![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Aku bisa berjalan sendiri. Lepaskan!" Udelia berusaha menyentakkan tangan prajurit di tubuhnya.
Dia bukan wanita murahan yang bisa dipegang begitu saja!
Udelia mengalihkan pandangannya ke tubuh Balaputra yang diseret-seret secara tidak manusiawi.
Sekali pun si mayit bersalah, seharusnya mereka tidak memperlakukan Balaputra seperti hewan buruan!
Diikat dan diseret.
"Bertahanlah," lirih Udelia.
"Bodoh! Dia sudah mati!" Seorang prajurit yang membawa Udelia menonyor kepala wanita itu. Dia yakin wanita itu adalah seorang yang bodoh.
"Mayit kok diajak bicara!" cibir prajurit lain.
"Sialan. Aku bisa jalan sendiri!" Udelia menggerakkan kepalanya ketika akan ditoyor lagi.
Kemudian Udelia menghentakkan bahunya yang dicengkeram kuat. Udelia dipaksa bersimpuh.
Matanya membola kala suara debam bergetar terdengar di sampingnya. Balaputra dilempar ke sisi Udelia. Wajah damai itu tidak menunjukkan raut kesakitan.
"Tuan Gotho, kami menemukan dua orang di dalam. Satunya telah mati."
"Bawa ke – lepaskan dia!"
Gotho meloncat turun dari kudanya. Tergopoh-gopoh dia mendekati dua tahanan dan secepat kilat membuka ikatan tali tangan Udelia.
Gotho yang pernah hendak menangkap Udelia dan hafal dengan ciri-cirinya telah mendapatkan titah untuk memperlakukan wanita itu sebaik mungkin. Bahkan Maharaja mengatakan harus sebaik berhadapan dengan wanita-wanitanya.
Kejadian yang amat kontras seperti yang dihadapi Gotho sudah biasa dilakukan kalangan atas.
Kadang sekali mencari bagai seorang tahanan kelas kakap, lalu di hari lain minta dicarikan bagai gelas yang hilang di tengah hutan. Harus bisa menemukannya tanpa noda dan rusak.
Ada pula yang sebaliknya. Awal melakukan pencarian, bagai seorang suami yang hendak mencari istrinya yang kabur, harus diperlakukan lembut tanpa dikasari. Lalu di hari kemudian minta ditangkapkan orang yang sama, hidup ataupun mati.
"Tuan..?"
Gotho menatap datar protesan si prajurit. Seketika bawahannya itu menciut dan menunduk.
"Kupikir akan mati sambil bersimpuh," sindir Udelia sembari merenggangkan otot-ototnya.
"Nona, silakan." Gotho menjulurkan tangannya hendak membantu Udelia.
Udelia menolaknya. Dia bukan wanita murahan yang bisa dipegang oleh semua orang. Udelia berdiri sendiri lalu membersihkan kotoran di lututnya.
Udelia belum memiliki energi yang cukup. Dia limbung oleh keadaan tubuhnya.
__ADS_1
Sepasang tangan kekar menangkapnya.
"Hati-hati!" seru suara berat nan serak.
Suara yang amat Udelia rindukan. Mereka saling melempar pandang. Menilai rindu siapakah yang paling dalam. Saling mendalami palung di hati. Mencari nama sendiri, masihkah ada?
Genangan air luruh dari mata Udelia. Matanya memindai, memastikan tidak salah melihat. Bibir Udelia gemetar bak berada dalam lemari pendingin bersuhu paling rendah, membuatnya menggigil.
"Djahan," bisik Udelia ke telinga orang yang menangkapnya.
Mereka masih saling memeluk. Tak mengindahkan banyak tanya dalam benak orang-orang di sekitar mereka.
Djahan tidak merespon. Seluruh fokusnya sedang tersedot oleh wajah Udelia. Wajah yang selalu ia rindui dan wajah yang menuntut keadilan karena sudah ditusuk olehnya.
Kejadian penusukan menciutkan nyali Djahan untuk menemui Udelia. Antara rindu dan malu terus saja berperang.
Dalam rindu, dia ingin berjumpa, ingin mencari segala cara agar dapat berpindah ke dunia istrinya. Berkali-kali melakukan riset dengan kekuasaannya, tanpa harus sering-sering meninggalkan kursi nomor dua di Bhumi Maja.
Dalam malu, Djahan sudah tidak memiliki muka, enggan bertemu Udelia. Pun dia terus memikirkan dampak perbuatannya. Dia meragukan cinta Udelia padanya masih sama besarnya setelah kekejaman yang ia lakukan.
"Lama sekali," lirih Udelia.
Rasa malu kalah oleh rasa rindu yang sudah melebihi luasnya Maja. Djahan memeluk erat Udelia, punggungnya gemetar menandakan ada tangis yang luruh.
Djahan melepas pelukan itu. Lagi dan lagi dia memandangi wajah Udelia. Kecupan rindu dan lega mendarat di setiap sisi wajah Udelia.
"Syukurlah.. syukurlah.. Aku sangat rindu," ucap Djahan di sela-sela ciumannya.
Istri orang?
Bahkan dia yang lebih dulu mendaftarkan namanya dan nama sang kekasih dalam dokumen pernikahan.
Meski menggunakan raga Idaline, Djahan tetap mendaftarkan pernikahan mereka dengan nama asli kekasih hatinya.
Udelia adalah istri dari Djahan Mada.
"Aku jugaa rindu. Maaf." Udelia merasa risih dengan dirinya sendiri. Dia membawa status sebagai istri orang .. di hadapan suaminya.
"Sst!" Djahan menempelkan jari telunjuknya. Djahan tidak mau mendengarkan perkataan Udelia.
Djahan menggendong Udelia. Membawanya pergi meninggalkan istana terbengkalai menuju halaman luas yang dipenuhi para prajurit dan ksatria.
"Aku yang harusnya minta maaf. Maaf tidak mengenalimu dan menendangmu," sesal Djahan sembari terus membaui wajah Udelia.
Tidak ada yang berbeda antara istrinya yang dahulu dengan yang sekarang. Aroma tubuh istrinya selalu bau khas kayu yang menenangkan.
"... jangan penjarakan Balaputra," alih Udelia. Dia tidak mau berlarut-larut sedih dalam masa lalu. Tiada dendam. Dia memahami kekhawatiran empat pria dewasa di sisi putrinya.
__ADS_1
Diculik selama satu bulan tanpa tahu posisi pasti, tidaklah mungkin orang dapat berpikiran positif. Apalagi setelah berjumpa dengan pelaku. Isi kepala hanya ingin menghancurkan pelaku sampai berkeping-keping.
"Dia pemberontak," tolak halus Djahan.
"Jangan ya?" pinta Udelia dengan mata berbinar.
Djahan mendengus. Dia tidak suka dengan perhatian Udelia pada pria lain. Namun mengingat kemungkinan besar pria itu adalah orang yang membantu kebangkitan ingatan Udelia, Djahan akan memakluminya.
"Hari ini kita tidak menemui siapa pun. Kabarkan kita akan kembali dan melakukan interogasi pada tersangka yang tertangkap," titah Djahan pada bawahannya yang setia.
Setiap penggerebekan, dia tidak mau membawa prajurit dari luar. Beda bila berperang di lapangan terbuka, siapa pun akan dia rangkul. Dia hanya tidak mau penggerebekan menjadi gagal karena ketidak kompakan anggota yang bukan timnya.
"Baik , Tuan Mahapatih!"
"Semua ditangkap?" tanya Udelia.
"Yang hidup, iya."
Udelia menghembuskan napas kasar. Tentu saja akan ada korban dalam tiap pertempuran, sekecil apa pun itu. Jika yang hidup ditangkap. Maka yang mati pun ada.
Padahal Udelia berharap semua orang mau bertobat.
"Hup!" Djahan menaikkan Udelia ke atas kuda.
Udelia terkikik geli. Dia merasa mendapat karma karena dahulu memperlakukan Maya seperti anak-anak. Sekarang dia juga diperlakukan seperti anak-anak oleh ... suaminya.
"Bertahanlah," tutur Djahan mengecup ubun-ubun Udelia.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
TERIMA KASIH SUDAH SETIA MEMBACA HINGGA BAB INI
SEHAT SELALU SEMUANYA
KETJUP HANGAT DARI WANITA PEMILIK BANYAK PRIA
UNTUK INFORMASI DAN LAINNYA HUBUNGI AUTHOR DI ...
__ADS_1
F B : leelunaaalfa4 (lee lunaa alfa4)
I G : alsetripfa4