![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Hei cantik, mau ke mana?"
Segerombolan pria berpakaian ala prajurit menghalangi jalan masuk gua. Udelia meringis melihat pintu gua mulai tertutup.
Entah orang-orang di dalam menyadari ada dirinya di luar atau tidak, warga wanua di dalam gua terburu-buru menutup pintu masuk saat melihat gerombolan pria mendekat ke pintu masuk.
Udelia menarik napas. Menghilangkan sesak di hati. Dia akan memaklumi para warga yang mengorbankan dirinya. Jika pintu terus dibuka, bukan tak mungkin para penyerang menyusul wanita dan anak-anak dan menciptakan masalah.
Ada banyak ibu dan anak yang harus dilindungi di dalam sana. Udelia menenangkan hatinya. Dia memiliki Utih dan kekuatan yang besar. Dia akan menggunakan sampai titik darah penghabisan.
Udelia menatap tajam prajurit yang menghalangi jalannya. Tidak ada rasa takut pada diri Udelia, hanya saja dia mengkhawatirkan keselamatan dua putranya.
Jika dia lengah, para penyerang itu dapat menangkap putra-putranya dan menyanderanya.
"Minggir! Aku tidak punya apa pun," galak Udelia.
"Lalu ini apa?"
Prajurit dengan tubuh paling besar menarik kalung Udelia. Pria itu menyeringai. Kalung di tangannya tampak sangat mahal.
Udelia tidak melawan, tubuhnya mendadak tidak dapat bergerak.
"Oh. Lembut sekali kulitmu."
Pria itu menatap leher jenjang Udelia sambil membasahi bibirnya.
"Angkut," titah pria besar itu pada anak buahnya lantas pergi menuju tuannya, Pangeran Niskala.
Dia dan rekan-rekannya hanya diperintahkan untuk mencari keberadaan warga desa.
"Lepaskan anakku!!" teriak Udelia pada prajurit yang menjinjing Rama. Dia baru tersadar dari lamunnya kala Rama dan Raka menangis bersamaan.
"Berisik sekali!" balas si prajurit melayangkan tangannya.
Telinga Udelia berdengung. Tubuhnya limbung dan jatuh ke tanah. Udelia menahan tangannya, melindungi Raka yang terus menangis. Dia melindungi bayinya agar tidak terhantam tanah.
"Jangan kasar. Bos ga suka perempuannya jadi cacat," ucap prajurit lain.
"Aku ga paham kenapa bos suka wanita begitu," cemooh prajurit yang memukul Udelia.
"Yah seleranya memang aneh."
"Apa kalian menjadi tak waras karena tinggal di dalam gua dan tidak berinteraksi dengan banyak orang? Apa kalian tidak malu memukul wanita? Dia membawa anak-anak."
Seseorang yang mengendarai kuda mendekat ke sumber keributan. Dia tidak suka dengan kekerasan pada wanita dan anak-anak.
"Wah Wiyasa Palembang berani menceramahi, tapi sendirinya memberontak pada tuannya," cibir si prajurit yang memukul Udelia.
__ADS_1
"Wiyasa Palembang?" beo Thani Mejeng. Dia tidak menyangka salah satu Wiyasa Bhumi Maja terlibat dalam penyerangan di wanuanya.
Wiyasa Palembang memang pernah dia jumpai saat Wiyasa Palembang berkunjung ke Sunda Nagara, bukan suatu yang aneh karena mereka berada dalam satu kekuasaan Bhumi Maja.
Pria yang duduk manis di kursi perjamuan, sekarang sedang berhadapan dengannya dalam perang berdarah.
"Tuan Balaputra, jangan terlibat hal merepotkan," sela Niskala. Kudanya terhenti di samping kuda Wiyasa Palembang.
Balaputra tidak merespon thani, pun pangeran yang berceramah padanya. Matanya lurus menatap seorang wanita yang ada di kerumunan prajurit sekutunya.
Wanita yang sudah lama dicarinya. Wanita yang tidak kunjung dia temukan meski sekuat tenaga mencari keberadaannya.
Mata Niskala membola kala sebuah kepala melayang terpisah dari tubuh prajurit yang membuat gaduh dan terlihat pula sebuah pohon tumbuh di salah satu tubuh prajurit lainnya.
Pangeran Niskala menatap tajam Wiyasa Palembang. Dia hanya mampu menatap tajam. Karena dia tidak dapat melawan kekuatan yang dimiliki Balaputra.
Udelia memuntahkan seluruh isi perutnya. Tak pernah Udelia melihat pemandangan seperti itu. Rupa keduanya sangat mengerikan. Tubuh tanpa kepala dan tubuh dengan pohon.
"Maaf membuatmu melihat hal itu," tutur lembut Balaputra.
Niskala bergidik ngeri mendengar suara Balaputra. Dia kira Balaputra hendak menolong wanita itu. Namun jika Balaputra sudah merendahkan suaranya, akan ada korban jatuh karena ulahnya.
Balaputra mengusapkan telapak tangan di pakaiannya, seolah membersihkan kotoran yang membandel. Lalu dia menjulurkan tangan bersihnya ke kepala Udelia. Mengusapnya lembut.
"Kamu sangat berbeda dari tiga tahun lalu. Tapi kamu tetaplah Udelia," ujar Balaputra. Dia berjongkok menangkup wajah Udelia.
"Saya.. tidak memiliki apa pun," cicit Udelia.
Balaputra tertawa renyah. Niskala menaikkan alisnya. Sekutunya yang tidak banyak bicara dan sedingin es, dapat tertawa dengan lepas. Dan lasan tawanya karena wanita kampung.
"Tidak perlu takut. Justru aku yang berhutang banyak padamu. Bangunlah."
Balaputra melap mulut Udelia yang basah dengan ujung selendangnya, kemudian menggendong Rama. Bocah kecil itu hanya diam dan menurut.
"Ayo!" ajak Balaputra.
"Aku tidak memiliki apa pun," ulang Udelia.
"Aku akan memberikan apa pun yang kamu mau."
Udelia merasa pesimis. Thani Mejeng yang semula berani bersuara di depan Niskala, mendadak diam dan ciut oleh kehadiran Wiyasa Palembang.
Udelia tidak bisa mengharapkan keselamatan pada pria seperti itu. Dan pria itu tampak tidak mau membelanya.
Udelia menoleh ke arah suara langkah kaki, dia menangkap bayangan Candra datang bersama Udis. Keduanya tampak berbincang-bincang.
Udelia tersenyum getir. Saat dia bersama dua putra mereka berada di antara hidup dan mati, Candra justru berbincang santai dengan Udis.
__ADS_1
Udelia menggeleng. Menepis segala cemburu. Suaminya mungkin saja semalaman ada kesibukan di luar dan meminta bantuan Udis untuk mencari tempat. Atau mungkin bertemu Udis saat berada di luar.
"Siapkan tandu."
Suara perintah Balaputra menumbuhkan rasa cemas di dalam hati. Apa pun kebenarannya, Udelia harus menyelamatkan dua putranya.
Baru akan bersuara memanggil Candra, suaminya tampak menahan tubuh Udis yang hampir terjerembab akibat tidak hati-hati.
Suaminya senang sekali memeluk wanita itu.
Sebelumnya pria itu beralasan, hanya refleks menangkap Udis. Saat ini dia perhatikan, suaminya juga refleks menangkap tubuh Udis.
Refleks yang tidak pernah terjadi di rumah, ketika seorang pelayan hampir jatuh bersamaan dengan nampan yang penuh dengan masakan.
Saat ditegur, suaminya menunjukkan raut yang tampak bersalah. Marah-marah terhadapnya. Menunjukkan seolah pria itu benar melakukan yang Udelia pikirkan.
Candra tampak melepaskan pelukan pada tubuh Udis. Baru dua langkah mereka berjalan beiringan, Udis kembali terpeleset oleh tanah yang basah. Lagi dan lagi Candra menangkap tubuh Udis secara refleks agar tidak terjatuh.
Udelia berjalan mundur hingga menabrak dada bidang Balaputra. Balaputra tersenyum kecil, mengira Udelia telah mau memihak padanya.
Pandangan Udelia awalnya berbinar pada pria yang datang bersama seorang wanita. Kemudian redup saat pria dan wanita itu saling berpelukan.
Balaputra menerka-nerka hubungan Udelia dan pria itu. Suami dan istri, dia menduga demikian.
"Ayo." Balaputra memegang bahu Udelia. Menyadarkan wanita itu agar tidak terus menatap pemandangan yang menyakitkan.
Balaputra tidak sanggup melihat mata Udelia berkaca-kaca.
Udelia mendelik. Pria itu mengambil kesempatan dalam kesempitan. Memegang bahu polosnya dengan tangan yang polos. Sebuah tindak pelecehan bagi Udelia.
Mendapat tatapan tajam dari wanita yang sedang menggendong bayi merah, spontan Balaputra melepas tangannya. Dia mengangkat tangannya setinggi telinga, selayaknya orang yang telah menyerah.
"Maaf!" ucap Balaputra cengengesan. Dia pun menurunkan Rama. Ekspresi ketakutan sangat terang terlukis di mata bocah itu.
Rama bergegas mendekati ibundanya. Dia memeluk erat lengan ibundanya. Tidak mau jauh dari ibundanya. Jiwanya terguncang melihat kejadian mengerikan yang dipertontonkan oleh Balaputra.
"Nda ... takut," bisik Rama.
Udelia mengigit bibirnya. Suaminya sibuk dengan wanita lain. Dia hanya dapat mengandalkan diri sendiri.
"Tidak apa sayang." Udelia mengusap air mata di pipi Rama.
Menatap tandu yang tergeletak di depannya, Udelia menuntun Rama untuk naik. Mereka duduk bersebelahan.
Tandu diangkat. Bergerak meninggalkan tempat kejadian. Menjauhi Candra yang telah berdiri di depan gua.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
__ADS_1
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]