![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]
028 - MENYAMBUT ULURAN TANGAN ISTRINYA
"Sayang, ada yang membuatmu ragu?" tanya Djahan.
Tatapannya teduh. Suaranya tegas.
Udelia merasa mabuk hanya dengan mendengar suaranya.
"Aku penasaran. Di mana Fusena bertapa? Masih ada orang bertapa di zaman ini?"
Djahan tidak menghilangkan senyumnya saat Udelia mengatakan keraguannya. Dia justru menunjukkan jalan untuk istrinya.
Pergi ke gunung tempat Petapa Agung bertapa.
"Sekarang?" ajak Djahan teguh. Tidak ada ragu di matanya.
Udelia menerima ajakan Djahan. Ingin membuktikan sendiri, benarkah kisah tak masuk logika itu?
Sebuah mini bus keluaran terbaru, berhenti di depan kantor Udelia.
Jam kerja Udelia sudah selesai, mengingat baru hari pertama dan tidak banyak pekerjaan.
Hanya memeriksa kelengkapan hardware yang selamat di antara reruntuhan plafon kantor. Menyambungkan kembali kabel- kabel yang terpaksa diputus.
"Kamu kuat naik mobil?" tanya Udelia heran.
Yang dia lihat dalam drama transmigrasi, orang kuno akan mabuk kendaraan yang belum mereka tumpangi.
"Apa aku selemah itu?" balas Djahan tersenyum lembut.
Udelia tidak lagi bertanya. Dia memasuki mini bus yang belakangnya telah disulap menjadi tempat rebahan yang nyaman.
Ada kasur, ada kulkas kecil, tak lupa hidangan di meja.
Udelia sampai berdecak kagum. Djahan merasa tenang. Udelianya senang dengan suasana mini bus rancangannya.
Sudah lama Djahan membuat rencana untuk mereka berdua, kendatipun Udelia belum menunjukkan ketertarikan.
Djahan sangat yakin. Udelia akan menjadi istrinya. Lagi.
Udelia menikmati perjalanan bersama Djahan. Semua yang dia perlukan benar- benar tersedia.
Sesuai dengan keinginannya.
Hidangan di dalam mobil. Pemandangan di luar mobil.
Semua sesuai dengan khayalnya.
Makanan dan minuman yang nikmat, kasur empuk di dalam mobil, tak lupa kaca mobil yang terlihat jelas dari dalam, namun tidak akan dapat diintip dari luar mobil.
Djahan selalu menggenggam erat tangan Udelia. Tidak pernah mau terlepas darinya. Sudah cukup sepuluh tahun mereka berpisah.
Djahan tak kuasa bila lagi- lagi berpisah dari istrinya.
Jika kelak dia harus berbagi, mungkin dia akan berpikir banyak. Sebelum membuat keputusan yang gegabah.
Djahan menatap binar mata Udelia yang terus menunjukkan ketertarikan pada alam sekitar.
Selalu saja istrinya senang dengan yang namanya alam.
Ternyata, meski menguasai benda bernama teknologi, istrinya tetap saja senang dengan alam.
"Udelia.." panggil Djahan menggantung.
Dia lebih senang memanggil 'istriku', tapi dia menahan diri. Dia tidak mau membuat Udelia tak nyaman.
__ADS_1
Manik mata Udelia mengerjap berulang kali. Merespon panggilan Djahan tanpa suara. Sangat lucu dalam pandangan Djahan.
Pria itu merapikan anak rambut yang susul menyusul turun di kening Udelia, karena empunya mendongak ke atas.
Menjadikan kening Udelia polos tanpa rambut.
Djahan menjatuhkan bibirnya ke kening Udelia. Mencium lembut benak Udelia.
Udelia membeku. Hendak memprotes, tapi wajahnya tiba- tiba saja kejatuhan bulir air. Tetes demi tetes.
Djahan menangis.
Pria itu sering menampakkan kecengengannya di depan Udelia, tapi Udelia tidak lagi merasa risi. Tangannya terjulur. Mengusap genangan air yang hampir terjatuh.
Ada apa dengan hatinya?
Dia ikut merasa sakit melihat air mata itu.
"... jangan tinggalkan aku."
"Aku tidak akan meninggalkanmu," kata Udelia tegas.
"Berjanjilah untuk tidak berpaling dariku." Lagi, Djahan menuntut janji.
Tidak berpaling?
Entah kenapa lidah Udelia kelu untuk menjanjikan satu hal itu.
Djahan terus menunggu ikar janji Udelia yang kedua.
Ternyata sampai ke tempat tujuan, Udelia tidak lagi bersuara.
Istrinya tidak dapat menjanjikan kesetiaan?
Djahan lagi- lagi menitikan air matanya.
Tapi, dia tidak dapat menahan air di pelupuk mata. Selalu terjatuh tiap kali berusaha menahannya.
Tangan Udelia bergerak. Menghapus bulir air di pipi Djahan.
Sakit hatinya melihat mata Djahan memerah karena dirinya. Tapi lidahnya benar- benar tak kuasa untuk menjanjikan kesetiaan.
Wanita macam apa dirinya?
"Udelia, menikah denganku!"
Suara mengadu bak anak kecil menghilang ditelan bumi. Suara Djahan berubah. Dia mengeluarkan suara beratnya.
Menyiratkan dia ingin berbincang dengan serius.
Udelia terdiam. Sirat sakit masih terlihat di mata Djahan.
Pria itu berjanji mau memberinya waktu, lantas gegabah hanya karena dia sulit mengeluarkan janji setia?
"Apa ada yang terjadi?" balas Udelia.
Walau hatinya merasa sudah sangat mengenal Djahan, namun dia baru mengenal Djahan dua bulan lamanya.
Terlalu cepat dalam logikanya.
Bukan hal bagus memutuskan pernikahan dalam masa perkenalan dua bulan saja.
"Apa benar penuturan Fusena, aku punya suami lebih dari satu?" cecar Udelia.
Djahan terpaksa mengangguk. Dia mau berbohong pun, Udelia akan menemukan kebenarannya.
Udelia bukan wanita yang bodoh. Wanita itu istimewa. Istrinya selalu punya hal unik yang mengejutkannya.
__ADS_1
Maka, adalah hal bodoh bila dia berbohong tentang hal yang telah lalu.
"Tapi itu di masa lampau, apa kamu mau menjadi istriku? Satu- satunya istriku. Satu- satunya pasanganku. Dan aku jadi satu- satunya pasangan dirimu."
Udelia tidak merespon pintaan Djahan. Dia masih sibuk memikirkan tentang suami yang banyak.
Sebagai orang yang belajar dan bekerja menggunakan logika, serta hidup di zaman modern yang menerapkan monogami secara ekstrim, sulit bagi otaknya untuk mencerna pernikahan dengan lebih dari satu pria.
"Apa aku mempunyai anak dengan mereka?"
Pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut Udelia tanpa rem.
Sejurus kemudian dia menyadari kesalahan dalam perkataannya.
Dia dan Djahan telah kehilangan bayi...
Wajah Djahan kembali mendung. Wajah seriusnya hilang di balik mendung.
Pria itu menyandarkan tubuhnya di jok mobil. Mengusap wajah dengan kasarnya.
"YA! Kamu punya anak dari mereka! Kamu memberi mereka anak, istriku! Sementara anakku ..."
Djahan menahan kalimatnya. Dia tak mau menyakiti Udelia dengan perkataannya.
Dia menelan bulat- bulat kalimat yang hampir dimuntahkannya.
Hampir saja dia berkata, ".. anakku mangkat karena kamu hendak menikah untuk yang kedua kali."
"Apa aku membuat kesalahan sehingga anak kita ...?" tanya Udelia hati- hati.
"Tidak, sayang. Itu semua takdir."
Djahan menjawab tanpa menunjukkan wajahnya. Dia takut wajahnya tak dapat berbohong tentang kesakitan yang dialaminya.
Tiap kali melihat anak- anak. Selalu terbayang dalam benak Djahan, akankah anaknya tumbuh sebesar itu bila dia masih bertahan di kandungan ibunya?
Suasana kembali hening. Mobil berhenti di depan mulut gua. Djahan bergegas keluar dan menyambut Udelia. Membukakan pintu untuknya.
Mereka berjalan beriringan masih tanpa kata.
Saat memasuki ruang gua, udara dingin langsung menyapa.
Udelia menoleh pada Djahan, memberikan tatapan bertanya.
Di luar sangat panas. Musim sedang berada di bulan kemarau.
Di dalam gua, dia kira akan lebih panas. Ternyata sangat dingin. Bahkan dinding -dindingnya membeku.
"Petapa Agung sedang menetralkan kekuatannya. Sepertinya beliau baru mulai lagi setelah datang ke dunia ini. Mengakibatkan alam sekitar menjadi beku."
"Ini ... tak masalah?"
"Tanyakan pada hatimu. Kamu itu murid Petapa Agung. Kamu lebih tahu tentang hal ini."
Udelia menuruti ucapan Djahan. Dia bertanya pada hatinya.
Tidak ada penolakan di dalam hatinya.
Hatinya menganggap dinding gua yang beku adalah hal yang biasa.
"Ayo," ajak Udelia.
Djahan menyambut uluran tangan istrinya.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]