![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
Klenting Kuning menepuk-nepuk pundak Udelia dan berlalu pergi ke ruangan yang ditunjuk sang nyonya rumah.
Para perempuan yang berkumpul di taman, serempak menatap Klenting Kuning dengan berbagai ekspresi.
Ada yang iri dengan kecantikannya, ada yang menatap aneh dengan kelakuannya yang tak sopan, ada yang berdecak sebal karena malu dengan kelakuannya.
Klenting Kuning tidak memedulikan semua itu. Dia bahkan masuk ke ruangan dengan riang dan terdengar menyapa keluarga angkatnya.
"Memalukan," desis pelayan yang berada di samping Udelia. Pasalnya rombongan nyonya rumah itu sudah lumayan jauh dari ruangan yang ditempati keluarga Klenting.
Udelia menatap wanita di sebelahnya dan bergegas wanita itu memohon ampun.
"Aku tidak masalah dengan pemikiran kalian atas suatu hal. Tapi simpan baik-baik di dalam kepala. Kalian pelayan keluarga Ekadanta, turut serta membawa nama Ekadanta."
"Kami mengerti Nyonya."
Udelia tidak memperpanjang masalah. Mereka langsung menuju ruangan lain, kemudian terakhir menyapa orang-orang di taman.
***
Udelia menghempaskan tubuhnya yang terasa remuk. Keluarga dari para selir dan gundik tidak menyia-nyiakan kesempatan, saat berada di kediaman orang besar.
Banyak dari mereka terang-terangan ingin mencari penghidupan di Wanua Batako, yang dikuasai Ekadanta.
Udelia sama sekali tidak keberatan. Masalahnya ialah mereka menggunakan nama Ekadanta, untuk menekan orang-orang, bahkan tak jarang meminta barang dan makanan secara gratis.
Orang-orang itu sangat licik. Mereka meminta makanan dari pedagang kecil, agar beritanya tak sampai ke kediaman Ekadanta.
Mereka tidak pernah berpikir, bahwa pintu rumah Ekadanta selalu terbuka lebar untuk siapa pun.
Mereka pasti mengira semua bangsawan hanya mau bergaul sesama mereka.
Candra belum mengetahui masalah ini. Suaminya itu sedang sibuk membuka bisnis baru.
Keluarga Ekadanta menghasilkan banyak uang. Namun suaminya berkata dia lebih senang menghasilkan uang sendiri untuk kehidupan pribadi, bukan kehidupan Tuan besar dan Nyonya besar Ekadanta.
Jika harus tampil sebagai Tuan dan Nyonya besar Ekadanta, Candra tak segan menghamburkan banyak uang. Tapi ketika membeli barang-barang pribadi, Candra ingin membelinya sendiri.
Andaikan dia masih bekerja sebagai pegawai di Keraton, penghasilannya akan setara dengan yang didapatkan keluarga Ekadanta.
Tentu Candra tidak mau. Dia lebih memilih mengembangkan bisnis, dengan segudang pengetahuan yang dahulu diajarkan istrinya.
Udelia memijat keningnya. Dia ingin melaporkan hal ini pada sang suami, namun sang suami pasti lelah. Udelia memutuskan untuk mencari waktu yang tepat.
Ketika mata Udelia hampir terpejam. Sayup-sayup dia mendengar suara ketukan pintu.
Dia mengernyit. Tidak biasanya ada orang mengetuk pintu kamar. Para pelayan memiliki jadwal mengurus kamar ini, mereka akan masuk saat Udelia membiarkan pintu terbuka.
Kalau ada kabar mendesak, mereka pasti bersuara mengatakan tujuan kedatangan mereka.
Udelia menunggu suara meminta izin, namun suara ketukan yang kembali terdengar.
Akhirnya Udelia bangkit dari kursi dan membuka pintu kamar.
Mata Udelia hampir copot. Di depannya ada Klenting Kuning si perempuan jelita. Perempuan itu mengenakan pakaian tak senonoh.
Setengah kakinya atau bahkan seluruh kakinya tidak tertutup kain. Perempuan itu seolah hanya mengenakan kemben.
"Syukurlah kamu yang keluar. Bukan suamimu."
Mendengar suaminya disinggung, Udelia jadi berpikir perempuan ini hendak menggoda suaminya. Dia menatap tajam Klenting Kuning dan menghempaskan pintu di depan wajahnya.
__ADS_1
Tak lama terdengar suara Klenting Kuning berbicara dengan seorang pria, Udelia sanagt mengenalnya. Suara itu adalah suara suaminya.
Udelia mendekatkan telinganya ke daun pintu dia mendengar kalimat-kalimat yang mencurigakan.
"Kamu kenapa di sini?!"
"Loh. Sepupu. Aduh malu."
"Saya bukan sepupumu!"
"Ya kamu mau kujadikan suami malah nolak. Kalo jadi suami kan bukan sepupu lagi. Kita bisa menghabiskan malam seperti hari malam itu."
"Pergilah!"
"Aku mau ketemu istrimu."
"Pergi!"
"Apa sih galak pisan?"
"Saya bilang, pergi! Apa kamu tuli?"
Lantas Udelia mendengar suara grasak grusuk. Dia membuka pintu lebar-lebar, menghentikan aksi Candra yang sedang menyeret Klenting Kuning.
Jika orang lain menganggap Candra sedang berlaku kasar pada perempuan itu, Udelia justru berpikir mereka sedang menunjukkan kedekatan mereka.
Udelia merenggut. Dia melepas tangan keduanya, hingga tampak bekas kemerahan di tangan mereka.
"Apa kalian tidak paham batas-batas antara pria dan wanita?!" sungut Udelia.
Dia menarik tangan Candra dan memaksanya masuk ke dalam kamar. Lalu dia berdiri menjulang di depan Klenting Kuning.
"Jangan deket-deket suamiku!"
Udelia mendelik tajam. Dia tinggalkan Klenting Kuning yang berceloteh dalam bahasa aneh. Kemudian dia memasuki kamar.
Suara debam pintu terdengar keras.
Candra berdiri dengan kikuk. Mata istrinya terasa menghunus jantungnya. Dia tidak melakukan kesalahan, namun mata penghakiman istrinya membuatnya merasa telah melakukan dosa besar pernikahan.
Candra mendekat dengan ragu, dia tidak mau menyakiti istrinya, bahkan bila itu hanya sebuah kesalahpahaman.
Langkah kaki Candra mundur ke belakang, ketika istrinya justru melangkah maju ke arahnya.
Candra terus mundur ke belakang, hingga kakinya menyentuh ranjang dan terjerembab di atasnya.
Candra melotot ketika seluruh perhiasannya ditanggalkan, kemudian sang istri duduk di atas tubuhnya.
Udelia membelai dada polosnya, membuat seekor cacing kecil berubah menjadi ular raksasa.
Candra menggigit bibirnya berusaha menahan perasaan yang menggebu. Sangat tidak mungkin baginya untuk menyerang istrinya di saat seperti ini.
Candra menahan segala gejolak dalam dirinya. Sampai kemudian dia tidak tahan dengan godaan dari istrinya.
Satu ******* lolos dari mulutnya, kala sang istri menjilati telapak tangannya.
Aneh memang. Bagian sensitif Candra justru berada di tempat yang tidak biasa.
Mungkin saja karena pengaruh kutukan, atau karena tangannya selama ini tidak menyentuh banyak benda.
"Mas, kamu milikku!"
__ADS_1
"Kamu milikku!"
"Kamu milikku!"
"Tidak boleh ada wanita lain!"
Setelah puas meneriaki suaminya, Udelia memberikan hukuman berat untuk Candra.
Hukuman yang sama-sama mereka nikmati.
***
Udelia terbangun ketika langit sudah gelap. Dengan lembut dia membangunkan suaminya, namun suaminya tetap terlelap.
"Mas, makan dulu."
Sekali Udelia menggoncang lembut tubuh suaminya, suaminya tidak sedikit pun berekspresi. Tidak terganggu, juga tidak menampakkan ekspresi tak suka akibat goncangannya.
Udelia menyerah. Dia harus menyambut para tamu. Malam ini banyak pejabat penting, yang baru datang pada sore hari.
Udelia memanggil kepala pelayan pria, memerintahkan beberapa tugas sebelum Udelia keluar menyambut tamu.
Perjamuan malam itu berjalan lancar. Mereka adalah orang-orang cerdas yang mampu membaca situasi.
Mereka akan menilai dengan hati-hati pada setiap perbuatan, perkataan, dan keputusan mereka.
Di Bhumi Maja, perempuan tidak dipandang remeh. Apalagi baru priode kemarin, ibu dari Maharaja memimpin dan memajukan negeri.
Pada dasarnya perempuan lebih teliti, asalkan mereka tidak terlalu dalam menggunakan perasaan.
Walau akhir-akhir ini para pejabat wanita berkurang drastis, akibat menurunnya kualitas para perempuan, tetap tidak ada laki-laki berpendidikan yang meremehkan wanita.
Saat Udelia keluar dan menyapa, mereka menyapa sebagaimana sebagian mereka saling menyapa.
Mereka tidak meremehkan perempuan, tapi mereka tetap mempertanyakan kualitas wanita dari kalangan rakyat jelata.
Kendatipun tidak menunjukkan ekspresi mereka, mereka memberikan pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya tidak muncul di meja perjamuan.
Seperti bertanya perihal pasal-pasal hukum, bertanya seputar perhitungan, dan bertanya tentang kekuatan yang dimiliki Udelia.
Udelia tidak ingin melakukannya, sebab dia tidak pernah berlatih. Tapi karena pembicaraan mereka yang sangat seru, tanpa sadar Udelia berkata iya.
Udelia mengingat setiap arahan Boco, kakek Candra, ketika mengajarinya ilmu sihir yang pada akhirnya tidak jadi karena Udelia harus bersiap-siap masuk ke rumah Ekadanta.
Para pelayan menyingkirkan meja dan kursi dari panggung, tempat Tuan dan Nyonya besar Ekadanta.
Udelia duduk bersila, dia memusatkan pikiran pada satu titik kecil di dalam otaknya.
Sebuah energi terkumpul di depan kening Udelia.
Para hadirin menatap takjub. Meskipun energi yang muncul sanagt kecil, ukuran itu sudah terlalu besar dikuasai seornag rakyat jelata, yang tidak pernah berlatih.
Mereka semakin takjub melihat energi itu semakin membesar. Kemudian teriakan sang Tuan besar menghancurkan harapan mereka, untuk melihat kekuatan Nyonya besar.
"BERHENTI!!"
Lengkingan suara Candra menarik paksa kesadaran Udelia.
Perempuan itu terbatuk hingga mengeluarkan darah, lalu jatuh tak sadarkan diri.
••• BERSAMBUNG •••
__ADS_1
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]