TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
MEREKA BERTARUNG DENGAN HEBAT 2


__ADS_3

"Hentikan Hayan!!" teriak Udelia tak terima. Udelia tak suka pemaksaan.


Udelia membuat perisai di sekitarnya. Menahan tubuh Hayan yang hendak mendekat padanya.


"Jangan memaksakan diri!" bentak Hayan.


Itu adalah bentakan kedua sepanjang waktu mereka saling mengenal. Udelia menggigit bibirnya karena hatinya terasa sakit.


Hayan menembus perisai dengan mudah. Kekuatan Udelia belum lama pulih dan tidak bisa dibandingkan dengan kekuatannya.


Hayan mencengkeram pergelangan tangan Udelia. Memaksa Udelia membatalkan kekuatannya.


Udelia tak habis pikir. Dia menggunakan barang-barang sekitar. Melemparnya ke tubuh Hayan.


"Apa tidak masalah kita biarkan saja?" bisik seorang pengawal rumah utama Kedaton Sedap Malam.


Dari dalam rumah terdengar suara lemparan perabot yang menimbulkan kebisingan.


"Kamu mau ikut pertempuran seperti itu?" balas pengawal lain dengan sinis. Mereka bernapas di dekat Maharaja saja susah, bagaimana mungkin berani melerai Maharaja dan Maharani yang sedang bergulat?


"Jangan ikut campur. Ini pertengkaran suami istri. Yang penting tidak ada korban di luar sini," lempar pengawal lain yang ada di dekat mereka berdua.


"Hayan, kamu akan menyesal," lontar Udelia dari bibirnya yang berdarah. Suaranya hampir tak terdengar. Terlukis jejak tangan di lehernya.


Mereka bertarung dengan hebat.


Kaki dan tangan Udelia terikat kuat. Hayan menyegel simpulan tangan Udelia di kaki ranjang.


"Jangan beri tatapan menggoda begitu. Tidak ada lelaki yang bisa menahannya," seloroh Hayan lalu menjauhkan diri daripada dia benar-benar tergoda.


"Benar sekali, Idaline sangat menggoda, tak seperti Udelia. Kemarilah Hayan ambil tubuh ini dan aku kembali!" berang Udelia tak terima dengan posisi hina.


Terbaring di atas ranjang dengan tangan dan kaki terikat di empat sisi ranjang.


"Guru sudah kembali, jika bisa," ejek Hayan sembari mengikat lengannya yang patah oleh ulah Udelia.


Udelia dan Hayan sama mengenaskannya. Mereka saling serang dan saling balas. Hayan menurunkan kekuatannya sepadan dengan Udelia.


"Dan bagaimana kalau kukatakan, aku selalu menggunakan tubuh guru setiap malamnya?" bisik Hayan ketika mengoleskan salep ke pipi Udelia.


"Dasar gila!"


"Aku hanya menghangatkan tubuh yang dingin itu. Ingin melihatnya?"


Hayan mengusap jari-jemari Udelia yang mengelupas. Pertarungan mereka begitu dahsyat.


"(Sinting!)"


"Terima kasih."


Hayan menempelkan salep terakhir ke leher Udelia. Kemudian Hayan mendekatkan wajahnya. Menyesap daging yang sejak tadi terus mengeluarkan sumpah serapah.

__ADS_1


Udelia mengigit keras lidah Hayan yang berusaha masuk. Hingga lidah Hayan berdarah. Hayan tetap memaksakan ciuman pada istrinya. Udelia merasakan amis darah di mulutnya.


Belum sempat Udelia mengambil napas, dia merasakan hawa panas berhembus di lehernya. Membuatnya tergelitik. Membawa sensasi aneh.


"Hayan jangan.." Udelia memohon.


 Hayan tidak menghiraukan Udelia. Dia terus saja menjelajahi leher Udelia. Rindu pada tubuh itu sudah menggebu sejak belasan tahun silam.


Hanya bersama istri yang dicintainya, Hayan tidak dapat menahan diri.


"Jangan Hayan..."


Udelia meremas seprai dengan kuat. Menahan desah yang hendak keluar. Tidak ingin memuaskan pria lain lagi. Udelia cukup bersama dengan Djahan.


"Djahan tidak akan pernah melakukannya —AW!!"


Suara lengkingan Udelia terdengar hebat. Hayan menerobos inti tubuhnya tanpa persiapan berarti. Raga Idaline telah lama tidak dijamah. Rasa sakitnya sangat mendera.


Hayan meringkuk di atas Udelia dengan kedua tangannya bertumpu di sisi kepala Udelia.


"Dia tidak pernah melakukannya, karena kamu selalu mengangkang untuknya," bisik Hayan diam menahan diri.


Karena terlalu marah mendengar Udelia menyebutkan nama pria lain, Hayan terlupa tentang milik Idaline yang sempit.


Dia menerobosnya tanpa persiapan.


"Aku mohon.. ini sakit sekali.." pinta Udelia berharap Hayan menghentikannya.


"Bertahanlah!"


Burung di dalam sangkar merasa nyaman, tak mau keluar dan ingin tinggal di dalamnya.


Hayan memberikan kecupan dan hisapan, memberi nikmat pada lawan mainnya, sembari menghentak-hentakkan tubuhnya, menggapai posisi terdalam dalam liang basah yang sangat memabukkan.


"Hayan.."


Udelia tidak dapat merasakan kenikmatan. Yang ada hanyalah rasa sakit mendera di pusat tubuhnya.


Panggilan Udelia yang meminta Hayan untuk berhenti justru disalahartikan. Hayan semakin cepat mencari puncak kenikmatan.


Mengabaikan Udelia yang merintih kesakitan.


***


"Pergilah. Aku ingin sendiri," ucap lemas Udelia lalu berbaring menghadap tembok. Dia menolak untuk dimandikan. Yang dia inginkan hanyalah istirahat.


"Baik, Yang Mulia."


Udelia menatap kosong keris yang tergantung di dinding. Terhuyung langkahnya dalam percobaan mengambil keris itu.


Kakinya berjinjit. Tangannya meraih ujung keris yang ditempatkan di tempat tertinggi. Sesaat kemudian dia mampu menggenggam badan keris.

__ADS_1


Nahas, keris jatuh ke tanah. Susah payah Udelia membungkuk, menampakkan sumber makanan Rama yang tidak terbalut kain.


"Apa kamu sedang menggodaku?" sarkas Hayan pada Udelia yang membungkuk di depannya, berusaha mengambil keris yang terjatuh.


"Percuma saja," kata Hayan sambil memandang arah lain. Dia tidak mau kecolongan lagi. Tiga ronde tidak membuatnya puas. Namun dia sadar Udelia baru sembuh dari sakit di jantungnya.


Hayan tak mau memaksa.


Suara derit keris keluar dari sarungnya mencuri perhatian Hayan. Dia terbeliak kala Udelia mengarahkan keris itu ke arah dada.


Hayan melempar teh panasnya. Tak dia indahkan saat teh itu terkena kakinya.


Darah dari jantung Udelia muncrat ke wajah Hayan. Ia tangkap tubuh yang hampir tersungkur ke belakang.


"Djahan.. kita bertemu lagi," lirih Udelia menyentuh wajah Hayan. Tangan itu terkulai bersamaan kesadaran yang perlahan hilang.


Maharaninya menusuk dirinya sendiri dengan keris Mpu Gandring.


Sosok bayangan pria besar muncul di belakang Hayan. Semburat di wajahnya menunjukkan amarahnya yang besar.


Fusena datang.


Petapa Agung datang tanpa keramahan di wajahnya. Dia meraih raga Idaline, membawanya ke sisi raga Udelia.


Sumpah serapahnya tercekat di tenggorokan. Ada masa depan putra putri sepupunya. Dia tidak mau menyumpahi Bhumi Maja.


Bagai pesakitan, wajah Hayan terlihat pucat. Dia berdiri di sisi Petapa Agung.


Dalam keheningan, gumpalan putih keluar dari tubuh Idaline. Fusena mengarahkan tangannya pada raga Udelia. Memindahkan gumpalan putih dari tubuh Idaline ke tubuh Udelia.


Fusena mengambil dua liontin dari kantong baju Udelia, mengumpulkannya ke atas perut Udelia, lantas mengarahkan dua tangan Udelia untuk saling bertumpuk.


Tubuh Udelia mengeluarkan cahaya yang membutakan mata.


Hayan sontak terpejam.


Ketika suasana telah kembali normal, mata Hayan perlahan terbuka. Mengedarkan pandangannya mencari Maharaninya dan Petapa Agung.


Sayangnya di ruangan itu hanya tinggal Hayan dan raga Idaline tanpa jiwa.


Hayan jatuh tersungkur. Kebodohannya membuat semua hancur berantakan.


Kekasih hatinya kembali pergi meninggalkannya. Jauh dan tak terjangkau oleh seluruh kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya.


Kekasih hatinya pergi dengan membawa luka kehilangan dan luka kesedihan.


Udelia pergi tanpa mengetahui keberadaan Djahan.


Udelia pergi meninggalkan kondisi buah hatinya yang sedang jatuh sakit.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••

__ADS_1


ꦱꦺꦭꦺꦱꦲꦶ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


__ADS_2