TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
049


__ADS_3

"Tuan Mahapatih, saya mendapat laporan yang tidak mengenakan."


Seorang pria dengan belasan perhiasan menempel di raganya, duduk dengan gagah di atas kursi tahta tertinggi Bhumi Maja.


Dia menatap lurus Sang Mahapatih yang datang sendirian, setelah dia panggil terpisah dari para menteri lainnya.


Sengaja dia memanggilnya seorang diri. Karena dia tidak benar benar percaya dengan laporan yang diberikan. Meski ada banyak saksi.


Hubungan erat antara Maharaja dan Mahapatih adalah hubungan kedua setelah hubungan antara Maharaja dan Maharani yang diincar oleh para pemberontak.


Hayan tidak bisa tergesa-gesa memutuskan semuanya hanya dari laporan mereka.


Bagaimanapun, Mahapatih di sisinya sudah mengabdi sejak dua masa sebelumnya.


Hampir seluruh kepercayaan dia berikan, kecuali kepercayaan tentang satu orang wanita yang sama sama mereka perebutkan.


Untuk satu itu, Hayan yang akan menjadi pemenangnya!


Djahan menatap datar sang tuan yang duduk di atas sana. Dengan kejadian ini ada satu hal yang membuat dia bersyukur, laporan tentang kejadian besar sangat cepat terdengar dan tidak ada yang takut dengan posisi dirinya. Hal ini menunjukkan betapa lurusnya hukum Bhumi Maja.


"Silakan hukum saya," tutur Djahan ringan.


Dia tahu dia telah berbuat salah. Dia tidak akan menampiknya. Dan akan menerima balasan yang seharusya dia terima.


"Anda tidak membantahnya," ucap Hayan dengan sedikit terkejut.


Dalam benaknya, dia menduga ini hanyalah berita palsu yang menginginkan Maharaja, Mahapatih, dan keluarga penyihir saling terpecah.


Tapi..


Mahapatih mengakuinya?


"Apa yang menyebabkan petarungan yang sangat sengit itu? Anda tahu kerusakannya? Hampir seluruh kediaman keluarga Ekadanta harus dipugar. Dan kepala keluarga Ekadanta harus dirawat dengan intens."


"Dia menerima yang seharusnya," kata Djahan masih tidak membantah tuduhan yang mengarah padanya. Dia bangun dari duduknya dengan pandangan yang mendendam.


Kemarin dia terlalu terburu buru. Apalagi Udelia istrinya nampak tak biasa.


Dia harus menyiapkan strategi yang benar.


Masalahnya bukan tentang Ekadanta yang memiliki banyak pendukung.


Masalahnya adalah pandangan Udelia terhadap dirinya.


Djahan tidak mau Udelia menatapnya dengan asing, apalagi penuh dengan kemarahan.


Dia mesti mencari jalan lainnya.


"Saya menunggu hukuman saya di penjara."


"Tidak. Anda tetaplah di kediaman Anda. Saya tidak bisa mempermalukan Anda tanpa memeriksanya dengan benar." Hayan tidak mungkin gegabah menghukum tangan kanannya itu.


Dia percaya pada Mahapatih.


"Laporan keluarga Ekadanta sudah benar."


"Di sini tertulis Anda ingin menculik istri dan dua putra kepala keluarga Ekadanta, membuat kepala keluarga Ekadanta tidak sadarkan diri, dan merusak kediaman hingga hampir rata dengan tanah." Hayan membacakan laporan tentang tangan kanannya itu.


"Anda mungkin akan melakukannya juga," ucap Djahan seraya menggertakkan gigi. Suaranya terdengar menggeram.


"Saya permisi." Djahan melenggang pergi sebelum dia kehilangan kesabaran. Pikirannya kini buntu. Dia harus menenangkan diri, baru kemudian mencari cara mendapatkan istrinya kembali.

__ADS_1


Hayan menatap Djahan yang semakin menjauh hingga punggung pria yang selalu muda itu hilang di balik pintu.


Hayan bangkit dari duduknya. Huna sang asisten bergegas bangkit merapikan segala laporan di meja tuannya.


"Huna, kita kunjungi Ekadanta secara langsung."


"Tapi Yang Mulia, Anda sudah mengunjungi keluarga Ekadanta saat hari pernikahan, jika sekarang juga datang, itu akan menimbulkan spekulasi-spekulasi di keluarga lain," ucap Huna berpendapat.


"Aku hanya ingin jalan-jalan sebentar." Hayan tak ingin dibantah. "Bawa Ra Konco," imbuhnya membawa serta tabib keraton yang mengagumkan.


"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."


***


"Mohon maaf. Saat ini kediaman tidak menerima tamu."


Pengawal gapura kediaman Ekadanta menyilangkan tombaknya.


Semenjak penyerangan kepala keluarga Ekadanta, sudah diumumkan jikalau keluarga Ekadanta tidak menerima tamu. Hanya keluarga inti yang diperbolehkan masuk.


"Saya sarankan Anda membuka jalan." Huna berdiri dengan mengintimidasi.


Para pengawal sedikit tersentak. Tapi mereka sama sekali tidak menggeser tubuh mereka.


"Maaf. Kami akan menggunakan kekerasan jika Anda tetap memaksa."


"Apa kamu tahu siapa yang datang?" geram Huna.


"Huna!" tegur Hayan.


"Ada apa ini?" tanya Tuti yang datang setelah mendapat berita tentang keributan di pintu masuk.


Sangat aneh bagi Tuti. Mahapatih yang tidak punya masalah dengan keluarganya, tiba tiba menyerang sampai rumah utama keluarga Ekadanta luluh lantak.


Bingung sebenarnya, apakah benar benar Mahapatih yang menyerang ataukah hanya suatu tipu daya musuh.


Pagi hari yang lalu, Mahapatih berkunjung ke tempat kerja suaminya dan kebetulan Tuti sedang berkunjung di sana. Dia mendengar kedekatan keduanya dan Mahapatih meminta pendapat tentang putranya Candra yang ingin dia masukkan lagi ke dalam pasukan perang.


Apa Candra tidak terima dan terjadi keributan?


Apa pun itu, Tuti sudah melepaskan salah satu anak kandungnya untuk berkelana menebar berkat pada tanah tanah yang asing nan jauh dari pusat Bhumi Maja. Tuti sangat mengkhawatirkan keadaan Candra. Dia tidak mau lagi ditinggalkan anak laki-lakinya.


Baginya Candra masihlah seorang anak yang butuh perlindungan.


Ibu mana yang tidak khawatir mendengar putranya tidak sadarkan diri?


"Salam nyonya besar. Tuan-tuan ini memaksa masuk. Saya sudah memberi tahu," adu salah satu pengawal.


"Ah!" Tuti menutup mulutnya menyadari orang yang berkunjung.


Bergegas kedua lututnya menemui tanah yang kasar.


"Hamba memberi salam kepada Yang Mulia. Hamba mohon maaf kelancangan hamba tidak menyadari kedatangan Yang Mulia," ucap Tuti bersimpuh dan menangkup tangannya di atas kepala.


"Tidak apa-apa. Aku datang tanpa pemberitahuan. Tunjukan keberadaan kepala keluarga."


Tuti mendesah lega. Setidaknya Maharaja yang kejam di balik bayangan itu tidak marah padanya.


Sekali lagi dia tergesa menunjukkan jalan untuk tuannya. Membuat kedua pengawal itu melongo. Untung saja mereka berdua langsung bersimpuh bersamaan dengan nyonya besar. Jika tidak, mungkin ini kali terakhir mereka melihat dunia.


"Silakan, Yang Mulia." Tuti menunjukkan kamar khusus untuk putranya.

__ADS_1


"Ra Konco," panggil Hayan tanpa perlu memberikan titah.


"Baik, Yang Mulia," ucap Konco memeriksa denyut nadi Candra.


"Saya membutuhkan ruang untuk menyiapkan obat," kata Konco dalam dua puluh lima detik setelah memeriksa keadaan sang calon penyihir agung.


"Pelayan, antar tuan Ra Konco ke ruang obat," titah Tuti pada anak buahnya.


"Baik, nyonya."


"Silakan, Yang Mulia. Kami baru saja menyiapkan hidangan untuk Anda."


Hayan mengangguk lalu mengikuti Tuti. Kendatipun mengikuti, Tuti berjalan sejajar dengan orang nomor satu di Bhumi Maja. Tidak mungkin dia berjalan di depan tuannya.


Sesampainya di ruangan yang lenggang, para pelayan telah menyediakan berbagai macam hidangan di atas meja.


Tidak pernah sekali pun pria itu kekurangan makanan.


Tuti sendiri yang menuangkan masakan di piring Hayan. Setelah selesai, dia meminta izin karena dayang utamanya memberikan kode dengan wajah yang gusar.


"Hamba permisi sebentar," pamit Tuti diangguki Hayan. Toh dia juga inginnya makan sendirian. Seperti hari harinya selama sepuluh tahun ini. Makan dan tidur selalu saja sendirian, kecuali di hari hari yang telah dijadwalkan.


"Nyonya besar, keluarga Yasa masih menunggu," bisik pelayan.


"Katakan pada mereka kita berjumpa esok hari."


"Tapi nyonya, kepala keluarga Yasa sudah datang dari ibu kota sejak dua hari lalu, begitu pula sayur dan rempah dari Janapada yang berada di tangan mereka. Karena tidak kunjung datang, mereka berkata akan menutup jalur perdagangan sampai waktu yang akan ditentukan nanti."


"Berani sekali keluarga kecil itu!" Tuti mengepalkan tangannya. Sudah lama memang ada banyak keluarga yang iri dengan keluarga Ekadanta yang selalu kompak.


"Ini pasti ada sangkut pautnya dengan keluarga Mihir," tambah Tuti. Keluarga Yasa yang kecil tidak mungkin berani melawannya, kecuali telah disokong oleh keluarga yang besar.


Selama beberapa waktu ke belakang, keluarga Mihir memusuhi keluarga Ekadanta karena mereka merasa terancam dengan banyaknya perempuan di keluarga Ekadanta.


Mereka yang telah berhasil memasukkan salah satu anggota keluarga mereka ke keraton, merasa takut tersaingi dengan keluarga Ekadanta. Mereka tahu kedekatan antara Maharaja dan Candra yang kini menjadi kepala keluarga.


Bukan tak mungkin salah satu adik Candra yang masih berada di akademik akan dimasukkan ke dalam keraton. Mereka takut hal demikian dan mencoba melemahkan kekuatan Ekadanta dalam hal popularitas. Meskipun itu mustahil dilakukan sebab Ekadanta adalah satu satunya keluarga penyihir di Bhumi Maja.


"Apakah perlu nyonya muda yang datang?" usul pelayan.


"Nyonya muda masih dalam tahap pemulihan," ucap Tuti. "Undur waktunya hingga malam," putusnya seketika. Tidak mungkin dia tinggalkan tamu agung di kediamannya.


"Baik, nyonya."


"Nyonya, jika ada yang ingin dilakukan, silakan pergi. Kepala keluarga Ekadanta telah sadarkan diri," ucap Hayan yang telah keluar dari ruangan dan sedikit mendengar perbincangan mereka.


Ra Konco memberikan kabar kepada tuannya dan Hayan pun hendak memberitakan hal ini pada ibunda dari kepala keluarga Ekadanta.


Tapi kemudian dia mendengar nyonya besar itu hendak keluar.


Tentu saja dia biarkan, agar dia bisa lebih leluasa memeriksa keadaan keluarga Ekadanta.


Dia penasaran dengan ucapan Mahapatih.


"Terima kasih Yang Mulia."


Tuti pun pergi menemui keluarga Yasa untuk memberikan peringatan kepada mereka.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]

__ADS_1


__ADS_2