TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
TIDAK MUNGKIN BERMAIN DENGAN WANITA LAIN 2


__ADS_3

"Kakak kan juga melakukannya dengan Mahapatih. Kenapa kakak bersedih?"


Candra sangat geram saat berkunjung untuk menemui Raka di keraton. Semua orang membicarakan tentang keperkasaan Mahapatih, tentang sekujur tubuh Mahapatih yang memerah.


Tak sedikit dayang-dayang membayangkan gairah Mahapatih di atas ranjang. Tak sedikit pula para pengawal yang membicarakan dan takjub dengan lawan main Mahapatih.


Mahapatih adalah orang yang setia. Tidak mungkin bermain dengan wanita lain.


Lawan main Mahapatih jelas orangnya, istrinya.


"Harusnya kamu perjelas status kita, agar aku tidak lagi harus merasakan kepemilikan!" sentak Udelia meninggalkan Candra di halaman rumah.


Udelia membawa Raka ke kereta dan memakaikan kain berlapis pada tubuh kecil itu. Dia mengulas senyum melihat Raka tertawa senang padanya.


"Suamiku, apa maksudnya itu?" tanya Triya. Dia berdiri berjarak dari suaminya dan tamu agung yang tak diundang, ikut mengantar tamu agung mereka untuk pulang.


"Lebih baik tutup telingamu."


Candra menaiki kudanya, memacu kuda menyusul Udelia.


"Mohon maaf, tuan. Tidak ada yang boleh masuk ke keraton hari ini."


"Katakan aku ingin berjumpa Maharani."


"Tidak ada tamu dan tidak ada kunjungan, tuan."


"Sampaikan dahulu!" berang Candra.


Dia lagi dan lagi berdosa pada istrinya. Bukannya mencari tahu kebenaran, justru menghabiskan waktu bersama Triya.


Keberadaan jiwa istrinya dalam raga Maharani, sedikit banyak memberikan gambaran bagi Candra.


Pernikahan ketiga Maharaja bisa saja hanya kabar burung.


"Kepala keluarga, mohon patuhi perintah Yang Mulia," lontar Bayu. Dia berdiri di sebelah Candra bersama Ekata dan Kuriang.


"Adinda, kakanda akan selesaikan. Pulanglah dan selesaikan dahulu bagianmu," tutur Ekata.


Mereka bertiga dipersilakan masuk, sementara Candra berbalik arah. Dia mempercayai kakaknya, Ekata EKadanta.


"Kakak seperguruan!" sambut Udelia yang baru sampai di halaman utama keraton.


"Anda benar-benar kembali." Ekata tersenyum.


"Iya."


"Saya akan memegang bayi Anda," tawar Bayu supaya kakak beradik seperguruan dapat melepas rindu mereka.


"Tidak."


Ekata dan Udelia berbincang-bincang ringan. Fusena yang menghilang belum juga ditemukan sedari dahulu saat membuat jiwa Udelia berpindah dari raga Idaline ke raga Udelia.


"Kalau begitu kami permisi untuk menghadap Yang Mulia," pamit Bayu.


"Kuriang tetaplah di sini," perintah Ekata pada muridnya.


"Baik, guru."


"Layani Sri Kuriang dengan baik," titah Udelia pada dayang dan pelayan.


"Baik, Yang Mulia."

__ADS_1


Udelia masuk ke kamar, meletakkan putranya di ranjang. Lantas beranjak ke sisi tubuhnya. Mengetes kulit tangan Idaline ke kulit tubuhnya. Tangan Idaline melepuh.


"Kenapa?" tanya Udelia dalam hati.


"Anda akan mati terbakar jika terus memegang," lempar Kuriang yang sudah lama memperhatikan perbuatan Udelia pada raga yang tergolek lemah di ranjang.


"Aku tidak pernah mengizinkanmu masuk."


"Saya di luar kamar Anda," balas Kuriang. Menempelkan sikunya di kusen jendela.


"Ini halamanku. Aku belum mengizinkanmu masuk."


"Bau tangan Anda sangat menyengat, lihatlah orang-orang di luar khawatir." Kuriang melirik tangan gosong Udelia.


"Tak perlu khawatir."


"Maafkan kelancangan kami," tutur dayang-dayang berbondong-bondong memasuki ruangan.


Mereka membopong Udelia ke kursi. Dua dayang di kanan dan di kiri tubuh Idaline, memegangi tangannya, dua dayang lain mengolesi telapak tangannya, lalu seorang dayang mempersiapkan kain bersih, membalut kedua tangannya.


"Kalian ini.. terima kasih."


Udelia berdecak kagum melihat keberanian mereka untuk menyelamatkan Maharani dengan menyampingkan segala tata krama keraton.


Nyawa lebih berharga dari sekadar tata krama.


"A-anda terlalu berlebihan."


"Sudah kewajiban kami."


"Mohon jangan sakiti diri Anda."


"Kenapa ramai sekali?"


"Kami memberi salam kepada Yang Mulia Maharaja. Semoga kejayaan dan keagungan selalu milik Anda."


"Kalian keluar saja," perintah Udelia langsung dituruti para dayang.


"Sepertinya mereka melakukan hal bagus." Hayan melirik tangan Udelia.


"Begitulah."


"Bayu, perintahkan Huna untuk memberi mereka hadiah."


"Siap laksanakan, Yang Mulia."


Hayan mengambil tangan Udelia dan membuka ujung perbannya.


"Idaline meski tidak pernah keluar ruangan, hartanya selalu ia bagikan pada rakyat banyak. Citra baik tidak pernah luntur dari Maharani. Mungkin dia merasa bersalah."


Udelia tersenyum kecil melihat mata berbinar Hayan. Haruskah dia cemburu pada wanita bernama Idaline? Tubuh yang sedang dirasukinya.


"Setiap dayang atau pelayan yang berasal dari Kabalan, akan dia berikan hadiah lebih banyak dari dayang lainnya," ujar Hayan sambil mengobati Udelia dengan salep khusus miliknya.


Jika Udelia adalah seseorang yang berpindah jiwa dari dunia modern ke kerajaan kuno.


Maka Hayan adalah anak manusia yang kembali ke masa kanak-kanak saat Idaline melakukan rapalan sihir hitam untuk pergi ke dunia modern, tempat orang tua Idaline berada.


Dalam sebuah penyerangan, kedua orang tua Idaline dipindahkan ke dunia modern agar jejak penyerangan mereka tidak berbekas.


Idaline mempelajari sihir hitam untuk dapat menyeberang dimensi dan bertemu kedua orang tuanya. Sihir hitam itu mengorbankan satu wilayah bernama Kabalan.

__ADS_1


Setelah jiwa Udelia dipaksa kembali ke dunia modern, jiwa Idaline juga terpaksa kembali. Lama Idaline sabar menunggu, agar rapalannya kembali berfungsi dengan tujuan yang lebih dalam.


Melepaskan ikatan jiwanya dengan tubuhnya dan menanamkan jiwa Udelia ke tubuhnya, supaya dia tak lagi berhubungan dengan tubuhnya.


"Kamu memujinya dengan baik." Udelia tersenyum meremehkan. Nampak jelas Idaline yang Hayan cintai.


Hayan mengelus tangan Idaline dan tersenyum. Tak dia indahkan kalimat yang memicu perdebatan.


Hayan berdiri menatap Ekata. Jika yang bermasalah bukan adik seperguruan sang Petapa Agung baru, sangat mungkin Petapa Agung itu enggan mendatangi keraton Bhumi Maja.


"Jadi Petapa Agung, Anda bisa kembalikan Maharaniku?"


"Tidak. Saya baru mengetahui kasus seperti ini. Yang merasuki tubuh orang, banyak. Tapi raganya sendiri datang, lalu merasuki tubuh orang, baru nona."


Ekata menatap tangan merah Idaline, bekas Udelia memegang tubuhnya sendiri.


"Tapi saya bisa menutup lubang hitam di jantung Anda agar tidak menyakiti diri Anda," kata Ekata.


"Pikirkan dengan seksama," tutur Hayan tak mau tahu. Dia harus mengembalikan jiwa istrinya ke raga asli istrinya. Dia tidak tahan melihat istrinya kesakitan.


Hayan tak butuh raga Idaline jika hanya menyakiti istrinya.


"Mohon maaf, Yang Mulia. Hanya guru yang bisa melakukannya," sesal Ekata.


"Anda menemukannya?" tanya Hayan.


"Belum. Justru saya ingin menanyakannya pada nona. Beliau lebih mengenal guru daripada saya."


Semua orang memandang Udelia. Berharap Udelia dapat menciptakan keajaiban. Dua Petapa Agung akan membuat dunia semakin damai, bila Petapa Agung yang sesungguhnya ditemukan.


Udelia sudah lama memikirkan tempat yang mungkin dituju sepupunya. Dia ingat perkataan yang sering diucapkan Fusena tiap kali menatapnya.


"Dua menjadi satu, satu menjadi dua."


Kalimat itu seperti sebuah petunjuk untuk Udelia menemui Fusena, bila Fusena tak kunjung datang memenuhi panggilannya.


"Dua menjadi satu, satu menjadi dua," gumam Udelia mengetukkan jarinya di atas meja.


"Dua menjadi satu? Perpaduan jiwaku dengan jiwa Sena?" Udelia berpikir keras.


Fusena pernah satu kali menjelaskan pada Udelia, "Jiwa kita telah jadi satu. Kalo mbak merasakan sakit, aku juga sakit dan akan mendatangi mbak. Kalau tidak datang, carilah di mana seharusnya mbak mencari."


Udelia saat itu menganggap Fusena sedang bercanda karena sering kali menggoda dirinya.


"Tempat satu menjadi dua," batin Udelia.


Pria-pria di sekitar Udelia menjadi tegang. Mereka berharap Petapa Agung dapat ditemukan. Udelia adalah harapan mereka.


".... sepertinya aku tau."


"Di mana?" tanya Ekata tak sabar.


"Aku tidak yakin."


"Saya akan bergegas dan menyampaikan hasilnya."


"Krakatau."


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉

__ADS_1


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


__ADS_2