![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
Candra mengerjapkan matanya membuka mata. Alisnya melengkung melihat keberadaan pria yang tak asing di ruangannya.
"Ra Konco?" gumam Candra.
"Saya di sini, tuan."
"Anda kenapa ..?" Candra bingung dengan kehadiran pria itu di sisinya. Dia kira dia hanya salah menduga.
"Saya datang bersama Yang Mulia, beliau sangat memperhatikan Anda. Permisi saya ingin membuat jamu."
"Pelayan," lirih Candra memanggil salah seorang yang masih setia berdiri di sisi tembok bak patung tanpa nyawa. Tak akan bergerak bila tidak diperintah.
"Ya, tuan."
"Jangan biarkan nyonya kemari. Uhuk. Katakan, uhuk uhuk uhuk." Candra memegang dadanya yang sakit.
"Tuan jangan memaksakan diri." Pria paruh baya itu terlihat panik. Dia menyuruh tuannya untuk kembali berbaring.
"Katakan aku ada tamu." Candra mengucapkan sebaris kalimat itu dengan nafas yang tersengal sengal.
Sungguh, jika bukan karena cintanya, dia sama sekali bukan tandingan Mahapatih. Mungkin saja dia akan benar benar mati, jika Mahapatih mengeluarkan seluruh energinya.
***
"Nyonya, tuan sudah sadarkan diri," ucap Jo kala membawa sarapan untuk nyonya dan tuan mudanya.
"Benarkah?" tanya Udelia yang sedang membedaki wajah Rama.
Sengaja Udelia mengurus anak dengan tangannya sendiri karena dia tidak ada kesibukan lain.
Lagi pula, dia senang dengan putranya di waktu senggang. Sedari baru bisa berjalan, anak kecil itu sudah memiliki banyak kesibukan.
Udelia berharap, dirinya dapat membuat penat orang-orang tersayangnya hilang dengan memberi perhatian yang khusus.
"Benar, nyonya."
"Ayo kita temui ayahanda," ajak Udelia pada putranya. Rama sangat lekat dengan ayahandanya. Di setiap kesibukan Rama, hampir setiap saat Candra menemani putranya menimba ilmu. Bahkan sebagian besar dia sendiri yang melakukan pengajaran pada putranya.
"Ayahanda sadar?" Rama menatap ibundanya dengan mata berbinar.
"Iya, sayang." Udelia mencubit gemas pipi tembam Rama. "Raka juga mau ikut?" tanya Udelia pada Raka yang tersenyum lebar. Bayi kecil itu memekik senang, seolah meng iya kan ajakan ibundanya.
"Ululu pasti rindu sama ayahanda ya?" Udelia mencium gemas bayi mungilnya. Rama juga turut memberikan kecupan pada adiknya. Selalu saja yang dilakukan ibunda dan ayahandanya dilakukan oleh anak itu.
Jika ingin bermesraan, harus mengundang kakek neneknya dahulu. Rama tidak senang dengan orang asing, begitu pun Candra tak percaya dengan orang selain keluarga intinya.
__ADS_1
Awalnya Udelia menganggap Candra sangat berlebihan. Kini dia melihat sendiri dengan mata kepalanya, ada orang asing yang hendak menghancurkan tempatnya bernaung.
Jo membantu Udelia menggendong Raka dan Udelia memegang Rama di sisi kanannya yang bebas.
Mereka berjalan dengan hati yang bahagia menuju ruang perawatan pria tercinta mereka.
Langkah mereka hampir sampai. Seorang pelayan tingkat tinggi berjalan dengan terburu buru dan langsung menghalangi jalan sang nyonya muda. Sontak Udelia mengernyit heran. Tanpa ditanya pelayan itu menyampaikan alasannya yang berani menghadang.
"Nyonya, mohon maaf, tuan sedang menerima tamu penting."
"Tamu? Dia baru sadarkan diri!" sentak Udelia tak senang. Selalu saja suaminya itu memaksakan diri menerima tamu walaupun dirinya sedang tak baik baik saja.
Perjalanan rumah tangga mereka selama dua tahun lebih tidak serta merta mulus seperti batang pohon pisang.
Bukan keluarga, bukan pula pasangan, yang menjadi ujian mereka justru nyawa di badan. Udelia hampir tidak pernah terluka kecuali karena kecerobohannya berjalan jalan dengan kaki telanjang. Selalu suaminya yang hampir menghantarkan nyawa ke alam sana.
Langkah suaminya selalu lebih maju daripada musuh musuhnya. Namun serangan mendadak kadang lolos dari prediksi suaminya. Dan di saat saat itu, selalu saja suaminya itu mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan musuh sehingga tidak ada cela bagi musuh menoleh pada sang istri.
"Mohon maaf, nyonya. Perintah tuan supaya nyonya kembali. Sebenarnya, tamu ini membawa tabib hebat yang menyadarkan tuan."
"Kalau begitu aku harus berterima kasih," ucap Udelia dengan polos. Dia sedikit kebingungan dengan ulah suaminya yang menyuruh dia pergi dari ruang perawatan.
Jika ada orang yang baik hati, harusnya dia sebagai istri menyambutnya dengan baik. Seperti yang biasa terjadi. Udelia sudah membangun banyak pertemanan dengan istri istri rekan Candra. Meskipun mereka yang harus datang ke kediaman Ekadanta bila ingin berkumpul.
"Nyonya, tuan memerintahkan Anda agar kembali," cicit pengawal takut menyinggung perasaan nyonyanya. Muncul keringat jangung di dahi pengawal, dia merasa masuk ke tengah-tengah tuan dan nyonyanya.
Udelia menatap tajam si pengawal lalu dia mengambil napas dengan kasar. Perintah suami haruslah dia taati. Pasti ada suatu kebaikan di dalamnya. "Baiklah," ucapnya kesal.
"Rama, ayo kembali ... Rama?" Udelia menatap tangannya yang kosong, tangan yang digenggamnya telah menghilang. Anak itu berlari masuk ke dalam kamar rawat Candra.
"Ayahanda!"
"Maafkan anak saya, tuan," ucap Udelia menunduk ketika Rama memeluk kaki seseorang, tidak mungkin itu suaminya. Selain sedang sakit, bentuk kaki suaminya bukan seperti itu, bahan kain yang dikenakannya pun amat berbeda.
Saat mengangkat kepala untuk melihat wajah tamu suaminya, sepasang mata hitam legam itu terbelalak. Tangannya terjulur di depan raga sang putra.
"Apa yang kamu lakukan?!" marah Udelia sembari memegang bagian tajam keris yang mengarah pada leher Rama.
"Duo!" sentak Hayan memperingati.
"Huuaa, ayah.."
"Ajarilah pengawal Anda dengan benar!" Udelia menatap tajam Hayan.
Hayan mematung melihat Udelia sedang menggendong seorang bayi dan sedang berusaha menenangkan anak kecil yang hampir mati di tangan pengawalnya.
__ADS_1
"Sayang, tenang ya. Sudah. Sudah." Udelia berjongkok mengelus rambut Rama.
Mata Hayan mengikuti gerakan Udelia, dia melihat anak kecil memeluk kakinya dengan erat.
Anak itu sangat ketakutan.
"Hiks ayah, huhu atut," ucap Rama sesegukkan.
"Sayang, ayahanda di sana." Udelia menunjuk ranjang tempat Candra yang masih tergolek dengan lemah.
Rama melihat arah yang ditunjukkan Udelia, kemudian mendongak menatap Hayan. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya yang penuh air mata. "Ayah..?" panggilnya dengan suara serak.
"Suamiku, hati-hati." Udelia menangkap Candra yang berusaha berdiri. "Kamu masih lemah," sambungnya membaringkan Candra kembali. "Sayang, kemarilah." Udelia memanggil putranya untuk mendekat.
"Ayahanda." Rama mengeratkan pelukannya pada Hayan. Rasa nyaman menjalar di hatinya. "Ayah, gendong," rengeknya manja.
"Rama kemari!" geram Udelia membuat Rama ciut, ia berlari kecil menuju ranjang lalu memeluk kaki Udelia.
"Idaline?" gumam Hayan tersadar dari lamunannya.
Konco merasakan aura yang aneh saat masuk ke dalam ruangan. "Silakan jamu Anda, tuan."
Udelia berdiri membiarkan Konco memberi jamu pada Candra. "Terima kasih banyak, tuan telah menyelamatkan suami saya. Bagaimana saya harus membalasnya? Rasanya tidak cukup hanya membayar beberapa emas," bincangnya berbasa basi.
"Sama-sama, nyonya. Anda tidak perlu membayarnya karena saya dikirim oleh.. ehm tuan ini untuk mengobati tuan Ekadanta."
"Oh." Udelia menatap tidak percaya pria yang menyebalkan menurutnya.
Menyebalkan karena salah satu anak buahnya hampir membunuh sang putra.
"Nyonya, bagaimana kalau tangan Anda diobati?"
Udelia melihat tangannya yang berdarah. Dia menerima pengobatan yang ditawarkan tabib di depannya yang mampu membuat suaminya terbangun dari komanya. "Maaf merepotkan."
"Anda ganti perbannya setiap pagi dan malam. Dalam beberapa hari akan sembuh." Konco meletakkan salep di atas meja usai menangani luka Udelia.
Udelia berjalan ke depan Hayan lalu membungkukkan sedikit badannya. "Terima kasih, tuan. Atas perhatian Anda terhadap suami saya."
Udelia menegakkan kembali tubuhnya sebab tidak mendengar respon Hayan.
Dia melihat pria itu terus mematung.
Apa orang itu bisu?
••• BERSAMBUNG •••
__ADS_1
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]