TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 047


__ADS_3

047 - SEGALA KONSEKUENSI


Keesokan harinya Hayan tetap berangkat pada kelas memasak, meski janggal kenapa kelas diadakan di sore hari bukannya di pagi hari.


Kalau sore hari, akan sulit mencari waktu bagi peserta lainnya, yang kebanyakan pegawai.


Mobil yang dia kendarai berjalan menuju perkampungan yang dia kenali.


Mantan raja besar itu sangat pandai mempelajari hal- hal baru.


Hanya saja dia masih tak terbiasa dengan memakai atasan.


Gatal di tubuhnya kadang tak terelakan.


Alis Hayan menukik tajam kala mendapati kafe yang dituju ialah kepunyaan Udelia.


Di sana, tidak keramaian seperti biasanya.


Hanya ada Dita yang melambaikan tangan padanya.


Beranjak petang, semua semakin janggal.


Tidak ada satu pun pengunjung yang datang.


Lilin romansa mulai dinyalakan.


Alunan musik lembut menemani mereka.


"Apa ini?" Hayan masih mencoba meredam amarahnya.


Tak elok bila dia memukul perempuan.


Sudah cukup di masa lampau dia selalu membantai tiap keluarga, yang salah satu anggotanya menyinggung dia ataupun orang- orang terkasihnya; Udelia dan anak- anaknya.


"Tuan Hayan, saya ingin menyatakan perasaan dalam hati ini. Anda selalu memenuhi pikiran saya."


Hayan bangkit dan pergi tanpa berkata- kata.


Bukannya terharu, dia malah menggeram di dalam mobil.


Masih untung tidak ada adik- adik Udelia di kafe itu.


Bagaimana bila pegawai ada yang mengenali dia dan melaporkan pada Udelia?


Hayan merasa gusar.


Dia tetap gusar meski Udelia bersikap biasa saja.


Mau menerima suapan darinya dan tidak ada penolakan ketika memindahkan kepala sang istri untuk bertumpu pada lengannya.


Udelia hanya sedikit heran.


Hayan terlihat sedikit linglung walau masih manis memperlakukannya.


Saat Hayan melamun, Udelia hendak ke toilet.


Tidak mau menambah beban pikiran pada suaminya, Udelia beranjak turun sendiri.


Belum sempat kakinya berpijak pada marmer dingin, Hayan sigap menahan tubuhnya.


Berjongkok memberikan sandal hangat pada kaki istrinya.


Udelia amat terharu.


Apa dia sudah jatuh cinta pada pria ini?


Yang jelas ada porsinya untuk Djahan dan Hayan.


Udelia menggigit sudut bibirnya ketika tangan Hayan membersihkan bekas air seninya.


Tekanan kuat air menambah sensasi aneh dalam tubuhnya.


Hayan sedikit menggosokkan jarinya ke dalam, sebagaimana yang dia pelajari.


Udelia mencengkeram kuat bahu Hayan. Sebuah ******* lolos dari katupan mulutnya.


Hayan terburu menyelesaikan takut Udelia kembali sakit.


Wajah wanita itu amat merah.


"Sayang, apa ada yang sakit?" khawatir Hayan.


Udelia menggeleng.


Dia justru memeluk Hayan dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Hayan yang tak terlapisi kain.


Hayan senang karena Udelia tidak protes ketika di dalam rumah dia hanya mengenakan celana.

__ADS_1


"Mas, aku..."


Udelia menggigit bibirnya lagi.


Ingin mengatakan ada yang basah, tapi rasanya dia akan menjadi seperti seorang ******.


Udelia tidak jadi mengatakan apa pun.


Hayan mengira Udelia sedang lapar.


Bersegera dia pergi memasak.


Sengaja tak membeli dari luar karena dia tidak mau ada kuman menempel pada asupan sang ibu hamil.


Kendatipun Udelia bukan hamil anaknya, Hayan akan menjaganya dengan ekstra.


Tiba- tiba ide melintas dalam benaknya.


Hayan tersenyum miring.


"Wah. Enak sekali!" seru Udelia.


Sejenak dia lupakan rasa tak nyaman karena pelepasan yang belum selesai.


Hayan menjaga pola makan Udelia sehingga wanita itu tidak terlalu sering pergi ke toilet.


Udelia menolak tiap kali Hayan hendak membantunya membersihkan kotorannya.


Selalu dia pinta hal lain agar kejadian yang lalu tidak membuatnya panas dingin.


Udelia tidak mau tumbang di tengah jalan.


Dia masih merasa lemah.


Berhari- hari mereka hidup dengan damai.


Hayan tidak keberatan dengan rindu yang memupuk dalam jiwanya.


Kesehatan Udelia lebih penting dari apa pun.


Setelah lima hari Udelia tidak banyak beraktivitas, dia mulai bosan.


Tubuhnya juga sudah mulai bugar.


Hayan memanggil dokter yang menangani Udelia.


"Mandi, ya?" ajak Hayan. Sudah lima hari ini Udelia mengelap tubuhnya sendiri.


Udelia mengangguk. Dia pun merasa lengket.


Lihai tangan Hayan menggosok punggung Udelia.


Kemudian tangannya melingkar, menggosok pelan perut Udelia yang sudah mulai mengetat.


Naik ke atas. Memberikan pijatan dan r3masan pada gunung kembarnya.


Udelia hampir terbuai, namun Hayan justru melepaskan tangannya. Naik merambat memijat rileks bahunya.


Hayan bersimpuh di depan Udelia dan memijat lembut kakinya.


Hayan mengambil sabun yang berbeda untuk area yang sensitif.


Memutar -mutar tangannya pada gundukan abaimana dan merang sangnya dengan remasan.


Hayan memperhatikan Udelia yang siap menerimanya.


Dia memberikan satu jarinya untuk dihisap yoni istrinya.


Meliuk- liuk di dalam sana. Memanggil cairan krimer yang manis.


"Apa boleh?" pinta Hayan.


Dia tidak mau memaksa seperti dahulu.


Dia harus tahu isi hati istrinya, agar istrinya tidak merasa terbebani dengan sikapnya


Udelia mengangguk singkat.


Hayan langsung menghimpitnya ke tembok. Menaikkan kedua kaki Udelia pada pinggulnya.


Sang baga dipenuhi lingga.


Udelia terbang ke nirwana saat Hayan mulai menghentakkan pinggulnya.


Dalam keadaan berdiri pun, Hayan memastikan Udelia tidak keletihan.


Dia memastikan semennya memenuhi lubang yang telah terisi.

__ADS_1


Hayan sama sekali tidak melepaskan Udelia hingga mereka selesai berpakaian.


Dia berjongkok di depan Udelia yang melebarkan kakinya. Membersihkan cairan miliknya yang bersatu dengan milik sang istri.


Seperti janjinya, Hayan menyudahi permainan mereka.


Memakaikan celana dan membantunya berbaring.


Keesokan harinya Hayan kembali memanggil dokter.


Menanyakan apakah kondisi Udelia baik.


"Kondisi Nyonya baik. Begitu juga janin Nyonya. Tolong pertahankan pola sehat yang sudah diresepkan. Ayahnya juga harus menahan diri ya sampai trimester kedua. Semoga ibu dan dedek bayi terus sehat."


Perempuan berkaca mata tebal itu pergi usai memberikan resep tulisannya.


Udelia masih diam mencerna. Dia terlalu syok untuk mengatakan apa pun.


"Sayang..." panggil Hayan.


Dia khawatir Udelia tak siap memiliki anak, seperti dahulu.


Dia tahu Udelia hendak pulang ke dunia asalnya, dia malah menghamili Udelia supaya wanita itu tidak pergi.


Namun yang namanya takdir, sekuat tenaga ditahan pun akan terjadi juga.


Udelia kembali ke dunianya dalam kondisi mengenaskan.


"Aku hamil?" gumam Udelia masih tanpa ekspresi senang ataupun takut.


"Iya, Sayang..." jawab Hayan hati- hati.


Pria yang lebih pendek dari istrinya itu mengawasi ekspresi sang istri.


Udelia terus mengatupkan mulutnya.


"Apa kamu keberatan?" tanya Hayan.


Udelia melirik sekilas pada Hayan. Matanya menyiratkan kebingungan.


"Maaf aku tidak pakai pengaman.." sesal Hayan.


"Aku ..." Udelia menggantung kalimatnya.


Udelia sebenarnya bingung. Anak siapa kah ini?


Tapi mendengar masih pada trimester satu, bukankah berarti itu masih sekitar satu bulan?


Perutnya pun belum terasa.


Hormon pada dirinya juga tidak banyak berbeda.


Dia melirik Hayan yang sangat yakin dan senang dengan kehadiran buah hati dalam perutnya.


Ya.. mungkin benar.


Dia dan Djahan sudah berbulan- bulan menikah.


Dia dan Candra pernah melakukan hubungan jauh sebelum menikah.


Pada keduanya, Udelia tak kunjung hamil.


Maka benarlah jika pria ini adalah ayah dari anak dalam kandungannya.


"Aku senang," ucap Udelia menyelesaikan kalimatnya.


Hayan mendesah lega.


Udelia tidak keberatan untuk hamil.


Matanya berbinar senang.


"Apa kamu tak apa?" tanya Udelia dengan ambigu.


"Ya?" sahut Hayan bingung.


"Kamu masih abg. Walau kamu berpikiran dewasa dan memiliki fasilitas bagus, mental tetap berbeda kan? Apa kamu tidak masalah mempunyai anak? Bukannya kamu baru mendapatkan kartu tanda pengenalmu?" ucap Udelia memberondong semua pertanyaan.


Anak ini masih terlalu muda untuk jadi seorang ayah!


Hayan mengulas senyum. Menggenggam tangan Udelia dan mengecupnya lembut.


"Sejak aku melamarmu. Aku sudah siap dengan segala konsekuensi di belakangnya."


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉

__ADS_1


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]


__ADS_2