TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
006 - SAKIT YANG SUDAH LAMA TAK IA RASAKAN


__ADS_3

Beberapa waktu sebelumnya..


Hayan mengudara di atas awan melewati pulau-pulau yang membentang luas. Dia bersama kuda sembrani terbang ke arah timur, dari ujung paling barat tempat kekuasaannya.


Kantung mata Hayan tampak besar. Dia memaksakan seluruh kekuatannya, agar sampai tempat tujuan lebih cepat, berkali-kali lipat, dari waktu sebenarnya.


Di bawah langit, di dataran yang melikuk-likuk, ada Djahan sang Mahapatih.


Pria yang menguncir rambutnya cepol ke atas itu menunggangi gajah, dia berjalan jauh di depan Hayan sang Maharaja.


Setiap hentakkan kaki gajah membuat lubang-lubang yang sedikit menjorok ke dalam. Hewan-hewan di sepanjang jalannya berhamburan. Termasuk harimau sang raja singa.


Sebelumnya Djahan berada di Trowu, ibu kota Bhumi Maja.


Dia berangkat terlebih dahulu begitu menerima pesan dari tuannya Sang Maharaja, yang memberitakan penculikan Tuan Putri.


Hayan turun ke titik yang telah diberitahukan pada Ekawira, salah satu perwira kepercayaannya yang sedang menaklukkan bagian Timur yang belum masuk ke dalam kawasannya.


Begitu mendarat di tanah, kuda sembrani yang ditunggangi Hayan seketika kembali ke tempatnya.


Wajah Hayan seputih mayat. Jalannya sedikit sempoyongan akibat memaksakan diri.


Aroma menyengat tiba-tiba menyeruak masuk indra penciumannya.


Hal ini biasanya bukan penghalang bagi dirinya, untuk tetap berdiri tegak dan mengeluarkan intimidasi bagi mereka yang berlaku kurang ajar.


Tapi hari ini, dia benar-benar merasa lemah.


Energinya telah habis akibat perjalanan yang jauh.


Jebakan remeh yang biasanya tidak mempengaruhinya, kini menjadikan dia lemah lunglai tak berdaya.


"Uhuk ... Uhuk ..."


Hayan terbatuk-batuk. Tenggorokannya tercekat dengan bulir-bulir yang tak nampak di udara.


Dia menutup mulut dan hidungnya rapat-rapat, untuk mengurangi aroma yang tidak menyerangkan dan untuk menghalau bulir-bulir tak kasatmata.


Mata Hayan menyalang. Dia tidak merasakan kehadiran seseorang, sampai orang itu berada tepat di depannya.


"Tuan, saya dikirim tuan muda Sanjaya untuk menjemput Anda," ucap mendayu-dayu seorang wanita bertubuh elok.


Tubuh perempuan itu terbalut kain yang ketat, membentuk tiap lekuk tubuhnya yang menggoda.


Pinggangnya ramping, buah di depan dan di belakang seimbang besarnya, bibirnya merah dan seksi, matanya tajam seolah hendak menjadi seorang pemangsa.


Dialah Nera, keponakan Raja Ende. Dia muncul sembari menunjukkan lencana Ekawira.


Hayan memegang kepalanya yang pening.


Perjalanan dari Watek Lengkasuka yang harusnya menempuh perjalanan selama satu setengah bulan, dengan kuda sembrani ia singkat menjadi dua hari.


Hayan membuka sela jarinya mengintip orang yang datang.


"Sia–"


"Maaf, saya periksa."


Nera mendekatkan wajahnya pada Hayan.


Terbelalak Hayan merasakan air masuk ke dalam kerongkongannya. Perempuan ini sedang menyatukan kedua indra pengecap mereka.


Hayan mengangkat tangannya. Dia tampar Nera hingga terbang menjauh.


Nera memekik sakit. Tulang punggungnya seperti terbelah jadi dua, akibat terhantam batang pohon yang keras.


Dan rahangnya terasa bergeser, akibat tamparan Hayan yang tak ada lembut-lembutnya.


Hayan memukul-mukul dadanya berusaha mengeluarkan air, yang mulai membuat tubuhnya terasa aneh.


"Nera!" teriak seorang perempuan dengan ikat kepala mengkilap, tanda keluarga inti kepala suku.


'Kak Cendera?' gumam Nera dalam hati, sembari mengusap ujung bibirnya yang berdarah.

__ADS_1


"Ya ampun kamu terluka ..."


Cendera menangkup wajah Nera dan menatapnya khawatir. Sepupunya yang ayu, yang selalu berada di bawah perlindungan semua orang, sekarang terlihat mengenaskan.


Cendera menahan kabut di matanya, agar tidak turun dan membuat Nera tak enak hati.


"Sekarang sudah aman ..."


Cendera mengelus pipi Nera, guna menyalurkan rasa aman.


Nera hendak bertanya perihal saudarinya, Cendera langsung mengangguk sebelum sepupunya berkata-kata.


Nera menabrakkan tubuhnya dan mengucapkan terima kasih pada kakak sepupunya ini.


"Terima kasih, kak," ucap Nera dengan susah payah.


"Bawa dia!" titah Cendera pada dayang-dayangnya.


"Kak, orang ini ..."


Nera menatap khawatir pria yang sedang menopang tubuhnya di pohon.


Orang yang hendak dijebak orang gila itu pasti adalah orang besar.


Jika membiarkan pria ini sadar atas apa yang telah dilakukan Nera, sukunya mungkin ikut terlibat.


Cendera memberikan senyuman yang menenangkan. Dia akan mengatasi masalah yang dibuat sepupunya.


"Aku yang akan menyembuhkannya," ucap Cendera.


"Atau mungkin lebih baik dibunuh," gumam Cendera menyunggingkan bibirnya.


"Kak ..."


Nera khawatir orang di depan mere benar-benar orang penting, lalu keluarganya tidak akan terima apabila dibunuh dengan sengaja.


Dia bingung caranya menyampaikan pendapat.


Selain susah bicara, bila menyanggah putri kepala suku, dia dan keluarganya akan dihukum. Namun bila dibiarkan sang sepupu bertindak semena-mena, bisa saja satu suku akan terkena masalah.


"Kalian kembali saja. Aku menyusul!" kata Cendera tersirat keyakinan yang teguh.


'Hati-hati, kak!' Nera berkata dengan menggerakkan bibirnya. Dia sudah tak kuasa menahan sakit mulutnya.


"Kamu ini bodoh atau tidak tahu? Memasuki daerah ini hanya sendiri. Kami tak pernah terdengar bukan berarti kami lemah," ujar Cendera pada seorang pria yang sedang memuntahkan air.


Dia menatap jijik cairan yang keluar dari mulut pria itu, ditambah aroma keringat keluar dari tubuh pria itu membuatnya mual.


'Apa pria ini tidak membersihkan diri selama puluhan tahun?' batin Cendera sembari menutup hidungnya.


'Hati-hati kak. Masalahnya bukan pada air, tapi kerikil kecil yang langsung masuk ke perut,' ucap Nera dalam hati di gendongan pengawal Cendera.


Hayan berusaha mengendalikan dirinya. Perutnya tidak lagi terasa melilit dan cairan yang dipaksa masuk ke tubuhnya, semuanya telah keluar tanpa sisa.


Hayan mendongak kala ada seseorang yang berbicara padanya.


Di sana sebuah siluet yang dikenalinya sedang berdiri sambil mengomel.


Perempuan itu mengernyit ketika dipandang Hayan, yang masih terdapat sisa-sisa liur di sisi mulutnya.


Hayan tersenyum melihat ekspresi jengah itu. Ekspresi yang sama ketika dia ketahuan meminum minuman setan dan memakan daging-daging yang bau.


Air mata berderai di wajah Hayan. Tak kuasa dia membendung perasaannya, kala melihat sosok itu tepat di depan matanya.


Sosok yang dirindukannya, perempuan yang ditunggunya ... telah kembali!


"Maharani ...? Kamu sudah kembali?" Hayan memegang bahu perempuan di depannya. Kemudian dia membawa perempuan itu ke dalam pelukannya.


Sebuah pelukan hangat yang menyalurkan kerinduan yang mendalam.


Dia telah menahan segalanya dalam waktu yang sangat lama.


"Tuan, saya datang untuk menyembuhkan Anda!"

__ADS_1


Cendera berusaha melepas pelukannya. Dia bergidik ketika merasakan punggungnya basah.


"Aku sangat merindukanmu ..."


Bahu Hayan naik turun. Tak peduli bila ada orang yang melihatnya —seorang pria besar— sedang menangis.


Dia tidak menyangka akan bertemu Maharaninya di tempat yang tidak dia sangka-sangka.


Jika ini mimpi, dia tidak menghendaki dirinya untuk bangun.


"Tuan ... saya akan menghilangkan–"


Hayan menegakkan tubuhnya, dia memiringkan kepalanya di depan wajah sang wanita. Menatap dalam-dalam mata hitam yang tak berdasar. Hayan mengukir dalam ingatan, wajah wanita yang sangat dirindukannya.


Terhipnotis mata hazel Cendera melihat mata tajam Hayan, yang menghunus tembok pertahanannya yang kokoh.


Pandangan Cendera berkabut merasakan benda lembut menyentuh bibirnya. Dia perhatikan pria ini ternyata memiliki paras yang indah.


Hayan menahan punggung Cendera dengan tangannya. Dia masih memberikan kecupan rindu dan perlahan membawa perempuan dalam pelukannya berbaring di tanah.


Suara cuitan burung maupun dedaunan yang jatuh diwarnai cahaya rembulan, membuat suasana semakin intim.


"Bolehkah?" tanya Hayan memandang wajah yang sangat dia rindukan.


"Kamu harus bertanggung jawab," jawab Cendera.


Cendera mengigit bibirnya merasakan sakit yang sudah lama tak ia rasakan. Pria itu membimbingnya dengan baik, hingga hanya kenikmatan yang dirasakannya.


Mereka melakukannya di bawah saksi cahaya rembulan yang bersinar.


Cendera menatap pria yang tertidur di sampingnya. Lantas dia membentangkan kain untuk menyelimuti tubuh polos mereka berdua.


Hingga hari berganti pagi.


Suara ranting terputus membangunkan mereka.


Hayan terduduk dan mengusap wajahnya. Auranya yang kuat membuat burung-burung beterbangan, takut akan mati seketika karena kehabisan napas.


"Apa yang sudah kamu lakukan?!"


Tatapan Hayan penuh dengan kemarahan. Dia mengumpulkan pakaiannya yang berserakan dan memakainya secepat kilat.


Bagaimana bisa dia begitu ceroboh!?


"Saya ingin mengobati Anda tapi Anda malah meyerang saya. Sekarang bertanggung jawablah!" todong Cendera setelah memakai asal kain yang semula dibuat selimut.


"Benar sekali aku harus bertanggungjawab."


Hayan membuka kerisnya dan meletakkannya di leher Cendera.


"Katakan siapa yang mengirimmu?"


"Anda diobat oleh Yuyud Tendu melalui asap dan obat yang dimasukkan saudari saya. Saya ingin mengeluarkannya, tapi ternyata sudah larut. Kemudian Anda menyerang saya."


Potong demi potong kisah semalam membuat Hayan menurunkan kerisnya. Hayan mengingat ada wanita lain yang datang terlebih dahulu, sebelum hal terlarang mereka lakukan.


"Asap itu membuat Anda berhalusinasi dan obat itu adalah obat rangsangan."


Hayan melempar keris dengan marah. Dia marah pada dirinya sendiri yang tidak dapat mengendalikan diri.


Harusnya jebakan selemah ini tidak akan mampu menjeratnya! Akan tetapi dia sudah menodai dirinya sendiri, dengan bergumul dengan wanita lain.


Hayan mengerang dalam hati. Tidak dia tunjukkan kegusarannya di hadapan sang musuh, meski perempuan itu berkata hendak menyelamatkannya.


Hayan menatap datar Cendera. Memberikan satu kesempatan untuk membuktikan dirinya tidak terlibat dengan rencana Yuyud.


"Wanita, tunjukkan jalannya!"


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


INFO NOVEL

__ADS_1


SESUAI JADWAL


UPDATE HARI SABTU DAN AHAD YA


__ADS_2