![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]
011 - MEMIKIRKAN TAWARAN YANG DIUCAPKAN
"Aku punya tawaran yang menarik.."
Fusena menggantung kalimatnya seiring dia berjalan mendekat.
Tangannya terjulur, meraih kepala Udelia yang masih setia di bahu Djahan.
Walau ingatannya rusak, raga dan jiwa Udelia mungkin tidak akan pernah melupakan Djahan.
Terlihat begitu nyaman di sisinya. Tanpa kecanggungan.
Berbeda jika bersama dengan dirinya, sedikit menjaga jarak dan tidak bermanja- manja.
Djahan hanya dapat melihat raga Udelia dibawa Fusena menjauh. Dibaringkan ke atas brankar yang tersedia di dalam ruangan siaga balai pengungsian.
Dia semakin sadar, jarak kekuatannya dengan Petapa Agung.
Matanya awas. Memperhatikan Petapa Agung yang sedang membaringkan istrinya.
Lalu pria itu kembali duduk di sisinya, tanpa melakukan apa pun pada istrinya.
"...kamu dan aku, menjadi suami Udelia. Bagaimana?"
"GILA!"
Djahan menutup mulutnya. Dia terperangah akan umpatan yang meluncur keluar dari mulutnya.
Mulutnya telah mengumpati Petapa Agung yang suci.
Tapi, Petapa Agung di hadapannya memang benar- benar gila!
Sama sekali tidak menunjukkan kesucian dan keagungannya.
Menawarkan diri menjadi yang kedua.
Pada satu orang wanita yang sama.
Menjadi suami kedua.
Fusena tersenyum miring. Sama sekali tidak tersinggung dengan umpatan Djahan.
Dia memang gila.
Pikirannya bukan seperti manusia pada umumnya.
Daripada dia melihat Udelia bersedih karena berjauhan dari Djahan, pria yang secara sadar ataupun tidak sadar dicintai wanita itu, Fusena lebih senang berbagi.
Toh, awalnya Udelia dan Djahan saling bersatu karena Fusena membiarkan mereka.
Berpikir keduanya tidak akan bersama sampai akhir hayat.
Padahal dia mampu membuat Udelia kembali ke dunianya.
Udelia sudah terikat dengan pria itu.
Dan anggap saja semua itu sebagai penebus dirinya, atas dosanya di masa lalu.
Terhadap Udelia.
"Aku tidak akan memberikan kesempatan kedua. Pilihlah. Jadi suami Udelia bersama denganku atau kamu kembali ke duniamu. Kutunggu sampai satu bulan ke depan. Aku tidak akan menguasainya seorang. Kamu pun harus belajar berbagi."
"Saya tak paham dengan ucapan Anda."
Djahan semakin pusing dengan hidup yang dijalaninya.
Pergi ke dunia yang sangat asing. Bertemu dengan wanita yang dicintainya, wanita itu melupakan dirinya.
Kemudian berjumpa Petapa Agung, yang gesrek otaknya.
Belajar berbagi?
Berbagi istri?
Haih. Tidak ada dalam benaknya.
__ADS_1
Bahkan sekuat tenaga dia berusaha merebut Udelia dari tangan Penyihir Agung dan Maharaja.
Lalu dia disuruh berbagi!?
Tapi, Petapa Agung sangat kuat. Bukan tak mungkin dapat mengembalikan dirinya kembali ke dunianya.
Sementara di dunianya, tidak ada Udelia.
Djahan tidak langsung menjawab. Mulutnya terkunci.
Dia akan membiarkan Udelia memilih di antara dia dan Petapa Agung, siapa kah yang akan dijadikannya suami.
Dia yakin, Udelia tidak akan meninggalkannya.
Dan dia tahu, Udelia punya prinsip untuk tidak menikahi sepupunya.
Biarkan Udelia yang memutuskan.
Petapa Agung pasti tidak akan dapat memberontak.
Fusena mengulum senyum. Seolah tahu pikiran Djahan.
Dulu, mungkin Udelia tidak akan menikahi sepupunya sendiri. Prinsipnya, sepupu adalah saudara kandung.
Prinsip yang akan dia patahkan.
Dia sendiri yang akan memastikan Udelia memilihnya, bila kelak Djahan memberikan jawaban yang tidak memuaskan.
Fusena meninggalkan Djahan yang masih termenung. Dia menyambut kedua orang tua Udelia dan kedua adik Udelia.
Bercengkerama sambil menuju ruang rawat Udelia.
Mereka terlihat dekat. Sudut hati Djahan merasa sakit. Dia satu langkah di belakang Fusena.
"Terima kasih sudah menyelamatkan putri kami," ucap ayah Udelia pada Djahan.
Djahan melirik Fusena. Dia pikir Petapa Agung yang sudah tidak agung itu akan mengambil peran, menyatakan diri sendiri yang telah menyelamatkan Udelia.
Ternyata, Sang Petapa Agung berkata jujur pada kedua orang tua Udelia.
"Oh? Kamu bisa bahasa Indonesia?" Ayah Udelia terheran. Belum lama pria itu berkunjung dengan menggunakan seorang penerjemah.
"Baru sedikit."
"Bagus. Bagus. Itu sudah luar biasa. Nanti kalau sudah normal, kami mau mengajakmu jalan- jalan. Kamu mau kan?"
"Terima kasih, Pak. Tentu saja saya mau.."
Setelah itu mereka berbincang- bincang. Ada rasa yang berbeda muncul dalam hati Djahan.
Nyaman dan menyenangkan.
Sudah lama dia tidak merasakan hangatnya keluarga.
Udelia terbangun setelah lima jam tidak sadarkan diri. Hatinya lega melihat kedua orang tuanya baik- baik saja.
Sedetik kemudian matanya membulat, melihat pria yang telah berbagi peluh dengannya, turut bercengkerama di tengah keluarganya.
Bayangan menjijikan berkelebat di benaknya.
Udelia termangu.
Merasa dirinya amat murahan sebab melakukan hal itu di luar tali pernikahan.
Dia benci pria itu, tapi lebih benci lagi dirinya sendiri.
Tidak menolak sentuhan yang diberikan si pria asing.
Belum lama Udelia sadar, dokter memasuki ruangannya. Menyuruh yang tak berkepentingan untuk keluar.
Saat ini Udelia telah ditempatkan di rumah sakit. Dokter menyuruhnya beristirahat lagi. Hanya boleh satu orang yang menunggui.
Entah bagaimana terjadi, pria asing yang menungguinya, bukan kedua orang tuanya, kedua adiknya, ataupun adik sepupunya.
"Tolong panggilkan Fusena," lirih Udelia.
Dia tak nyaman berdekatan dengan si pria asing,
__ADS_1
Meski hatinya berkata lain, Udelia akan tetap mempertahankan logika. Tidak mau kejadian buruk yang lalu kembali terulang.
"Dia sedang mengantar ayah dan ibu pergi makan. Bersama dua adikmu juga."
"Ayah dan ibu?"
Udelia menaikkan alisnya. Nada bicara Djahan seperti seseorang yang sudah dekat dengan kedua orang tuanya.
Ada apa dengan kedua orang tuanya? Terutama ayahnya.
Keduanya marah pada Djahan yang tidak sesuai dalam menggambarkan dirinya.
Lalu kemudian berdamai?
Nanti jika tahu yang mereka berdua lakukan, apa kedua kembali marah pada Djahan atau dia akan ikut menjadi sasaran korban keduanya.
Entah.
"Mereka sedang makan. Apa ada yang kamu butuhkan?"
"Aku butuh mereka. Tidak bisa kah kamu menghilang? Wajahmu mengingatkan kenangan kelam."
"Kenangan kelam?"
"Kamu tidak berpikir aku wanita murahan yang suka mengangkang kan!?!"
"Tidak. Kamu wanita yang luar biasa. Mana mungkin kuanggap murahan!? Kamu belahan jiwaku."
"Kamu mengatakan itu pada semua orang yang kamu sentuh!?"
"Kamu satu- satunya yang kusentuh dalam hidupku. Kamu bagian terdalamku. Dalam hidupku."
Udelia tak lagi menjawab. Dia takut terbuai dengan gombalan pria itu.
Dia menunggu Fusena untuk datang.
Biasanya, pria itu akan selalu menyelamatkannya dari situasi yang tak menyenangkan.
"Panjang umur!" seru Udelia.
Fusena muncul di depan pintu tepat begitu dia pikirkan.
Berada berdua dengan pria asing, tidak dapat mengistirahatkan pikirannya.
Udelia lebih nyaman bersama dengan Fusena.
"Tuan, terima kasih sudah menemaniku. Sudah ada sepupuku di sini. Mohon maaf sudah mengganggu," usir Udelia secara halus.
Djahan bukan orang bodoh. Dia memahami pengusiran istrinya.
Ditatapnya Petapa Agung yang tersenyum dengan mengejek.
Pria itu pasti besar kepala. Dibela oleh istrinya. Wanita yang mereka cintai.
Terus teringiang segala yang terjadi belakangan.
Tentang gempa mendadak, pengakuan Petapa Agung, serta yang terjadi di ruang rawat istrinya.
Mau tak mau harus dia akui, langkah Petapa Agung jauh di depan.
Segala ancamannya sangat mungkin terjadi.
Mengirimnya pergi atau selemah- lemahnya menjauhkan dirinya dari Udelia.
Dia pun memikirkan tawaran yang diucapkan sang Petapa Agung.
Tawaran yang luar biasa, di luar kebiasaan orang kebanyakan.
Tidak terlarang, bagi mereka, tapi tetap saja mengganggu harga diri dan wibawa mereka.
Akankah Udelia menerima masukan tak masuk akal itu?
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]
__ADS_1