajaan yang mampu merendam amarah dua penguasanya.
Satu karpet dapat memuat ribuan cendikia, tapi satu dunia tidak dapat menampung dua orang raja.
Jenderal Nala mempersiapkan pasukannya, kala dia mendapat kode untuk mulai melakukan serangan.
Baik Jenderal Nala, maupun Sang Maharatu Bhumi Maja di atas singgasana punggung gajahnya.
Mereka mungkin berwajah datar.
Namun air mata tetap lolos membasahi pipi mereka.
Terbang berderai, ketika angin kencang dari pertemuan dua pasukan menerbangkan banyak benda di sekitar mereka.
Kedua pasukan, yang tak jauh serupa bentuk tubuh dan permainan gerak senjata mereka, saling berjumpa dan berusaha menancapkan tiap senjata yang mereka pegang.
Sapuan debu tidak menghalangi mereka untuk bertempur sekuat tenaga.
Selain mematuhi kehendak tuan mereka.
__ADS_1
Mereka sama- sama tak mau bila dua anak keturunan Maharaja paling kuasa dan perkasa, turun bertarung saling membunuh.
Tanah ini tidak menghendaki tumpahnya darah setali.
Mereka juga tak dapat membayangkan bila dua kekuatan besar saling berjumpa.
Kekuatan keduanya bukan omong kosong.
Lebih baik mereka saling berkorban.
Demi kepatuhan mereka, juga keutuhan pulau yang mereka cintai.
Sayatan demi sayatan tergores pada kubu lawan. Keduanya.
Mereka sama seimbangnya seperti majikan mereka.
Barulah ketika sesosok pria berjubah terbang menutupi mentari, pasukan Maharatu terdesak ke belakang.
Mereka merasakan sesak yang luar biasa.
Maya Lopika Wijaya, nama asli Maharatu Bhumi Maja yang sudah lama terlupa.
Maya menjejaki punggung gajah yang polos.
Dia meloncat tinggi. Menusukkan sebilah keris pada sosok yang membuat sesak itu.
Sempat raga itu bereaksi untuk melawannya.
Mata mereka saling berjumpa.
Tangan sosok di atas burung, turun terkulai.
Dia menatap intens pada mata hitam yang menatapnya penuh tekad.
Lantas dia menunduk. Memperhatikan wajah merah yang marah padanya.
Ah. Dia harus apa?
Keduanya adalah kakaknya.
Walau sempat dikendalikan oleh pria di bawah sana, dia juga enggan untuk melakukan apa pun yang membuat keduanya sakit.
Perlahan sebuah cahaya menyilaukan sekitar.
Raka Ekadanta, Sang Penyihir Praguwa, begitu julukannya yang terkenal, mengeluarkan cahaya besar menyilaukan bagai sebuah matahari baru.
Dia menarik Maharatu Bhumi Maja untuk berlari dari medan perang.
"Apa -apaan kamu! Semua orang akan berpikir aku adalah pengecut!"
Raka tak bersuara.
Dia mengobati luka bakar di lengan Maya, akibat dari serangannya.
Matanya memerah.
Hatinya amat mudah tersentuh, seperti sang Ibunda.
Maya membuang wajah.
Mata itu..
mirip sekali dengan ibundanya tercinta.
Tidak kuat hatinya bila melihat mata itu berair.
"Sampai kapan kalian terus berperang?"
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]