![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
Udelia mengusap darah yang muncul di bibir kanannya. Ini adalah kekerasan yang pertama. Yang sakit bukan hanya fisiknya, namun juga bathinnya.
"Benar. Harusnya kamu menghukumku."
Udelia tersenyum getir. Rintik air mengalir di pipinya.
"Candra Ekadanta! Apa yang kamu lakukan?!!!!" teriak Boco.
Begitu mendengar suara tamparan, Boco langsung menyeruak masuk ke dalam kamar. Mengesampingkan norma yang ada, keselamatan menjadi yang utama.
Boco sungguh tidak menyangka, cucu tersayangnya melakukan suatu kekerasan. Dia melihat sendiri tangan besar Candra menggantung di udara, sementara wajah cucu menantunya menyamping dan tampak ruam merah bekas tamparan.
Lebih gilanya lagi, cucu menantunya sedang menggendong cicitnya. Boco berharap tidak terukir ingatan dalam diri Raka tentang kekerasan hari ini.
Padahal keluarga mereka sema sekali tidak pernah mengajari kekerasan. Keras di medan perang, bukan berarti harus keras kepada keluarga.
Di dalam kediaman Ekadanta selalu penuh dengan cinta, tidak boleh ada sedikit pun kekerasan.
"Nak, hidungmu ... Ayo keluar dulu."
Boco menuntun Udelia. Hidungnya mengeluarkan banyak darah. Perempuan itu menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap suaminya.
"Kau! Candra Ekadanta! Datanglah setelah ini!" geram Boco pada Candra.
Candra mematung di tempat. Terus memandangi telapak tangannya.
Sekali lagi, dia membuat dosa.
Udelia mengikuti langkah Boco ke gubuk lain untuk menerima pengobatan.
"Nak, Rakanya dibaringkan dulu. Banyak darah di kembenmu."
Udelia menggeleng lemah. Dia tidak mau melepaskan putranya.
Boco tidak memaksa. Tangan rentanya membalurkan rempah ke pipi cucu menantunya.
Udelia meringis. Sesakit itu tamparan suaminya. Disentuh sedikit, seperti ditekan dengan keras.
Boco menatap sendu menantu keluarganya. Kondisi Udelia amat mengenaskan. Terlihat jelas trauma dalam dirinya.
Sedetik pun tidak mau melepaskan Raka. Perempuan itu pasti gusar kehilangan anak sulungnya.
Semua perkataan menyakitkan yang keluar dari mulut cucu menantunya, bukanlah dari lubuk hatinya melainkan dari sakit hatinya.
Udelia menunduk, mencium dalam-dalam kening Raka, ketika Boco menutup pintu, membiarkan Udelia menangis dalam hening.
__ADS_1
Raut wajah sendu Boco berubah garang. Rahangnya mengeras. Tubuh renta yang masih terlihat atletis itu berjalan penuh wibawa ke arah gubuk tempat tidur dan tempat bersantai.
"Cucuku ..... haaaaa!"
Boco menghela napas panjang. Tak habis pikir dengan kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan cucunya.
Boco melihat sendiri bagaimana cucu kesayangannya tumbuh. Tidak kekurangan kasih sayang, justru banyak menerima cinta.
Wajar bila keras dalam arena pertarungan, di luar arena sama sekali tidak ada didikan yang menggunakan tangan ataupun kata-kata kasar.
Bahkan menantu perempuannya, Tuti, begitu lembut memperlakukan Candra. Entah bagaimana perasaan sang menantu bila mendengar menantunya telah ditampar oleh anaknya.
Boco menjatuhkan Candra dalam sekali pukul. Dia tidak tahan melihat wajah cucunya, mengingat tangis cucu menantunya dan tangis cicitnya. Kedua pasti ketakutan.
"Apa pun masalahmu, wanita itu amat rentan. Janganlah gunakan kekerasan meski istrimu sekuat ksatria!"
Boco mengambil duduk di amben, menghadap Candra yang bersimpuh di depannya. Berulang kali dia menarik kasar udara di sekitar.
Benar-benar tak habis pikir. Di hari tuanya, dia melihat kekerasan yang tidak pernah terjadi dalam tujuh dekade hidupnya sebagai bagian keluarga Ekadanta, pun sebagai kepala keluarga Ekadanta.
"Tamparanmu ini terjadi hanya dalam beberapa detik, menyembuhkannya cukup beberapa hari, namun bekas di hati tidak akan hilang."
"Itu karena–"
"Apa pun. Kubilang apa pun," tegas Boco.
"Bukankah kamu sudah tahu lama dan terus diam karena tidak ingin merusak semuanya? Kenapa menyalahkan prinsip istrimu? Harusnya bisa dibicarakan baik-baik sebelum semua terjadi."
Boco menatap tajam Candra yang menunduk bagai anak kecil yang sedang dimarahi karena telah berbuat salah. Pria itu tidak memiliki bantahan.
Candra tercengang. Dia tidak menduga sang kakek telah tahu. Ah, nampaknya dia terlalu meremehkan keluarganya.
Dia yang masih ingusan saja sudah mengetahui bahwa bayi pertama yang lahir dari rahim istrinya adalah bukan keturunan Ekadanta, bagaimana mungkin yang lebih tua tidak mengetahui?
Asin manis kehidupan sudah dilalui kakeknya, lebih banyak dari dirinya. Pun sang kakek melihat sendiri rupa bayi Maharaja saat dahulu masih bekerja di bawah ratu pertama Maja.
Ada rasa haru menerpa hatinya. Mereka tidak menghakimi istrinya karena melihatnya mendapat bahagia bersama sang istri.
Pantaslah tiada orang kediaman Ekadanta mempertanyakan hilangnya Ijen dari peredaran.
Mereka sudah mengetahuinya.
"Istrimu bukan orang yang seperti itu. Harusnya kamu sadar seberapa nekatnya dia."
Candra mengangguk kecil. Padanya saja sang istri rela berdarah-darah bahkan hampir kehilangan kakinya, tidak mungkin pada darah dagingnya sendiri, sang istri begitu kejam.
__ADS_1
"Dia hanya terlalu terguncang dengan kenyataan yang ada. Kudengar Mahapatih menyerangmu? Apa ada lagi yang kamu sembunyikan, Kepala Keluarga?"
Candra membungkam.
***
"Bukan orangnya tapi peliharaannya yang datang?"
Pria yang duduk di atas kursi berdecak melihat seekor harimau mendatanginya, mewakili wanita yang ingin dia temui. Sengaja dia tidak lagi memaksa, sebab kini dia pahami sulitnya mengendalikan burung yang liar.
Akan dia ambil hati putranya, baru dia akan mencuri hati ibunya. Hayan memanfaatkan perasaan anak kecil yang senang menempel padanya. Dia akan membujuk makhluk kecil itu untuk tinggal bersamanya.
Hayan mengamati harimau putih yang berubah menjadi manusia. Utih merubah dirinya agar dapat berbicara pada manusia selain majikannya.
"Nonaku berkata, silakan ambil anakmu."
"Anakku?" Hayan menaikkan alisnya. Sedikit bingung maksud perkataan si harimau.
Apa Maharaninya menyerahkan anak itu untuk dijadikan anaknya?
"Orang yang lewat pun akan yakin. Lihatlah wajah putra Udelia dengan wajahmu, Maharaja."
Hayan terdiam, mencerna ucapan Utih. Tidak sering berkaca menjadikannya agak lupa dengan wajahnya. Pastinya tiap hari wajahnya dibersihkan dan dipijat. Selalu tampan dan mempesona.
Ingatannya tiba-tiba melayang ke tahun-tahun sebelumnya, sebelum Rama lahir ke dunia. Dia mengira-ngira apa yang terjadi di tahun itu.
Hayan menyalang mengingat yang telah terjadi. Malam hari saat dia menghilangkan perawan wanita yang dia kira penghuni kebun belakang Candra.
Ternyata, wanita itu bukan wanita simpanan, melainkan pengantin wanita Candra, yang juga adalah Maharaninya.
Hayan mengumpat dalam hati. Rasa familiar, luka di tubuh, segala adat istiadat pernikahan yang mencurigakan, seharusnya sudah cukup menjadi alasan untuknya menyelidiki pernikahan Candra yang terkesan buru-buru dan tertutup.
Hayan merasa menjadi orang paling bodoh sedunia.
"Dia ... putraku?" ulang Hayan memastikan.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
UNTUK INFORMASI DAN LAINNYA HUBUNGI AUTHOR DI ...
F B : leelunaaalfa4 (lee lunaa alfa4)
__ADS_1
I G : alsetripfa4