TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 045


__ADS_3

045 - TANPA BERKEDIP


"Sss.. sakit..."


Udelia meringis sakit memegangi perutnya.


Hayan sigap membawa sang istri ke luar hotel.


Udelia sempat melihat Hayan membawanya ke mobil pribadi tanpa rasa ragu.


Apa mobil itu milik bocah ini?


Udelia tidak sanggup berpikir.


Dia kehilangan kesadaran.


Kesadaran Udelia berangsur pulih saat suara derit memenuhi rungunya.


Pandangan yang kali pertama Udelia lihat ialah wajah khawatir Hayan.


'Apa kamu benar- benar mencintaiku?' batin Udelia.


"Ishhh.."


Nyeri kembali mendera raga Udelia.


Ada yang meremas di dalam sana.


"Sayang? Syukurlah kamu sadar!"


Di tubuh Hayan menempel bercak darah pada baju tidurnya.


Dia mondar -mandir dengan cemas ketika dokter melarangnya masuk.


Waktu yang terasa lambat itu akhirnya berlalu.


Pria berjas putih keluar dan meminta Hayan untuk mengikutinya ke kantor.


Tiada rasa kesal dalam diri Hayan ketika diperintah demikian.


Kepalanya dipenuhi rasa khawatir.


".. Ibu Udelia harus bedrest total sampai kondisinya pulih. Mohon bapak bersabar. Jangan mengajak ibu olah raga malam dahulu. Apalagi sampai membuat bengkak."


Hayan bukan orang bodoh yang tidak paham pembicaraan dokter.


Tapi, bersamanya, Udelia dan dia hanya melakukan gerakan- gerakan yang lembut.


Mereka hanya sekali melakukan.


"Malam pengantin.." desis Hayan.


Teringat Udelia sedang menghabiskan malam bersama suami lainnya.


Dan ya, wajah itu sedang mendekat.


Tangan Hayan tercetak pada wajah Djahan.


Djahan mengangkat tangannya. Menyuruh bawahannya untuk tidak gegabah.


"B^ jingan kamu. Bagaimana bisa kasar pada Udelia?! Kamu tidak memikirkan kondisinya? Kamu terlampau naf su, hah!?" sentak Hayan kesetanan.


Hilang sudah rasa hormatnya.


Apa Sang Mahapatih sepicik itu? Mengambil waktu kebersamaan dia dan Udelia. Membuat Udelia jatuh sakit agar tidak bersamanya.


"Apa maksud Anda, Maharaja?" kata Djahan dengan sabar.


Dia masih ingin tahu kabar Udelia.


Tak patut pula membuat keributan di rumah sakit.


"Malam pengantinku dan Udelia. Kamu sengaja kan membuat Udelia tidak bisa menghabiskan waktu bersamaku?!" jelas Hayan kesal.


"Saya tidak..."


"Kalau tidak melakukan, silakan pergi! Jangan ganggu aku dan Udelia," potong Hayan cepat.


Dia tidak mau diganggu.


Walau sang istri hanya terbaring di brankar rumah sakit, dia tetap tak berharap diganggu oleh suami istrinya yang lain.

__ADS_1


"Tapi Udelia juga istri saya. Saya mau tahu perkembangannya," bantah Djahan.


"Haruskah kuulangi perkataanku?" desis Hayan.


Djahan tertegun akan kekuatan yang dipancarkan Hayan.


Dia akhirnya membawa pergi rombongannya.


Selain itu, dia juga tidak mau membuat Udelia terbebani.


Djahan tahu, Udelia juga tersiksa dengan keadaan ini.


Dia berjalan gontai menuju mobil dengan pintu rendah berwarna hitam silver.


Mobil melesat pergi tanpa guncangan.


Sepanjang perjalanan dia melamun, tidak mendengarkan ucapan bawahannya.


Sampailah dia dan rombingannya ke istananya yang megah.


Rumah kotak tanpa atap yang tak meninggalkan kesan adat, seperti ingin Udelia dahulu.


Sehari- hari dia berharap Udelia datang dan mengabarkan kegagalan pernikahan keduanya.


Kenyataan tak seindah harapan.


Wanita itu bahkan sudah bersatu dengan atasannya.


"Tapi kenapa dia begitu emosi? Menganggap aku melakukan hal brutal pada Udelia?" gumam Djahan.


"Lapor, Tuan. Oleh dokter dikatakan Nyonya jatuh sakit karena permainan ganas yang berulang dan panjang durasinya."


Kedua tangan Djahan mengepal.


Adakah orang yang memaksa istrinya?


Tapi, kenapa Sang Maharaja begitu marah?


"Ekadanta.." desis Djahan.


Setelah Sang Maharaja, lalu Penyihir Agung?


Apa setelah ini, Rakryan Tumenggung, sahabat kecil Udelia di masa lampau?


Tentang Udelia yang dikelilingi banyak mentari.


Jika saja bisa, dia ingin menghapus gambar mentari lainnya!


"Lantas kami memeriksa Nyonya, Tuan. Ada benih tumbuh dalam rahim beliau."


"A- apa?" Djahan kebanyakan melamun. Dia merasa salah mendengar perkataan bawahannya.


"Nyonya hamil, Tuan. Dokter modern akan sulit mendeteksi kehamilan Nyonya, karena hamba yakin benih dalam diri Nyonya berasal dari benih Tuan. Mereka tidak memiliki kemampuan."


Djahan seketika tersenyum cerah.


Bayi yang dia rindukan.


Anaknya yang sudah lama dia dambakan.


Berita ini turut didengar Candra dari bawahannya.


Dia tersenyum puas.


Meski baru dua kali menghabiskan hari yang panas bersama Udelia, dia yakin itu adalah benihnya dari pergulatan yang pertama.


Benih Mahapatih terlalu lemah.


Pria itu berulang kali menggauli Udelia, tapi tak kunjung ada yang jadi.


Mengapa setelah dia menyumbangkan benih, lantas Udelia hamil?


Candra yakin, anak ini adalah miliknya!


Hayan tertegun kala selesai memeriksa denyut nadi Udelia.


Darah yang mengucur deras dari selang ka ngan istrinya mengundang curiga.


Benar saja. Udelia sedang mengandung.


Rasanya seperti karma berulang!

__ADS_1


Dahulu, Udelia juga sedang mengandung putra Mahapatih ketika menikah dengannya.


Kisah kelam yang hanya diketahui dia, Udelia, Mahapatih, dan beberapa abdi ndalem yang membantu mengurusi Maharani.


Udelia keguguran kala melancong ke luar kerajaan untuk menenangkan diri.


Tanpa mengetahui dirinya hamil, Udelia langsung menyanggupi pernikahan dengan dirinya yang didasari ancaman.


Keletihan itu membuat janin Udelia gugur. Sebab lainnya adalah makanan adat pernikahan yang terlalu banyak mengandung daging dan minuman keras.


Hayan merasa bersalah dan hendak menyudahi tingkah menyebalkannya.


Tapi sungguh, dia tidak punya kandidat Maharani yang pantas.


Dia hanya dapat meminta maaf di setiap malamnya.


Sekarang, haruskah Hayan melepaskan Udelia?


Ponsel dalam saku Hayan berdering.


Kata staff tampil pada layar ponselnya sedang melakukan panggilan.


Hayan menggulir tombol hijau.


Sedikit menjauh agar sang istri tidak terkena radiasi.


["Tuan, mohon bantuannya. Ada prasasti kuno di rumah warga di desa A. Saya ingin bantuan Tuan pada awal bulan depan,"] ucap seseorang dari seberang sana.


"Em," balas Hayan.


Sejurus kemudian dia mematikan panggilan itu.


Menerjemahkan kalimat kuno pada prasasti kerajaan yang tertimbun, Hayan mendapatkan begitu banyak uang hanya dengan menerjemahkan satu dua kalimat.


Maka dari itu, dia sekarang memiliki rumah dan kendaraan pribadi.


Adik- adik Udelia dan kedua orang tuanya ikut dia sertakan dalam berbagai penelitian.


Selain mengajarkan ilmu ghaib, dia juga mengajarkan bahasa kuno.


Menumbuhkan rasa hormat pada diri keempatnya.


Melupakan sang menantu kaya yang selalu mengirim uang senilai fantastis.


Rasa hormat mereka pada Hayan lebih besar dari rasa kagum mereka pada Djahan.


Itulah mengapa mereka lebih berpihak pada Hayan. Tanpa perlu memaksa Udelia untuk berpisah dari Djahan.


Djahan sampai di depan pintu rumah sakit dengan hati yang berdebar.


Sementara Candra menahan diri di tempatnya.


Dia tidak leluasa untuk bepergian di atas tanah.


Ada energi dalam tubuhnya yang membutuhkan aura kedalaman laut.


Djahan berlarian di sepanjang lorong rumah sakit.


Mengabaikan teguran para dokter dan suster.


Dia amat sangat senang dengan berita yang dibawa bawahannya.


Saat sampai di depan pintu rawat Udelia, Djahan berulang kali menarik napas.


Mengumpulkan kewarasan agar tidak bertindak gila.


Begitu pintu terbuka, gambaran di dalam sana memudarkan senyum Djahan.


Lupa. Ada suami Udelia yang lain di sini.


Hayan tertidur pulas dengan telapak tangan Udelia sebagai tumpuannya.


Menyentak napas yang terasa sesak, Djahan duduk di kursi tunggu.


Memperhatikan kedua insan di tengah ruangan, tanpa berkedip.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]

__ADS_1


Anak siapa tuh?


__ADS_2