![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Udel .... di mana kamu? Udel ..." panggil Widya berbisik.
Pada pergantian jadwal penjaga dini hari, Baja mengganti penjaga sel dengan orang-orangnya. Widya berharap dia tidak terlambat untuk menyelamatkan sahabatnya.
Entah kesalahan apa yang dilakukan sahabatnya. Meletakkan orang ke dalam kandang hewan buruan, bukanlah pertanda sebuah kejahatan yang ringan.
Widya yakin Udelia tidak akan seperti itu.
Tapi, meskipun Udelia melakukan hal yang bertentangan dengan peraturan Bhumi Maja, Widya akan sekuat tenaga membantunya melarikan diri dengan selamat.
Udelia adalah temannya yang sangat mengerti dirinya. Dia tidak meninggalkannya ketika susah, selalu ingat ketika mendapat kebahagiaan.
Terlebih Udelia sudah berkorban untuk dirinya, menggantikan dia menjadi Maharani.
Walau pada awalnya Sang Maharaja hanya menggunakan dirinya, untuk menjebak Udelia yang kala itu sudah menjadi istri Mahapatih.
Udelia telah menyelamatkan Widya dan keluarganya dari tekanan Maharaja.
"Udel ada di perutmu, non," sahut salah satu tahanan.
"Ada orang cerdas di sini," balas Widya. "Wanita yang masuk kemarin ada di mana?" Widya mendekat ke sel, memperhatikan orang yang berani menjawabnya.
"Kalau maksudnya wanita yang semalaman diinterogasi, ada di sana." Tahanan itu menunjuk ke sel terdepan.
"Rasanya tidak ada orang ..."
Widya telah melewati sel depan, dia tidak melihat orang di dalamnya ataupun merasakan kekuatan yang mengalir.
Selama hidup di Zaman Keemasan, Widya diajarkan Udelia berbagai keterampilan, terutama dalam mengasah kekuatan.
Kendatipun tidak sekuat Udelia, kekuatan Widya berada di tingkat Ksatria, yang jarang ditempati seorang wanita.
"Oh apa karena dia pake tubuh aslinya?" batin Widya mencari alasan.
"Mungkin sudah mati," timpal tahanan.
Widya menatap tajam si tahanan. Dia menghela napas panjang. Pria pendek itu hanya menyampaikan pendapat, Widya tidak seharusnya marah.
"Akan kuberikan hidangan yang layak selama beberapa hari," kata Widya memberikan balasan pada tahanan.
Hidangan di penjara tidaklah enak. Jika hidangannya enak, banyak orang ingin masuk ke penjara sehingga tidak usah bekerja.
Widya tidak terlalu mengetahui perihal penjara, sebab dia hidup jauh dari istana.
Yang dia dengar, makanan di sel penjara hanyalah makanan sisa dari para dayang dan prajurit. Ada pula yang mengatakan, makanan di penjara adalah buah dan rempah yang telah busuk.
Intinya, sangat tidak layak dan lebih buruk dari pakan kuda dan ternak.
"Terima kasih."
Widya menyuruh penjaga membuka sel yang ditempati Udelia. Dia menutup mulutnya berteriak tanpa suara, melihat kondisi Udelia sangat memprihatinkan..
"Hei, sadarlah Udelia!"
__ADS_1
Widya menepuk pelan wajah Udelia. Darah terus mengucur keluar dari perut Udelia. Bergegas Widya menarik selendang di tubuhnya, lalu ia lilitkan pada luka Udelia.
Mata Widya memburam tertutup air. Lubang di tangan dan kaki Udelia, sangat tidak manusiawi. Belum lagi, bekas-bekas cambukan begitu mengerikan untuk dilihat.
"Nona .... mohon jangan lakukan," ucap pengawal mencoba menahan gerakan Widya, yang ingin memanggil hewan kontraknya.
"Piwittt!"
Widya bersiul menggunakan kedua jarinya, dia memanggil Zamrud—hewan kontrak yang dihadiahkan Udelia. Tubuh besar Widya membawa suara angin yang kencang.
Dia tidak lagi memikirkan pengawal lain, yang bukan tangan adiknya. Dia juga tidak memedulikan pakaiannya yang bersimbah darah.
Yang harus dia lakukan adalah secepatnya menolong sang sahabat.
Dengan hati-hati Widya menaikkan tubuh Udelia, kemudian dia naik memegangi tubuh sahabatnya.
"Taruh mayatnya dengan benar. Lubangi juga tubuhnya sesuai posisi luka," perintah Widya pada anak buahnya.
"Baik, nona."
"Dia akan mati kalau tidak segera diobati." Seseorang yang mengenakan jubah putih menghalangi jalan keluar.
Dia pun menjatuhkan burung yang hendak kabur, dengan kekuatannya.
Zamrud yang fokus pada kecepatan, terjatuh merasakan tekanan yang sangat kuat. Dia tidak siap menghadapi kekuatan yang tiba-tiba menyerang.
"Kamu bawa saja. Aku yang akan melawan."
Widya meloncat dari tubuh Zamrud, bersiap melawan orang yang mendekat padanya. Matanya terus mengintai, mencari celah melawan orang yang lebih kuat darinya.
Nahas dia jatuh tersungkur, orang berjubah putih itu sudah berpindah ke dekat Zamrud yang masih tergeletak di tanah.
"Aku bukan musuhmu. Semua pengawal sudah kutidurkan, kecuali satu orang. Lawanlah dia, manusia ini akan aku sembuhkan."
Widya mengepalkan tangannya, melihat Udelia sudah berada di tangan orang itu. Dia tidak yakin mampu menang melawan orang berjubah.
Akhirnya dia memutuskan menjaga pintu, untuk melawan satu orang yang dikatakan masih sadar.
"Bagaimana?!" teriak Widya yang sedang mengintai pintu.
Pikirannya terbagi-bagi, sesekali dia melihat ke luar dan detik berikutnya melihat ke dalam, memastikan sahabatnya baik-baik saja.
"Luka pada kulitnya sudah kusembuhkan, tapi pada lubang-lubangnya ... tidak bisa."
"Sial sekali! Kamu tidak bisa melakukan apa pun malah menghalangi!" geram Widya. Dia ingin menyerang, tapi dia tidak akan kuat menumbangkan orang yang mampu menahan kekuatan Zamrud.
Zamrud adalah burung bidadari raksasa, kekuatannya sangat besar. Jika bukan Udelia memberikan segel hewan kontrak Petapa Agung, dengan kekuatan Widya, tidak mungkin dia mampu mengendalikan Zamrud.
Tapi manusia berjubah itu mampu menekan Zamrud sampai tidak dapat bergerak. Dia harus berhati-hati dalam bergerak.
"Dia tersadar."
Widya bergegas menuju Udelia yang ditidurkan di perut Zamrud. Dia memeriksa tubuh sahabatnya dan benar, lukanya lumayan pulih. Tapi kondisi Udelia masih terhitung gawat.
__ADS_1
"Bodoh! Kenapa kembali ke sini?" marah Widya.
"Siapa juga yang mau datang. Uhuk ... uhuk..." Udelia terbatuk dan mengeluarkan darah.
"Sudah jangan bicara. Aku akan membawamu keluar."
"Anak ...Utih?"
"Iya, anaknya."
Orang berjubah itu membuka penutup kepalanya. Wajahnya sangat tampan. Utih memang memiliki seorang putra, yang dahulu diselamatkan Udelia.
Jana—anak Utih, menggendong Udelia dan melepaskan tekanan dari tubuh Zamrud.
Zamrud mengepakkan sayapnya hampir saja mengamuk meluluh lantakkan penjara. Widya bergegas naik ke punggungnya dan menenangkannya.
"Ini .... di ....wlaka .." Udelia memegang kalungnya, menunjukkan liontin berbentuk bulat.
Jana mengangguk paham. Dia memberikan Udelia pada Widya, yang telah berhasil menenangkan Zamrud.
Widya menerima Udelia dengan hati-hati. "Lupakan saja," ucapnya saat laki-laki itu berlari secepat kilat.
Widya tidak mau melakukan hal sia-sia lagi. Dia berniat membawa Udelia sebelum Jana tiba dan menghalanginya lagi.
Udelia menahan Widya yang ingin terbang, dia menatap dengan memohon agar Widya menunggu anak hewan kontraknya. "Widya .. .aku ti. ..tip putriku. Aku akan.."
"Jangan bicara mengada-ada!" potong Widya mengerutkan wajahnya. Dia tidak suka berbicara perihal perpisahan.
Baru juga bertemu, sahabatnya malah membicarakan tentang perpisahan!
Widya sangat-sangat kesal!
Jana kembali ke ruang sel tahanan, sebelum Widya sempat melarikan diri.
Udelia meminta benda bulat yang dibawa Jana, dia meraih tangan anak si Utih yang terjulur padanya.
Tangan kirinya memegang permata putih, yang senada dengan liontin kalung yang digenggam tangan kanannya.
"Ak.u pu..lang.." pamit Udelia lalu menghilang dari hadapan Widya.
"Kejam sekali. Sudah sepuluh tahun kita tidak berjumpa," gumam Widya menitikan air mata.
Setiap ia berkunjung ke keraton dan berjumpa dengan Tuan Putri, serta di saat bersamaan Hayan pulang dari perantauan, Widya selalu berharap dia dapat berjumpa sahabatnya.
Impiannya terwujud, dalam bentukk yang menyakitkan.
Dari dalam kegelapan, sepasang mata mengintai. Orang itu—Candra tidak menyangka, salah satu nama yang disebutkan tahanan sungguh-sungguh mengenali tahanan.
"Perempuan itu menyuruhku bertanya tentangnya kepadamu atau lainnya," ucap Candra berdiri di depan pintu.
Widya melemas. Dia tertangkap basah. Tidak mungkin ada jalan keluar baginya.
"Jawablah. Aku akan melepaskanmu."
__ADS_1
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]