TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
012


__ADS_3

Maya yang telah nyenyak dalam tidurnya akhirnya terbangun dan merasakan panas di punggungnya.


Kala akan membuka mata, sebuah telapak tangan menutupi kedua mata Mala lalu terdengar suara merdu yang belakangan terdengar dalam tidurnya.


Suara itu menenangkannya.


"Tetaplah terpejam sampai beberapa saat dan jangan bergerak," titah Udelia dengan mata yang sama-sama terpejam.


"Kalo ngomong?" tanya Maya dengan suara berbisik.


"Boleh."


Maya terdiam tidak tahu harus bicara apa, jantungnya berdebar kencang dan mulutnya kelu. Ribuan kata terbesit dalam benaknya namun tidak ada satu pun yang mampu meluncur keluar dari mulutnya.


Udelia sama canggungnya dengan Maya. Dia ingin memulai pembicaraan ringan namun dia sudah tidak sabar untuk bertanya hal yang berat.


Udelia sedang menahan lisannya untuk berbicara hal yang benar saja.


Ini pertemuan pertama mereka, dia tidak seharusnya menginterogasi putri kecilnya yang terlihat rapuh.


Selang beberapa waktu hanya terdengar suara angin yang berhembus kencang.


Saat mulut Udelia terbuka memutuskan hendak memulai pembicaraan, Maya terlebih dahulu bertanya padanya.


"A-apa ananda harus mengikuti semua keinginan Antar, bu?" tanya Maya memilih topik yang tidak terlalu ringan dan tidak terlalu berat.


Dia tidak mau memilih basa basi yang akan terlihat menyebalkan dan dia tidak mau menyinggung hal berat di pertemuan pertama mereka dalam situasi yang tenang.


Bertanya tentang hal yang baru saja terjadi adalah sesuatu yang dirasa pas bagi Maya untuk dibicarakan.


"Tidak perlu. Penuhi janji di awal lalu Maya bisa memanggil ular naga itu sesuka hati Maya. Tentu harus kuat dulu agar makhluk sekuat itu dapat hadir dalam sekejap," jelas Udelia.


"O-oh begitu ya, bu.."


Maya merekatkan mulutnya bingung ingin membicarakan apa lagi.


Karena begitu banyaknya hal yang ingin gadis kecil itu bicarakan.


"Jadi, dari mana Maya tahu?" Pertanyaan Udelia yang tertahan di mulut Udelia akhirnya keluar. Dia belum memperkenalkan diri namun Maya sangat yakin padanya.


Tidak mungkin Maya hanya main tebak-tebakan dan langsung mempercayai seseorang yang berada di sisi penculik.


Dia melihat Maya yang teguh dan sehat selama dalam dekapan penculik tidak mungkin tiba-tiba menjadi seorang yang bodoh dengan mempercayai pihak musuh.


Apakah kedatangannya ke sini sudah diketahui semua orang?


Kemudian Hayan menunjukkan kenistaan itu untuk menyambutnya?

__ADS_1


Memikirkan ini Udelia menjadi marah!


"Satu hari Ibu Samha mengajak camilan sore di taman, waktu itu tiba-tiba gelang batu bulat hitam yang dipakainya tercecer terkena ujung meja, beliau bilang itu gelang milik ibu, gelang yang dibuat ibu.."


"Ibu Samha? Siapa itu? Apa perempuan di hutan itu? Atau perempuan lain? Berapa banyak perempuan yang dimiliki suamiku? Dan gelang apaan? Aku tidak pernah membuat gelang." batin Udelia menggebu-gebu.


Dia ingin memotong cerita anaknya dan bertanya, tapi Maya tampak serius bercerita.


Udelia menelan pertanyaannya dan kembali fokus mendengar cerita putri tercintanya.


"Saat ananda mengumpulkannya, beliau menendang ananda lalu berkata ananda jelek, gendut, bau, dan bodoh karena ananda hanya datang di awal pelajaran dan pulang lebih cepat dari anak-anak lain."


Sambil bercerita, air mata Maya jatuh berderai. Sementara di dekat mata Udelia tampak urat-urat keluar akibat menahan amarah.


Putri kecilnya telah dihina dan disiksa oleh wanita suaminya.


"Beliau bilang ayahanda tidak pernah mengajak ananda ke pesta karena malu.."


Mendengar ini Udelia semakin membenci pria itu!


"Dan karena ananda anak haram, maharani tidak mau mengakui ananda."


"Maharani? Pria itu mengangkat maharani baru!??" batin Udelia bertanya-tanya.


Dia tidak sudi namanya disandingkan dengan nama perempuan lain, bila tidak dapat memegang janji untuk setia, seharusnya pria itu tidak perlu menikahinya!!


Perebut istri orang ini bisa-bisanya tidak setia!


"Katanya diperjelas dengan ayah yang selalu membawa ananda bepergian.."


Tangan kiri Udelia mencengkeram pasir, sedang tangan kanannya mengusap pipi Maya.


Udelia teringat satu perempuan yang memiliki nama Samha.


Udelia yakin orang yang dimaksud Maya adalah Samha Mihir.


Samha Mihir merupakan putri tertua dari keluarga Mihir yang memegang segala urusan rumah tangga keraton.


Sebelumnya saat Udelia masih berada dalam raga yang lama dan menjadi Maharani, Samha Mihir pernah menggantikan dirinya ketika Udelia jatuh sakit.


"Huh. Akhirnya pria itu jatuh hati padanya!?" cibir Udelia sambil menggeram.


"Ibu susu menceritakan perjalanan pernikahan ibunda dan ayah tidak mengingkari pernah menikah dengan ibunda, bahkan kata beliau masih terikat pernikahan dengan ibunda."


Maya tersenyum mengingat ayahnya yang lebih setia daripada ayahandanya.


Ayahanda dari Maya Lopika Wijaya atau ayah kandungnya merupakan Maharaja Bhumi Maja.

__ADS_1


Sedang ayah dari Maya adalah seorang Mahapatih dari Bhumi Maja.


"Ananda memasuki kamar utama yang tidak lagi ditempati ayah. Lukisan ibunda tertutup kain putih.."


Udelia teringat kala suami pertamanya melukis dirinya yang asli. Saat itu mereka melukis dengan damai di hari pertama setelah mereka mengikat janji suci pernikahan.


"Ananda membukanya tanpa diketahui siapa pun kecuali Pamanda Loro yang kebetulan ada di kediaman ayah. Sejak saat itu menjadi rahasia di antara kami.."


Udelia tersenyum kecil memikirkan kakak sepupunya ternyata masih di sini dan peduli pada putrinya.


Kelak jika berjumpa, Udelia harus memberikan banyak hadiah.


"Ananda selalu memandang wajah ibunda setiap main ke kediaman Mada.." Tangan Maya terangkat berusaha menyentuh ibunya.


Dia takut dirinya hanya berbicara dengan kekosongan seperti yang terjadi selama bertahun-tahun belakangan.


"Apa yang Hayan lakukan saat itu?!" geram Udelia tidak habis pikir seorang putri Maharaja dapat diperlakukan sedemikian rupa.


Udelia meraih tangan Maya yang mengudara. Dia mengecup tangan itu dan mengusapkan ke pipinya.


Darah di tangan Maya sudah lumayan stabil. Sekarang Udelia dapat menenangkan hatinya. Sepanjang hari selama perjalanan, Udelia takut Maya tidak dapat menahan aura dari ular naga.


Udelia sangat takut.


"Ananda tidak memberi tahu ayahanda. Pernah satu kali ada yang mengejek ananda, malam harinya keluarga dia musnah karena amarah ayahanda."


Maya sedikit bergidik mengingat malam itu. Dia tidak membenci ayahandanya yang terlihat mengerikan kala dia dibawa langsung ke kediaman yang bersangkutan dan menyaksikan penyiksaan secara langsung.


Maya hanya tidak ingin ayahandanya yang sibuk menjadi semakin sibuk karena ulahnya.


"Itu bukan sekedar ejekan, sayang. Kamu sampai dilukai.."


Atas kekejaman Hayan kali ini, Udelia menyetujuinya. Seratus persen setuju.


Kalau saja ada kesempatan, Udelia ingin sekali mencincang orang-orang itu!


"Itu bukan hal pertama, ibunda. Beliau sering memasukkan wajah ananda ke baskom ketika sedang kesal .."


".. pernah menenggelamkan di kolam padahal tau ananda tidak bisa berenang dan lain sebagainya.."


".. Ananda tidak ingin ada pertikaian di dalam istana."


Sambil bercerita Maya menggigit bibirnya. Dan Udelia mendengar jelas suara bergetar yang keluar dari mulut putrinya.


"ORANG-ORANG INI ...!"


••• BERSAMBUNG •••

__ADS_1


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


__ADS_2