TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
011


__ADS_3

Embun di mata menghalangi jarak pandang Maya, ia usap matanya dengan punggung tangan sambil berlari menuju danau yang tak lagi terhalangi.


Tangan Maya spontan menutupi wajahnya ketika air danau menyembur keluar.


Di tengah danau tampak ular besar dengan sisik emas di tubuhnya dan sisik perak yang berbaris rapih di bagian bawah tubuh.


Moncongnya sangat panjang dan rambut hitam tergerai dari kepala tertutupi mahkota besar bernama djangkang lungsen.


Di punggung ular itu terdapat sayap hitam yang warnanya senada dengan rambut panjangnya dan scapularnya berhiaskan emas putih yang melilit.


Ujung ekornya yang sebesar lengan orang dewasa terdapat gelang lidah api, gelang itu akan berwarna kemerahan bila terkena sinar matahari.


Dia adalah ular naga Jawa, salah satu makhluk besar yang sama sulitnya ditemui seperti garuda.


"Untung saja tasku tahan air." Udelia berdiri di atas moncong panjang dan besar memperhatikan keadaan sekitar.


Dia sedikit meringis melihat putrinya basah karena ulahnya. Mata mereka saling bertemu dan mereka sama-sama menghela nafas lega dengan ekspresi yang mirip.


Hewan itu menjatuhan kepalanya dan menurunkan Udelia ke atas tanah. Udelia langsung berlari membantu buah hatinya untuk berdiri.


"Terimalah!" Ular naga mengarahkan ujung ekornya ke depan Udelia yang sedang membantu Maya.


"Bagaimana kalau dengan putriku?" tawar Udelia menunjukkan Maya yang bersembunyi ketakutan di belakangnya.


Kaki Maya mati rasa saat ular naga itu memperhatikan dirinya dengan menghembuskan napas yang terdengar berat.


Ular itu membaui Maya menghirup aroma Maya yang sangat berbeda dengan aroma dan aura murid petapa agung di matanya.


"Putrimu?" kata ular naga ragu.


Ular naga semakin mendekatkan wajahnya memperhatikan Udelia dari atas ke bawah.


"Padahal kamu masih perawan," imbuh ular naga.


Udelia memeluk Maya. Menenangkannya dengan mengusap peluh yang keluar di kening Maya. "Putriku, tenanglah," ucap Udelia.


"Dia akan jadi hewan kontrakmu dan kamu bisa menyuruhnya ini dan itu," tambah Udelia berbisik.


"Dia lemah," cibir ular naga.


"Putriku akan kuat," balas Udelia.


"Hei berubahlah dulu!" titah Udelia agar putrinya tak lagi gemetar dan langsung dituruti oleh sang ular naga.


Ular naga berubah menjadi seorang pria yang memakai jarik putih terbalut kain lain berwarna emas melingkar di belakang jarik.


Tampak kain hitam bergaris putih samar di pinggang kanan melingkar ke bahu lalu jatuh ke tanah.


Hiasan putih di sayapnya berubah menjadi gelang kelat bahu, sementara gelang di ekornya kini berada di tangan kiri.


Dan mahkota djangkang lungsen tetap terpasang di kepalanya lengkap dengan rambut hitam panjang yang sama.

__ADS_1


Udelia harus mendongakkan kepalanya karena pria itu memiliki tinggi lebih dari dua meter. "Siapa namamu?"


Maya semakin bersembunyi di belakang Udelia karena wajah ular itu terlihat licik.


Dia tidak bisa melihat perasaan dari ekspresi datar si ular naga.


"Aku belum pernah memiliki majikan," jawab ular naga.


"Sangat tidak mungkin," ucap Udelia tak percaya.


Ular naga berumur lebih panjang daripada harimau dan lebih banyak diincar oleh ksatria tingkat tinggi.


Tercatat dalam sejarah bahwa setiap pendiri kerajaan-kerajaan besar dan kecil memiliki kekuatan dahsyat yang dihormati oleh keluarga-keluarga lain.


Walau tidak secara resmi tertulis dalam prasasti bahwa para pendiri itu memiliki hewan kontrak, banyak cerita rakyat beredar tentang hewan kontrak para raja pertama.


Dan yang paling populer adalah kepemilikan atas ular naga.


"Dari panjangnya sekitar seratus meter, mungkin sudah ribuan tahun." Udelia berasumsi dengan yakin.


"Umurku seribu lima puluh enam tahun. Selama itu terus menjaga Telaga Ngebel. Gurumu menarik bagiku, namun dia malah mengusirku demi manusia-manusia yang menjadi perusak alam."


Di masa itu sang ular naga selalu membunuh setiap makhluk yang mendekat ke telaganya kecuali hewan-hewan kecil yang tidak memiliki kekuatan.


Hal ini tentu saja mengusik warga yang membutuhkan air di telaga untuk minum dan keperluan sehari-hari.


Banyak orang mati dan Petapa Agung pun turun tangan.


"Yah itu sudah berlalu ratusan tahun, melihatmu hanya berkontrak dengan harimau, tidakkah ingin bersamaku yang kuat ini?" Ular naga menjulurkan tangan kirinya tempat gelangnya yang berkilauan berada.


Ular naga berpikir sejenak. Ucapan Udelia tersirat makna yang dalam. Dia belum mengerti maksud di baliknya.


Namun karena murid petapa agung ini berkata dengan yakin, ular naga mengangguk setuju.


"Baiklah. Tapi jika putrimu tak ada perkembangan hingga lima tahun ke depan, aku akan menyerap seluruh kekuatannya hingga dia tak bisa bangun dari tempat tidur."


"Ibunda, ananda selalu gagal dalam melakukan kontrak," sela Maya dengan pesimis.


"Kekuatan darinya akan menguntungkanmu. Percayalah nak!"


"Ananda percaya." Maya berubah pikiran dengan cepat.


"Kepalkan tangan kirimu, nak."


"Hei–" Ular naga sedikit terkejut. Dia pikir anak manusia ini takut padanya dan akan lari sendiri.


Tapi ternyata anak kecil ini sangat mempercayai murid Petapa Agung dan langsung merubah pikirannya!


Udelia menarik tangan sang ular naga. "Kamu dengar sendiri dia belum pernah melakukan kontrak."


Udelia menyatukan kepalan ular naga dan Maya kemudian ia pindahkan gelang ke tangan kiri Maya.

__ADS_1


"Tangan kanan!" Udelia menengadahkan tangannya pada putrinya.


Maya memberikan tangan kanannya lalu Udelia menggores ujung jari Maya dan memasukkan dua tetes darah ke lubang putih yang terdapat di gelang.


"Kamu benar-benar licik." Ular naga menarik tangannya sambil menatap kesal Udelia.


"Sekarang beri dia nama, nak."


Ibu dan anak ini saling berinteraksi mengabaikan seseorang yang seharusnya menjadi pemeran utama.


Orang lain jika ingin menjadikan ular naga sebagai hewan kontraknya harus bertarung sampai mempertaruhkan nyawa.


Dua orang ini sudah diberi kemudahan malah mengabaikan si ular naga.


Kekesalan ular naga semakin bertambah.


"Karena dia panjang dan lebar, bagaimana kalau Antar, bu?" tanya Maya dibalas anggukan Udelia.


"Kamu sekarang bernama Antar," ucap Maya dengan berani pada sosok manusia dari si ular naga.


Antar mengangguk. "Bekerja keraslah!" kata Antar seraya menatap lubang hitam di sisi lubang putih pada gelangnya yang sudah berpindah.


"Atau ibumu yang akan terkena," tambah Antar sebelum meloncat dan kembali berubah ke tubuh aslinya.


Perisai terluar yang dibangun Udelia perlahan menghilang. Lowo dan kawan-kawannya bergegas mendekat.


Mereka tercekat melihat bagian tubuh Antar yang sedang masuk ke danau. Mereka berpikir inilah akhir hidup mereka.


Setelah berpuluh-puluh tahun kerajaan dan kedatuan berdiri, belum terdengar lagi orang sekuat para raja terdahulu.


Yang artinya tidak akan ada yang mampu mengalahkan hewan-hewan mitos dan mereka akan mati begitu saja.


Udelia menangkap Maya yang tak sadarkan diri. Dia tersenyum lega melihat Maya langsung beradaptasi dengan hewan kontraknya.


"Ini membutuhkan waktu yang cukup lama," batin Udelia menilai.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Udelia merasakan hawa suram dari kelompok yang ikut bersamanya.


"Tenang saja.." Lowo tersenyum kikuk melihat semua yang terjadi.


Sepertinya perjalanan mereka kali ini bukan hanya untuk mendapatkan surat perjanjian damai bersama Bhumi Maja.


Mereka akan mendapatkan banyak pengalaman menarik.


"Hei, hidungmu berdarah!!!" Reo menunjuk hidungnya sendiri. Dia menatap khawatir darah yang mengalir deras dari hidung Udelia.


"Apa maksudmu?" tanya Maya di dalam mimpinya melihat Antar berwujud ular naga.


"Saat memindahkan gelang, wanita yang mengaku ibumu itu memasukkan darahnya sendiri ke mata yang hitam. Bagian kutukan jika tidak memenuhi keinginanku .."


".. Sedangkan sisi mata yang putih adalah janjiku memenuhi semua panggilan dan melindungi yang darahnya menetes ke sana."

__ADS_1


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


__ADS_2