TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 032


__ADS_3

TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]


032 - APA YANG TERJADI?


"Ayahanda, mohon biarkan tabib memeriksa Anda! Lihatlah panas dan dingin di tubuh Anda! Sampai membakar dan membekukan sekitar!"


Maya Lopika Wijaya, Putri Mahkota sekaligus satu- satunya anak dari pasangan Maharani dan Maharaja Bhumi Maja, duduk bersimpuh di atas lantai yang telah membeku.


Di atas tempat pembaringan, Sang Maharaja, Nirankara Hayan Wijaya tersenyum lemah tanpa mampu membahas perkataan putrinya.


Dia hanya menggeleng. Tak mau diobati.


"Ayahanda..."


"Tuan... Putri... su.. dah besar... Su.dah sepu.. luh tahun... menjadi.. istri... Kamu tidak boleh lemah..."


Maya dengan sabar menunggu ayahandanya yang bertutur dengan terbata.


Air mata mengalir di wajahnya.


Sejak tiga bulan sebelumnya, Maharaja Bhumi Maja sudah terbaring lemah di atas ranjang setelah menyelesaikan tapaan sembilan hari di atas Sela Wukir.


Tubuh bagian kanannya mengeluarkan hawa panas yang membakar dan tubuh bagian kirinya mengeluarkan hawa dingin yang membeku.


Saat hari- hari pertama, para dayang yang tidak punya kekuatan, langsung jatuh dan mangkat.


Banyak orang mengira ada sumber racun yang diselundupkan. Sampai akhirnya datang Petapa Agung dan memberitakan tentang sakitnya Maharaja akibat salah mengucap mantra.


Tidak ada lagi yang harus dilakukan selain mencoba mengobati Maharaja sambil mengambil alih seluruh pekerjaan.


Air mata Maya semakin deras kala dia rasakan tangan sang ayahanda menjadi lemah dan tiba- tiba terjatuh tanpa kekuatan.


Ekata Ekadanta, Petapa Agung yang belum genap seratus tahun, memegang tangan Sang Maharaja yang telah basah oleh api dan air.


Dia menggeleng lemah. Suara teriakan Maya lepas landas.


Ayahandanya adalah yang terkuat!


Memiliki lebih dari satu hewan panggilan, yang bahkan tak dipunyai Petapa Agung.


Kenapa bisa Sang Maharaja mangkat di usia yang sangat muda!? Lima puluh enam tahun!


Maya tidak menyangka.


Dia masih berusaha mengguncang tubuh ayahandanya.


Menangis dengan histeris.


Semua orang turut bersedih. Air mata membasahi pipi mereka.


Ekata masih membiarkan sang putri menangis di sisi jasad ayahandanya.


Belum puas Maya menangis, Ekata mengendus ketidak beresan.


Tanpa permisi, Ekata menarik lengan Maya. Kabur dari rumah obat.


Sejauh ratusan meter.


Suara berdebam langsung terdengar. Segalanya luluh lantak sampai hampir mengenai mereka.


Mayat- mayat bergelimpangan di sisi ranjang.


Jasad Sang Maharaja utuh tanpa luka.


Namun tiba- tiba perlahan berubah transparan.


Hilang tak berbekas.


Lenyap di udara.


"Ayahandaaa...!!!"


Maya berteriak dengan pilu.


Satu- satu panutannya yang tersisa, hilang dari dunianya.

__ADS_1


Dia sendirian.


Sementara itu, di sisi dunia yang jauh berbeda. Kesibukan orang- orangnya memenuhi jalanan yang lenggang.


Kendaraan kecil sampai kendaraan besar, pun orang yang berlalu lalang dengan jalan kaki, memenuhi ruas jalan yang didominasi warna hitam dan putih.


Ada yang tertawa, ada yang berwajah letih. Kesamaan mereka hampir semuanya memegang sebuah benda berwarna putih. Serta di tangan lain memegang benda gepeng yang menampilkan gambar bergerak.


Sebuah lingkar transparan terbuka pada sebuah jalan yang kosong, memunculkan sebuah tubuh dengan pakaian yang jarang di tengah lautan manusia.


Dia adalah Maharaja Bhumi Maja.


Berdiri tegak di tengah jalan.


Pelan matanya bergerak, hingga silau matahari menusuk indranya.


Dia terbelalak, kala beberapa meter darinya, terlihat sebuah benda besar berjalan cepat ke arahnya.


Belum sempat benda besar itu menabraknya, tubuhnya tiba-tiba terhuyung jatuh ke tanah.


"Truk di Indonesia tidak bisa membawa ke isekai loh!"


Suara yang dirindukannya terdengar sangat jelas.


Jelas sekali.


Tak pernah sedetik pun dia lupa akan merdu dan mendayunya suara itu.


Selalu rindu dan rindu di setiap hembusan napasnya.


Maharaninya Yang Mulia. Yang selalu bertempat di dalam hatinya, meski puluhan selir menempati istananya.


Maharani yang dia cinta. Maharani yang selalu memenuhi rongga kepalanya.


Matanya yang belum berkedip, menatap tak percaya pada orang di sampingnya.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya supir truk yang turun untuk memeriksa keadaan.


Walau dia tak salah, sebagai bentuk kemanusiaan, dia turun dan memeriksa orang yang hampir terkena truknya.


Jalanan sangat lenggang. Tidak ada netizen yang akan menyumpahinya dan mengeroyoknya.


"Saya tidak apa-apa, Pak."


"Lenganmu luka dik," ucap supir dengan khawatir melihat kulit terkelupas di sikut gadis yang sedang bangun dari jatuhnya.


"Ga masalah segini mah, Pak. Silakan pemuda ini diperiksa. Sepertinya dia sangat syok!"


Tangan yang tersemat cincin indah di jari manisnya, memukul pelan roknya yang sempat menempel ke tanah.


Menjatuhkan debu- debu beterbangan agar roknya kembali bersih seperti semula.


Baru kali ini dia memakai rok, sudah jatuh ke tanah dengan tidak elegan.


Memang seharusnya dia hanya mengenakan celana!


Mudah dipakai untuk berjalan dan bergerak.


Beruntung tak ada orang lain di sana.


Pria yang ditolongnya sedang syok dan mata supir truk yang sedang mengerem mendadak, tidak akan mungkin dapat menjangkau bagian dalam roknya yang tersingkap kala terjatuh.


"Oh iya, kamu!!! Tiba-tiba berada di depan mobil."


Supir truk itu membuang napasnya dengan kasar. Benci dengan sikap yang mencari solusi dengan jalan pintas.


Dia tidak membenci orangnya, hanya sikapnya.


Berharap tidak akan lagi berpikiran dangkal seperti ini!


"Jangan hancurkan hidupmu, Nak. Lihatlah ragamu yang sehat dan wajahmu yang tampan. Dunia sedang membutuhkan wajah. Uang akan mengalir deras begitu kamu tunjukkan wajah pada netizen."


"Wah bapak update sekali," puji wanita yang Hayan rindukan.


"Kebetulan saya bawa alat-alat panggung di stasiun TV." Sang supir berkata dengan bangganya.

__ADS_1


"Kalau begitu saya pamit. Permisi!"


Lelaki yang terjatuh di tanah memakai jarit dengan ukiran rumit nan indah menutup kakinya, lengkap dengan udarabandha, uncal, nupura, sampet, kampuh, sinjang, dan sasampur.


Di perutnya menempel katibandha, juga hiasan lain yang tak kalah indah bertengger di kepala dan lengannya.


Lelaki itu tetap terduduk, tak melepaskan pandangannya dari sang wanita. Terus menatapnya tanpa berkedip.


Sedetik pun Hayan belum pernah berkedip sejak datang ke dunia yang baru.


Dunia wanita yang sangat dia rindukan.


Sumping dengan ukiran bunga wijayakusuma di telinga pria itu mengganggu pikiran wanita yang terus jalan ke depan.


Pikirannya melayang jauh, mencoba mengorek ingatan lama.


Ingatan lama di masa yang lama..


Tapi, dia tidak menemukannya.


Hanya sebuah perasaan yang sangat akrab dengan sumping itu.


"Tunggu, Dik!"


Supir mengejar wanita yang sudah sedikit menjauh dari mereka.


"Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa anak ini. Kalau tidak, akan terjadi hal gawat. Ini untuk berobat!" Supir itu menyelipkan beberapa kertas berwarna merah.


"Tidak, Pak! Segini benar-benar tak masalah, tinggal mengompresnya dengan air hangat."


Wanita itu menolak halus. Mengembalikan rupiah ke tangan sopir dan mendorong pelan.


Dia yang hendak pergi amat terkejut ketika kakinya dipegang erat.


Dipeluk dengan sangat erat.


"Ja.ngan tinggalkan aku."


"Udelia!"


Suara lain menggema di jalanan yang sepi itu.


Udelia mendongak menatap sumber suara yang memanggil namanya.


Hampir saja dia terbuai oleh wajah tampan yang memelas di bawah kakinya.


Dia perlahan melepas tangan yang melingkar di kakinya.


Risi dengan tindakan berlebihan itu.


"Maaf mas, calon suami saya sudah datang."


"Kukira eneng masih sekolah," celetuk supir yang turut mendekat.


"Haha tidak pak. Saya sudah dua puluh tiga tahun."


"Awet muda ya. Tidak terlihat."


Udelia tersenyum canggung. Tidak merasa semuda itu.


"Mohon lepaskan tanganmu!" ucap Udelia dengan tegas karena pria di bawahnya terus merengek seperti anak kecil.


Memelas tanpa mau melepas pegangan tangannya.


Bagai anak kecil, namun memiliki tenaga orang dewasa.


"Nak, akulah yang bertanggung jawab. Bukan gadis ini!"


Supir truk menunduk membantu Hayan untuk berdiri.


Udelia melepaskan kakinya dengan sekali hentakan lalu berlari ke arah pria yang sudah menunggunya.


"Sayangku, apa yang terjadi?"


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••

__ADS_1


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]


__ADS_2