![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Siapa yang berani?!" berang Hayan.
Jika saja benar ada orang yang berani meracuni putrinya. Mati terlalu baik untuk si pelaku!
"Entahlah ayahanda. Ibunda bilang, setidaknya ada seratus jenis racun mematikan, dengan kadar yang sama. Semuanya masuk melalui makanan. Tapi tenang saja, ananda sudah disembuhkan ibunda."
Hayan menghela napas panjang.
Orang ini berani menuduh keraton yang ia pimpin, bisa kecolongan hingga meracuni putri kesayangannya.
Jika saja si penuduh mampu menyebut sebuah nama atau satu saja julukan, mungkin Hayan akan percaya.
Tapi akhir dari kisah ini ialah Maya ditolong 'dia'?!
Hayan tidak sebodoh itu!
Sudah cukup dia dibodoh-bodohi oleh suku pedalaman.
"Putriku, orang ini ingin menipumu. Tidak mungkin ada racun yang lewat dari pengawasan ayahanda."
Hayan berkata dengan yakin.
"Ayahanda! Ibunda telah mengajari ananda banyak hal! Termasuk tentang kekuatan, bahkan beliau memberikan hewan kontrak!"
Maya menarik tangan Hayan menuju lapangan. Dia kesal pada ayahandanya yang tidak percaya.
Hayan mengikuti dengan keyakinan yang tak goyah. Perihal racun, mungkin bisa mengelabuhi banyak orang.
Tapi hewan kontrak adalah hewan yang nyata. Memalsukannya sangat mustahil.
Hayan akan mengampuni orang itu dengan kematian yang tenang, bila benar-benar membuat Maya memiliki hewan kontrak.
Tidak semua orang memiliki hewan kontrak.
Butuh kekuatan besar untuk menandatangani kontrak dan melakukan perawatan untuk si hewan.
Jika tidak dirawat, bisa saja level hewannya turun.
Kecuali yang digunakannya adalah segel budak. Segel level tertinggi ini, mampu membuat manusia mengendalikan hidup dan mati hewan kontrak.
Maya menyayat tangannya. Dia meneteskan darah ke sebuah corak berbentuk mulut yang terdapat di gelang.
Hayan terkesiap. Tidak mampu berkata. Kekuatan ini sangat dahsyat. Satu level dengan kuda sembraninya.
Tidak masalah jika Hayan yang menjalankan kontrak dengannya.
Namun Maya masih sangat kecil. Kekuatannya pun masih terbatas.
Mampu mengendalikan hewan sekuat ini, segel yang dibuat Maya pastilah, segel budak!
Segel ini, tidak banyak orang mengetahuinya. Tahu pun, sebagian besarnya tidak mampu mengoperasikannya.
"Ada apa?" tanya Antar bersiap melaksanakan tugas pertamanya. Dia menjulur-julurkan lidahnya dengan semangat.
Berdiam diri di kolam membuatnya bosan. Manusia itu memiliki akal yang bagus, Antar berharap dia mendapat kejutan dalam tugas pertamanya.
"Lihatlah, ayahanda. Ini adalah ular naga Jawa, namanya Antar ..."
__ADS_1
"Mengganggu istirahatku saja!" kesal Antar. Dia tidak menyangka, tugas pertamanya adalah perkenalan pada ayah si kecil.
"... Ibunda menaklukannya lalu memberikannya pada ananda." Maya masih sibuk mengadu pada ayahandanya.
Dia ingin sekali menceritakan betapa serunya perjalanan bersama ibunya.
Bercerita membutuhkan waktu, maka Maya memutuskan menunjukkan hadiah besar yang ibunya berikan saja.
Melihat hewan luar biasa ini. Ayahnya pasti tidak akan meragukan ucapannya lagi!
"Inilah kenapa aku tidak suka anak kecil."
Antar tak menyangka, tugas pertamanya benar-benar membawa kejutan. Dia yang melingkar di tengah halaman, tidak dipedulikan Maya.
Gadis kecil itu masih saja sibuk bercerita tentang penangkapannya oleh murid Petapa Agung.
"Nak ingatlah, ibumu akan musnah jika tidak memenuhi janji," sela Antar.
"Tunggu saja! Saya akan melebihi ibundaa!" teriak Maya pada Antar yang perlahan menghilang .
Kekuatan Maya masih sedikit. Untuk mempertahankan bentuk Antar, sangat sulit baginya. Antar tersenyum di dalam kabut, lalu menghilang sepenuhnya.
"Di mana ibundamu?" Hayan menggoncang bahu Maya. Tanpa sadar dia mencengkeram terlalu kuat.
Maya meringis kesakitan. Bergegas Hayan menarik tangannya. Dia mengusap wajahnya, menetralkan emosi yang menguasai dirinya
Ular Naga Jawa itu, orang-orang setingkat Hayan sangat mengenalinya.
Oleh umat manusia, ular naga hanya ada dalam hitungan jari.
Walau dalam perkiraaan, ular naga memiliki tempatnya sendiri di suatu daerah yang tak terjamah manusia.
"Apa maksudnya musnah?" Lagi, Hayan bertanya.
"Kami berpisah setelah ibunda mengantar ananda ke hutan istana."
"Tentang musnah, naga itu berjanji memberikan kekuatannya dengan taruhan ananda bisa sekuat ibunda, dalam waktu lima tahun."
"Awalnya nyawa ananda yang akan dipertaruhkan. Di tengah-tengah, ibunda meneteskan darahnya sendiri."
"Dengan begitu, beliau yang akan berkorban, jika ananda tidak dapat memenuhi keinginan naga tersebut, yaitu melebihi ibunda dalam lima tahun."
Maya menjelaskan panjang lebar. Bila ayahandanya masih saja tidak percaya. Entah bukti apalagi yang harus Maya tunjukkan.
Maya akan menyerah meyakinkan ayahandanya. Yang terpenting bagi Maya adalah ibunya telah kembali dengan selamat.
"Ibunda mengantarmu ke hutan?"
"Iya. Beliau mengantar ananda sendiri lalu nantinya akan memberikan perjanjian damai Kelimutu yang sudah beliau janjikan pada para penculik ..."
Hayan merenggut mendengarnya. Andai yang dibicarakan adalah istrinya, untuk apa Maharaninya membantu musuh?
Hayan ingin bertanya, tapi dia tetap diam. Dia mendengarkan semua ucapan putrinya, dengan saksama.
".. ah, beliau berjanji setelah melihat kekejian pasukan Bhumi Maja secara langsung." Maya tidak mau kedua orang tuanya bertengkar.
Maya harap, ayahandanya mau berpikir dengan jernih.
__ADS_1
Maya melirik pria tertinggi itu. Hati Maya lega, nampaknya ayahandanya memaklumi perbuatan ibundanya.
"Setelah itu, beliau akan kembali ke dunianya. Tubuh beliau putih pucat seperti mayat. Ananda berharap ibunda sampai dengan selamat."
***
Djahan merasa sangat gelisah, setelah menusuk orang yang mengantar putri kesayangannya pulang.
Papat bersimpuh di jalan, menghentikan langkah kaki Djahan. Dengan terpaksa Djahan menahan langkahnya, guna mendengarkan laporan Papat.
Murid keempatnya itu tidak pernah gegabah dalam bertindak.
"Ada seorang perempuan yang datang, tuan. Awalnya saya merasa sama seperti yang lain, tapi ternyata dia tidak memaksa. Sangat mencurigakan, karena berdekatan dengan waktu penjemputan tuan putri. Namanya Udelia. Mungkin ini bisa jadi petunjuk."
Papat dan orang-orang luar termasuk para bangsawan, belum mengetahui kepulangan Maya.
Hayan dan Djahan sengaja memanfaatkan kesempatan ini, untuk menjaring orang-orang yang setia.
Bhumi Maja terus berkembang. Banyak para penjilat dan pengkhianat bersembunyi di kegelapan.
Orang yang sungguh-sungguh setia, tidak mungkin diam saja melihat sang Tuan Putri menghilang.
Sebaliknya, mereka para pengkhianat, mungkin saja melakuakn berbagai aksi untuk mengacaukan suasana.
Dan para penjilat, pasti akan menawarkan putri mereka, agar Hayan memiliki keturunan lain.
Djahan meninggalkan Papat, begitu pria itu selesai bicara. Dia berjalan ke kamar utama membuka segala perisai yang dipasang.
Ragu Djahan kembali ke kamar ini. Namun dia harus memastikan curiga dalam hatinya.
Djahan menatap lekat-lekat sebuah lukisan yang ditutupi kain putih, tangannya menjulur ke kain putih itu. Dia mencengkeram kain dengan kuat selama beberapa saat diam tak bergerak.
Tangannya tak kuasa membuka kain itu.
Langit membantunya. Sebuah angin berhembus dari sisi Timur. Kain yang sudah menggantung, jatuh terhempas.
Pupil mata Djahan membesar, bersamaan kain yang mendarat ke tanah.
Walau wajah tahanan babak belur, garis wajahnya masih utuh. Tanda lahir di keningnya, akibat tekanan dari dukun beranak ketika lahir, tidak tertutup luka.
Djahan memastikan dengan yakin, tahanan dan orang dalam lukisan adalah orang yang sama.
"Apa yang sudah kulakukan?" sesal Djahan.
Matanya menyalang menatap marah tangannya, yang berani melukai istri tercintanya.
Hati Djahan sangat hancur. Kebodohan dan kecerobohannya membuat petaka besar.
Dia seharusnya sadar. Maya adalah anak yang cerdas. Tidak mungkin begitu tenang tanpa pembalasan, pada sekelompok orang yang telah menculiknya.
Djahan menopang tubuhnya ke tembok. Dia merasa sudah tidak lagi memiliki kekuatan.
Djahan bersimpuh di hadapan lukisan istrinya, menyesali segala perbuatan yang telah dia lakukan.
Djahan mengusap wajahnya dengan kasar. Dia bangkit lalu menuju lapangan belakang, tempat pasukan rahasianya terus berlatih tanpa henti.
"Kita jemput nyonya sekarang!"
__ADS_1
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]